@bende mataram@
Bagian 308
Tatkala mendengar sanggahan Titisari, cepat ia sadar dan segera akan
merenggutkan diri. Tetapi sifat getah sakti Dewadaru dan ilmu sakti Kumayan
Jati amat bandel. Sekali memperoleh jalannya, tak mau sudah sebelum meletup
keluar. Dalam kebingungannya, ia mencoba membendung dengan sifat ilmu Bayu
Sejati. Namun usahanya tak berhasil. Mendadak saja, Titisari menggigit
batang lehernya. Inilah suatu peralihan yang menyelamatkan nyawanya. Karena
dengan datangnya serangan dari luar, secara otomatis getah sakti Dewadaru
dan ilmu Kumayan Jati berbalik arah. Dengan demikian, terlepaslah Sangaji
dari bahaya maut. Kemudian dengan perlahan-lahan, ia membuyarkan segala
ingatannya dari guratan ukiran, keris Kyai Tung-gulmanik. Melihat Sangaji
memperoleh ketenangannya kembali, Titisari menarik napas lega. Tetapi
selagi dadanya agak menjadi longgar, suatu hal yang mengejutkan terjadi
lagi. Dari ruang bawah ia mendengar suara setengah menjerit. "Suara apakah
itu? Aku mendengar suara seorang perempuan sedang berbicara!" Itulah suara
Sanjaya yang tadi bersembunyi di serambi belakang, tatkala pasukan kompeni
Belanda tiba di benteng, la mendengar suara Titisari dan suara
gemelontangnya benda logam kena tendang. "Ah! Kalau kau mendengar suara,
masakan aku tak mendengar?" kata Nuraini. Sebenar-nya gadis ini mendengar
suara di atas loteng. Dengan cepat ia segera mengenal suara Titisari.
Diam-diam hatinya tercekat, la menduga ada sesuatu yang tak beres. Karena
itu ia tak menginginkan Sanjaya bertemu dengan dia. "Hm, masakan aku sudah
tuli sampaipun tak bisa membedakan suara angin dan manu-sia?" sahut
Sanjaya. Melihat kesan muka Nuraini, mendadak saja timbullah kecurigaannya.
Tak terasa terloncatlah perkataannya. "Hai! Apakah dia berada di sini?"
Setelah berkata demikian, dengan cepat ia mendaki tangga. "Sanjaya! Masakan
engkau membiarkan aku berada di sini?" Nuraini berseru, la mencoba
menyanggah kehendak Sanjaya hendak menjenguk loteng. Sanjaya adalah seorang
pemuda yang licik dan licin. Menurut kata hatinya, ingin ia menerjang
loteng itu untuk memperoleh kepastian. Tiga hari yang lalu ia mendengar
kabar, Sangaji kena pukulan Bagas Wilatikta dan kawan-kawannya. Pemuda itu
luka parah dan berada tak jauh dari jalan besar Prambanan— Yogyakarta, Kebo
Bangah dan sang Dewaresi mencoba mencari ubek-ubekan, namun kedua-duanya
belum berhasil. Tak terduga, dia berada di atas loteng. Bukankah ini suatu
hal yang menggirangkan? Semenjak bertemu di Pekalongan Sangaji merupakan
duri baginya. Kalau mampu, ingin ia menyingkirkan dari pergaulan hidup.
Hanya saja ia segan, menyaksikan ketangguhan pemuda itu. Tetapi Sangaji
kini dalam keadaan luka parah. Bukankah mudah untuk membereskan? Tetapi
dasar licin, deru hatinya itu ia mengecewakan. Segera ia menoleh dan
menyahut dengan ramah. "Hayo! Sangaji berada di atas!" "Sangaji?" ulang
Nuraini terkejut. Sanjaya terkejut. Tahulah dia, bahwa mulutnya telah
kelepasan berbicara. Cepat ia menenangkan diri dan berkata lagi sambil
tertawa. "Aku hanya menebak-nebak. Bukankah tadi suara Titisari?" Nuraini
seorang gadis yang jujur. Secara wajar ia mengangguk membenarkan. Tetapi
dengan demikian, terbukalah rahasianya. Lantas saja Sanjaya tahu, bahwa
Nuraini sudah mengenal suara Titisari, tetapi berlagak pilon. "Ha—apakah
engkau tak ingin bertemu?" kata Sanjaya. Nuraini terhenyak, la sadar akan
kekeliruannya. Memang dia bukan tandingnya menghadapi Sanjaya yang bisa
berbalik menyerang begitu kena terdorong ke pojok. Kini ia benar-benar
merasa sulit. Mau tak mau terpaksalah ia mengangguk. Tetapi diam-diam ia
meraba cundriknya. Dia bersumpah akan menikam kekasihnya, apabila sampai
berani mengganggu Sangaji atau Titisari. Karena ia yakin, bahwa Sangaji dan
Titisari pasti lagi dalam keadaan yang tidak wajar. Apabila tidak, masakan
perlu bersembunyi di atas loteng menghadapi Sanjaya? Selagi ia berjalan
perlahan-lahan menyusul Sanjaya, sekonyong-konyong terdengar suara
menggelegar dari ambang pintu. "Hai Sanjaya! Engkau anak Pangeran Bumi Gede
atau Wayan Suage?" Serentak Nuraini berpaling. Di ambang pintu berdiri
seorang laki-laki berperawakan sedang, berambut panjang awut-awutan dan
mengenakan pakaian pendeta. Segera ia mengenal siapa orang itu. Dialah Ki
Hajar Karangpandan guru Sanjaya yang muncul dengan tiba-tiba seolah-olah
tersembul dari suhu bumi. Melihat gurunya, Sanjaya menggigil dan parasnya
berubah hebat. Ia takut bukan main. Menurut penglihatannya, mata gurunya
amat tajam. Ia kenal pula wataknya. Sekali salah menjawab, ia bisa celaka.
Apalagi kali ini, pertanyaannya mengandung ancaman hebat. Selagi ia
tergugu, di belakang Ki Hajar Karangpandan muncul beberapa orang
bertu-rut-turut. Mula-mula Panembahan Tirtomoyo. Kemudian Ki Tunjungbiru.
Dan akhirnya guru Sangaji yang berwatak uring-uringan—yakni Jaga Saradenta.
Kedatangan mereka, menambah ciutnya hati Sanjaya. Ia sadar, bahwa terhadap
mereka kesan dirinya kurang baik. Karena itu, tak terasa ia turun
perlahan-lahan seperti kena sedot suatu tenaga ajaib. "Hai! Apakah kau
sudah tuli?" terdengar suara Ki Hajar Karangpandan menggelar. Karena gugup
dan pepat, ia kuyu kena ben-takan itu. Sekonyong-konyong suatu akal menusuk
benaknya. Terus saja ia menjatuhkan diri kemudian menangis
meng-gerung-gerung. Dalam pada itu, Sangaji dan Titisari yang tercekat
hatinya tatkala melihat Sanjaya hendak menjenguk loteng, bersyukur melihat
bin-tang penolongnya. Dalam hatinya, Sangaji menaruh hormat kepada Ki Hajar
Karangpandan. Titisari meskipun kurang baik kesannya terhadap pendeta
edan-edanan itu, sebenarnya tak mempunyai dasar kuat untuk membencinya.
Apalagi kali ini datangnya sa-ngat tepat. Hanya diam-diam heran apa sebab
pendeta itu tiba-tiba muncul pula di sini. Apakah dia datang begitu
mendengar berita pecah perang? Mungkin ia datang khusus untuk mencari
muridnya di kadipaten Bumi Gede, pikirnya. Apabila tiada diketemukan, terus
ia menyusul ke medan perang. Dengan Titisari sebenarnya hanya benar
separuh. Ki Hajar Karangpandan turun dari pertapaan dengan dua alasan. Yang
pertama, mendengar berita tentang Wirapati dari mulut Suryaningrat dan
Bagus Kempong yang sengaja berkunjung padanya. Dan yang kedua hendak
mencari muridnya karena ingin menyadarkan dari perjalanan hidupnya yang
sesat oleh desakan Panembahan Tirtomoyo dan Ki Tunjungbiru. Di tengah jalan
ia bertemu dengan Jaga Saradenta yang tengah mencari muridnya pula. Dengan
demikian mereka datang bersama-sama dan siang hari itu mereka lewat di
depan benteng. Sebagai orang-orang berpengalaman, mereka menaruh curiga
kepada letak dan keadaan benteng. Secara kebetulan begitu memasuki benteng,
mereka mendengar suara manusia. Dalam hal ini, Ki Hajar Karangpandanlah
yang segera mengenal suara siapa yang berbicara. Sangaji girang bukan
kepalang, begitu meli-hat munculnya gurunya yang kedua. Hatinya amat
terharu dan rasa kangennya ) meledak hebat, la bergerak hendak meloncat.
Dalam keadaan demikian, ia lupa kepada segala. Sudah barang tentu Titisari
tahu akan akibatnya, untuk kesekian kalinya ia berjuang dengan mati-matian
membatalkan niat kekasihnya. "Kau mau menyia-nyiakan nyawamu?" ia
menyesali. Sangaji mengeluh, setelah sadar akan keadaan dirinya. Terus saja
ia meruntuhkan pandang. Pada saat itu, Sanjaya sedang menangis
menggerung-gerung. Ki Hajar Karangpandan nampak menahan amarahnya sampai
kumisnya bergetaran. "Kau cacing pita! Mengapa begini? Kau murid Hajar
Karangpandan masakan gam-pang meruntuhkan air mata?" damprat pende-ta
edan-edanan itu. Sanjaya mengeluh, kemudian menyahut. "Guru boleh
menghancur-leburkan tubuhku. Dan aku takkan mengeluh. Sebaliknya aku
menangis karena memikirkan nasib saudaraku Sangaji." "Eh semenjak kapan kau
memikirkan dia?" potong Ki Hajar Karangpandan. Sanjaya tak menggubrisnya,
la meneruskan keluhannya. "Menurut warta ia luka parah. Sampai kini... tak
ada seorangpun yang mengetahui keadaannya. Aku berusaha mencarinya ...
agaknya akupun takkan berhasil." Mendengar keterangan Sanjaya, Ki Hajar
Karangpandan berbimbang-bimbang. Hatinya menyangsikan keterangan muridnya
yang dikenalnya berwatak licik dan licin itu. Tetapi di situ terdapat pula
Nuraini. Terhadap gadis ini ia mempunyai kesan lain. Pikirnya, apakah gadis
ini sudah berhasil merubah perangainya. Itulah harapannya pula. "Hm!" ia
mendengus. "Kau bilang Sangaji luka parah. Kenapa?" "Bagaimana aku tahu?"
"Kalau kau tak tahu apa sebab engkau yakin dia luka parah?" "Karena Adipati
Surengpati tiba-tiba muncul pula di sini, Diapun mencari Sangaji dan kukira
dialah yang melukainya." "Apakah kau bilang?" bentak Ki Hajar Karangpandan.
Hatinya yang mulai reda me-lonjak lagi. Titisari dan Sangaji heran
mendengar oceh-an Sanjaya. Terang sekali pemuda itu lagi mencari kambing
hitam. "Mengapa dia menuduh ayahmu?" bisik Sangaji heran, la adalah seorang
pemuda yang jujur dan mulia hati. Karena itu tak pernah menyangsikan
keterangan seseorang. la mengukur tiap orang bagai pengucapan hatinya
sendiri. "Saudaramu yang tercinta itu memang hebat!" tungkas Titisari
mendongkol. "Pastilah, dia kemarin memperoleh kabar dari para pendekar
undangan ayah angkatnya. Dan begitu teringat keadaan para pendekar yang
runyam, terus saja ia menimpukkan kecurigaan Ki Hajar Karangpandan kepada
Adipati Surengpati."
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar