12.05.2019

@bende mataram@ Bagian 303

@bende mataram@
Bagian 303


Namun karena menaruh harapan besar, ia mau men-ganggapnya sebagai bintang
penolongnya. Itulah sebabnya dengan agak gemetaran ia menyambut. "Silakan
masuk, Nona!" Gadis itu berdiri keheranan melihat Gusti Ayu Retnaningsih
yang berparas elok dan mengenakan pakaian serba mahal. Sama sekali tak
diduganya, bahwa pemilik benteng atau setidak-tidaknya penguasa benteng itu
adalah seorang gadis begini agung. Itulah sebabnya setelah mengamat-amati
sejenak, Daru ia berkata "Aku kebetulan lewat di sini. Dari luar kulihat
nyala dian. Apakah Nona penghuni benteng kuno ini?" Sebenarnya Gusti Ayu
Retnaningsih akan memberi keterangan tentang dirinya dan apa sebab sampai
berada di benteng. Tetapi mengingat bahaya yang lagi mengancamnya tanpa
banyak cing-cong lagi terus ia mengiakan sambil mempersilakan. "Masuklah!"
Gadis itu kembali heran dan nyaris tak percaya kepada penglihatannya
sendiri. Pikirnya, benar-benarkah gadis ini penghuni benteng? Katanya
menegas lagi. "Maksudku... apabila Nona mengijinkan, aku hendak menginap di
sini." "Baik-baik, masuklah!" sahut Gusti Ayu Retnaningsih cepat.
Memperoleh sahutan itu, tiada ragu-ragu lagi masuklah gadis itu. Tatkala
menebarkan penglihatannya, mendadak ia melihat sang Dewaresi. Ia nampak
terkejut, lantas mundur selangkah sambil menghunus goloknya. Sang Dewaresi
kala itu telah memperdengarkan tertawanya, lalu datang mendekati menghadang
pintu. "Inilah jodoh!" katanya. "Semua-semuanya Tuhan yang mengatur
pertemuan ini. Kini terang sekali, bahwa engkau ditakdirkan datang padaku.
Inilah suatu karunia. Kalau karunia begini tiada diterima, benar-benar kita
manusia durhaka." Gadis yang datang itu sesungguhnya Nuraini. Ia pernah
kena tawan sang Dewaresi, dan pernah pula dicemarkannya. Setelah bentrok
hebat dengan Sanjaya, habislah sudah harapannya. Hatinya jadi tawar dan
merasa diri seorang yatim piatu. Di depan Titisari, ia memangkas rambutnya.
Kemudian melarikan diri tanpa tujuan tertentu. Pada malam harinya, ia
membanting dirinya dan menyesali nasibnya yang buruk. Setelah kepepatannya
agak surut, mulailah ia bisa berpikir dan menimbang-nimbang. Ia tak bisa
mempersalahkan Sanjaya. Sebaliknya— teringat kepada yang membuat gara-gara—
hatinya berdendam, tapi betapa bisa melawan sang Dewaresi yang gagah
perkasa dan mem-punyai kaki tangan tak terhitung jumlahnya. Meskipun
demikian, setelah menimbang-nim-bang beberapa hari lamanya, ia jadi nekat.
Pertama-tama ia hendak berpamit dari Sanjaya, untuk berpisahan
selama-lamanya. Kemudian mencari sang Dewaresi untuk membuat perhitungan.
Demikianlah—setelah menetapkan hati—ia berangkat ke timur hendak mencari
Kabupaten Bumi Gede. Di luar dugaannya, perang mulai pecah. Dengan
sendirinya ia memperoleh kesukaran-kesukaran di luar keinginan. Sanjaya tak
dapat diketemukan. Kabupaten Bumi Gede kosong. Semua pahlawan-pahlawannya
berangkat ke medan perang. Dengan hati bingung, terpaksalah ia berangkat
lagi menuju ke barat. Dalam kepepatannya, ia hendak menyusul Sanjaya di
medan pertempuran. Malam itu lewatlah ia di depan benteng. Setelah berjalan
berhari-hari lamanya, ia merasa diri letih. Mengira benteng itu adalah
suatu tempat yang aman, tanpa berpikir pan-jang lagi terus saja ia memasuki
benteng. Mendadak saja ia bertemu dengan sang Dewaresi. Ia belum pernah
bertemu dengan Gusti Ayu Retnaningsih. Mengingat dirinya sendiri, ia
mengira Gusti Ayu Retnaningsih salah seorang gula-gula sang Dewaresi. Ia
benci kepada sang Dewaresi. Tanpa berbicara lagi, terus saja ia menyambar
Gusti Ayu Retnaningsih sambil membabatkan goloknya. Sang Dewaresi
benar-benar tangguh dan waspada. Dengan sekali menjejak tanah, ia meloncat
menghadang dan menangkis golok Nuraini. Dan pada detik itu juga, ia
berhasil menangkap tangan Nuraini, kemudian dibekuknya sampai tak dapat
berkutik. Dalam pada itu, Gusti Ayu Retnaningsih lari menghampiri Fatimah
setelah terlepas dari bahaya. Ia hendak membebaskan Fatimah hanya saja tak
tahu bagaimana caranya. Selagi ia sibuk memijat-mijat, sang Dewaresi sudah
berhasil, memeluk Nuraini dan dibawa menghampiri. Ia berkata sambil tertawa
menang. "Eh, kau lagi apa?" Gusti Ayu Retnaningsih terkejut, sampai
melepaskan pijatannya. Selagi ia kehilangan ketetapan hati, terdengarlah
suara sang Dewaresi nyaring. "Adikku Titisari? Hayolah turun! Masakan
engkau akan melewati malam gembira ini?" Hampir berbareng dengan ucapannya
terlihatlah sesosok bayangan berkelebat mema-suki pintu. Dialah Sanjaya
anak angkat Pangeran Bumi Gede. Seperti diketahui, Sanjaya keluar benteng
jengan Pangeran Bumi Gede bersama-sama lengan kaburnya Manyarsewu, Cocak
Hijau, Yuyu Rumpung dan lain-lainnya. Pada saat itu rertempuran makin lama
makin sengit. r3sukan gabungan antara Pangeran Bumi Gede dan Patih Danureja
II kena didesak mundur oleh laskar kasultanan dibawah pimpinan Pangeran
Ontowiryo. Meskipun demikian, kekalahan ini belum merupakan kekalahan
mutlak. Masing-masing pihak masih bisa saling menerobos garis pertahanan.
Karena itu, Pangeran Ontowiryo dapat datang sampai di benteng itu.
Sebaliknya Pangeran Bumi Gede dan Sanjaya saat itu berada di belakang garis
depan laskar kasultanan. Setelah berputar-putar, Sanjaya berpisah lari ayah
angkatnya. Mereka saling berjanji hendak bertemu kembali di benteng itu. Di
tengah jalan mendadak ia melihat berkelebatnya Nuraini. Terus saja ia
menguntitnya, heranlah dia. waktu melihat Nuraini bersinggah di benteng
itu. Kecurigaannya timbul. Dengan mengendap-endap ia menghampiri benteng
dan mengintip dari balik tembok. Begitu melihat sepak terjang sang Dewaresi
terhadap kekasihnya, hatinya mendongkol. Memang, diam-diam ia bersakit hati
terhadap pendekar Banyumas itu yang memperlakukan Nuraini begitu rupa di
lumbung desa dahulu. Kini dengan mata kepalanya sendiri, ia menyaksikan
betapa sang Dewaresi memeluk Nuraini dan Gusti Ayu Retnaningsih dengan
bernafsu, sedang Fatimah menggeletak tak berdaya di atas meja. Ia belum
kenal Gusti Ayu Retnaningsih dan Fatimah, tetapi sudah dapat menduga-duga
tujuh bagian sebelumnya. "Ih! nDoromas Sanjaya!" seru sang Dewaresi girang.
"Kau datang lagi? Inilah namanya, engkau lagi kejatuhan rejeki." Dengan
menahan sakit hati, Sanjaya meng-angguk, la berpura-pura membawa sikap
belum mengenal ketiga gadis itu semua. Meskipun demikian, pandangannya
kelihatan geram. Melihat sikap Sanjaya dengan pandangan-nya agak geram sang
Dewaresi mengerenyitkan alis. "Jangan cemburu, nDoromas. Akupun tak kan
serakah. Kau boleh pilih, mana saja yang kausukai." Kembali Sanjaya
mengangguk. Matanya mencuri pandang kepada Nuraini yang kena peluk tak
berkutik. Sang Dewaresi tertawa perlahan. Kemudian oerkata acuh tak acuh.
"Ketiga-tiganya ini adalah milikku. Apakah mereka kurang cantik? Kukira,
aku sependapat dengan nDoromas bahwa mereka ini mempunyai kecantikan
masing-masing." Untuk ketiga kalinya Sanjaya mengangguk. Sang Dewaresi
tidak mengetahui adanya hubungan istimewa antara Nuraini dan Sanjaya.
Tatkala mereka dahulu bertemu di gelanggang mencari jodoh di Pekalongan, ia
tidak hadir. Meskipun tadinya Sanjaya tidak menaruh perhatian terhadap
gadis itu, tapi 'ambat laun hatinya mulai tergerak. Beberapa kali mereka
bertemu, berbicara dan bertengkar. Betapapun meninggalkan kesan juga. Kini
ia menyaksikan gadis itu berada dalam pelukan sang Dewaresi. Hatinya
bergolak, namun ia bisa mengendalikan diri. "Duduklah!" sang Dewaresi
mempersilakan. Sebentar lagi kita akan dapat menyaksikan pamandangan yang
menarik dan meng-asyikkan. Ia tertawa menyeringai. Matanya berkilat-kilat.
"Kau setuju tidak?" "Bagus!" Tiba-tiba Sanjaya menyahut dengan tertawa
riang. Mendengar ujar Sanjaya, Nuraini terkejut. Hatinya sakit dan panas
bukan main. Diam-diam ia mengerling kepada Sanjaya. Melihat sikap dan lagak
lagu pemuda itu, mendadak saja hatinya dingin dan bertambah tawar. Ingin ia
membunuh diri di depannya, agar terbebas dari suatu penderitaan. Oleh
pikiran ini tangannya lantas saja menggerakkan goloknya. Tapi belum sampai
ia berbuat sesuatu, sang Dewaresi telah mencengkeram pergelangan-nya. Mau
tak mau, ia harus melepaskan goloknya yang segera jatuh bergelontangan di
atas lantai. "Galak benar gadis ini," gerutu sang Dewaresi. "Biarlah ini
bagianku. Aku senang kepada gadis yang galak. nDoromas kuberi gadis yang
berada di atas meja. Bagaimana pendapatmu?" "Mana saja... bukankah semua
cantik jelita?" sahut Sanjaya riang. Ketiga gadis itu tak akan berkutik.
Namun pendengaran dan penglihatan mereka tak ter-ganggu. Karena itu, mereka
mendongkol mendengar dan melihat sepak terjang mereka. Meskipun hatinya mau
meledak, tapi mereka tak dapat berbuat apa-apa. "Ha—itulah jawaban seorang
laki-laki sejati," sang Dewaresi memuji. Tiba-tiba Nuraini menegakkan
kepalanya dan menatap wajah Sanjaya. Meledak, 'Sanjaya! Apakah engkau sudah
menjadi atang?" Hebat ucapan itu. Baik Nuraini maupun Sanjaya tergetar
hatinya. Seumpama tiada -terasa dirinya terdorong ke pojok, gadis sehalus
Nuraini tak kan mungkin mengucapkan kata-kata sekasar itu. Sanjaya pun
belum pernah kena maki demikian. Selama hidupnya entah sudah berapa kali ia
bersenang-senang rengan kaum wanita, tapi belum pernah dihinggapi nafsu
untuk hendak mencemarkan. Karena itu ucapan Nuraini benar-benar menusuk
hatinya. Tapi dasar licik dan licin, ia Disa menguasai diri. Dengan
tersenyum ia nembuang muka dan berkata kepada sang Dewaresi. "Benar," kata
sang Dewaresi. "Dia sangat galak." Mendengar ujar Sanjaya, sang Dewaresi
tertawa tergelak-gelak. Terus saja ia menyahut. "Itulah pikiran bagus! Hayo
kita bertaruh, di antara kedua gadis ini siapakah yang memiliki betis
paling bersih dan kuning." Setelah berkata demikian. Sang Dewaresi
menggerayangi tumit Gusti Ayu Retnaningsih. "Nanti dulu!" cegah Sanjaya.
"Golok ini harus kita singkirkan dahulu. Berdekatan dengan seorang
perempuan, harus bebas dari rasa ngeri." "Ah! nDoromas benar-benar teliti.
Hayo singkirkan golok itu! Ha—bagaimana pendapat nDoromas selanjutnya?"
"Aku adalah kelinci yang kejatuhan rejeki. Sebenarnya tak berhak ikut
menentukan.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar