@bende mataram@
Bagian 131
"Bukankah aku tadi ingin minta penjelasan, siapa sebenarnya gurumu? Kamu
belum memberi tahu, karena itu mana bisa berlalu seenakmu sendiri?" sahut
Manyarsewu garang.
"Mengapa kau ingin mengetahui guruku?" Titisari membalas bertanya.
"Ingin aku tahu, mengapa gurumu mengirimkan kamu kemari mengintip kami."
Sepasang alis Titisari yang bagus menegak. Tak berkedip ia mengawasi
Manyarsewu. Kemudian menjawab, "Hm, jadi kau mengira aku dikirim guru ke mari?"
"Anak kecil pun segera dapat menduga. Siapa mau percaya seorang gadis
ingusan berani keluyuran memasuki kadipaten di tengah malam begini?"
"Jika aku tak sudi menerangkan siapa guruku, kau mau apa?" "Kau harus
memberi keterangan, Nona. Lebih cepat lebih baik."
"Hm—apakah kau cukup berharga untuk mendengar nama guruku?" dengus Titisari.
Manyarsewu gusar bukan main direndahkan demikian. Sekaligus darahnya
meluap, sampai tubuhnya bergemetaran. Sebaliknya Titisari tak mempedulikan.
Cepat ia menyapukan pandangannya. Dibelakangnya berdiri para tetamu
undangan yang mengawasi dirinya dengan pandang tak berkedip. Di sebelah
kanan adalah dinding panjang dengan pintu keluar. Sedang sebelah kirinya
sama sekali tidak ada pintu atau jendela. Diam-diam ia mengeluh dalam hati,
karena tidak ada harapan untuk mencoba menerobos keluar dengan mengandalkan
kegesitan tubuh.
"Nona! Apakah aku harus memaksa dirimu agar mau mendengarkan tiap patah
pertanyaan orang tua?" ancam Manyarsewu garang.
"Kamu bertanya dan aku tak sudi menjawab, apa salahnya? Minggirlah sedikit.
Nanti aku terpaksa pergi pula dengan paksa. Bukankah akan merusak
perkenalan ini?"
"Hm," dengus Manyarsewu, "Kaumau pergi, pergilah asal mampu."
"Baik. Tapi kau jangan serang aku," sahut Titisari cepat. Terang sekali, ia
mau menggunakan kecerdikannya.
Manyarsewu kena dibakar hatinya. Cepat menyahut, "Hanya untuk mencegatmu—
bocah cilik—apa perlu menurunkan tangan?"
"Bagus!" seru Titisari gembira. "Seorang laki-laki sejati takkan menarik
kata-kata yang sudah diucapkan. Kau tadi mau mengenal guruku, bukan?
Sekarang lihat, siapa yang berdiri di pojok itu."
Manyarsewu kaget. Cepat ia menoleh. Titisari lantas saja melesat menerobos
pintu. Memang ia
sengaja hendak menggunakan saat Manyarsewu mengalihkan perhatian.
Tetapi Manyarsewu bukanlah seorang jago murahan. Baru saja Titisari
berkelebat, tahu-tahu kepalanya sudah menghadang tepat di depan dada si
gadis. Syukur Titisari cukup berwaspada lagi lincah.
Cepat ia mundur sehingga dadanya tak usah kena sentuh. Dan Manyarsewu
melototi sambil tersenyum lebar.
Sekarang si gadis benar-benar merasa mati kutu. Tiga kali berturut-turut ia
mencoba mengadu kegesitan dan akal. Semuanya dapat digagalkan oleh
Manyarsewu dengan mudah.
Cocak Hijau yang menyaksikan keripuhan si gadis, jadi tertawa berkakakkan.
"Hai belut cilik! Kau tahu siapa Manyarsewu? Dia seorang besar berasal dari
Ponorogo. Karena itu jangan kauharap kau bisa mengakali. Hayo, cepat
mengaku kalah saja."
Setelah berkata demikian, ia berlalu meninggalkan ruang kadipaten. Yuyu
Rumpung yang sudah lama mencari kesempatan segera pula meninggalkan ruang
pertempuran. Ia mengarah halaman besar sebelah timur. Kemudian ia menengok
kamar tempat penyimpan obat. Mendadak saja hidungnya mencium asap ramuan
obat bercampur baur. Buru-buru ia menyalakan pelita. Alangkah kaget, ramuan
obat-obatan yang berada dalam kamar nampak berhamburan. Dan di sana
menggeletak si pegawai Pangeran Bumi Gede di atas lantai tanpa berkutik
sedikit pun.
Terbangkitlah hawa amarahnya. Pandangnya berkisar ke taman kadipaten.
Dengan sekali pandang, terlihatlah dua bayangan sedang bertempur seru.
Itulah Sanjaya dan Sangaji yang sedang berkutat mengadu kepandaian.
Dalam hal ilmu tata-berkelahi, Sangaji kalah daripada Sanjaya. Berkali-kali
ia kena gempur. Sebentar saja ia kena diundurkan dan dihajar habis-habisan.
Tetapi Sangaji memiliki tenaga alam berkat getah pohon sakti Dewadaru.
Makin ia dipaksa mengerahkan tenaga, makin jadi segar-bugar. Itulah
sebabnya, ia masih saja bisa bertahan dengan tak kurang gesit.
Yuyu Rumpung heran menyaksikan tenaga jasmani si pemuda. "Jelas-jelas ia
kena gempur habis-habisan, namun tenaganya masih tetap utuh. Apa dia
memiliki ilmu siluman? Ah, masa bocah sebelia itu mempunyai ilmu mantran
begitu, pikirnya.
Teringat akan ramuan obatnya yang kena dihambur-hamburkan si pemuda, lantas
saja meledaklah dendamnya. Meskipun luka dalamnya belum sembuh benar, tapi
saking mendongkolnya ia tak mempedulikan akibatnya. Segera ia menjejak
tanah dan tiba di gelanggang pertarungan.
Yuyu Rumpung adalah salah seorang penasehat sang Dewaresi dan menjadi
guru-besar anak-buah sang Dewaresi pula. Ia seorang sakti dan perkasa.
Kalau tidak, masa dia kuasa melukai Panembahan Tirtomoyo.
"Hai, bangsat anjing!" makinya. "Siapa yang suruh kamu menghambur-hamburkan
ramuan obat-obatanku? Cepat bilang!"
Sangaji tengah bertempur mati-matian melawan Sanjaya. Karena itu ia tak
memperduli-kan siapa yang datang. Tetapi begitu mendengar suara Yuyu
Rumpung lantas saja ia mengenal siapa dia. Teringat akan luka dalamnya
Panembahan Tirtomoyo yang sangat parah, sekaligus meluaplah darahnya.
Memang ia menaruh dendam dan benci kepada Yuyu Rumpung yang telah melukai
penolongnya dengan cara curang. Lantas saja ia melompat meninggalkan
Sanjaya dan langsung menyerang si jago tua dari Banyumas itu.
"Bagus! Kiranya kamu si ular tua mencari gebug," dampratnya.
Yuyu Rumpung sudah bersedia bertempur. Maka begitu ia melihat serangan,
sebat luar biasa ia menanggapi. Tangannya berkelebat hendak membekuk
lengan. Di luar dugaan, tenaga alam si bocah yang benar-benar sakti, bisa
membebaskan diri. Bahkan terus menjulur hendak
mengemplang kepala. Cepat-cepat ia mengelakkan kepala sambil mengibaskan
tangan.
Jago tua dari Banyumas ini meskipun luka dalamnya belum sembuh benar,
kepandaiannya berlipat sekian kali dari pada Sangaji. Sudah barang tentu
bisa berbuat sekehendak hatinya pada si bocah yang kalah pandai, kalah
pengalaman, kalah cerdik dan kalah dalam segalanya, la membiarkan si bocah
berbesar hati untuk sementara. Tetapi begitu serangan si bocah tiba untuk
yang kedua kalinya, ia berpura-pura gagal menangkis. Tiba-tiba kakinya
menggaet dan ditarik sekuat tenaga. Keruan saja Sangaji roboh sekaligus.
Kepalanya terbentur tanah. Dan sebelum bisa berkutik, tahu-tahu punggungnya
telah kena tindih.
Titisari yang menghadapi Manyarsewu tengah keripuhan pula. Sekian lamanya
ia mengadu kegesitan, namun usahanya senantiasa gagal. Sebaliknya
Manjarsewu kalau menghendaki dengan mudah dapat menangkap pergelangan
tangannya. Namun di ha-dapan Pangeran Bumi Gede, Jago Ponorogo itu ingin
memperlihatkan sedikit kepandaian-nya. Ia Sengaja mempermain-mainkan si gadis.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar