8.16.2019

@bende mataram@ Bagian 134

@bende mataram@
Bagian 134


"Aji!" ia kaget. "Mengapa?"


Suara pekik itu, memang jerit Sangaji yang kena disakiti Yuyu Rumpung.
Mula-mula ia hanya ditindih dan dikangkangi. Mana bisa dia menyerah begitu
saja tanpa melawan. Biar pun merasa diri tak unggul, namun ia berontak
juga. Tetapi Yuyu Rumpung memang gagah, apalagi dia sedang gusar. Dengan
gregetan ia menghajar Sangaji kalang kabut, kemudian menerkam tengkuk.
Tangannya lantas dikembangkan dan ditumblaskan sekuat tenaga.


Panembahan Tirtomoyo yang sakti kena dilukai dengan gempurannya, apa lagi
Sangaji si bocah kemarin sore. Bagi dia adalah makanan empuk bagaikan
kelinci yang bisa dipilin-pilinnya sesuka hati. Gntung, luka dalamnya masih
belum sembuh benar. Karena itu, tenaganya belum pulih seperti sediakala.
Meskipun demikian sisa tenaganya yang bergolak di dalam tubuh jauh berlipat
ganda hebatnya daripada tenaga Sangaji.


Keruan saja Sangaji kesakitan kena terkam jari-jari Yuyu Rumpung. Entah
dari mana datangnya, mendadak saja ia mendapat tenaga luar biasa kuatnya.
Serentak ia berontak sekuat-kuatnya, sehingga dapat terlepas dari
cengkeraman Yuyu Rumpung. Kemudian ia menggelinding bergulungan. Tatkala
Yuyu Rumpung memburu dengan menendangkan kaki, mati-matian ia menangkapnya.
Karena hebatnya tenaga lawan, tubuhnya terus terpelanting berputaran. Tapi
rangkulannya tetap melengket tak terenggangkan. Dalam seribu kesulitannya,
teringatlah dia pada pengalamannya lima enam tahun yang lalu tatkala
dihajar kalang kabut oleh Mayor de Groote. Karena terjepit dan tak sudi
menyerah, ia merangkul betis dan menggigit sekuat tenaga. Kali ini pun
tanpa berpikir ia terus menggigit. Hebat, akibatnya. Yuyu Rumpung kesakitan
sampai menjerit tinggi sambil berputaran. Kemudian melemparkan tubuh
Sangaji dengan sisa seluruh tenaganya.


Sangaji terlempar sejauh sepuluh langkah. Ia jatuh bergulungan. Seluruh
tubuhnya sakit dan nyeri bukan main. Takut akan diuber lawan, cepat-cepat
ia mengumpulkan tenaga dan lari sejadi-jadinya.


Dalam hal.lari, ia menang gesit daripada


Yuyu Rumpung. Apalagi waktu itu, Yuyu Rumpung dalam keadaan kurang sehat
dan nyaris kehabisan tenaga. Itulah sebabnya, ia tak tersusul. Malahan,
Yuyu Rumpung nampak duduk numprah di atas tanah dengan napas tersengal-sengal.




Sangaji tak perduli. Ia terus lari dan lari. Mendadak teringatlah dia, ...
Ibu Sanjaya seorang yang berhati mulia, mungkin dia mau melindungi.
Mendapat ingatan demikian, terus saja ia menuju ke gedung agung. Ternyata
kamar Raden Ayu Bumi Gede dalam keadaan terang benderang oleh sinar pelita.
Dengan merangkak-rangkak Sangaji masuk dan bersembunyi di belakang almari
besar. Ia terus mendekam, kemudian menjelajah matanya. Mendadak ia melihat
suatu pemandangan aneh.


Jendela besar yang berada di sebelah timur terpentang lebar. Di dekat
tempat tidur, ibu Sanjaya rebah tak berkutik menelungkupi kursi. Seorang
laki-laki mencoba membangunkan. Dengan hati-hati, laki-laki itu memapahnya
dan didudukkan baik-baik di atas kursi besar. Jantung Sangaji
berdebar-debar, karena laki-laki itu ternyata Wayan Suage.


Mengapa dia berada pula di sini? pikir si bocah menduga-duga. "Apakah dia
menyakiti ibu Sanjaya karena hendak membalas dendam perlakuan Sanjaya
terhadapnya?


Tak lama kemudian, ibu Sanjaya nampak tersadar. Tiba-tiba merangkul Wayan
Suage sambil berkata, "Sekarang jangan tinggalkan aku lagi. Aku tak takut.
Cepat bawalah aku pergi! Aku akan mengikutimu, biarpun sampai di ujung
dunia. Kalau kau mati, aku pun akan mati. Biarlah kita jadi setan atau
iblis, asal kita tak berpisah lagi."


Wayan Suage terus mendekap ibu Sanjaya dan dibawa ke dadanya. Sangaji
bertambah heran. Hatinya lantas goncang tak tahu mengapa.


Sesungguhnya setelah berpisah dengan Sangaji, Wayan Suage terus mencari
gedung ibu Sanjaya. Sebentar ia mengintip dari luar jendela. Ia mendengar
suara Sanjaya sedang berbicara dengan ibunya minta keterangan tentang
dirinya yang mendadak bisa bebas dari tahanan. Ibunya menyesali dan
menganjurkan agar tidak mengusiknya lagi. Tetapi Sanjaya menyahut, "Ibu
terlalu lemah hati. Kalau guru sampai mendengar peristiwa ini, apa jadinya?"


Anak muda itu terus keluar pintu dan bermaksud hendak mencegat. Ia
menggerutu sepanjang jalan dan berniat takkan pulang kembali sebelum dapat
menangkap tawanannya.




Wayan Suage mengeluh dalam hati. Hatinya berduka bukan kepalang. Mendadak
saja timbullah amarahnya. Terus saja ia merenggutkan jendela. Pintu
dijeblaknya dan ia melompat masuk.


Raden Ayu Bumi Gede terkejut bukan main, sampai menjerit tertahan. Sebentar
ia tertegun, "Siapa kau?"


Wayan Suage tersenyum pahit. Dengan mata tanpa berkedip dan napas memburu,
ia mengawasi Raden Ayu Bumi Gede. Pandangnya tak berkisar dari tahi lalat
yang tersungging di atas mulut.


Menghadapi orang yang memandang dirinya tanpa berkedip, hati Raden Ayu Bumi
Gede jadi cemas. Tanpa disadari ia mundur sambil mengulangi pertanyaannya.


"Kau siapa?"


Kembali Wayan Suage tersenyum pahit. Tapi kali ini dia mau membuka mulut.
Jawabnya dengan suara yang dikuasai, "Hamba bernama Mustapa yang dikurung
anak Nyonya."


Raden Ayu Bumi Gede terkejut. Tetapi kecemasan hatinya lantas pudar. Dengan
menunduk ia berkata, "Anakku memang salah. Dia menyusahkan kalian."


Wayan Suage tidak menanggapi. Matanya lantas mengelana ke seluruh ruang
kamar. Di dinding saja tergantung sebatang pedang panjang. Itulah pedang
Sanjaya yang selalu dibawanya ke mana dia pergi. Dan didekatnya tergantung
gambar Sultan Hamengku Buwono II. Melihat gambar itu, Wayan Suage tersenyum
pahit. Kemudian berkata dengan nada suara sedih. "Hujan terlalu deras.
Rupanya pada hari penobatan Sultan Yogya ini, kita tak boleh bekerja
terlalu lama. Itulah kesalahan kita, tak tahu menghormati hari besar, Mari kita


menyembelih ayam dan memasak kopi hangat..."


Raden ayu Bumi Gede terkejut sampai mukanya pucat, tatkala mendengar ucapan
Wayan Suage. Tubuhnya lantas gemetaran. Kakinya menjadi lemas dan
perlahan-lahan ia duduk terhenyak di atas kursi. Dengan pandang menyelidiki
ia mengamat-amati Wayan Suage. Kemudian berkata gagap, "Kau berkata...
berkata apa?"


"Aku berkata, hujan terlalu deras. Rupanya pada hari penobatan Sultan Yogya
ini, kita tak boleh bekerja terlalu lama. Itulah kesalahan kita. Tak tahu
menghormati hari besar. Mari kita menyembelih ayam dan memasak kopi hangat..."


Tiba-tiba saja, seluruh anggota tubuh Raden Ayu Bumi Gede lemas kehilangan
tenaga. Sebab kata-kata itu adalah kalimat percakapan antara suaminya—Wayan
Suage—dan Made Tantre pada hari penobatan Sultan Hamengku Buwono II dua
belas tahun lalu.


Bersambung








Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar