4.04.2019

@bende mataram@ Bagian 19




@bende mataram@
Bagian 19


Jaga Saradenta diam menimbang-nimbang. Akhirnya diluluskan permintaan
kemenakannya. Rukmini dan Sangaji dipanggilnya dan diantarkan masuk ke bilik.
Kodrat sangat gembira. Dia tak usah mengkhawatirkan kemungkinan-kemungkinan
yang merugikan. Segera ia memasuki bilik itu juga sambil menjaga Rukmini
serapi mungkin.


"Kodrat!" tiba-tiba terdengar Jaga Saradenta berkata. "Kuatkah pendeta itu?"


"Dia kuat seperti kerbau. Tinjunya tak terlawan."


Jaga Saradenta diam agak ragu-ragu. Katanya lagi, "Baiklah, aku akan
menghadapinya sebisaku. Tapi seumpama aku kalah, larilah kau ke timur.
Carilah sebuah gunung yang terletak di sebelah utara Bagelen. Gu¬nung itu
bernama Gunung Damar. Di kaki Gunung Damar sebelah timur ada dusun ber¬nama
Sejiwan. Aku mempunyai seorang sahabat bernama Kyai Kasan. Dia seorang
sakti. Di dusun itu ia membuka sebuah perguruan. Muridnya lima orang. Jika
kamu datang atas namaku, pasti dia mau menolong kesulitanmu. Kaudengar
pesanku ini?"


"Ya, Paman," sahut Kodrat sambil menelan ludah. "Tetapi aku yakin, Paman
dapat mengalahkan bangsat itu."


Jaga Saradenta kemudian keluar pintu. Dia berdiri di tengah serambi depan
sambil menyalakan pelita. Waktu itu Desa Segaluh sunyi sepi. Alam
seolah-olah berhenti berbicara. Tiba-tiba ia mendengar langkah orang. la
melompat dan lari ke pekarangan. Ditajamkan matanya. Dan nampaklah seorang
laki-laki berpakaian pendeta menghampiri pintu pagar. Dialah Hajar
Karangpandan.


Setelah ia disesat-sesatkan oleh orangnya Kodrat, lambat-laun sadarlah dia.
Segera dia membentak, "Di mana dia?"


"Dia siapa?" orang itu membalas bertanya.


"Kodrat."


"Kodrat? Masyaallah ..." bawahan itu terbeliak. "Tuan mencari Kodrat?
Bukankah Tuan sudah berjumpa?"


"Yang mana?" Hajar Karangpandan menjadi gusar.


"Tadi... yang Tuan bekuk di depan gardu."


"Ah! Kenapa kalian tak mau bilang! Jahanam!" maki Hajar Karangpandan.
Dengan penuh kemarahan dihajarnya mereka habis-habisan. Kemudian ia lari
mengejar.
Sebagai seorang yang telah mempunyai banyak pengalaman dalam perantauan,
de¬ngan cepat ia dapat mencium jejak buruannya. Dia hanya tertinggal
beberapa saat. Tatkala Kodrat berada di dalam rumah Jaga Saradenta, dia
telah melintasi Desa Segaluh. Sebentar dia berputar-putar. Ketika jejak
Kodrat tak diketemukan, yakinlah dia kalau Kodrat pasti berada di sekitar
Desa Segaluh. Kembalilah dia ke desa itu dengan niat hendak mengaduk-aduk
seluruh penduduk.


Untuk melaksanakan niatnya itu, ia datang terlebih dahulu ke Gelondongnya.
Ia hendak minta ijin. Secara kebetulan Gelondong Jaga Saradenta telah
menghadangnya. Begitu dia masuk ke halaman, mendadak saja Jaga Saradenta
menyerangnya tanpa berbicara.
Cepat ia mengelak dan kemudian mem¬balas menyerang. Ia tahu, penyerangnya
mempunyai tenaga yang ampuh. Tetapi tak dihiraukannya. Begitulah, maka
bentrokan tangan tak dapat dihindarkan. Masing-masing terkejut. Jaga
Saradenta tergetar mundur lima langkah sedangkan tubuh Hajar Karang¬pandan
terguncang-guncang.


Jaga Saradenta lantas saja merasa dirinya takkan dapat merebut kemenangan.
Meskipun demikian, ia menyerang juga. Hajar Karang¬pandan menggempurnya
lagi. Dan sekali lagi dia terpental mundur. Kali ini lebih hebat. Ia jatuh
tertelungkup mencium tanah. Belum lagi dia berdiri, Hajar Karangpandan
telah mencekik lehernya.


"Kenapa kamu menerjang aku tanpa bicara?" tegurnya.


Jaga Saradeta tergugu. Direngguknya cekukukan itu, "Kau seorang pendeta
memasuki pekarangan orang di tengah malam, apa maksudmu?" sautnya.


"Aku mencari buruanku."


"Siapa buruanmu?"


Hajar Karangpandan menimbang-nimbang. Niatnya tadi mau minta ijin kepada
Gelondong Dusun Segaluh diurungkan karena ketinggian hatinya. la meludah ke
tanah.


"Aku tak bermusuhan dengan kamu. Tapi kamu menyerang. Bagus! Kalau kau
masih penasaran, lain hari aku datang ke sini. Sekarang aku tak punya waktu
lagi."


Jaga Saradeta sadar, ia bukan tandingan si pendeta. Maka ia berlaku sabar.


"Tuan seorang pendeta. Pastilah hati Tuan lebih lapang dan lebih berbudi
dari padaku. Maafkan perlakuanku tadi Tuan. Aku Gelondong Dusun Segaluh.
Sudah beberapa waktu lama, dusun ini dihampiri perusuh-perusuh. Karena itu
aku selalu mencurigai orang-orang yang berjalan di tengah malam."


Hajar Karangpandan tertawa dingin. Pandangannya menyelidiki ke dalam rumah.


"Bagus!" dengusnya. "Seorang Gelondong menyembunyikan seorang buruan. Apa
itu benar?"


"Siapa buruan Tuan?" bantah Jaga Saradenta. "Memang aku mempunyai seorang
tamu, tetapi dia kemenakanku."


Hajar Karangpandan diam, ragu mendengar ujar Jaga Saradenta.


"Orang itu membakar rumah dan membunuh orang. Dia melarikan orang pula ..."
Katanya sambil mendongakkan kepala.


"Siapa dia? ..." Jaga Saradenta terkejut. Tetapi sandiwara Kodrat tadi
masih saja mempunyai pengaruh dalam hatinya. Ia mensiasati Hajar
Karangpandan. Ia mecurigai kelicinan orang. Lantas saja berkata meneruskan,
"Di mana ada kebakaran dan pembunuhan?"


"Kalau kau tak percaya kata-kataku ini, ayo ikut! Di sana ... di timur ...
di Desa Karang-tinalang. Hm ... kau seorang Gelondong. Baiklah aku menaruh
percaya kepadamu. Tetapi kalau buruanku itu temyata bersembunyi di rumahmu,
akan kubunuh seluruh keluargamu".


Setelah berkata demikian, sekali melesat ia hilang dari pandangan. Jaga
Saradenta tertegun keheranan. Kagum dia akan kesaktian tamunya. Pikirnya,
dia tak berniat jahat, kalau dia mau pastilah nyawaku sudah melayang...
barangkali Kodrat yang salah tafsir.
Memikir begitu, lantas saja dia memasuki rumah. Waktu itu Kodrat telah lama
mengintip di belakang pintu. Melihat Hajar Karangpandan meninggalkan
halaman, legalah hatinya. la terus menyongsong pamannya.


"Mengapa bangsat itu Paman biarkan berlalu?"


Bersambung




Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar