๐๐ฏ๐ฅ
CANTING PART 14
"Yo wis, aku langsung tidur saja kalau begitu."
Hadi langsung membenamkan diri di balik selimut. Ia tidak bisa membayangkan
bagaimana rasanya jika harus mandi keramas di pagi-pagi buta dengan air
dingin yang bahkan saat wudhu saja, jemarinya terasa beku karena air itu.
Persis seperti dinginnya air di Inggris yang juga membuat jemarinya kaku.
Bedanya, di Inggris ia terbantu dengan adanya heater atau pemanas ruangan.
Sedang di sini?
Sekar tertawa geli melihat suaminya.
"Mas kan pernah tinggal di Inggris. Bukankah air di sana juga dingin? Masa'
takut dengan air yang di sini?" godanya. Keduanya kini berhadapan.
"Di Inggris, aku selalu mandi pakai air panas. Tapi tetap saja, dinginnya
terasa sampai tulang begitu selesai mandi. Sampai-sampai aku mandi 3 hari
sekali saat musim dingin," jelasnya. Sekar kembali tertawa.
"Aku bersedia pagi-pagi buta nanti lekas geni dan mendidihkan air untuk Mas
Hadi mandi." Sekar masih terus menggoda suaminya karena ia tahu suaminya
tak akan mengiyakannya.
"Malu ah sama bapak sama simbok kalau pagi-pagi ketahuan mau keramas." Hadi
menutup wajah dengan bantal. Sekar semakin ngakak melihatnya.
"Oh iya, bapak kemana, ya? Dari tadi pagi aku belum bertemu dengannya,"
tanya Hadi. Sekar menarik selimutnya dan mengubah posisinya. Ia menatap
atap rumahnya dengan tatapan hampa.
"Kamu kenapa?" Hadi langsung menangkap rona kesedihan yang mendadak terekam
jelas di wajah ayu istrinya.
"Sepertinya bapak sengaja menghindariku, Mas. Bapak sengaja pergi dari
subuh sampai petang begini agar tidak bertemu denganku," jelasnya. Pelupuk
matanya mulai menggenang.
"Seburuk itukah hubungan kalian?" tanyanya. Sekar mengangguk perlahan.
Isakannya mulai terdengar.
Iba, Hadi menatap belahan jiwanya. Ia lalu membalikkan badan Sekar dan
membenamkannya di dadanya, membiarkannya menangis menumpahkan kesedihannya.
Sekar memang pernah bercerita bahwa hubungannya dengan bapak tidak baik.
Hanya saja, ia tidak menyangka akan separah ini, sampai bapak tidak mau
menemui putrinya sendiri. Saat hari pernikahan mereka, Hadi melihat bapak
tertawa bahagia. Ia kira hubungan mereka sudah baik-baik saja. Ternyata
tidak. Entah apa sebabnya.
Sayup-sayup terdengar suara pintu depan terbuka, disusul dengan suara
langkah kaki. Sejurus kemudian, suara simbok juga terdengar.
"Bapak dari mana saja? Mbok jangan begini to, Pak. Mesakke Sekar."
Hadi dengan seksama mendengarkan, sambil terus berusaha menenangkan
istrinya yang masih ternggelam dalam tangisan.
"Yo ben. Tak kira bocah kuwi ana gunane yen rabi karo wong sugih. Jebul
pada wae. Tidak ada gunanya. Uang yang diberikan ke kita cuma segini saja!"
Sekar semakin terisak mendengarnya. Jadi ini alasan bapak tidak mau bertemu
dengannya?
"Pak, jangan keras-keras. Tidak enak dengan Nak Hadi kalau sampai dia
dengar," pinta simbok.
Tak ada jawaban, tak ada tanggapan. Hanya suara pintu dibanting yang
terdengar kemudian.
"Maafkan aku, Mas, maafkan aku. Kamu pasti menyesal menikahiku."
Tangis Sekar semakin pecah. Entah mengapa hanya uang dan uang yang ada di
pikiran bapak. Sekar bahkan sudah memberikan semua uang seserahan yang
diberikan keluarga Hadi kepada bapak untuk menyenangkannya, berharap dengan
begitu, bapak akan mengakui keberadaannya. Tetap saja, bagi bapak, itu tak
ada artinya. Tak cukup membuatnya menyayangi Sekar selayaknya seorang ayah
menyayangi anaknya.
Sekar kian pilu. Kini ia semakin merasa Bapak menerima lamaran Hadi hanya
untuk menjadikannya sebagai mesin penghasil uang saja.
"Mas pasti menyesal menikah denganku. Mas pasti menyesal." Sekar masih
terus menangis.
"Sudah, sudah. Jangan berpikiran macam-macam. Jangan pernah bicara begitu
karena aku tidak akan pernah menyesal menikah denganmu. Ingat soal
frekuensi radio itu? Aku sudah bilang, kan, kalau akan menikmati frekuensi
yang sudah kupilih? Acaranya, iklannya, bahkan gangguannya. Begitu juga
dengan pilihanku untuk memilikimu. Apapun resikonya, aku akan menerima
itu." Hadi mencoba menenangkan istrinya. Sekar semakin membenamkan kepalanya.
"Sekarang, tenangkan dirimu. Jangan terlalu dipikirkan soal Bapak yang
menghindarimu. Yang penting, kamu tetap berbuat baik padanya, seperti yang
kamu lakukan selama ini. Ingat, sura dira jayaningrat, lebur dening
pangastuti. Kerasnya hati, kelak akan kalah oleh kesabaran dan kelembutan
hati."
Sekar masih terus terisak, meski ia tetap mendengarkan nasihat Hadi. Hadi
mengeratkan pelukannya. Sungguh, ia merasa ikut teriris melihat sigaraning
nyawanya menangis. Namun ia tak tahu lagi harus berkata apa. Hanya
rengkuhannya yang berbicara mewakili hatinya, kembali menegaskan pada sosok
di pelukannya bahwa ia sama sekali tak akan pernah menyesal memilihnya.
**********
Sekar terbangun saat terdengar suara piring yang bersentuhan dengan piring
lainnya. Sepertinya Simbok mulai sibuk di dapur. Perlahan, ia menggeser
tangan Hadi yang masih memeluknya. Ditatapnya wajah lelaki yang kini begitu
dicintainya itu. Hadi yang terbiasa hidup dengan fasilitas mewah, bisa
tidur senyenyak ini di ranjang usangnya. Perkataan Hadi memang benar, bahwa
sejatinya rasa nyaman itu bukan tentang di mana kita berada, melainkan
tentang siapa yang menemani kita. Sekar membenarkan selimut yang
menyelimuti tubuh Hadi, lalu beringsut meninggalkannya yang masih terbuai
kembang tidurnya.
"Mbok...," panggil Sekar pelan.
Simbok yang sedang memasukkan kayu kering ke dalam tungku menoleh. Ia
segera menghentikan aktifitasnya saat melihat mata buah hatinya sembab.
"Maafkan Bapak ya, Nduk, maafkan Bapak." Simbok merengkuh Sekar dalam
pelukannya.
"Jangan dipikirkan perkataan Bapak semalam ya, Nduk. Bapak memang seperti
itu," kata Simbok sambil mengelus punggung putrinya.
Airmata Sekar kembali menggenang. Simbok melepaskan pelukannya dan
membimbing Sekar untuk duduk di amben. Simbok lalu mengambil sebuah cangkir
dan membuatkan teh hangat untuk Sekar. Dengan sengaja, Simbok menambahkan
dua sendok gula pasir tanpa diaduk.
"Ini, minumlah, Nduk. Tapi jangan aduk gulanya," kata Simbok sambil
menyodorkan teh hangat itu. Sekar menerimanya dengan penuh rasa heran.
"Kenapa tidak boleh diaduk?" tanyanya. Simbok mendudukkan dirinya tepat di
sebelah Sekar.
"Minum saja. Nanti Simbok jelaskan," katanya.
Perlahan, Sekar meminum teh itu. Hangat, namun pahit.
"Bagaimana rasanya?" tanya Simbok kemudian.
"Pahit, Mbok," jawab Sekar. Jemarinya menggenggam cangkir itu.
"Kira-kira kalau kamu minum sampai habis, apa rasanya masih akan terus
pahit?" tanya Simbok lagi. Sekar menggelengkan kepalanya.
"Tidak, mbok. Semakin habis, maka rasanya pasti akan semakin manis karena
ada gula yang menggumpal di bawah," jawab Sekar yang masih belum mengerti
maksud Simbok.
"Begitu juga dengan kehidupan ini, Nduk. Ada kalanya Gusti Pangeran
memberikan ujian pada kita berupa sesuatu yang pahit untuk dirasakan. Sikap
Bapak padamu, misalnya. Itu ujian untukmu. Tapi percayalah, jika kamu tabah
menjalaninya, sabar menghadapinya, kelak akan ada sesuatu yang manis pada
akhirnya," kata Simbok sambil membelai rambut Sekar.
Sekar memandang tehnya sambil merenungkan nasehat Simbok yang baru saja
didengarnya.
"Sejak kecil sampai sekarang kamu sebesar ini, kamu sudah berhasil
melaluinya. Simbok yakin kamu masih kuat untuk melaluinya hingga nanti ada
sesuatu yang manis sebagai balasan atas kesabaranmu menjalani ini semua,"
sambung Simbok lagi.
Sekar meletakkan cangkirnya, lalu menghapus airmatanya.
"Iya, Mbok. Sekar akan terus bersabar menghadapi Bapak dan akan terus
menunjukkan bakti pada Bapak sampai pada saatnya nanti Bapak akan mengakui
keberadaan Sekar sebagai putrinya."
Meski bekas airmata masih terlihat di pelupuk matanya, Sekar kini bisa
mengukir senyuman di wajahnya. Sebagaimana wejangan-wejangan Hadi,
kata-kata bijak Simbok juga selalu bisa membuatnya merasa lebih baik.
"Ayo, kita selesaikan pekerjaan kita. Bantu simbok membuat jadah, ya. Biar
simbok yang memasak untuk sarapan nanti," kata Simbok sambil beranjak
menuju tungku untuk kembali lekas geni, menyalakan api. Sedang Sekar
bersiap untuk mengukus beras ketan yang akan ia sulap menjadi jadah lezat
kesukaan suaminya.
Suara adzan terdengar dari masjid Al-Kautsar, membangunkan Hadi dari mimpi
indahnya. Hadi terkesiap, istrinya sudah tidak ada di sebelahnya. Tapi ia
langsung tahu di mana istrinya berada dan ia segera menuju ke sana.
"Kenapa tidak membangunkanku, hmm?" tanya Hadi, mengagetkan Sekar yang
sedang menumbuk ketan yang sudah di kukusnya tadi. Simbok tidak ada di
sana. Entah kemana.
"Mas tidur nyenyak sekali. Aku tidak tega membangunkan Mas," jawab Sekar.
"Teganya kamu membiarkanku kedinginan," kata Hadi. Ia lalu mendekat ke
depan tungku untuk menghangatkan diri.
"Aku sudah membenarkan selimut Mas sebelum aku meninggalkan Mas ke sini.
Apa kurang hangat?" Sekar membela diri.
Hadi menatap istrinya yang begitu piawai memegang alu untuk menumbuk ketan
yang ia tempatkan di atas lumpang. Sesekali jemarinya membenarkan letak
rambutnya yang maju ke depan. Hadi menikmati itu dengan rasa berdebar. Ia
memang selalu merasakan debar istimewa acapkali memandang istri tercinta.
"Iya, kurang hangat. Tanpa pelukanmu, hangat yang kurasakan tidak pernah
sempurna," kata Hadi, berhasil membuat Sekar tersenyum.
"Gombal," kata Sekar dengan sedikit tertawa.
"Habis Subuh, temani aku jalan-jalan, ya. Kita lihat sunrise bersama-sama,"
pinta Hadi.
"Iya, temani saja Nak Hadi jalan-jalan. Biar nanti Simbok yang
menyelesaikan jadahnya." Simbok tiba-tiba muncul dengan wajah yang basah.
Sepertinya Simbok baru saja mengambil air wudhu.
Sekar menatap suaminya, lalu menganggukkan kepalanya.
"Maafkan Bapak ya, Nak. Jangan diambil hati," bisik Simbok pada Hadi,
sebelum Hadi melangkahkan kaki.
**********
Hadi menggigil. Sambil berjalan, kedua tanganya ia lipat, berharap itu akan
membuatnya sedikit hangat.
"Ayo pulang saja. Kasihan Mas Hadi kedinginan begini. Kita bisa lihat
sunrise dari depan rumah," ajak Sekar yang tidak tega melihat suaminya
mengigil kedinginan.
"Aku memang tidak berani keramas pagi-pagi di sini karena airnya sedingin
es. Tapi kalau cuma menahan dinginnya pagi begini, aku kuat, kok. Apalagi
kalau ada kamu begini," katanya. Sekar tersenyum melihat mulut suaminya
mengeluarkan asap.
"Mas ini. Gombal terus."
Sekar menggerakkan tangannya untuk mencubit pinggang Hadi, tapi ia kalah
cepat. Hadi menarik tangannya, lalu merengkuhnya di pelukannya.
"Mas, malu kalau ada orang," kata Sekar sambil celingukan, khawatir ada
orang datang.
"Biarkan saja. Toh kita sudah menikah," kata Hadi, kemudian mengeratkan
pelukannya.
"Kamu tidak mau menghangatkan suamimu yang sedang kedinginan ini?" godanya.
Sekar hanya tertawa dan membiarkan Hadi memeluknya.
"Sekar...."
"Hmm?"
"Kamu sudah tidak sedih lagi, kan?" tanya Hadi. Manik matanya lekat menatap
wajah istrinya. Sisa tangisannya semalam masih ada di sana.
"Aku baik-baik saja, Mas. Jangan khawatir," jawab Sekar sembari membalas
tatapan suaminya.
"Aku sudah terbiasa diperlakukan seperti ini oleh Bapak sejak aku kecil.
Hanya saja, suasana hatiku tidak selamanya berbunga. Kadang hatiku berwarna
kelabu juga sehingga aku terbawa perasaan karenanya."
Hadi melepaskan pelukannya dan beralih untuk menggandeng tangan Sekar,
membimbingnya untuk berjalan ke tempat yang lebih tinggi.
"Sudah, jangan bahas itu lagi. Aku tidak mau melihatmu kembali bersedih
hati," kata Hadi. Gelap kini semakin memudar, tanda sang mentari akan
segera bangkit dari peraduan.
"Ngomong-ngomong, dari mana kamu belajar bahasa Inggris? Bahasa Inggrismu
bagus sekali," tanya Hadi.
Ia tiba-tiba teringat saat istrinya begitu fasih menjelaskan sejarah batik
truntum pada rombongan pengunjung asing dengan bahasa Inggris.
Keduanya kini berhenti, lalu mendudukkan diri pada sebuah bongkahan batu
yang cukup besar. Spot yang sempurna untuk melihat terbitnya sang mentari.
"Aku... aku pernah juara lomba debat bahasa Inggris se-DIY, Mas," jelas
Sekar malu-malu. Hadi terperangah mendengarnya.
"Benarkah? Itu hebat sekali. Pantas saja bahasa Inggrismu sebagus itu,"
pujinya. Ia meraih jemari Sekar dan menggenggamnya.
"Iya, Mas. Aku beberapa kali jadi wakil sekolah untuk lomba debat bahasa
Inggris. Aku juga pernah memenangkan lomba serupa yang diadakan oleh
Fakultas Ilmu Budaya UGM. Saat itu Mas Hadi masih di Inggris," tambah
Sekar, masih dengan malu-malu.
Hadi kembali memberikan tatapan hangatnya. Sungguh, banyak yang belum ia
tahu tentang istrinya.
"Apa kamu mau sekolah lagi? Aku siap membiayai," tawar Hadi.
Sekar menundukkan kepala mendengarnya. Sejujurnya, ia sangat ingin berkata
iya. Hanya saja...
"Kenapa diam saja, hmm? Sayang jika potensimu dibiarkan begitu saja.
Lanjutkan pendidikanmu. Aku mendukungmu. Aku tidak mau pernikahan ini
menghalangimu untuk maju." Hadi berusaha memberi semangat pada sosok di
sebelahnya yang masih menundukkan kepalanya.
"Aku... aku takut dianggap menikah dengan Mas Hadi hanya karena harta,"
kata Sekar. Hadi mengernyitkan dahinya.
"Kenapa bisa?" tanyanya.
"Saat aku masih menjadi rewang Mas Hadi, aku memang bermimpi untuk bisa
sekolah tinggi, meski mimpi itu rasanya jauh sekali. Tapi dengan tawaran
Mas Hadi seperti ini, aku akan bisa dengan mudah lanjut sekolah lagi. Aku
takut dianggap memanfaatkan posisiku sebagai istri Mas Hadi, takut dianggap
menggerogoti harta Mas Hadi" jelasnya.
"Sekar, dengarkan. Kamu sama sekali tidak sedang memanfaatkan posisimu
ataupun menggerogoti hartaku. Tawaran ini murni sebagai dukunganku sebagai
suamimu untuk membuatmu lebih maju, untuk membantumu menggapai impianmu."
Sekar masih menundukkan kepalanya. Berbagai macam rasa kini berkecamuk di
dadanya.
"Tidak usah pikirkan tanggapan orang. Tidak ada yang salah ketika seorang
istri dibiayai oleh suaminya," kata Hadi lagi.
Langit kini mulai berwarna kekuningan.
Sekar kembali menatap suaminya. Sungguh, ingin sekali ia menangis mendengar
ini semua. Bisa sekolah lagi adalah cita-citanya, yang ia kira tak akan
pernah bisa terwujud setelah ia menjalani kehidupan pernikahannya.
"Nduk, dengarkan Simbok. Menikah itu tidak seburuk yang kamu bayangkan.
Menikah juga ndak akan membuat cita-citamu jadi hancur. Simbok yakin Den
Hadi itu orang baik. Dia pasti bisa membimbingmu menjadi lebih maju."
Nasihat Simbok kembali terngiang, saat Sekar menyatakan rasa beratnya untuk
menerima lamaran Hadi kala itu.
Sekar dan Hadi saling pandang, lalu keduanya tersenyum penuh arti, seiring
dengan munculnya mentari dengan sinar keemasannya yang indah sekali.
**********
"Ada untungnya tinggal di tempat susah sinyal seperti ini. Rasanya damai
tanpa ponselmu terus berbunyi," kata Hadi sambil menyeruput tehnya.
"Tapi jadi susah, Mas, kalau ada yang penting," kata Sekar sambil
memotongkan sepotong jadah untuk Hadi.
"Duh, Gusti..., aku lupa belum mengabari Kanjeng Ibu kalau kita sudah
sampai," kata Hadi kemudian. Ia langsung menghentikan aktifitasnya dan
setengah berlari menuju kamar untuk mengambil ponselnya.
Sekar menggeleng-gelengkan kepala melihat keteledoran suaminya. Bagaimana
bisa ia baru ingat untuk mengabari Kanjeng Ibu? Padahal mereka sampai
kemarin pagi.
Sekar baru saja akan menyusul Hadi ke kemar saat suaminya muncul dengan
ekspresi wajah yang begitu sulit diterjemahkan.
"Mas, wonten napa?" tanyanya.
"Mas?" tanyanya lagi.
"Kita... kita harus segera kembali ke Yogyakarta," jawabnya, sedikit terbata.
"Ada apa, Nak?" tanya Simbok yang baru saja muncul dari dapur dengan
semangkuk sup senerek di tangannya.
"Maaf, Mbok. Kami... kami harus segera pulang pagi ini juga. Sekar, tolong
kemasi barang-barang kita," kata Hadi, membuat Sekar dan Simbok semakin
diliputi tanda tanya.
"Iya, tapi ada apa, Mas? Bukankah Mas bilang akan menginap di sini selama 3
hari?" tanya Sekar.
"Itu... gudang utama kita... terbakar," kata Hadi, membuat Sekar dan Simbok
terhenyak karenanya.
"Wah, ra sida nduwe mantu sugih berarti iki!"
Sebuah suara mengagetkan mereka, membuat mata Sekar mendadak berlinang airmata.
(Bersambung)
Tunggu kelanjutannya di part 15.
**********
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar