Dari: "Daniel H.T."
>
>
> http://politik.kompasiana.com/2013/11/30/tekad-capres-aburizal-bagaikan-katak-hendak-menjadi-lembu-dan-si-punguk-merindukan-bulan-614557.html
>
> Aburizal Bakrie alias ARB (viva.co.id)
> Si pungguk itu sedang merindukan bulan. Dia bercita-cita terbang dan hinggap ke sana. Tetapi, apa daya dia hanya seekor burung kecil mungil. Jangankan terbang tinggi ke bulan, untuk terbang setinggi burung-burung lebih besar darinya saja dia tak mampu. Tetapi, karena si pungguk ini sangat luar biasa besar ambisinya, jauh melebihi kemampuannya, maka, fakta itu hendak dilawannya habis-habisan. Memang, kata orang bijak, jadi orang itu memang harus ulet, punya tekad baja, tak pantang menerjang hambatan apapun demi kemajuan dan kesuksesan. Tetapi, itu bukan berarti tanpa batas. Karena harus juga akhirnya realistis. Katak pun tak mungkin bisa menjadi lembu, sehebat apa pun dia berusaha.
> "Bagai pungguk merindukan bulan" adalah peribahasa yang dipakai untuk orang yang bercita-cita terlalu tinggi tanpa memikirkan realitas kemampuan dirinya sendiri.
> "Bagaikan katak hendak menjadi lembu" adalah peribahasa yang bermakna tentang orang yang mempunyai keinginan yang mustahil untuk bisa terwujud. Apabila dia terus memaksakan dirinya, seperti katak yang terus menggelembungkan tubuhnya supaya bisa menjadi sebesar lembu, akhirnya pecahlah tubuhnya itu, dan binasalah dia.
> Kedua peribahasa ini langsung terbersit di benak saya ketika membaca MajalahTempo, edisi 1 Desember 2013, dengan laporan utamanya mengenai calon presiden dari Partai Golkar Aburizal Bakrie alias Ical yang sedang berupaya keras sekeras-kerasnya dengan berbagai cara untuk mengdongkrak elektabilitasnya yang selalu hanya mencapai angka satu digit persen di berbagai survei capres.
> "Segala cara ditempuh untuk mengatrol pamor Aburizal. Berderet tim dibentuk, nama panggilan pun diubah. Model survei pun diutak-atik," demikian tulis Tempo dalam opininya.
> Seluruh kemampuan, enerji dan sejumlah besar dana pun dikucurkan habis-habisan demi mendongkrak elektabilitas Aburizal yang selalu berada pada angka satu digit persen di berbagai survei capres itu.
> Aburizal Bakrie adalah contoh terbaik tokoh pencitraan palsu yang dilakukan melalui berbagai cara pengrekayasaan secara habis-habisan, melalui berbagai cara, daya, dan dana yang pasti sangat besar jumlahnya, demi merebut kursi RI 1 di pilpres 2014.
> Irasional bin Tahyul
> Demi mencapai popularitas dan elektabilitas yang diinginkan, Aburizal melalui berbagai tim dan lembaga surveinya melakukan berbagai rekayasa dan pemolesan-pemolesan pencitraan palsu secara habis-habisan, bahkan termasuk hal-hal yang irasional berbau tahyul pun dilakukan.
> Misalnya nama sapaan Aburizal yang selama ini sudah begitu populer, "Ical", pun diupaya keras dihilangkan oleh tim pencitraannya, jangan pernah dipakai lagi, diganti dengan sebutan "ARB" – singkatan dari namanya Aburizal Bakrie. Alasannya, "ical" dalam bahasa Jawa dan Sunda itu berarti "hilang." Dalam bahasa Sunda "diicalkan" juga berarti "dijual," kata Sharif Cicip Sutardjo, salah satu ketua tim kampanye dan pencitraan Aburizal.
> Materi poster Aburizal yang sudah terlanjur beredar di Jawa Tengah pun ditarik kembali oleh tim pencitraannya. Padahal, itulah sebenarnya, citra asli dari sosok seorang Aburizal Bakrie.
> Materi poster tersebut berbunyi: "Pejah Gesang Nderek ARB," yang berarti "hidup, mati ikut ARB." Menurut tim pencitraannya, ungkapan itu hanya cocok untuk kondisi masa lalu, ketika rakyat diwajibkan memuja rajanya. Dikhawatirkan hal ini akan merusak citra Aburizal. Padahal, bukankah yang asli adalah yang lahir dari sebuah ide awalnya, bukan yang kemudian dipoles dan direkayasa agar tidak seperti itu?
> "ARB"
> Untuk mempopulerkan nama "ARB" berbagai cara pun dilakukan. Antara lain, dengan membentuk sebuah yayasan yang diberi nama Yayasan "Atap Rumah Bangsa", yang jika disingkat menjadi ARB. Yayasan ini membuat acara sayembara di TV One berupa sayembara pembuatan avatar dan poster sosok ARB, dengan hadiah Rp. 120 juta, berlangsung sejak Juni 2013 sampai dengan Juni 2014, bertepatan dengan semakin dekatnya penyelenggaraan pemilihan presiden 2014, yakni, pada 9 Juli 2014.Sedangkan, pemenangnya diumumkan tiap bulan di TV One, di acara berita Apa Kabar Indonesia, Kabar Petang, dan Kabar Malam.
> Yayasan ARB yang dipimpin oleh menantu Aburizal, Nia Ramadhani, di TV One juga menggarap acara bincang-bincang dengan berbagai komunitas bertajuk "Ayo Rembug Bareng-bareng," yang kalau singkat menjadi "ARB" juga.
> "ARB" ini akan semakin dipopulerkan ketika pipres 2014 semakin dekat.
> Pencitraan Palsu yang Begitu Masif
> Salah satu tim pencitraan Aburizal Bakrie dari sekian banyak tim yang ada, di bawah koordinasi Rizal Malarangeng adalah Media Center Badan Koordinasi Pemenangan Pemilu Golkar. Ketuanya. Erwin Aksa Mahmud, menjelaskan tentang tata kerja mereka memoleskan Aburizal agar kelihatan benar-benar merakyat.
> Misalnya, kebiasaan Aburizal ketika berkunjung ke daerah-daerah dan "terpaksa harus" berjabat tangan dengan rakyat kebanyakan adalah selalu mencuci tanganya bersih-bersih. Mungkin dia merasa jijik telah berjabat tangan dengan rakyat kecil yang miskin-miskin itu. "Kebiasan buruk" Aburizal Bakrie ini pun dihentikan oleh tim ini. Aburizal "dipaksa" untuk mengubah kebiasaannya itu, untuk menahan diri, jangan sampai kelihatan mencuci tangannya sehabis berjabat tangan dengan rakyat kebanyakan. Usaha itu berhasil, Aburizal kini sudah bisa mengendalikan, atau menghilangkan perasaan jijiknya itu. "Sekarang, Pak Ical sering lupa cuci tangan, langsung makan," kata Erwin.
> Tim pimpinan Erwin ini juga selalu memperhatikan gaya bicara, posisi duduk Aburizal, dan sebagainya ketika berada di ruang publik. Agar selalu kelihatan merakyat, ramah, dan berwibawa.
> Tim "meng-training" Aburizal untuk bisa berbicara merakyat ketika berkunjung ke daerah-daerah. Yaitu, dengan cara sebanyak mungkin menyelip beberapa istilah bahasa daerah setempat setiap kali dia berbicara atau berpidato. Terutama,ketika berkunjung di daerah-daerah di Jawa, karena popularitas suku Jawa sangat besar. Itulah sebabnya sempat selama beberapa bulan beredar iklan di berbagai media massa tentang kecintaan Aburizal Bakrie terhadap budaya Jawa.
> Iklan Aburizal Bakrie di Harian Kompas, 11 Oktober 2012
> Penampilan Aburizal Bakrie pun ditata dan diatur sedemikian rupa, sampai hal-hal kecil pun tak luput dari perhatian mereka, agar citra Aburizal selalu kelihatan bagus di depan publik. "Kadang duduknya melorot, ya, kami ingatkan supaya tegak lagi." Jelas Erwin. Tim juga mengingatkan kalau Ical berbicara terlalu perlahan seperti bergumam atau meminta istirahat jika ia terlihat sudah payah.
> Ini sungguh-sungguh merupakan cara-cara pengrekayasaan pencitraan kerakyatan yang sangat dibuat-buat dan memuakkan. Pencitraan palsu yang begitu masif. Tak heran dalam opini Majalah Tempo edisi tersebut di atas, secara telah menulis: "Aburizal Bakrie tidak layak menjadi presiden."
> Mobil operasional Capres Partai Golkar Aburizal Bakrie tertangkap kamera sedang menerobos jalur busway, 27/11/2013 (merdeka.com)
> TV One dan AN TV Dimanfaatkan Habis-habisan
> Setelah ditetapkan secara resmi sebagai capres dari Partai Golkar, Aburizal pun segera membentuk tim pencitraan dirinya dengan berbagai cara membuatnya kelihatan tampil merakyat. Tim itu dipimpin dan dikoordinasi oleh Rizal Malarangeng dan Fuad Hasan Mansyur. Berbagai iklan dirancang, berbagai acara dibuat, berbagairoad show diagendakakan, dan agar semuanya itu benar-benar efektif, maka dua stasiun televisi milik Aburizal pun dimafaatkan secara maksimal, TV One dan ANTV. Kedua televisi ini wajib untuk menyiarkan iklan-iklan dan berbagai berita road showcapres dari Partai Golkar sekaligus big boss mereka itu.
> Iklan ARB di ANTV
> Bahkan untuk urusan road show ke berbagai daerah tim dari TV One pun dilibatkan secara langsung. Sejak satu setengah tahun lalu, agenda keliling daerah itu diklaim sudah lebih dari 250 kabupaten dan kota dikunjungi. Bahkan 70 persen lebih daerah di luar Pulau Jawa sudah didatangi.
> Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menyatakan iklan Aburizal Bakrie itu ditayangkan setiap hari di TV One dan ANTV, mulai pukul 03:00 sampai dengan 23.00 WIB. Dalam kurun waktu itu pula setiap harinya ada 10 berita tentang Aburizal Bakrie. Data KPI, April 2013, misalnya, ada 148 iklan di masing-masing TV One dan ANTV.
> Kelihatannya kehadiran iklan-iklan dan pemberitaannya di kedua televis miliknya itu merupakan "perintah" langsung dari Aburizal. Dia sendiri berkata, ribuan orang biasanya hadir dalam pertemuan dia datangi. Tetapi, yang terpenting adalah dia harus masuk media. "There is no such thing as bad publicity. All publicity is good publicity," kata Aburizal.
> Manipulasi tayangan TV One, gambarnya memperlihatkan Aburizal dielu-elukan di Ciamis, teksnya tentang telah terpenuhinya semua kewajiban Lapindo/Aburizal (Sumber: TV One / repro)
> Meskipun sudah habis-habisan seperti itu, elektabilitas Aburizal masih tetap tak beranjak dari satu digit persen hasil berbagai lembaga survei mengenai elektabilitas beberapa tokoh sebagai capres di pilpres 2014.
> Aburizal Bakrie tetap saja kalah jauh daripada Jokowi, Prabowo Subianto, dan Megawati Soekarnoputri. Elektabilitasnya juga kalah jauh daripada partainya sendiri, Golkar.
> Meskipun fakta-faktanya sudah sedemikian payah, "si katak" tetap saja bermimpi untuk menjadi "lembu." Maka, untuk mewujudkan mimpinya yang mustahil itu, dibentuklah tim-tim khusus untuk bergerak di segala lini. Dibentuk pula tim dari Partai Golkar dengan nama Tim Relawan Beringin dan tim khusus yang dipimpin oleh Ketua Dewan Pertimbangan Golkar Luhut Binsar Panjaitan. Dia bertugas untuk menglobi dan menggalkang dukungan dari kalangan TNI. Luhut juga membentuk "Tim Begawan," yang terdiri dari 22 politikus lintas partai.
> Di kalangan internal Partai Golkar dibentuk Badan Koordinasi Pemenangan Pemilu, yang terdiri dari para calon anggota DPR dari partai tersebut, dipimpin oleh Sharif Cicip Sutardjo, dengan tiga program utamanya yang disebut "program 3 in 1", yaitu para calon legislator harus berkampanye untuk Aburizal, partai, dan pribadi masing-masing.
> "Sang Katak Mengincar "Lembu"
> "Sang katak" dengan penuh percaya diri pun mencari calon-calon pendampingnya sebagai calon wakil presiden. Mereka yang diincar antara lain, Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, mantan Kepala Staf TNI AD Jenderal Purnawirawan Pramono Edhie Wibowo, Gubernur Yogyakarta Hamengku Buwono X, mantan Ketua MK Mahfud MD, dan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi. Sebelumnya, pernah juga Dahlan Iskan diincar, tetapi karena yang bersangkutan ikut konvensi capres Partai Demokrat, nama tersebt pun disingkirkan.
> Padahal semua tokoh itu jauh lebih pantas maju sebagai calon presiden daripada Aburizal itu sendiri. Ini jelas politik akal-akalan licik, yang memanfaatkan nama-nama besar tokoh-tokoh tersebut demi meraih suara sebanyak-banyaknya di pilpres 2014. Kalau ada rakyat memilih pasangan Aburizal dan salah satu dari tokoh-tokoh tersebut, sebagian besar pasti karena faktor Aburizal, tetapi karena tokoh yang mendampinginya itu.
> Ini, ibaratnya seperti "sang katak yang mengincar lembu" untuk dipasangkan sebagai pendampingnya.
> Dalam hasil survei Litbang Kompas, yang diumumkan pada Agustus 2013 lalu, misalnya, elektabilitas Jokowi mencapai angka 32,5 persen, sedangkan Aburizal Bakrie hanya 8,8 persen. Tragis bin ironis dibandingkan dengan Jokowi yang boleh dikatkan tidak berbuat apa-apa, tanpa biaya sepeser pun, popularitas dan elektabilitasnya sudah begitu tinggi di berbagai hasil survei. Jauh melebihi Aburizal yang demi memaksa naiknya popularitas dan elektabilitasnya itu sudah mengeluarkan semua cara, daya dan dana yang pasti sangat besar. Mungkin sudah atau akan mencapai angka triliunan rupiah.
> Para tokoh yang diincar untuk mendampinginya sebagai cawapres-nya tentu bukan dari orang-orang bodoh yang bisa sedemikian gampang dipengaruhi. Sampai sekarang, tidak ada satu pun tokoh itu yang menginsyaratkan mau menjadi calon pendamping Aburizal. Soekarwo sudah dengan tegas mengatakan, tidak. Jokowi, sudah pasti, mustahil mau.
> Kalau sudah begitu, ketika waktu, daya dan dana sudah sedemikian tercurah habis, apakah kalau sudah menjadi presiden sosok seperti Aburizal itu akan menjadi presiden yang bersih? Siapa yang percaya, dia tidak akan melakukan segala upaya memanfaatkan kekuasaan yang ada di tangannya untuk mengembalikan semua pengorbanan dan biaya tersebut, dan kemudian memperoleh "laba besar" dari kursi presidennya itu? Apalagi sebagai seorang konglomerat yang memiliki banyak perusahaan strategis.
> Untunglah, dia akan tetap menjadi "katak", yang tak mungkin bisa menjadi "lembu."
> Akal-akalan Membuat Hasil Survei yang Masuk Akal
> Bukan hanya hasil survei Litbang Kompas saja yang menunjukkan elektabilitas Aburizal selalu hanya mencapai satu digit persen, tetapi, juga semua hasil survei lain yang pernah diadakan. Rupanya, bagi Aburizal, semua hasil survei tersebut "tidak realisitis". Maka itu dia pun mencari dan menyewa lembaga survei yang bisa melakukan survei yang "lebih realistis." Untuk lebih meyakinkan, bukan hanya satu lemabga survei yang disewakannya, tetapi sampai beberapa.
> Mereka adalah Lingkaran Survei Indonesia, Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial, Indobarometer, Metanusa, serta Celebes Research Center. Mereka dikerahkan untuk mengadakan jajak pendapat di 77 daerah pemilihan. Biayanya Rp. 75 juta – Rp. 100 juta per daerah pemilihan setiap survei. Semuanya bertugas untuk mengdongkrak elektabilitas Aburizal Bakrie agar bisa menang dalam pilpres 2014.
> Yang paling utama adalah lembaga survei yang sudah disewa Aburizal sebagai konsultannya sejak 2011, yaitu Lingkaran Survei Indonesia. Untuk mencapai hasil survei yang lebih "masuk akal" itu, maka diperlukan akal-akalan dalam menetapkan survei tersebut. Salah satunya adalah dengan menghilangkan sejumlah nama yang selama ini selalu di atas Aburizal, seperti Jokowi dan Prabowo Subianto. Untuk itu mereka punya argumennya.
> Argumennya, survei itu harus fokus pada "calon presiden yang benar-benar mungkin". Jokowi disingkirkan karena belum pasti dicalonkan PDI-P. Prabowo juga dikeluarkan karena dianggap partainya tidak akan memperoleh tiket pencalonan dalam pemilihan tahun depan.
> Alasan Moh. Barkah Pattimahu, peneliti lembaga survei itu, mengikutsertakan banyak tokoh hanya tepat jika pemilihan umum masih jauh. Semakin dekat pelaksanaan pemilihan, menurut dia, survei harus lebih riil agar dekat dengan peta politik yang sebenarnya.
> Lingkar Survei menetapkan tiga syarat tokoh yang akan disurvei, yakni, berada dalam struktur partai, didukung keputusan resmi partai, dan potensi partai itu memperoleh suara tiga besar. Berdasar UU Pilpres, capres hanya bisa diajukan oleh partai atau gabungan partai yang meraih minimal 20 persen kursi di DPR atau 25 persen suara nasional. Dengan kriteria itu Lingkar Survei menetapkan yang masuk dalam survei mereka adalah Aburizal Bakrie, Megawati, dan Dahlan Iskan yang diperkirakan akan memenangi konvensi Partai Demokrat. Dengan sengaja mengabaikan kemungkinan gabungan partai, padahal kemungkinan itu besar.
> Tetapi, meskipun sudah dipaksakan sampai sedemikian rupa, tetap saja Aburizal tidak bisa mencapai posisi teratas. Hasil sigi Lingkaran Survei pada Oktober lalu menunjukkan elektabilitas Aburizal hanya berada di peringkat kedua, di bawah Megawati. Meskipun, angkanya memang tipis, yaitu 29,8 persen dan 28,6 persen. Sedangkan untuk popularitas, Aburizal juga masih kalah dengan Megawati.
> Belum puas dengan hasil tersebut, maka Lingkaran Survei mengatakan akan melaksanakan survei berikutnya lagi. Entah akal-akalan survei macam bagaimana pula yang akan mereka lakukan supaya hasilnya menunjukkan Aburizal Bakrie berada pada posisi teratas hasil survei.
> Sekeras apapun, sehebat apapun upaya memaksa membuat "katak" menjadi "lembu", dan supaya "Sipunguk bisa mencapai bulan", hasil akhirnya tetaplah di tangan rakyat juga. Rakyat yang sudah semakin cerdas untuk memilih pimpinannya, sebagaimana telah terjadi di Pilkada DKI Jakarta 2012 lalu. ***
> Catatan:
> Sebagian besar bahan pembuatan artikel ini diambil dari Majalah Tempo, edisi 1 Desember 2013.
> Artikel terkait:
> - Aburizal Presiden? Layakkah? (Kompasiana, 21/12/2010),
> - Aburizal Bakrie-Dahlan Iskan, Pasangan Capres-Cawapres yang Paling Tidak Pantas (Kompasiana, 17/04/2012),
> - Petaka Jika Aburizal Bakrie Jadi Presiden (Kompasiana, 31/05/2012),
> - Duet Ical-Jokowi, Seperti Fabel Harimau dengan Rubah (Kompasiana,21/02/2013),
> - Mereka yang Gerah dengan Hasil Survei Litbang Kompas (Kompasiana,28/08/2013)
>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar