12.11.2019

@bende mataram@ Bagian 309

@bende mataram@
Bagian 309


Dalam pada itu, mendengar Sangaji luka parah—Jaga Sarandenta nampak
terkejut. Ia hendak ikut berbicara, sekonyong-konyong muncullah Surapati
yang kemarin kena gebah Adipati Surengpati pula. Semalam ia bergulak-gulik
tak dapat tidur pulas. Hatinya masih panas terhadap Fatimah dan Gusti Ayu
Retnaningsih. Ia berniat hendak mencin-cangnya sampai takluk kepadanya.
Maka pada pagi hari itu, diam-diam ia kembali ke benteng. Dengan hati-hati
ia mengintip, karena takut kepergok Adipati Surengpati. Selagi mengintip,
tibalah rombongan Ki Hajar Karangpandan. Terus saja ia ikut menimbrung.
"Guru! Adipati jahanam itu benar-benar menghina aku di dalam benteng ini.
Aku dikatakan tiada harganya sebagai murid Guru." Murid kedua Ki Hajar
Karangpandan sengaja menyebut Adipati Surengpati sebagai adipati jahanam.
Maksudnya hendak mengadu. Ia percaya, gurunya akan sanggup membalaskan.
Mendengar keterangan Surapati, Ki Hajar Karangpandan tertegun-tegun. Mau
tak mau, ia terpaksa mendengarkan ocehan Sanjaya tujuh bagian. "Hm!"
terdengar suara Jaga Saradenta. "Apakah benar Sangaji dilukai Adipati
Surengpati?" Sanjaya menegakkan kepala. Samar-samar ia seperti pernah
melihat orang itu. Dasar otaknya encer, terus saja ia terbayang kepada
pertempuran di Pekalongan. Maka tiada ragu-ragu lagi ia mengangguk.
"Bangsat!" Jaga Saradenta memaki. "Apakah Adipati Surengpati sudah
kejangkitan sepak-terjang muridnya si iblis Pringgasakti?" Watak Jaga
Saradenta memang bera-ngasan. Pikirnya pendek cepat. Ia tak bisa memikir
jauh seperti Wirapati. Dahulu, hampir saja ia membunuh Sangaji karena suatu
dugaan belaka. Kali ini demikian pula. Dendam kesumatnya terhadap
Pringgasakti bukan main besarnya. Karena membenci dan mendendam kepada
Adipati Surengpati seba-gai guru iblis itu. Gcapan dan sikap Jaga Saradenta
itu berpengaruh besar terhadap Ki Hajar Karangpadan. Pendeta edan-edanan
itu terus saja tertawa terbahak-bahak. Lalu meledak: "Nama Adipati
Surengpati sejajar dengan pendekar-pendekar sakti Kyai Kasan Kesambi,
Pangeran Mangkubumi I, Kyai Haji Lukman Hakim, Gagak Seta, Kebo Bangah dan
Pangeran Sambernyawa. E—hem... di antara kita ini, belum pernah melihat
wajahnya. Aku mengagumi dia. Dan sudah semenjak lama aku ingin
berkenalan..." "Bagus!" potong Panembahan Tirtomoyo dengan tertawa. "Kau
khilaf. Pada zaman Perang Giyanti, pernah aku mengenalnya, la adalah
seorang pendekar yang bertabiat aneh. Kau sendiri seorang pendeta
berangasan dan angin-anginan. Jikalau engkau sampai berte-mu pandang,
masakan takkan terbit suatu gara-gara hebat? ... Hajar! Berpikirlah panjang
sedikit. Muridmu Surapati ini, menurut katanya pernah bertemu dan dihina
Adipati Surengpati. Tetapi ia selamat dan sehat walafiat. Itulah suatu
tanda, bahwa ia menghargai dirimu." Tetapi Ki Hajar Karangpandan tak
gam-pang-gampang kena bujuk. Sekali sudah dipu-tuskan, tiada seorangpun di
dunia ini yang bisa menggagalkan. Katanya nyaring, "Sangaji adalah anak
sahabatku Made Tantre. Empat belas tahun yang lalu, Tuhan memberi
kesem-patan padaku untuk menjabat tangannya. Dialah seorang laki-laki
sejati yang jarang ter-dapat dalam pergaulan hidup ini. Keluarganya hancur
karena gara-garaku. Kini aku mendengar anak satu-satunya luka parah. Apakah
dia terluka oleh Adipati Surengpati, itu bukan alasanku untuk mencarinya.
Aku hanya ingin mendengar keterangan tentang diri Sangaji lewat mulutnya.
Itulah kehendakku." Hebat ucapan Ki Hajar Karangpandan itu. Sangaji sampai
tergetar hatinya. Dalam hatinya berkata, Ki Hajar menyebut ayahku sebagai
sahabatnya. Sudah empat belas tahun lebih, Ayah meninggal dunia. Namun dia
tetap terkenang dan menghormati. Ia jadi terharu. Dengan mata merah ia
mengikuti gerak-gerik pendeta edan-edanan itu. Sebaliknya, Titisari
mendongkol terhadap-nya. Dahulu di Pekalongan ia berkesan kurang baik, kini
mendadak timbul suatu perkara baru. Dan rupanya pendeta edan-edanan itu mau
menganggap ocehan Sanjaya benar. Keruan saja hatinya panas. Kalau saja tak
menyangkut nama ayah Sangaji ingin ia menyumpahi. Tiba-tiba Panembahan
Tirtomoyo yang tak menyetujui Ki Hajar Karangpandan hendak menuntut dendam
kepada Adipati Surengpati, berkata mengalihkan pembicaraan. "Hajar! Muridmu
kini bersama-sama dengan Nuraini. Apakah mereka sudah kawin?" Ki Hajar
Karangpandan seperti tersadar. Semenjak ia memperoleh keterangan dari
Panembahan Tirtomoyo tentang sepak terjang Sanjaya yang menyia-nyiakan
Nuraini, ia ber-janji hendak menggunakan pengaruhnya sebagai guru terhadap
murid. Ia berkesan baik terhadap Nuraini. Kalau gadis itu bisa merubah
tabiat Sanjaya yang buruk, bukankah namanya sebagai guru tidak akan
tercemar? Maka segera ia bertanya, "Apakah kamu berdua sudah kawin?"
"Belum," sahut Sanjaya. Kali ini, dia tak berani berdusta. Panembahan
Tirtomoyo tertawa perlahan sambil mengurut jenggotnya. Lalu berkata
menganjurkan. "Sebaiknya kalian harus kawin. Kalian akan menjadi sepasang
suami istri yang mempunyai harapan besar di kemudian hari," ia berhenti
mengesankan. Kemudian kepada Ki Hajar Karangpandan. "Hajar! Kau adalah
seorang pendeta. Kau berhak mengawinkan seseorang. Setidak-tidaknya gantung
nikah. Kusarankan, lebih baik kauresmikan saja kedua muda-mudi itu. Dengan
demikian tidak akan membawa-bawa namamu." Sangaji dan Titisari saling
memandang. Titisari bersyukur dalam hati. Pikirnya, akhirnya Nuraini
terkabul juga idam-idaman hatinya. Sangajipun tak terkecuali. Teringat
peristiwa gelanggang pertarungan di Peka-longan, tak terasa ia berbisik.
"Kalau tahu bakal jadi begini... tak perlu aku berkutat mati-matian
merongrong kewibawaan Sanjaya di depan orang banyak..." Dalam pada itu
Sanjaya nampak mem-bungkuk hormat kepada gurunya sambil berkata penuh
takzim. "Guru! Aku adalah bagian hidup Guru. Aku bersedia patuh kepa-da
keputusan Guru." "Hm," dengus Ki Hajar Karangpandan kaku. "Apakah kau
bersedia kukawinkan?" Sanjaya mengangguk. Ki Hajar Karang-pandan
melemparkan pandang kepada Ki Tunjungbiru yang nampak bersenyum rahasia.
Sangaji jadi geli juga. Ia tahu arti senyum Ki Tunjungbiru. Antara kedua
pendekar itu pernah timbul suatu perselisihan berlarut-larut perkara
perempuan. Akhirnya mereka bersumpah takkan kawin seumur hidup dan tak mau
tahu-menahu perkara kehidupan perempuan. Siapa mengira, akhirnya Ki Hajar
Karangpandan terlibat juga perkara kehidupan perempuan pada hari itu.
Justru terjadi di depan mata Ki Tunjungbiru. Tetapi Ki Tunjungbiru pun tak
dapat membebaskan diri untuk bersikap tak tahu-menahu. Karena dia harus mau
jadi saksi calon pengantin. Selagi mereka saling memandang, mendadak
terdengar suara Nuraini. "Aku bersedia menjadi isterinya. Tetapi dengan
satu syarat. Kalau syarat itu tidak dipenuhi dahulu, meskipun mati tak mau
aku dikawini." Baik Ki Hajar Karangpandan, Panembahan Tirtomoyo maupun
Sangaji dan Titisari terke-jut semua. Sama sekali mereka tak mengira, bahwa
Nuraini yang gandrung kepada Sanjaya bisa berkata segalak itu, kesannya
mengan-cam pula. Inilah mengherankan. "Kau menghendaki satu syarat. Apakah
itu?" Ki Hajar Karangpandan menegas. "Mertuaku—ayah Sanjaya tewas di tangan
Pangeran Bumi Gede. Aku menghendaki, agar Sanjaya membawa kepala Pangeran
Bumi Gede dahulu sebagai mas kawinku. Kalau hal itu sudah dipenuhi, aku
bersedia dikawinkan pada sembarang waktu." Hebat kata-kata Nuraini itu.
Memangnya, Ki Hajar Karangpandan hendak menuntut balas pula. Di depan
matanya sendiri, Pangeran Bumi Gede membunuh Wayan Suage. Hanya saja ia
segan terhadap Sapartinah. Bukankah Sapartinah sahabatnya pula? Kalau
Sapartinah sudah merasa berbahagia hidup di samping Pangeran Bumi Gede,
adalah salah apabila membuatnya jadi sengsara. Karena itu setiap kali
timbul niatnya hendak menuntut balas, selalu batal sendiri. Maka itu,
begitu mendengar ucapan Nuraini dengan penuh semangat ia menyambut. "Bagus!
Syaratmu cocok dengan seleraku. Nah, Sanjaya! Kau setuju tidak, syarat ini?
Hayo bilang terus terang!" Sanjaya kaget mendengar kata-kata guru-nya.
Syarat yang dikemukakan Nuraini terlalu berat baginya. Tapi dasar cerdik
pergolakan hatinya tak nampak dari kesan wajahnya. Memang dalam hatinya ia
ragu-ragu mengawini Nuraini. Pertama-tama, ia bukan gadis lagi. Kedua, dia
seorang anak gadis yang tak keruan ayah-bundanya. Ketiga, ia tak mau
semba-rangan merenggut kemewahan dan kemuliaan ayah angkatnya sendiri.
Karena dia mempunyai kepentingan juga. Keempat, ayah angkatnya sangat baik
terhadap ibu dan dirinya. Peri lakunya bagai ayahnya sendiri. Karena itu
betapa bisa dikorbankan hanya terhadap seorang gadis semacam Nuraini. Di
dunia ini, banyaklah gadis semacam Nuraini. Di kemudian hari, apabila
martabat ayah angkatnya diwariskan kepadanya... tinggal memilih saja. Lima
enam Nuraini, bukanlah soal sulit dan tiada celanya. Dengan pertimbangan
itu ia bersembah kepada gurunya dan berkata gagah. "Guru? Syarat Nuraini
pantas kupenuhi. Dahulu aku pernah sesat. Tetapi kesesatan itu bukan untuk
selama-lamanya. Berilah waktu kepadaku untuk memenuhi syarat itu. Kepala
Pangeran Bumi Gede akan kupersembahkan kepada Nuraini di depan mata
Guru..." "Bagus! Kau kini sudah sadar? Aku beri restuku," kata Ki Hajar
Karangpandan gem-bira. Ki Hajar Karangpandan tahu, muridnya sa-ngat licin,
la menyaksikan pula betapa buruk tabiat muridnya sampai emoh mengakui
ayah-nya sendiri. Teringat hal itu, ingin ia melunasi nyawanya.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar