๐๐ฏ๐ฅ
CANTING PART 11
"Argh!"
Ajeng berteriak sambil membanting paksa ponselnya. Beruntung, ponsel mahal
keluaran Amerika itu memang merupakan ponsel yang tahan banting, hingga
ponsel itu tak retak saat Ajeng melemparnya hingga terantuk dinding kamarnya.
Emosi benar-benar naik sampai ubun-ubunnya saat teleponnya dimatikan oleh
Hadi. Pesan yang dikirimkannya sedari pagi juga tidak ada jawaban. Ia terus
mencoba menghubungi nomor Hadi, tapi nihil. Nomor Hadi justru kini tak
aktif lagi.
Ajeng frustasi.
Ia bersimpuh di lantai dengan punggung bersender pada ranjang kamarnya,
kamar begaya klasik mewah dengan ranjang khas Eropa berwarna putih
kombinasi warna gold yang berada di lantai 2 rumah yang ia tempati sendiri
di Hyarta Residence, sebuah perumahan elit yang berada di daerah Sariharjo,
tidak begitu jauh dari rumah Hadi di Sardonoharjo.
Angan Ajeng berkelana, teringat saat ia masih begitu mudahnya bisa
mengundang Hadi untuk menghabiskan waktu bersama. Ia sering mengundang Hadi
untuk datang ke rumahnya, menjamunya dengan masakan Eropa. Ajeng memang
piawai dalam hal ini. Meski Hadi selalu datang dengan membawa teman agar
mereka tidak berduaan, Ajeng tetap merasa begitu senang. Apalagi saat Hadi
memuji masakannya,
"enak, Jeng. Suamimu tidak akan pernah jajan di luar kalau setiap hari
disuguhi makanan selezat ini."
Ia kembali nelangsa. Rasanya, tak ada lagi kesempatan baginya untuk
menghabiskan waktu bersama Hadi seperti sebelumnya.
Perlahan, diraihnya ponsel mahal yang teronggok di sudur ruangan, lalu
kemudian ia bangkit menuju peraduan. Ditekannya kembali nomor Hadi,
berharap si pemilik nomor akan memberikan jawaban yang ia nanti. Lagi-lagi,
nihil. Bulir-bulir hangatnya pun kembali membasahi pipi.
"Kamu pasti sedang memadu cinta dengan gadis ingusan itu ya, Mas?"
gumamnya, dengan airmata yang terus membanjiri wajahnya.
Angannya tak bisa berhenti membayangkan sosok yang selama bertahun-tahun
menghuni hatinya tengah berendam di lautan asmara bersama gadis yang lain
selain dirinya.
Tetiba ponselnya berdering, menyentaknya dari lamunannya. Ia hampir saja
mengangkatnya karena ia mengira Hadi yang meneleponnya. Tapi melihat siapa
yang meneleponnya, ia urung melakukannya dan hanya membiarkan ponselnya
terus berdering begitu saja.
Telepon dari ibunya.
Bukan tanpa alasan Ajeng tidak mau mengangkatnya lantaran ibunya pasti
hanya akan membicarakan soal perjodohannya dengan dr. Airlangga, putra
bungsu dari dr. Kusumohardjo, kolega sekaligus sahabat ayahnya saat mereka
menempuh pendidikan S3 di bidang Epidemiology & Public Health di Umea
University, Swedia. Ini juga yang menjadi alasan kenapa ia memilih untuk
tidak serumah dengan orangtuanya yang tinggal di daerah Purwomartani.
"Tunggu saja, Mas Hadi pasti akan segera melamarku," begitu alasannya
acapkali orang tuanya membahas tentang perjodohannya dengan Airlangga.
Namun kini, Hadi telah beristri, hingga ia tak bisa menggunakan alasan itu
lagi.
Ajeng mendesah.
Sejujurnya, tak ada yang salah pada diri Airlangga. Ia memang tak begitu
mengenalnya, bukan pula satu almamater saat menempuh pendidikan dokternya
karena Airlangga menempuhnya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
tapi, Ajeng pernah beberapakali bertemu dengannya. Di mata Ajeng, Airlangga
merupakan sosok yang baik, nyaman untuk dijadikan teman, namun tidak untuk
dijadikan pasangan.
Tetiba hati Ajeng berdesir. Ia ingat perkataan Hadi saat itu.
"Seperti halnya saat kita memilih frekuensi radio. Mana yang kita klik
dengannya, di situ kita akan menghentikan pencarian kita."
Ajeng menyangga dagunya dengan guling yang dipeluknya. Hadi bilang, ia
tidak akan peduli dengan frekuensi lainnya karena ia sudah berhenti pada
gadis itu. Bukankah itu sama dengan dirinya yang hanya mau berhenti pada
Hadi dan tidak peduli pada frekuensi lainnya, seperti Airlangga misalnya?
Ajeng mendesah. Salah satu sisi hati kecilnya berteriak.
Kamu tidak bisa menyalahkan Hadi, Jeng.
Seperti halnya dirimu yang tidak bisa memaksa diri menerima Airlangga, Hadi
juga tidak bisa memaksa dirinya untuk menerimamu.
Pilihannya sudah berhenti pada gadis itu.
Sadari itu!
Berhenti dan ganti frekuensimu!
Ajeng menelungkupkan wajahnya. Secara teori, ia sungguh memahaminya, hanya
saja pada prakteknya, ia tak mampu untuk sekadar mencoba menggeser
frekuensinya yang sudah terlanjur berhenti pada Hadi. Hanya pada hadi.
Sayang, sejurus kemudian, salah satu sisi lain dalam hatinya membisikkan
hal yang berbeda.
Tak apa, Jeng. Bukankah 1 frekuensi radio bisa dilipih oleh lebih dari 1 orang?
Ajeng tersenyum, penuh arti.
**********
"Eh, penganten baru sudah pulang."
Sundari tersenyum semringah menyambut Sekar dan Hadi yang baru saja pulang
dari bulan madunya. Takzim, keduanya mengecup punggung tangannya.
"Inggih, Kanjeng Ibu. Kanjeng Ibu pripun? Sehat?" sapa Sekar. Sundari
mengangguk.
"Sehat, Nduk. Kamu gimana? Hadi ora aneh-aneh to?" katanya, membuat Hadi
tertawa. Sedang Sekar tersipu karenanya. Tidak mungkin ia menceritakan pada
kanjeng ibu tentang bagaimana usil dan manjanya Hadi selama 3 hari mereka
menghabiskan waktu bersama.
Sundari tersenyum lega sambil menatap punggung Sekar dan Hadi yang berlalu
menuju kamar mereka. Ia bahagia putra semata wayangnya memilih Sekar
sebagai pendampingnya, bukan gadis-gadis yang beberapa kali berkunjung ke
rumahnya. Meski Sekar hanyalah seorang rewang, namun Sundari teramat
menyayanginya. Ia tahu betul perangai dan sifat-sifatnya karena ia
menyaksikan perjalanan Sekar mulai belia hingga dewasa. Karenanya, ia
langsung memberikan lampu hijau saat Hadi mengutarakan keinginan untuk
menikahinya.
Sundari kembali tersenyum sambil menutup pintu rumahnya karena Maghrib akan
segera tiba.
"Maturnuwun, Gusti," gumamnya.
**********
Sekar celingukan. Rasanya berbeda tanpa adanya simbok di rumah ini. Simbok
memang memutuskan untuk tidak lagi bekerja di rumah Hadi. Selain karena
simbok sekarang adalah mertua Hadi, kesehatan ayah Sekar juga sudah mulai
menurun akhir-akhir ini, sehingga simbok memutuskan untuk kembali pulang ke
dusun Mangli.
"Ayo masuk," kata Hadi.
Sekar bergeming. Ia ragu untuk memasuki kamar Hadi.
"Kenapa?" tanya Hadi, menghampiri istrinya yang hanya bergeming di depan
pintu kamarnya.
"Aku... aku harus tidur di sini juga, Mas?" tanyanya polos. Sejujurnya, ia
merindukan kamar lamanya yang terletak di dekat dapur. Hadi tertawa.
"Tentu saja."
Gemas, ia mengacak-acak jilbab istrinya.
Sekar masih bergeming, sambil sesekali kepalanya melongok, menilik isi
kamar Hadi. Selama ini, ia memang sering masuk ke kamar ini, dalam
kapasitas sebagai rewang Hadi. Tapi tak pernah ia merasakan perasaan
segugup ini.
"Ealah, malah ngalamun. Mau aku gendong lagi?" Hadi sudah bersiap meraih
tubuh Sekar.
"Ih, Mas!" gerutu Sekar, sambil melompat menghindar. Hadi kembali tertawa.
Sekar mengedarkan pandangannya, menikmati detail-demi detail kamar Hadi.
Kamar ini, ia selalu membersihkan dan menatanya setiap hari. Tak disangka,
kini ia juga jadi penghuni kamar ini, sebuah kamar dengan perabotan yang
kesemuanya terbuat dari kayu jati dengan ukiran-ukiran artistik yang
menghiasinya.
Sedikit ragu, Sekar mendudukkan dirinya di ranjang kayu berjenis canopy bed
atau ranjang dengan tudung di atasnya yang disangga empat tiang di
masing-masing sisinya, dan juga ditutupi kelambu berwarna putih yang
berenda di ujungnya.
Sekar masih terus mengamati tiap detail kamar itu, sembari jemarinya
menyisir sisi kasur yang terbalut sprei batik bermotif grompol, salah satu
motif batik yang disukainya. Motif grompol berbentuk menyerupai rantai
bunga berjejer yang saling terikat satu sama lainnya dengan bentuk dan
ukuran yang sama, dengan ornamen-ornamen kecil seperti bulatan-bulatan di
sekitar bentuk pola utama.
"Kamu tahu filosofi motif batik itu?" tanya Hadi sambil melepas bajunya dan
menggantinya dengan kaos putih pendek.
"Grompol berarti bersatu, kan?" kata Sekar. Kini ia berdiri di sebelah
jendela, memastikan jendela itu sudah terkunci dengan sempurna.
"Benar. Itulah kenapa batik motif grompol ini sering dipakai pada acara
pernikahan, melambangkan pengharapan pada Gusti Pangeran akan berkumpulnya
rejeki, cinta, kebahagiaan, kerukunan, keturunan, dan sebagainya," jelas
Hadi yang kemudian mendudukkan dirinya di sebelah Sekar.
"Doaku juga seperti itu, Sayang. Semoga kita berdua senantiasa dikumpulkan
oleh Yang Maha Kuasa dalam kebaikan," kata Hadi sambil memegang ubun-ubun
istrinya. Sekar mengamininya.
Hening, keduanya kini saling pandang.
Hadi baru saja akan mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya saat ponselnya
berdering nyaring, mengagetkan keduanya. Hadi mendengus melihat nomor siapa
yang tertera di sana.
"Perempuan itu lagi, Mas?" tanya Sekar setelah menangkap perubahan rona
wajah suaminya yang mendadak menjadi begitu masam. Hadi mengangguk.
"Seharusnya aku blokir saja nomornya dari kemarin-kemarin. Dasar tidak tahu
diri!" gerutu Hadi.
Jemarinya kemudian bergerak cepat untuk memblokir nomor itu. Tapi ia kalah
cepat. Ponsel yang masih berbunyi itu kini sudah berpindah ke tangan Sekar.
"Kamu mau a..."
Hadi urung melanjutkan kalimatnya saat Sekar meletakkan telunjuk di
bibirnya, mengisyaratkan agar Hadi diam saja. Hadi pasrah. Ia juga ingin
tahu apa yang akan dilakukan istrinya dengan ponsel itu.
"Iya, halo?" sapa Sekar dengan suara lembutnya.
Hadi melongo melihatnya. Sekar mengangkat telepon dari Ajeng? Ia kira Sekar
akan mematikannya.
Ini gila!
"Halo? Siapa ya?"
Sekar mengulang sapaannya saat tidak ada suara dari seberang sana.
"Kamu siapa? Aku ingin bicara dengan Mas Hadi. Di mana dia?" jawab suara di
seberang sana. Ketus.
Sekar melirik Hadi sejenak.
"Oh, mau bicara dengan Mas Hadi? Saya Sekar, Mbak. Istrinya Mas Hadi. Ini
Mas Hadi sedang duduk di sebelah saya. Ada yang ingin disampaikan?" kata
Sekar lagi. Hadi semakin melongo, tak percaya pada apa yang dilakukan istrinya.
Sekar... keren sekali!
"Aku ingin bicara dengannya. Berikan teleponnya!"
Suara di seberang sana semakin ketus saja. Hadi bisa jelas mendengarnya
karena Sekar menyalakan loudspeaker ponselnya.
"Mas Sayang, ini ada yang mau bicara. Kersa ngendika mboten, Mas?" tanya Sekar.
Hadi hanya diam saja, karena ia masih tersihir oleh apa yang dilakukan
istrinya, sampai Sekar menyenggolnya
"Eh, enggak enggak," jawab Hadi kemudian.
"Nyuwun ngapunten, Mbak. Mas Hadi tidak mau. Mas Hadi masih lelah. Kami
baru saja pulang dari bulan madu soalnya. Begini saja, kalau Mbak... halo?
Halo?"
Mati. Telepon itu terputus begitu saja.
"Dimatikan, Mas," kata Sekar sambil menyodorkan ponsel itu pada Hadi.
"Kamu... kenapa kepikiran untuk mengangkat telepon Ajeng?" Hadi masih
terpana dengan apa yang baru saja dilakukan istrinya.
Sekar menggerak-gerakkan kakinya, tapi manik matanya menatap suaminya.
"Mbak Ajeng itu kan maunya telepon Mas Hadi, maunya ngobrol sama Mas. Kalau
tiap telepon yang angkat aku, pasti lama-lama mbak Ajeng kesal dan mungkin
akan berhenti menelepon," jelas Sekar.
Hadi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa tidak sebaiknya aku memblokirnya saja? Atau aku ganti nomor?" tanya
Hadi. Ia masih belum mengerti kenapa istrinya melakukan itu.
"Oh, jangan, Mas. Kalau Mas memblokir nomornya, Mbak Ajeng pasti akan
membeli nomor baru. Kalau Mas ganti nomor, dia pasti akan terus mencari
tahu. Lagipula, teman-teman Mas kan teman-teman Mbak Ajeng juga. Kalian
satu SMA, satu almamater S1 juga. Pasti akan sangat mudah baginya untuk
mendapatkan nomor baru Mas. Namanya orang kedanan, dia pasti akan melakukan
segala macam cara," jelas Sekar panjang lebar.
"Jadi, tidak perlu memblokir atau membeli nomor baru. Biarkan saja. Biar
aku yang mengangkatnya tiap Mbak Ajeng menelepon Mas," imbunnya lagi.
Hadi semakin terpana. Istri belianya, kenapa jadi begitu bijaksana? Namun
sejurus kemudian, ia menganggukkan kepalanya, tanda setuju atas ide istrinya.
"Tadi kamu bilang, orang yang kedanan akan melakukan berbagai macam cara
kan untuk mengejar orang yang membuatnya tergila-gila?" tanya Hadi. Sekar
mengangguk. Ia tak lagi menggerak-gerakkan kakinya.
"Apa itu sama sepertimu yang akan melakukan segala cara untuk
mempertahankanku?" goda Hadi sambil mengerling manja.
Sekar mbesengut.
"Kamu kan kedanan sama aku," godanya lagi. Gemas, Sekar mendaratkan sebuah
cubitan kecil di paha suaminya.
"Bukannya Mas Hadi yang kedanan sama aku? Sampai-sampai Mas lebih memilih
aku yang masih anak ingusan, anak rewang, daripada memilih Mbak Ajeng yang
matang dan sempurna itu?" balas Sekar.
Skak mat!
Benar juga. Tak kalah gemas, Hadi lalu berusaha meraih istrinya, berkejaran
di dalam kamar sambil cekikikan. Sundari yang tak sengaja lewat hanya bisa
tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Tertangkap!
Tenaga Hadi begitu kuat hingga Sekar tak mampu melepaskan diri darinya.
Perlahan, Hadi merapatkan kembali wajahnya ke wajah istrinya, tapi Sekar
buru-buru menghalaunya dengan tangan kanannya.
"Mas, sudah Maghrib," katanya, seiring dengan suara adzan yang mengalun
begitu merdunya.
Hadi nyengir dan melepaskan pelukannya. Sekar tertawa geli melihatnya.
**********
JEC, Jogja Expo Centre, Banguntapan, Bantul.
Sekar tampak menawan dengan baju batik sarimbitnya dengan Hadi. Hadi
memakai kemeja batik lengan panjang, sedang Sekar memakai baju batik lengan
pendek yang ia padukan dengan manset hitam. Model bajunya yang mekruk di
bagian bawah, jilbab berwarna senada dengan batik yang dipakainya yang ia
bentuk sedemikian rupa dengan hiasan bros bunga di sisi kirinya, celana
hitam dan juga sepatu dengan hak tidak terlalu tinggi, membuat Hadi
menatapnya tanpa berkedip berkali-kali.
Mereka berdua ramah menyapa pengunjung yang datang ke stand mereka, dan
juga menjelaskan segala hal tentang batik yang pengunjung tanyakan pada
mereka. Hari ini, mereka turut serta meramaikan acara Festival Jogja Kota
Batik Dunia yang digelar oleh PEMDA Daerah Istimewa Yogyakarta. Acara ini
diadakan sebagai bentuk eksistensi kota Yogyakarta sebagai kota batik dunia
sebagaimana yang telah ditetapkan oleh World Craft Council (WCC) pada tahun
2014 silam.
Ada banyak motif batik khas Yogyakarta yang ditampilkan pada acara ini,
seperti batik motif grompol, motif kawung, motif parang, motif nitik, motif
semen, dan juga tentu saja motif truntum, motif batik yang tak bisa
dipisahkan dari rasa cinta Hadi pada Sekar yang terus tumbuh mekar acapkali
ia melihat Sekar tengah menarikan canting di atas kain mori untuk membuat
motif batik tersebut.
"Aku ke toilet sebentar, ya," bisik Hadi di telinga Sekar.
"Jangan lama-lama tapi, Mas. Itu ada rombongan bule. Aku takut mereka ke
sini dan aku tidak bisa menjelaskan apa-apa," kata Sekar.
Hadi mengangguk, lalu setengah berlari menuju toilet yang terletak di ujung
gedung.
Dengan penuh semangat, Sekar membagikan selebaran untuk mengundang
pengunjung datang langsung ke rumah produksi The House of Sundari milik
keluarga Hadi untuk melihat pembuatan batik tulis di sana sekaligus mencoba
langsung untuk mempraktekkannya. Namun kemudian, manik matanya menangkap
seseorang yang tengah melangkah anggun ke arahnya; perempuan yang beberapa
hari ini terus menghubungi suaminya.
(Bersambung)
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar