@bende mataram@
Bagian 310
Tetapi betapapun juga, hubungan antara guru dan murid yang lebih dari
sepuluh tahun meninggalkan kesan juga. Dalam kebenciannya, ia mengharapkan
kesadaran muridnya. Kini ia mendengar, Sanjaya akan kembali ke jalannya
yang benar. Betapa ia takkan gembira. Panembahan Tirtomoyo, sebaliknya
meragukan ucapan Sanjaya. Selagi dua orang mengadu kepandaian, orang ketiga
lebih mengetahui kelemahan-kelemahannya dengan jelas, demikianlah kata
pepatah. Karena itu, beralasan juga keraguannya. Hanya saja, sebagai
seorang pendeta ia bisa membatasi diri. "Bagaimana menurut pendapatmu?"
Tiba-tiba Ki Hajar Karangpandan minta pertimbangannya. "Memberi kesempatan
kepada seseorang yang ingin kembali ke jalan benar adalah per-buatan
seorang laki-laki sejati," jawabnya. "Bagus!" Ki Hajar Karangpandan
bergem-bira. Kemudian kepada Sanjaya, "Baik-baiklah kau menjaga diri.
Sekiranya kau tak sanggup, larilah kepadaku. Aku takkan tinggal diam demi
kebaikanmu." Sanjaya girang mendengar keputusan gurunya. Hal itu berarti,
bahwa dia diperkenankan meninggalkan benteng dengan tak kurang suatu apa.
Khawatir kalau keputusan itu akan berubah, cepat ia membungkuk dan minta
diri. Kemudian dengan menyambar ta-ngan Nuraini ia keluar dari benteng.
Sebenarnya, dalam hati kecil Nuraini terasa sesuatu yang kurang yakin
terhadap kata-kata Sanjaya. Tapi apa itu, dia sendiri tak tahu. Ia
menghibur diri—bahwa di hadapan gurunya— pastilah Sanjaya. tak berani
memutar lidah. Dengan pertimbangan itu, ia membiarkan dirinya dibawa pergi
Sanjaya, tanpa membantah. Ki Hajar Karangpandan puas melihat kerukunan
mereka. Ia yakin, Nuraini akan dapat merubah watak Sanjaya yang buruk.
Terbukti tuntutannya akan dipenuhi pemuda itu. Sekonyong-konyong terdengar
Jaga Sara-denta meledak. "Hai—hai, Pendeta Edan! Bagaimana sekarang perkara
Adipati Su-rengpati. Kau jangan hanya sibuk perkara perjodohan." Ki Hajar
Karangpandan menoleh. Menyahut, "kebahagiaan di luar ditentukan dahulu
dalam rumah tangga. Apakah salahnya aku membereskan dahulu urusan muridku?"
"Bagus! Akupun hendak berbicara atas nama muridku," potong Jaga Saradenta.
"Dia kabarnya luka parah. Masakan aku akan tinggal diam. Kalau kau tak sudi
mengurus, akupun tak menghendaki bantuanmu. Selamat tinggal!" "Nanti dulu!"
Ki Hajar Karangpandan terke-jut. Kemudian tertawa terbahak-bahak. "Kita
makin lama makin menjadi tua. Otak kita mulai pikun. Maafkan hal itu!
Meskipun Sangaji bukan muridku, tetapi dia anak sahabatku." "Ngomonglah
terus. Aku mau pergi dan aku akan pergi," potong Jaga Saradenta. Pendekar
ini beradat uring-uringan karena seorang penaik darah, la gampang
tersinggung. Hati-nya yang cepat panas, gampang menyala. Te-tapi sebenarnya
gampang pula dipadamkan. Ki Hajar Karangpandan bukan seperti Wirapati yang
pandai melayani hati seseorang. Mendengar kata-kata Jaga Saradenta yang
kaku, ia merasa pula tersinggung kehormatannya. Dasar wataknya mau menang
sendiri, lantas saja menyahut. "Kau mau pergi-pergilah! Siapa sudi
menangisi kepergianmu." Jaga Saradenta jadi kalap. Sebelum Panembahan
Tirtomoyo keburu mencegah, dia sudah menghilang di balik pintu. Orang tua
itu menghela napas panjang. "Biarlah dia pergi, Guru," kata Surapati. "Di
Jakarta dahulu aku dimaki-maki dan hendak membanting daku." "Apa kau
bilang?" bentak Ki Hajar Karangpandan. Ia tak senang terhadap murid-nya ini
yang usilan dan gemar mencampuri pembicaraan orang-orang tua. Dan selagi
Surapati hendak menjawab, terdengarlah suatu kesiur angin dahsyat di luar.
Kemudian disusul dengan suara tertawa panjang. "Kebo edan! Jangkrik Bongol!
Kalian benar-benar hebat," terdengar suara nyaring. Itulah kata-kata Gagak
Seta. Mereka bertiga sudah berlomba lari satu malam penuh. Setelah sampai
di benteng, mestinya habislah perlombaan itu. Tetapi Gagak Seta tahu, bahwa
luka Sangaji belum pulih kembali. Inilah berbahaya apabila membiarkan Kebo
Bangah berada dalam benteng. Menghadapi Kebo Bangah seorang ia tak takut.
Tetapi Adipati Surengpati yang tak begitu senang terhadap Sangaji,
jangan-jangan membantu Kebo Bangah dengan diam-diam. Kalau sampai terjadi
begitu, celakalah dia. Karena itu begitu sampai di benteng ia berputar
kembali membelok ke barat. "Hayooo... kita melihat Gunung Slamet dahulu,"
serunya panjang. Kebo Bangah dan Adipati Surengpati adalah dua pendekar
sakti yang mau menganggap dirinya paling perkasa di zaman itu. Karena itu
betapa sudi dianggap kalah. Maka mereka berdua berlomba-lomba lagi
menjajari Gagak Seta lari ke barat. Ki Hajar Karangpandan, Panembahan
Tirtomoyo dan Ki Tunjungbiru ternganga-nganga menyaksikan adu lari itu.
Kalau ketiga orang itu berdiri ternganga-nganga, kesan hati Surapati tak
usah dibicarakan. Pemuda itu tertegun seperti tak mempercayai
penglihatannya sendiri. "Hajar! Kau tahu siapa mereka?" ujar Ki
Tunjungbiru. "Siapa?" "Mereka Kebo Bangah dan Adipati Su-rengpati. Yang
berbicara tadi, mestinya Gagak Seta. Kalau Kyai Kasan Kesambi tak mungkin
berlomba lari begitu edan-edanan." "Bagaimana kau^ tahu, mereka Kebo
Bangah, Adipati Surengpati dan..." "Siapa lagi yang dijuluki Kebo edan dan
Jangkrik Bongol dalam dunia ini, selain Kebo Bangah dan Adipati
Surengpati?" Ki Tunjung-biru memotong. "Kau hendak mencari Adipati
Surengpati. Kalau kau sanggup, kejarlah dia!" Titisari senang mendengar
ucapan Ki Tunjungbiru. Dengan mencibirkan bibir, gadis itu berkata
merendahkan. "Huuu... kau boleh bertapa sepuluh tahun lagi... masakan kau
mampu mengejar Ayah. Boleh coba!" Meskipun benar ucapan Titisari, tapi
Sangaji tahu bahwa gadis itu terlalu jengkel terhadap pendeta edan-edanan
itu. Karangpandan, Panembahan Tirtomoyo, Ki Tanjungbiru dan Surapati
kemudian duduk di atas kursi beristirahat. Mereka bermaksud menunggu
kedatangan Sanjaya kembali yang sanggup memenuhi syarat Nuraini akan
mem-bawa kepala Pangeran Bumi Gede sebagai mas kawin. Kira-kira lewat
tengah hari, masuklah dua orang berturut-turut. Mereka ternyata Bagus
Kempong dan Suryaningrat. Seperti diketahuimereka berdualah yang mewartakan
tentang Wirapati kepada Ki Hajar Karangpandan. Kemudian mereka turun gunung
bersama-sama untuk mencoba mencari penganiaya Wirapati berbareng berusaha
mencari obat pemunah racun ). Titisari belum pernah melihat Suryaningrat,
guru Gusti Ayu Retnaningsih dan Fatimah. Lantas saja ia mengintip dari sela
dinding. Mereka tidak banyak berbicara. Setelah saling bersabar, keduanya
duduk meng-hempaskan diri di atas kursi. Nampak benar, betapa wajahnya
bermuram durja. Gurunya Kyai Kasan Kesambi berkata, bahwa Wirapati bisa
ditolong apabila mereka berhasil mene-mukan obat pemunah racunnya dalam
waktu tiga bulan. Apabila tidak, nyawa Wirapati tidak akan tertolong lagi.
Selama mereka berputar-putar dari tempat ke tempat, mereka sudah
menghabiskan waktu hampir dua bulan. Karena itu hatinya bergelisah bukan
main. Sedangkan tandanya akan berhasil masih tetap nihil. "Apakah kalian
tadi bertemu dengan Kebo Bangah, Adipati Surengpati dan Gagak Seta?" tanya
Ki Hajar Karangpandan. Bagus Kempong dan Suryaningrat mengge-lengkan
kepala. Panembahan Tirtomojo merenunginya. Kemudian berkata penuh
pengertian, "Kalian sangat letih. Beristirahatlah!" Bagus Kempong dan
Suryaningrat, lantas saja duduk bersimpuh. Mereka bersemadi untuk
menghilangkan keletihannya. Dan dalam benteng sunyi senyap, meskipun pada
siang hari. Diam-diam, Sangaji mulai berlatih lagi. Dia kini sudah hampir
memasuki hari ke empat. Wajah Titisari nampak kuyu dan pucat. Ia jadi
bingung melihat keadaan kekasihnya yang tak khawatir, ramalan Gagak Seta
akan terjadi. Yakni, lambat laun tenaga jasmaninya akan terhisap oleh
himpunan tenaga menjadi satu yang bergejolak dalam dirinya. "Titisari!
Sudahlah. Biarlah aku cacat," katanya berbisik. Gadis itu berpaling
terkejut bercampur heran, sebentar saja tahulah dia. Apa sebab Sangaji
berkata demikian. Cepat ia merekam Sangaji dan berkata meyakinkan. "...
kalau kau mati, masakan aku mau hidup? Kalau kau cacat, akupun akan menebas
kedua lenganku." Sangaji kenal watak dan adat Titisari. Sekali berkata
demikian, gadis itu dapat membuktikan. Memperoleh pertimbangan demikian, ia
menguatkan diri. Terus saja ia tenggelam dalam semadinya. Tahu-tahu hari
sudah malam. Sekarang tibalah waktu beristirahat. Titisari menyajikan
beberapa potong mangga dan sisa daging ayam. Dengan berdiam diri mereka
menggerumuti sepotong demi sepotong. Meskipun hidangan demikian tak sanggup
mengenyangkan perut, tetapi lumayan juga untuk menambah tenaga. Waktu
mereka melemparkan pandangan ke bawah, Ki Hajar Karangpandan dan
kawan-kawannya masih saja berdiam diri. Wajahnya nampak gelisah, karena
Sanjaya belum juga menampakkan batang hidungnya. "Hm," akhirnya terdengar
dengusan Panembahan Tirtomoyo. "Apakah bocah itu mempermainkan kita lagi?"
Ki Tunjungbiru menghela napas, tetapi ia tak berkata sepatahpun. "Mencari
Pangeran Bumi Gede. Bukanlah segampang mencari ayam," Ki Hajar Karangpandan
membela. "Eh, semenjak kapan kau berubah begini sabar?" Panembahan
Tirtomoyo heran. Namun terang sekali, bahwa nada suaranya agak mengejek. Ki
Hajar Karangpandan melototkan matanya. Mau ia berbicara, tapi batal
sendiri. Agaknya ia segan juga terhadap kakak seper-guruannya. Mereka
berdiam lagi untuk beberapa saat lamanya. Sekonyong-konyong terdengar suara
langkah tergesa-gesa dengan napas memburu. Dan nampaklah Jaga Saradenta
datang kembali memasuki benteng. "Hajar! Muridmu memang hebat," katanya
terengah-engah. "Benar-benar dia datang membawa kepala Pangeran Bumi Gede.
Aku datang ke mari untuk ikut menyaksikan.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar