4.04.2019

CANTING PART 10




CANTING PART 10


Meski kedua matanya masih tampak sembab, Ajeng tersenyum penuh arti setelah
mengirimkan sebuah pesan singkat pada Hadi.


Semalam, ia terus membanjiri tempat tidurnya dengan airmata. Rasa sakitnya
sungguh tak terkira. Mengetahui bahwa sosok yang dicinta tengah menikmati
malam pengantinnya, ternyata membuat duri sembilu semakin menancap dalam di
hatinya, hingga ia tak tahan untuk menelepon Hadi. Namun luka di hatinya
semakin menganga saat Hadi sama sekali tak mengangkat teleponnya. Dengan
hati teriris dan mata yang terus menangis, Ajeng kemudian mengirimkan
pesan. Nihil. Tetap tak ada jawaban.


Ajeng kembali bersimpuh dengan genangan airmata. Ada bagian yang hilang
dari dalam dirinya. Selama ini, Hadi selalu sigap membalas semua pesannya,
juga mengangkat teleponnya. Tapi kini?


Ia tahu ini malam tadi adalah malam pengantin Hadi dengan istrinya. Satu
bagian kecil di hatinya tahu bahwa tak seharusnya ini dilakukannya. Hanya
saja, cinta buta mengalahkan logikanya, menutup mata hatinya. Sungguh, tak
mudah pergi begitu saja setelah bertahun-tahun memendam rasa. Rasa yang
awalnya biasa saja, namun kini sudah mengakar dengan begitu kuatnya. Ajeng
benar-benar tak kuasa untuk mencabutnya.


Keadaannya semakin nelangsa sejak video lamaran Hadi pada Sekar viral di
dunia maya. Selain karena ia memang tak bisa menerimanya, ratusan pesan
yang ditujukan padanya pasca video itu beredar juga membuatnya semakin
menderita. Semua mempertanyakan kenapa bukan dirinya, sebab selama ini,
mereka pikir Ajeng dan Hadi menjalin cinta.


"Lho, Jeng? Bukan kamu? Aku kira selama ini kamu bersamanya." Pesan yang
dikirimkan Mbak Ratri waktu itu.


"Hehe."


Hanya 4 huruf itu yang mampu diketik Ajeng untuk membalasnya. Perih.


"Wah, berarti waktu kamu ke London itu, aku salah kira, dong. Sayang
sekali. Padahal kalian serasi," balas Mbak Ratri lagi, membuatnya semakin
bersedih hati.


Sungguh, Ajeng benci ini. Kenapa orang-orang di sekitarnya terus
mempertanyakan kenapa bukan dirinya yang menikah dengan Hadi. Tak tahukah
mereka bahwa yang mereka lakukan bagaikan garam yang sengaja ditaburkan di
atas luka hatinya? Ajeng semakin menangisi keadaannya.


Namun malam tadi, ia menemukan secercah harapan, celah yang mungkin bisa ia
manfaatkan. Hadi meneleponnya setelah beberapa jam ia menunggunya. Itu
artinya, Hadi benar-benar memikirkannya. Jika tidak, mana mungkin Hadi
meneleponnya di malam pengantinnya? Ya, meskipun sebagian besar isi
pembicaraannya adalah Hadi memarahinya. Tapi tidak mengapa. Asal mendengar
suaranya, Ajeng cukup senang karenanya. Kaya ngenteni udan ing mangsa
ketiga, bagai menunggu hujan di musim kemarau. Meski hanya sekejap saja,
namun berhasil menorehkan sedikit rasa tenang di hatinya.


"Baiklah, Mas. Aku akan membuatmu terus memikirkanku. Dengan begitu,
setidaknya kamu akan terus menghubungiku," bisik hatinya sambil mengirimkan
pesan singkat itu.


Ia lalu bernapas lega, menata rambutnya, mengenakan jas putihnya, bersiap
menuju rumah sakit untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang dokter
seperti biasanya. Sebelum membuka pintu mobilnya, ia melirik ponsel di
tangannya. Nihil, belum ada balasan dari Hadi.


"Mungkin sebentar lagi," hiburnya.


Lalu berlalu, tanpa peduli lagi bahwa cintanya yang dulu murni, kini
berubah menjadi sebuah obsesi, bahwa cinta yang dulu ia jaga dalam diamnya,
kini menjelma menjadi cinta yang mungkin saja akan menghancurkan dirinya.


Ajeng betul-betul lupa petuah hadi,


"tresna kuwi kaya criping tela. Isa ajur yen kowe ora ati-ati le nggawa,"


**********


Sekar mendesah. Hatinya mendadak gelisah. Berbagai pertanyaan muncul di
benaknya tentang siapa pengirim pesan yang baru saja ia baca. Tak ada nama
di sana. Hanya nomor saja.


"Pagi, Mas. Terimakasih teleponnya semalam. Love you."


Sekar terus mengingat pesan itu. Jadi, Hadi berbohong padanya? Semalam saat
ia menghampiri Hadi yang tengah sendirian di tepi kolam, Hadi bilang bahwa
ia tidak bisa tidur. Tapi ternyata ia menelepon seorang perempuan? Siapa
dia? Pengirim pesan itu bahkan mengatakan love you di pesannya. Apakah ia
punya hubungan khusus dengan suami yang baru kemarin menikahinya?


Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkecamuk di benaknya. Tiba-tiba ia
menyadari satu hal. Apa ini semua karena semalam ia tertidur duluan?
Sehingga Hadi merasa kesepian dan akhirnya menghabiskan waktu dengan
menelepon perempuan itu?


Sekar masih merutuki dirinya, sambil memainkan sendok dan garpu yang
dipegangnya saat Hadi kembali ke sana.


Hadi menatap istrinya yang tampak gelisah.


"Kamu baik-baik saja?" tanyanya. Sekar mengangguk perlahan.


"Kenapa tidak dimakan? Kamu tidak suka makanannya?" tanyanya lagi.


"Sudah kenyang," jawab Sekar singkat.


Hadi mendesah. Sepertinya ada yang tidak beres dengan istrinya. Hal itu
semakin kentara saat Sekar masih terus terdiam ketika Hadi mengajaknya ke
pantai selepas sarapan. Ia hanya bicara seperlunya.


"Sekar, sayangku. Kamu kenapa? Cerita sama masmu kalau ada apa-apa," kata
Hadi, saat keduanya duduk di tepi pantai.


Sejujurnya ia bingung harus bagaimana. Ia belum sempat berguru pada Haryo,
sahabatnya tentang bagaimana menghadapi perempuan dengan segala
kemisteriusannya. Sebelum ke toilet tadi, istrinya tampak berbinar. Tapi
sekembalinya dari toilet, istrinya hanya terus terdiam. Bukankah ini aneh?


"Tidak apa-apa, Mas," jawab Sekar.


Dadanya bergemuruh tiba-tiba. Ingin rasanya ia bertanya siapa perempuan
itu. Tapi lidahnya kelu.


Air pantai membasahi kaki keduanya.


Hadi melingkarkan tangan kanannya ke pundak Sekar. Perlahan, disandarkannya
kepala sang istri di dadanya. Sekar hanya menurut saja. Dalam hati, ia juga
menginginkannya. Rengkuhan suaminya cukup membantu menenangkan gemuruh di
hatinya.


"Kita sudah suami istri sekarang. Bukan lagi majikan dan rewang. Jadi
jangan pernah lagi merasa sungkan. Jika ada apa-apa, katakan padaku. Jangan
biarkan dirimu menyimpan beban sendirian. Biarkan aku membantu
meringankan," katanya.


Sekar terisak. Ia membenamkan kepalanya di dada suaminya dengan airmata
yang mendadak menganak sungai. Hadi mendesah. Benar. Istrinya tidak
baik-baik saja.


"Menangislah. Tidak apa-apa. Kamu bisa cerita setelah tangismu reda." Hadi
membelai mesra kepala istrinya. Berusaha tenang, meski sejujurnya ia
kebingungan.


"Sepertinya ada pesan yang belum Mas lihat," kata Sekar kemudian, setelah
tangisannya mereda dan kepalanya tak lagi terbenam di dada suaminya.


"Oh ya?"


Hadi merogoh sakunya. Berusaha meraih ponselnya.


"Saat Mas ke toilet tadi, ponsel Mas bunyi. Maaf, aku tidak sengaja
melihatnya. Pesan itu...." Tenggorokan Sekar mendadak tersekat.


Hadi menggerakkan jemarinya di atas layar ponselnya. Ada cukup banyak pesan
di sana. Namun sejurus kemudian matanya terpana. Sebuah pesan dari nomor
tanpa nama menarik perhatiannya. Meski sudah tak lagi tersimpan di memori
ponselnya, Hadi sangat tahu siapa pemilik nomor itu.


Hadi mendengus saat membaca isi pesannya. Sedang Sekar memalingkan muka.


"Ini yang membuatmu gelisah?" tanyanya. Sekar mengangguk.


Hadi merutuki dirinya, kembali menyesali kecerobohannya semalam. Sekar
kembali terisak, membuat Hadi semakin merasa bersalah.


"Namanya Ajeng. Adik kelasku di SMA, juga saat aku kuliah di UGM dulu. Aku
cukup dekat dengannya, tapi tidak ada hubungan spesial di antara kami
berdua. Aku tidak tahu jika selama ini ternyata dia memendam cinta. Kamu
ingat saat aku meminta persetujuanmu untuk mempercepat tanggal pernikahan
kita?" tanyanya.


Sekar mengangguk sambil menghapus airmatanya.


"Itu semua karenanya. Hari itu aku menjenguknya di JIH. Hari itu pula aku
tahu bahwa ternyata selama ini dia memendam rasa. Dia menunjukkan gelagat
tidak baik saat aku menjelaskan padanya bahwa aku akan menikahimu, sehingga
aku ingin pernikahan kita disegerakan. Aku tidak mau pernikahan kita gagal
karenanya."


Sekar serius mendengarkan. Airmatanya sudah tak menganak sungai.


"Lihat ini," kata Hadi, menunjukkan pesan-pesan yang dikirimkan Ajeng semalam.


"Semalam, aku tidak bisa tidur. Kamu sudah tidur duluan. Lalu aku melihat
ponselku yang memang dari pagi belum aku lihat. Banyak pesan yang kuterima,
termasuk pesan dari Ajeng ini. Aku memang ceroboh karena aku memutuskan
untuk meneleponnya. Seharusnya aku abaikan saja pesan-pesannya. Tapi
sungguh, niatku meneleponnya hanya karena aku ingin menegaskan padanya
untuk berhenti mengganggu kita. Itu saja," jelasnya lagi.


Sekar menatap wajah suaminya. Rona keseriusan tergambar jelas di sana.


"Jika kemudian dia mengirimkan pesan seperti itu, sungguh, aku tidak tahu
apa maksudnya," imbuhnya.


Sekar menundukkan kepalanya. Ia tak tahu harus berkata apa.


"Dia bilang, dia datang saat resepsi kita kan, Mas? Yang mana orangnya?"
tanya Sekar kemudian. Penasaran.


Hadi mendesah. Ia takut istrinya akan kembali merasa rendah diri jika tahu
Ajeng yang mana.


"Mas?"


"Umm, dia... yang mengucapkan selamat dengan bahasa Perancis," jelasnya pelan.


Sekar mendesah. Ia ingat sosok itu. Gayanya mempesona, cantik paripurna.
Intelektualnya pastilah juga sempurna, terbukti dengan bahasa Perancis yang
begitu fasih diucapkannya. Sekar memejamkan mata. Tiba-tiba saja, ia merasa
begitu kecil karenanya. Seorang rewang, hanya lulusan SMA. Sungguh, tak
sebanding dengan sosoknya yang begitu sempurna.


"Kenapa Mas tidak menikah dengannya saja?" katanya kemudian. Perih
tiba-tiba menggelayuti hatinya.


"Karena aku tidak pernah punya rasa yang sama untuknya. Jika memang aku
punya rasa untuknya, mungkin aku sudah memilihnya. Nyatanya, siapa yang
kupilih untuk menemaniku menghabiskan sisa hidupku? Kamu, Sekar. Kamu,"
katanya, berusaha meyakinkan istrinya yang sepertinya masih didera sedikit
keraguan.


Sekar kembali memandang suaminya. Ada bulir kesejukan yang tetiba mengaliri
hatinya. Tapi... entahlah, sepertinya masih ada ganjalan di salah satu sisi
hatinya. Bagaimana jika Ajeng terus menggoda suaminya dan suaminya nanti
tergoda? Sekar menggeleng-gelengkan kepalanya, mengundang Hadi untuk
bertanya kenapa.


"Aku... aku takut Mas akan tergoda olehnya. Dia sempurna, sedang aku, aku
siapa?" jawabnya jujur. Hadi tersenyum mendengarnya.


"Kalimatmu salah," kata Hadi. Sekar memicingkan mata meminta penjelasan.


"Seharusnya kamu bilang begini. Aku istri Mas Hadi. Dari sekian banyak
gadis di sekitarnya, aku yang dipilihnya. Berarti aku istimewa. Sedangkan
dia, siapa dia? Yang bahkan dengan segala kesempurnaannya, Mas Hadi sama
sekali tidak meliriknya," sambung Hadi, membuat Sekar tersipu karenanya.


Ah, benar juga kata suaminya. Sekar kembali menatapnya. Kali ini dengan
senyum manis menghiasinya. Sosok tampan ini selalu bisa menenangkannya.
Kalimat-kalimat bijaknya ajaib, bak penawar atas segala gelisah hatinya.


"Susah payah aku meyakinkanmu untuk menikah denganku. Tidak akan aku
menyia-nyiakanmu," imbuhnya. Sekar semakin melayang mendengarnya.


"Lihatlah pantai ini. Pantai dan ombak, mereka terus bersatu. Meski kadang
ombak berkelana, tapi ia akan terus kembali ke pelukannya. Aku ingin kita
seperti itu. Tak ada pantai tanpa ombak, tak ada Hadi tanpa Sekar," ucap
Hadi, memecah keheningan yang sejenak muncul di antara keduanya.


"Aku ingin kita berjanji untuk saling terbuka. Jika ada yang mengganjal,
katakan saja. Jangan dipendam, agar kita bisa sama-sama menyelesaikan."
Sekar mengangguk mendengar nasihat suaminya.


"Maafkan aku, Mas," katanya kemudian. Hadi menatapnya, dengan tatapan
lembut penuh cinta.


"Aku juga mintamaaf. Seharusnya aku abaikan saja pesannya. Maaf jika aku
tidak langsung jujur padamu semalam. Maaf aku sudah membuatmu menangis dan
sedih seperti ini," ucapnya tulus, sembari mengelus pipi kanan istrinya.


Sekar mengangguk. Keduanya kini berpegangan tangan. Sejenak, keduanya
kembali menikmati keheningan yang dipadu hembusan angin pantai dan deru
ombak yang menciptakan ketenangan.


"Sekar...," panggilnya lagi, dengan nada yang begitu manja mengetarkan hati.


"Apa kamu menyadari sesuatu?" tanyanya lagi.


"Sesuatu apa?" Sekar belum mengkap maksud suaminya.


"Sekarang aku yakin bahwa kamu juga sangat mencintaiku,"katanya, sembari
menyentil dagu istrinya. Hati Sekar berdesir mendengarnya. Benarkah?


"Sikapmu tadi menunjukkan bahwa kamu terbakar cemburu. Kamu gelisah karena
kamu takut masmu yang tampan ini tergoda olehnya, kamu sedih karena kamu
takut kehilangan suamimu tercinta. Apa itu namanya kalau bukan tanda
cinta?" kata Hadi, setengah menggoda.


Sekar membalasnya dengan cubitan kecil di pinggang Hadi. Hadi mengaduh,
lalu kemudian menarik Sekar ke pelukannya, dan mengujaninya dengan
berkali-kali kecupan mesra di keningnya.


Benar.


Selama ini, tak pernah ada yang aneh di hati Sekar saat melihat Hadi tengah
bercengkerama bersama teman-teman perempuannya di pendopo rumahnya. Tapi
kini, sebuah pesan saja membuatnya jadi uring-uringan, terbakar cemburu
yang rasanya sangat tidak mengenakkan.


Hati Sekar bergedup kencang. Ia malu mengakuinya, tapi ia memang tengah
jatuh cinta pada suaminya.


**********


Ponsel Hadi berbunyi saat Hadi tengah membersihkan diri di kamar mandi.
Ragu, Sekar berdiri meraihnya. Ada sebuah pesan yang tampak di sana. Pesan
dari nomor yang sama yang tadi pagi dilihatnya.


[ Mas, kok belum dibalas juga? ]
[ Aku menunggu balasanmu. ]
[ Haruskah aku meneleponmu?]


Sekar membaca pesan itu. Ia mendesah. Perempuan itu rupanya masih belum
menyerah. Ia hampir saja meletakkan ponsel itu saat tiba-tiba ponsel Hadi
berdering nyaring. Sekar terhenyak. Ada panggilan dari nomor itu.


"Siapa, Sayang?" tanya Hadi yang muncul dari pintu kamar mandi.


Sekar gugup.


Bukan, bukan karena telepon itu, tapi karena suaminya muncul dengan
bertelanjang dada. Hanya sehelai handuk saja yang menutupi tubuh bagian
bawahnya. Sekar tersipu. Memang, semalam ia telah memadu cinta bersama
Hadi. Tapi melihat Hadi seperti ini, entah mengapa ia merasa gugup sendiri.


Duh, Mas. Kenapa tidak langsung memakai baju saja?


Sekar melirik Hadi. Ponsel Hadi yang dipegangnya masih terus berbunyi.


"Dari siapa?" tanya Hadi lagi.


"Dari... dari nomor yang tadi pagi," jawab Sekar, sedikit terbata, karena
Hadi tiba-tiba saja merengkuhnya dari belakang, membiarkan wajahnya yang
masih basah bersentuhan dengan pipi istrinya.


Letupan-letupan cinta di hati Sekar semakin menggelora.


"Abaikan saja," ucapnya, sembari mengambil ponsel yang masih berada di
tangan Sekar. Mematikannya, lalu menaruhnya di sisi ranjang.


Hadi membalikkan badan istrinya, hingga kini keduanya berhadapan. Hati
Sekar masih terus berdegup kencang, namun ia hanya menurut tanpa
perlawanan, saat lengan kokoh suaminya kembali menggendongnya ke peraduan.
Lalu keduanya kembali tenggelam dalam lautan cinta.


Di tempat lain, ada seseorang yang membanting ponsel saking kesalnya.


(Bersambung)




Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar