9.16.2019

@bende mataram@ Bagian 193

@bende mataram@
Bagian 193


Wajah Yuyu Rumpung berubah. Tetapi karena ucapan Titisari benar, mau tak
mau ia harus menelan rasa gusarnya. Sekonyong-konyong pendekar Abdulrasim
berkata nyaring.


"Nona! Bukankah kita sudah saling mengenal?" "Lantas?"


"Nona adalah puteri Adipati Surengpati. Terimalah hormatku. Kemudian
kupinta, agar Nona jangan ikut campur dalam urusan ini."


Abdulrasim rupanya masih teringat akan peringatan sang Dewaresi dahulu di
halaman kadipaten, bahwa sekali-kali jangan melibatkan diri dengan puteri
Adipati Surengpati. Karena apabila sampai terli-bat, urusan bisa jadi
runyam. Adipati Surengpati yang disegani dan ditakuti semua orang gagah di
penjuru tanah air ini, bagaimana bisa tinggal diam apabila mendengar
puterinya dihina seseorang. Maka pendekar itu mencoba membersihkan diri.
Sebaliknya, tatkala Bagus Kempong mendengar Abdulrasim menyebutkan nama
Adipati Surengpati, ketika itu juga berkerut-kerut-lah dahinya. Sebagai
murid Kyai Kasan Kesambi, tahulah dia siapa Adipati Surengpati. Meskipun
belum pernah bersua dengan orangnya, tapi menurut tutur-kata gurunya tidak
begitu menyenangkan. Karena Adipati Surengpati terkenal angkuh, kejam dan
penyendiri.


"Sangaji," bisiknya, "... apakah kawanmu itu benar-benar puteri Adipati
Surengpati?"


Sangaji mengiakan sambil mengangguk, dan Bagus Kempong nampak menghela
napas. Dengan pandang tajam ia mengawaskan gerak-gerik Titisari yang nampak
berkesan liar.


"Aji!" tiba-tiba Titisari berkata kepada Sangaji. "Bukankah itu sahabatmu.
Anak-angkat Pangeran Bumi Gede, Tuan Sanjaya? Hai, bagaimana dia bisa
berada di sini? Tolonglah tanyakan, di mana kini kakakku Nuraini berada?"


Mendengar ujar Titisari, Sangaji terkejut dan tersipu-sipu. Sanjaya dan
Abdulrasim berubah hebat wajahnya. Mereka saling memandang dengan pandang
keripuhan.


"Nona! nDoromas Sanjaya adalah sesem-bahanku. Aku sudah bersikap hormat
kepadamu, mengapa engkau bersikap kurang ajar?" tegur Abdulrasim.


"Tak bolehkah aku berkata sebenarnya?" sahut Titisari dengan tertawa.


Abdulrasim jadi kuwalahan. Memang apa yang dikatakan Titisari adalah
peristiwa sebenarnya. Waktu itu dia pun lagi menghadap Sanjaya. Kemudian
terdengar jendela rumah diketuk orang. Dan tahu-tahu seorang gadis
lemah-lembut sudah berada di dalam kamar. Sebagai seorang pendekar, ia
diajar menghargai ucapan seseorang yang benar, meskipun akan menyakiti
hati. Karena itu dia terpaksa membungkam mulut.


Sebaliknya Sanjaya yang berhati licin, dengan tenang terus melangkah maju.
la tersenyum sambil mengangguk. Berkata lemah-lembut.


"Perkara itu, bukankah bisa dibicarakan pada waktu lain? Pada saat ini,
kami sedang menghadapi suatu perkara yang harus kami selesaikan." la
berhenti mengesankan. Kemudian




mengarah kepada Yuyu Rumpung, Manyarsewu, Cocak Hijau dan Sawungrana yang
nampak tak bersabar lagi. Berkata kepada mereka, "Apakah yang harus kita
lakukan?"


"Hm" dengus Cocak Hijau. "Gadis itu, bukankah yang datang berkeluyuran di
halaman kadipaten?"


Sanjaya terhenyak heran. Ia merenungi Titisari dengan pandang berkilat.


"Semenjak dahulu... ingin aku memuntir lehernya," kata Cocak Hijau lagi,
"sekarang, jangan biarkan dia mengacau lagi. Serahkan dia kepadaku."


Tiba-tiba terdengarlah suara tertawa halus tetapi tajam menusuk hati.
Itulah guru Sangaji, sang perwira Wirapati. Pendekar itu dengan maju
selangkah terus menungkas.


"Kata-katamu tidaklah mudah engkau laksana-kan, selama aku masih berada di
sini. Cobalah!"


Kata-kata Wirapati terkenal sederhana, tetapi berwibawa. Dan begitu
mendengar ucapannya Cocak Hijau yang berwatak bera-ngasan, lantas saja
menggeser maju hendak melancarkan serangan. Tetapi Sanjaya dengan cepat
mencegah. Katanya angkuh terhadap Wirapati.


"Antara kami dan Tuan belum pernah berkenalan. Kecuali tatkala Tuan berada
di alun-alun kadipaten Pekalongan. Waktu itu, kami berlaku lapang dada.
Mengingat Tuan tidak tersangkut-paut dalam urusan dahulu. Tapi kini,
lainlah halnya. Tuan berani memasuki daerah terlarang kami. Tuan berani
pula mengganggu pekerjaan kami. Itulah suatu pantangan bagi kami. Nah,
kembalikan pusaka itu!"


Mendengar Sanjaya berbicara tentang pusaka, Sangaji kaget. Dengan wajah
berubah tegang, ia melemparkan pandang kepada Wirapati dan Titisari.
Kemudian dengan perlahan-lahan ia me-masuki gelanggang dan berdiri di
samping gurunya.


"Kau berbicara tentang apa?" Wirapati menegas dengan tenang. "Tentang
pusaka warisan kami." "Apa sangkut-pautnya dengan kami?"


"Eh—hm." Sanjaya tersenyum manis. "Kami bukan anak-anak yang belum pandai
beringus. Bukankah Tuan Guru si bocah tolol itu, kami mempunyai persoalan
sendiri. Beradanya Tuan di sekitar daerah terlarang itu, masakan secara
kebetulan saja. Mestinya bocah tolol itu sudah mengungkapkan rahasia pusaka
warisan kami kepada Tuan."


Sangaji sudah biasa disebut sebagai anak tolol, la tak memedulikan.
Sebaliknya tidaklah demikian halnya Titisari, gadis yang memujanya di atas
segala. Mendengar dia disebut sebagai bocah tolol, serentak gusarlah gadis
itu. Tajam dia mendamprat,


"Hai! Kau berani mentolol-tololkan kawanku. Kau ular busuk, tutuplah
mulutmu!" la menoleh kepada Sangaji. Terus memberi saran, "Aji! Dulu, aku
pernah mendengar kisah gurumu yang galak berlawanan berbicara dengan
pendeta edan Hajar Karangpandan. Bahwasanya antara engkau dan ular itu
mempunyai ganjelan yang harus kauselesaikan. Inilah suatu kesempatan yang
bagus sekali untuk membuktikan, bahwa engkau bukanlah seorang pemuda tolol.
Hajarlah dia biar belajar bersopan santun. Kalau Kak Nuraini gusar, akulah
lawannya."


HEBAT KATA-KATA TITISARI. SEPERTI GELEDEK DI SIANG HARI mereka yang
mendengar jadi terpengaruh. Yuyu Rumpung, Manyarsewu, Cocak Hijau,
Sawungrana dan Abdulrasim tidak begitu jelas mengetahui persoalannya yang
terjadi antara Sanjaya dan Sangaji. Mereka hanya menebak-nebak belaka,
setelah munculnya peristiwa Wayan Suage dahulu di tengah lapangan hijau di
Pekalongan. Meskipun tiada yang membicarakan lagi, tetapi sedikit banyak
masuk pula dalam perhatian mereka. Secara samar-samar mereka mulai
menduga-duga peristiwa gelap yang meliputi diri Pangeran Bumi Gede, Raden
Ayu Bumi Gede dan Sanjaya.


Terhadap Sangaji dan Titisari, mereka berempat mempunyai pengalamannya
sendiri. Yuyu Rumpung mengenal Sangaji, sebagai seorang yang harus dihantam
rampung. Karena dia




menaruh dendam sebesar bongkahan batu pegunungan. Maklumlah, kehormatan
dirinya terus-menerus merosot tak keruan semenjak terlibat dengan anak muda
itu. Dan Manyarsewu serta Cocak Hijau me-ngenal Sangaji selagi mengadu
kepandaian melawan Sanjaya di lapangan arena. Mereka berdua menyaksikan,
bahwa Sanjaya akan dapat mengalahkannya. Hanya saja, pemuda asing itu ulet
luar biasa. Sebaliknya Abdulrasim dan Sawungrana hanya mengenal Titisari
belaka, tatkala gadis itu berada di serambi kadipaten Pekalongan. Terhadap
Sangaji, mereka tak mempunyai perkara yang harus diselesaikan. Lainlah
halnya dengan Wirapati, Titisari, Sanjaya dan Sangaji sendiri.


Mereka mengetahui belaka, apa yang terjadi dan apa yang harus diselesaikan.
Dengan demikian, mereka yang terbersih dari sekalian anasir itu, hanyalah
Bagus Kempong sebagai seorang pendekar murid Kyai Kasan Kesambi yang
ketiga. Dia berada di luar garis dengan kepala berteka-teki. Maklumlah,
dengan Wirapati baru saja dia bertemu. Waktu itu, dia lagi meronda
mengelilingi wilayahnya. Mendadak saja, ia melihat seseorang yang lagi
bertempur menghadapi kerubutan. Sebagai seorang murid Kyai Kasan Kesambi
yang terkenal dan mengutamakan jiwa ksatria, heranlah dia menyaksikan suatu
pertempuran berat sebelah. Itulah suatu perkelahian yang bertentangan
dengan tata-tertib seorang ksatria. Segera ia menghampiri. Alangkah kaget
dan terharunya, karena tiba-tiba kenallah dia siapa yang lagi bertempur
menghadapi kerubutan. Dialah adik-seperguruan yang hilang tiada
kabar-beritanya selama 12 tahun. Tanpa ragu-ragu lagi, dia terus terjun ke
gelanggang dan merabu musuh adik seperguruannya kalang kabut. Wirapati
segera mengenal ka-kak-seperguruannya. Hatinya terharu bukan kepalang.
Ingin dia cepat-cepat menyelesaikan pertempuran itu. Tetapi lawannya
bukanlah lawan sembarangan. Kecuali berjumlah lebih banyak, sesungguhnya
termasuk golongan pendekar-pendekar sakti pilihan. Itulah sebabnya, antara
mereka berdua belum sempat berbicara seleluasa-lelusanya. Dan belum lagi
mereka bisa menyelesaikan pertempuran, datanglah lagi suatu desakan baru.
Sanjaya dan Abdulrasim datang mengkerubut. Kemudian datang pulalah Sangaji
dan Titisari yang membuat mereka bisa bernapas selintasan.


"Anakku Titisari," kata Wirapati tiba-tiba. "Se-sungguhnya persoalan antara
Sangaji dan Sanjaya adalah persoalanku dan gurunya, dan antara aku dan
gurunya, sudah memperoleh suatu penyelesaian. Hal ini tak perlu dikutik-
kutik lagi. Karena itu selama aku ada, Sangaji dan Sanjaya tak
kuperkenankan mengadu kepandaian. Kecuali apabila berdasarkan alasan lain."


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar