4.05.2019

@bende mataram@ Bagian 20




@bende mataram@
Bagian 20


"Bedebah! Sini kamu!" bentak Jaga Saradenta. "Aku bukan bangsat penakut,
tetapi aku membutuhkan keterangan yang benar. Sekarang ikut aku."


"Ke mana?" Kodrat gemetaran.


"Ke Karangtinalang," sahut Jaga Saradenta. "Perempuan itu biar ditemani
bibimu. Aku tanggung dia takkan terusik oleh siapa pun juga."


Setelah berkata begitu, ia menyeret Kodrat ke luar pekarangan. Kemudian
larilah ia secepat angin. Dan mau tak mau, Kodrat terpaksa ikut berlari
pula. Di bawah pengawasan pamannya dia tak bisa main gila lagi.


Pada saat itu Hajar Karangpandan telah meninggalkan Desa Segaluh. Ia
kembali ke Desa Karangtinalang. Tujuannya hendak mencari jejak yang lain.
Dia telah tahu di mana Kodrat berada. Jaga Saradenta telah mengabarkan
perihal seorang kemenakan yang datang di rumahnya. Siapa lagi kalau bukan
dia. Dengan demikian, dia tinggal minta pertanggung jawaban Jaga Saradenta.
Jika melindungi kemenakannya, ia sudah mempunyai keputusan. Seluruh
keluarga Jaga Saradenta akan dihabisi nyawanya.


Tatkala sampai di Desa Karangtinalang ia menjenguk tempat dia menghajar
orangnya Kodrat. Dilihatnya ia masih menggeletak di tanah dengan
mengerang-ngerang kesakitan.
"Nah, dengarkan!" bentaknya.


Mendengar suaranya, mereka menjadi ketakutan. Tetapi mereka tak berdaya apa
pun juga. Terdengar suara Hajar Karangpandan. "Kalian masih kuampuni.
Sekarang aku minta keterangan yang jelas. Siapa yang bicara benar akan
kuampuni. Yang tidak, akan kudepak mati. Tahu!" la berhenti sejenak. "Di
mana teman-temanmu yang lain? Jawab!"
Ia menghampiri orang yang menggeletak di sebelah utara. Orang itu diam tak
menyahut. Tak mau dia berkhianat. Lagi pula apa gunanya? Tadi dia ikut
menerangkan siapa Kodrat itu. Akibatnya ia mendapat ganjaran begitu rupa.
Sebaliknya Hajar Karangpandan tak sabar. Sekali depak matilah orang itu.


Menyaksikan keganasannya, mau tak mau yang lain jadi terpengaruh. Yang
menggeletak di sebelah barat segera berkata sebisa-bisa-nya, "Mereka
bertugas mengikuti jejak. Pusaka di bawa lari."


"Bagus! Kau kuampuni," kata Hajar Karangpandan. Setelah berkata begitu dua
orang lainnya didepaknya mati. Sedang yang berbicara tadi diinjak lehernya
hingga pingsan tak sadarkan diri.


Hajar Karangpandan menghampiri rumah Wayan Suage dan Made Tantre. la
menyelidiki tapak-tapak kaki. Sebentar saja dia telah menemukannya, tetapi
hari masih saja gelap gulita. Meskipun demikian, ia tak putus asa. Di waktu
fajar hampir menyingsing, nampaklah tapak-tapak kaki di mana-mana dengan
cukup jelas. Segera ia melesat dengan kecepatan yang tak terlukiskan.


Beberapa waktu kemudian, sampailah dia di atas gundukan tinggi. Pandangnya
menyapu. Ia melihat titik-titik hitam. Itu mereka! Mendadak dilihatnya asap
mengepul tebal. Hutan yang berdiri berleret di kaki pegunungan nampak terbakar.


"Jahanam! Apa mereka sedang membakar tempat persembunyiannya Wayan Suage,"
ia khawatir. Gntuk menghambat pembakaran hutan itu, ia mengumpulkan seluruh
tenaganya. Napasnya dipusatkan ke perut.


Kemudian sambil mendongak ke udara ia berteriak tak ubah Guntur Sejuta .
Suaranya bergelora menusuk udara. Burung-burung yang menginap di atas
pohon-pohon, kaget beterbangan. Batang pohon-pohon tergetar pula. Daun-daun
kering runtuh bertubrukan.
Kemudian larilah ia amat pesat. Dia mengulangi teriakannya dua kali lagi.
Pada teriakan yang ketiga kalinya, sampailah dia di tepi hu¬tan. Segera ia
menurunkan tangan ganas untuk membangunkan pengaruh tertentu. Empat orang
mati terjengkang sekaligus.


"Mana Wayan Suage?" Ia membentak sam¬bil membekuk korbannya yang kelima.


"Siapa Wayan Suage?" sahut orang itu menggigil. Orang itu benar-benar belum
mengenal nama buruannya. Tapi Hajar Karang¬pandan menduga lain. Ia mengira,
orang itu mengecohnya. Maka tanpa memberi kesempatan lagi, ia
mengemplangnya mati.


Yang lain jadi ketakutan. mereka saling bersuitan mengabarkan tanda bahaya.
Tetapi Hajar Karangpandan berlalu sangat cepat. Ia melesat terbang tak ubah
seekor burung garuda dan membunuh mati dua orang lagi. Kini tinggal dua
orang yang masih hidup. la menyabarkan diri agar mendapat keterangan.
Bentaknya, "Mana Wayan Suage?"


Seperti yang lain mereka menyahut, "Siapa Wayan Suage?"


"Bangsat! Pusaka itu! Bukankah kalian mau merampok pusaka itu?"


"Dia ... dia di sana ... seorang pemuda bersamanya..." orang itu menuding
ke lautan api.


Betapa hebat pengaruh kata-kata itu terhadap Hajar Karangpandan tak dapat
terlukiskan. Dengan mata liar ia merenungi nyala api. Hatinya serasa hampir
meledak.


"Apa pemuda itu pimpinanmu?" dampratnya.


Dua orang itu akan membuka mulut, mendadak Hajar Karangpandan telah
menerkam dahsyat. Mereka terpental ke udara dan menghembuskan napasnya yang
penghabisan sebelum tubuhnya terbanting di tanah.


Hebat gempuran itu. Dia berhasil menewaskan sembilan orang seorang diri.
Sebabnya, karena mereka telah merasa ngeri terhadapnya. Mereka telah kena
gertak sebelum bertempur.


Hajar Karangpandan menggeram seperti seekor singa. Pandangannya tak beralih
dari lautan api. Tiba-tiba ia meloncat ke dalam dan terbang menjelajah
hutan yang sedang terbakar. Tetapi meskipun berkulit kebal, tak seseorang
pun tahan berenang dalam lautan api. Sebentar saja, dia melesat ke luar dan
berdiri tertegun dengan hati terguncang hebat.
Tatkala itu dia menoleh, pandangnya bentrok dengan pandang mata seorang
pemuda yang berdiri gagah di tepi sungai. Itulah Wirapati murid keempat
Kyai Kasan Kesambi.
Tanpa berbicara lagi, Hajar Karangpandan lantas saja menyerang. Wirapati
terkejut. Cepat ia menghindar sambil mengirimkan sodokan. Hajar
Karangpandan terkejut. Pikirnya, orang ini bisa mengelakkan seranganku
sambil menyerang, ini hebat. Ia mengulangi lagi lebih dahsyat.


Hajar Karanpandan mempunyai watak mau menang sendiri. Sebaliknya Wirapati
bukan pula orang sembarangan. Dia angkuh dan tinggi hati. Selain itu
seluruh hatinya bersujud kepada perguruannya. Menurut kepercayaannya, tidak
ada ilmu lain yang bisa menandingi ilmu perguruannya. Demikianlah, jika
menda¬pat serangan lagi tak mau dia mengelak. Ia ingin mencoba-coba seperti
yang dilakukan nya pada orang Banyumas. Kesudahannya ia menumbuk batu.


Karena begitu tangannya kebentrok, seketika itu juga terpentallah dia tiga
langkah. Tetapi Hajar Karangpandan pun mundur terjengkang selangkah.


Wirapati kaget bukan main. Sadarlah dia, kalau sikap keagung-agungan akan
membahayakan diri sendiri. Maka sekarang bersikap waspada dan hati-hati.


Hajar Karangpandan mempunyai kesan pula. Ia kagum pada kekuatan si pemuda.
Biasanya orang tak tahan menerima pukulannya. Tetapi meskipun pemuda itu
tahan menerima pukulan, terpental juga tiga langkah.


"Bagus!" ia memuji. "Tapi hari ini kaubakal mampus di tanganku! Sayang,
sayang! Punya kepandaian begitu hebat, kenapa jadi bangsat?"


Wirapati tahu, orang itu salah duga. Tetapi dia terlalu tinggi hati untuk
menjelaskan kesalahpahaman itu. Cepat ia siaga.


Bersambung




Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar