@bende mataram@
Bagian 132
Titisari akhirnya jadi putus asa. Namun ia masih mencoba. "Manyarsewu!"
katanya lembut, "Asal aku dapat menerobos keluar, kau-takkan mengganggu
diriku bukan?"
"Boleh coba." "Berjanjilah!"
"Asal kau dapat menerobos bebas, aku akan menyerah kalah," Manyarsewu
berjanji. Titisari menarik napas panjang seakan-akan sedang bersedih. :
"Sayang... sungguh sayang?"
"Apa yang kausayangkan?" Manyarsewu heran.
"Ayahku hanya mengajari aku jurus-jurus menyerang memasuki goa. Coba aku
diajari jurus-jurus menyerang keluar, pasti kamu tak berdaya seperti
kelinci tengkurap dalam gua harimau."
"Eh... kamu terlalu berbangga kepada kepandaian ayahmu. Jangan kausangka
aku berada di bawah ayahmu. Kau bilang, ajaran jurus ayahmu bakal bisa
menerobos kepunganku?"
"Ya, mengapa tidak? Jurus menerjang gua itu akan tepat sekali buat
merobohkanmu. Meskipun kuakui gerak-gerikmu gesit, tetapi jika dibandingkan
dengan keahlian ayahku takkan nempil."
Manyarsewu beradat berangasan. Begitu ia mendengar kata-kata merendahkan
dirinya, sekaligus meluapkan kegusarannya, la percaya pada kemampuan diri,
mana bisa namanya ditaruh di bawah nama seseorang. Keruan saja ia membentak
garang, "Hm— tutup mulutmu! Kau bilang ayahmu sudah mengajarimu ilmu
menerjang masuk gua? Bagus! Nah, kau berada di luar pintu. Jika kamu bisa
menerobos masuk, kamu bisa membakar kumis dan jengkolku."
Orang-orang yang ikut mendengar percakapan itu, diam-diam ikut menebak.
Ilmu menyerang memasuki gua dan ilmu menyerang keluar gua, apa bedanya.
Bukankah setali tiga uang? Tapi tadi mereka melihat si gadis bisa
memperlihatkan ilmu tata-berkelahi yang aneh-aneh. Kini mereka pun percaya,
si gadis memang benar-benar memiliki ilmu aneh yang khas. Itulah sebabnya,
mereka jadi menaruh perhatian.
Manyarsewu kemudian menggeser tempat. Ia sekarang berada di ruang
kadipaten, sedang Titisari lantas saja berada di luar.
"Manyarsewu!" kata Titisari nyaring. "Kamu seorang tua benar-benar tolol.
Mengapa tak takut bakal jatuh pamormu, menghadapi seranganku kali ini."
"Jangan perang mulut. Biarpun kau memiliki ilmu aneh-aneh, apa yang
kutakuti? Hayo cepat serang!" tantang Manyarsewu penasaran.
"Kau minta kuserang? Baik, tapi tadi kau berjanji takkan mengusik diriku,
apa bila aku bisa membebaskan diri."
"Boleh coba, tapi jangan melamun dan mimpi dulu. Hayo mulai!" teriak
Manyarsewu.
"Bagus! Awas!" ancam Titisari.
Si gadis lantas saja berputaran seakan-akan mau melancarkan serangan
dahsyat. Manyarsewu yang mengira si gadis bakal mengeluarkan serangan
mendadak yang aneh, benar-benar memusatkan seluruh perhatiannya. Tiba-tiba
saja di luar dugaan, si gadis bukannya menyerang. Tapi lantas saja melesat
pergi. Maklumlah, dia sudah berada di pintu apa perlu menyusahkan diri
untuk menerobos ke dalam. Bukankah maksudnya mau membebaskan diri dari
pencegatan Manyarsewu? Karuan saja Manyarsewu mendongkol sekali sampai ia
melongo.
"Selamat tinggal," seru si gadis girang.
Manyarsewu tak dapat berkutik. Ia kalah janji, takkan mengusik si gadis
lagi jika bisa membebaskan diri dari pengawasannya. Tak peduli si gadis
menggunakan akal bulus, tapi ia benar-benar bisa terbebas.
Sang Dewaresi yang hadir di situ tak senang menyaksikan tata berkelahi si
gadis yang menggunakan akal bulus. Ia seorang yang berpengaruh di Banyumas.
Sebagai seseorang yang berpengaruh, biasa ia menyaksikan undangan untuk
menyaksikan suatu pertandingan pilihan yang pantas disuguhkan padanya. Itu
pun kadang-kadang masih dikajinya pula. Maka itu, mana bisa kini ia
disuguhi permainan macam begitu. Kedudukan dan kehormatan dirinya
tersinggung sekaligus. Itulah sebabnya, lantas saja ia tampil ke muka
mengulur tangan:
Dengan meraup segenggam kacang goreng, ia menghujani Titisari dengan
sentilannya. Segenggam kacang goreng itu lantas saja terbang
mengaung-ngaung memburu si gadis. -
Waktu itu Titisari telah merasa senang. Ia sudah pula mengira, bisa berlalu
dengan bebas.
Mendadak ia mendengar suara aungan. Cepat ia menoleh. Tahu-tahu barisan
kacang telah menyerang kepala dan kakinya. Cepat ia mengendapkan diri
berbareng meloncat tinggi, la heran dan kaget. Justru pada saat ia heran
dan kaget, barisan kacang goreng datang menyerang bertubi-tubi bagaikan
rombongan lebah.
Barisan kacang goreng yang ada menyambar lewat di depannya, tapi lantas
berbalik cepat mengancam dada. Keruan saja, si gadis mundur cepat seraya
meloncat tinggi. Tapi kacang goreng yang lain menyambar pula punggung. Maka
terpaksalah ia berloncatan mundur dan mengelak ke samping berturut-turut.
Sewaktu serangan kacang goreng habis, tahu-tahu ia sudah berada kembali di
tengah ruang kadipaten. Ternyata ia kena giring dengan tanpa sadar.
"Mengapa kamu kembali Nona?" terdengar sang Dewaresi bertanya.
Titisari menatap orang itu. Segera ia kenal siapa dia. Pikirnya, orang
inilah yang tadi melontarkan pertanyaan dahsyat kepada Pangeran Bumi Gede
tentang si Pendeta Ki Hajar Karangpandan. Ia nampak gagah dan garang.
Ternyata ia benar-benar gagah. Tetapi ia tak sudi memperlihatkan rasa
kagumnya. Dengan pandang garang ia berkata mengejek.
"Kepandaianmu menyentil kacang goreng benar-benar hebat. Sayang hanya
dipergunakan untuk menggiring seorang perempuan."
"Aku hanya menyentil sambil lalu. Tidak ada niatku ingin menggiring Nona.
Adalah kesalahan Nona sendiri, mengapa Nona justru bisa tergiring memasuki
ruang dalam. Bukankah Nona tadi sudah bebas merdeka? Mengapa tak
cepat-cepat melesat pergi?"
"Kalau begitu, biarkan aku pergi," sahut Titisari cepat.
"Aku takkan merintangi. Cuma, terangkan dulu siapa nama ayahmu. Kau tadi
begitu membanggakan ayahmu."
"Hm," dengus si gadis. Lantas saja ia tersenyum nakal. Menjawab, "Aku
khawatir jika menyebutkan nama ayahku. Semangat jantanmu lantas terbang tak
keruan."
Sang Dewaresi bukanlah seperti sikap Manyarsewu atau Cocak Hijau. Sikapnya
kening-rat-ningratan, agung dan berwibawa, la pandai menguasai diri. Itulah
sebabnya, ia tetap berdiri
tenang diejek si gadis. Sama sekali ia tak menghiraukan, sehingga tak mudah
kena jebak akal licin. Ia menoleh kepada hadirin seraya berkata, "Siapakah
yang sudi mewakili aku menyerang Nona ini dalam sepuluh jurus? Aku akan
bisa menebak siapa ayah atau gurunya yang mangajari ilmu berkelahi kepadanya."
Pendekar Madura—Abdulrasim—lantas saja meloncat memasuki gelanggang. Ia
seorang laki-laki berperawakan langsing. Gerak-geriknya cekatan dan gesit.
Pandang matanya tajam. Sikapnya tak pernah beragu.
"Biarlah aku yang mewakili Tuan. Dalam sepuluh jurus pasti aku akan bisa
menolong Tuan membongkar rahasianya," katanya dengan suara ditekan-tekan.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar