8.16.2019

@bende mataram@ Bagian 133

@bende mataram@
Bagian 133


Sehabis berkata demikian, dengan sekali gerak ia telah menyerang si gadis.
Tetapi Titisari tetap berada di tempatnya, la tak mau menangkis, karena
merasa takkan ungkulan. Lagi pula ia andaikata menangkis serangan orang,
bukanlah tata ilmu berkelahinya akan kelihatan?


Abdulrasim terkejut melihat si gadis tak bergerak. Cepat-cepat ia menarik
serangannya yang hampir mengenai sasaran yang dikehendaki.


"Tangkislah dan jaga diri! Jangan persalahkan jika tanganku sampai mengenai
dirimu. Aku sudah memberi peringatan," bentaknya.


Benar-benar ia seorang laki-laki yang tetap pada keputusannya. Tadi ia mau
menyerang lambung. Tapi si gadis tetap tak mau meladeni. Cepat ia berpikir,
biar kuserang buah dadanya. Masa dia akan membiarkan buah dadanya kuremas
pencet.


Memikir demikian, serangannya yang kedua segera ditujukan ke arah buah
dada. Titisari terkejut. Cepat-cepat ia melesat mundur sambil berteriak
terpaksa.


"Baiklah. Aku akan melayani kamu bertempur selama sepuluh jurus. Tapi apa
janjimu, bila kau tak dapat menebak siapa guruku?"


"Kauboleh pergi dengan bebas. Aku yang menanggung."


"Hm—mana bisa aku percaya pada mulut kalian. Dua kali berturut-turut aku
direcoki. Kalian bukan laki-laki sejati."


"Nona," sang Dewaresi menyahut. "Aku adalah Dewaresi. Dengan namaku, aku
akan memegang janji. Jika aku tak dapat menebak siapa guru atau ayah yang
mengajarimu ilmu tata berkelahi, aku akan menjamin kebebasan-mu. Jika
Dewaresi sudah berjanji dia akan menepati biar pun akan berakibat runyam."


Titisari mau mempercayai orang itu. "Baik kamu boleh mulai."


"Bagus! Awas! Sepuluh jurusku itu buka main-main, Nona. Untuk kedua kalinya
aku memberi peringatan kepadamu," sahut Abdulrasim.


Jago Madura itu lantas saja menyerang. Ia menyapukan kakinya, kemudian
dengan beruntun ia menghujani tinju. Itulah pukulan khas Madura yang berbahaya.


Titisari terkesiap juga melihat macam serangan jago Madura itu. Akan tetapi
ia tak gugup. Cepat ia berkisar dari tempat dan segera memapaki serangan
itu dengan serangan pula. Hebat akibatnya, la kena dipentalkan, namun
dirinya bebas dari tangkapan atau pukulan telak.


"Bagus!" puji sang Dewaresi. "Itulah gaya pertahanan Kyai Haji Lukman Hakim
dari Cirebon."


Kembali Abdulrasim melancarkan serangan berbahaya. Kali ini si gadis telah
mendapat pengalaman. Tak mau ia mengadu tenaga. Tadi ia kena dipentalkan.
Kini ia melesat gesit dan menerobos rantai serangan bertubi. Ia berhasil
membebaskan diri. Dan Abdulrasim mendongkol menyaksikan macam serangannya
kena dielakkan.


Sang Dewaresi mulai heran. Gumamnya, "Hai! Bukankah itu gaya serangan
Pangeran Samber Nyawa?"




Orang-orang yang mendengar ulasaan sang Dewaresi turut pula menebak-nebak.
Lantas saja mereka berkasak-kusuk saling membicarakan.


Abdulrasim lantas berpikir, aneh gadis ini. Dia bisa lolos dari seranganku.
Biarlah agak kudesaknya dengan keras.


Memutuskan hendak menggunakan tenaga keras, maka Abdulrasim menggenang
bagaikan harimau. Kemudian meloncat mengarah dada, lambung, tengkuk, kaki
dan lengan sekaligus. Orang-orang yang menyaksikan berseru kaget
mengkhawatirkan si gadis.


Titisari sendiri terkesiap. Hatinya ciut. Mendadak saja ia menjejak bumi
dan melesat berputaran seperti terbang. Kemudian mundur berjumpalitan
sambil mengibaskan tangan. Ontuk ketiga kalinya ia luput dari ancaman maut.
Tetapi jantungnya memukul keras.


Sang Dewaresi jadi sibuk menduga-duga menyaksikan gaya pertahanan Titisari.
Pikirnya, sungguh mengherankan. Gadis ini memiliki bermacam ragam tata
berkelahi. Bukankah ini tadi gaya pertahanan Pangeran Blitar? Eh, bagaimana
bisa campur aduk tak keruan? Apakah dia sengaja berbuat begitu untuk
menyembunyikan ilmu berkelahinya yang sejati?


Dalam pada itu Abdulrasim menjadi penasaran. Tiga serangannya kena
dielakkan. Kini tinggal tujuh jurus serangan. Kalau sampai gagal, mau tak
mau ia akan kehilangan pamor di hadapan Pangeran Bumi Gede. Sekarang ia
bertambah garang. Tak mau lagi ia bersikap berbelas-kasih. Seperti badai
melanda pantai ia terus menyerang empat jurus sekaligus. Dan Titisari—
meskipun keripuhan—dapat mengelakkan diri dengan bermacam ragam ilmu
menangkis. Sebentar ia menggunakan jurus gaya Pangeran Purboyo, jurus gaya
Ronggo Prawirodirjo, kemudian berubah cepat dengan jurus gaya pertahanan
Untung Surapati dan Mangku Bumi I.


Mau tak mau Abdulrasim terpaksa berkerut-kerut. Pikirnya, celaka! Tinggal
tiga jurus. Biarlah kudesaknya bercampur aduk. Masa aku gagal membongkar
rahasianya.


Abdulrasim benar-benar mendongkol dan gusar. Teringat akan harga diri,
mendadak saja timbullah watak mau menang sendiri. Pandangnya lantas saja
menjadi bengis kejam. Tadi ia masih menyayangkan si gadis, karena usianya
yang muda dan kejelitaannya yang menawan. Kini soalnya berkisar tentang
nama. Mana ia mau mengalah? Maka ketiga jurus penghabisan terus saja
dilakukan dengari kejam dan bengis. Sudah barang tentu, orang-orang yang
mengenal bahaya tak terasa nyaris memejamkan mata.


Titisari benar-benar gugup, la tak dapat berpikir lama atau berkesempatan
berpikir. Sebat luar biasa, ia berjumpalitan dan melesat kian kemari.
Kemudian berputar hendak menghindarkan diri. Tetapi jurus yang penghabisan
tiba-tiba menghadang tiap gerakannya. Ia mengeluh. Hatinya lantas mencelos.


"Tak kuduga, kalau aku akan mati di sini," keluhnya. Saat itu cengkeram
Abdulrasim sudah hampir mendarat di botak kepalanya. Titisari benar-benar
sudah tak mampu menghindar dan mengelak. Mendadak saja, di luar kemauannya
sendiri, meletuslah ilmu berkelahinya yang sejati. Itulah suatu kejadian di
luar pemeriksaannya yang tadi bisa disembunyikan baik-baik. Maklumlah, ia
dalam keadaan terjepit. Siapa saja yang berada dalam saat demikian akan
berlaku seperti dia.


Cepat ia mengendapkan diri. Kepalanya agak ditarik ke belakang. Kemudian
mema-paki dada orang dengan sikunya. Dengan demikian ia bertahan sambil
menyerang.


Ternyata Abdulrasim hanya menggertak belaka. Sebat luar biasa ia menahan
serangan telaknya. Mendadak saja gerakan tangannya berubah. Dengan suatu
tenaga dahsyat ia menyambar lambung si gadis. Masih saja si gadis bisa
menjejak mundur, tetapi Abdulrasim kemudian berhenti di tengah jalan,
sambil berkata menuding. "Sang Dewaresi, apa sudah cukup jelas?"


"Terang benderang. Nah—tolong ucapkan!"


Dengan tubuh tegak seperti tonggak mati, Abdulrasim berkata, "Nona...
gurumu adalah


Pringgasakti."


Waktu itu Titisari itu nyaris kehilangan tenaga. Ia terhuyung beberapa
langkah. Karena itu tak sempat ia mendengarkan atau meladeni ucapan
Abdulrasim. Sebaliknya orang-orang yang mendengar ucapan Abdulrasim, mereka
terperanjat bukan main.


"Pringgasakti!" mereka mengulang.


Nama Pringgasakti sudah lama dikenal orang. Dia seorang iblis yang pernah
merajalela di zaman Perang Giyanti dan pemberontakan Tionghoa di
Pekalongan. Tetapi banyak di antara mereka yang belum pernah melihat
orangnya. Karena itu mereka jadi ragu-ragu. Serentak mereka saling pandang.
Kemudian menyiratkan pandang kepada Abdulrasim dan sang Dewaresi.


"Pringgasakti?" mereka bertanya bersera-butan.


"Ya," sahut Abdulrasim. "Bukankah begitu, sang Dewaresi?"


"Nona itu memang murid Pringgasakti. Apakah Pringgasakti ayahnya pula?"
dengus Dewaresi was-was.


Titisari sedang mengatur napas, berbareng mengumpulkan tenaga. Karena itu,
tak berani ia bersuara atau bergerak, la tahu orang-orang sedang
menaksir-naksir dirinya. Agar pemusatan pikirannya tak terganggu, ia
memejamkan mata. Mendadak saja, ia mendengar pekik panjang. Tubuhnya
menggigil, karena ia mengenali suara itu.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar