@bende mataram@
Bagian 192
SEKEMBALINYA dari pesanggrahan Gusti Retnoningsih, Sangaji dan Titisari
terus mencari kudanya. Kemudian melanjutkan perjalanan mengarah ke timur.
Setelah hari hampir mendekati luhur, sampailah mereka di suatu jalanan yang
sulit. Di depan mereka, bukit-bukit mulai menghadang. Gundukan-gundukan
tanah yang menyekati perjalanan, penuh batu-batu tajam dan semak-belukar.
Mereka kemudian beristirahat. Setelah memperoleh pohon rimbun, segera
mereka merebahkan diri. Dan sebentar saja, sudah memasuki alam lain.
Maklumlah, satu malam suntuk mereka
berada dalam ketegangan. Seluruh urat-syarafhya bekerja dengan mati-matian,
dan sekarang mendapat kesempatan untuk bernapas. Tetapi hidup ini memang
kerdil. Belum lagi mereka tidur lelap selama satu jam, tiba-tiba
pendengaran mereka yang tajam menangkap bunyi derap kuda. Seperti saling
berjanji, mereka menegakkan kepala dan sambil bertiarap terus mengarahkan
pandangannya. Herannya, mereka melihat San-jaya yang datang berderap dengan
diikuti seorang laki-laki pendek tegap. Dialah pendekar Abdulrasim dari
Madura. Dan ketika sampai di gundukan, Sanjaya melompat ke tanah dan
menuntun kudanya. Abdulrasim pun menirukan perbuatan majikannya. Dengan
demikian, mereka kini meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki.
"Di manakah terjadinya pertempuran itu?" Sanjaya minta penjelasan kepada
Abdulrasim.
"Yuyu Rumpung, Manyarsewu, Cocak Hijau dan Sawungrana sudah berhasil
mengejarnya. Kemungkinan sekali, mereka berada tak jauh dari sini. Mari!"
Dengan cepat mereka menuruni gundukan. Kemudian sambil melompat ke atas
punggung, cemetinya menghajar paha kudanya kalang-kabut. Terang sekali,
bahwa mereka dalam keadaan tergesa-gesa.
Setelah mereka lenyap di balik gerombol pohon, Sangaji dan Titisari bangkit
dengan berbareng. Mereka saling pandang dengan kepala berteka-teki.
"Sungguh berbahaya!" bisik Titisari. "Seumpama ular itu mengetahui diri
kita, mau tak mau kita terpaksa berolahraga. Untunglah kita mempunyai
kebiasaan mencencang kuda jauh dari tempat kita beristirahat."
"Apa yang membahayakan?"
"Hm, anak pamanmu itu, licin seperti ular. Kau harus berhati-hati."
Sangaji tertawa melalui hidung. "Dia lagi tersesat. Sekiranya kelak aku
berhasil menyadarkan pasti dia akan kembali ke jalan yang benar," katanya.
"Hm," dengus Titisari. Kemudian tanpa menoleh ia mencari kudanya. Sangaji
mengikuti dari belakang.
"Aji!" kata gadis itu lagi. "Kau jangan enak-enak berdendang. Mereka tadi
membicarakan tentang pertempuran. Siapa yang sedang mereka kejar, itulah
yang harus kauperhatikan."
"Apa sangkut-pautnya dengan aku?"
Titisari tak segera menjawab, la melompat ke atas punggung kudanya. Seraya
menarik kendali, ia berkata mengajak.
"Kau ikut, tidak? Aku ingin melihat siapakah yang lagi bertempur."
Sebenarnya Sangaji ingin cepat-cepat menuju ke Sejiwan. Gunung Damar sudah
berdiri di depan. Oleh petunjuk Nuraini dahulu tahulah dia, bahwa Dusun
Sejiwan berada di baliknya, la khawatir, gurunya sudah terlalu lama
menunggu dirinya. Tapi mengingat tabiat kekasihnya yang rupanya dimanjakan
keluarganya, maka mau tak mau ia harus pandai membawa diri. Demikianlah, ia
menyertainya tanpa membantah.
Mereka menuruni gundukan dan mengikuti jejak kuda Sanjaya. Willem adalah
seekor kuda yang benar-benar perkasa serta cekatan. Seperti pandai membaca
gejolak hati majikannya, ia terus berderap kencang mengikuti jejak. Itulah
sebabnya, dengan cepat mereka berdua telah sampai di suatu lapangan yang
berada di dekat tebing Sungai Bogowonto.
"Lihat! Mereka benar-benar sedang bertempur!" seru Titisari.
Waktu Sangaji mengamat-amati, nampaklah dua orang laki-laki setengah umur
sedang berkelahi dengan sengit menghadapi keroyokan enam orang.
"Hai!" Titisari cemas, "Bukankah itu gurumu? Paman Wirapati!"
Mendengar ucapan Titisari, Sangaji terkesiap. Cepat ia menjepit perut
Willem. Kuda itu lantas
saja meloncat dan terbang secepat kilat. Apabila sudah berada di tepi
lapangan tak usahlah Sangaji beragu lagi. Memang, gurunya sedang bertempur
melawan kerubutan lawan. Lantas siapakah yang berada di sampingnya membantu
gurunya itu? Pahlawan itu sebaya dengan usia gurunya. Hanya saja tubuhnya
agak pendek tetapi berkesan lebih kokoh dan mantap.
Mereka mempergunakan senjatanya ma-sing-masing. Suatu tanda, bahwa mereka
memasuki saat-saat yang tegang dan tak berani merendahkan lawannya. Dengan
demikian, senjata mereka nampak berkere-depan di tengah matahari yang
bersinar terik.
"Hai! Siapakah yang bertempur tak mengenal tata-tertib?" teriak Titisari
melengking. Mereka berhenti bertempur sejenak, tetapi sesaat kemudian
perkelahian mulai lagi. Bahkan makin sengit dan seru.
"Guru! Biarlah aku memasuki gelanggang!" seru Sangaji. Suara Sangaji kini
jauh berbeda dengan dua bulan yang lalu. Dia kini sudah memiliki
tata-pernapasan ilmu sakti Kumayan Jati. Karena itu suaranya bertenaga
hebat bagaikan gerung harimau terluka. Karuan saja, mereka yang bertempur
jadi kaget, sampai tanpa disadari sendiri masing-masing melompat mundur dua
langkah. Sangaji pun tak terkecuali. Selama menekuni ilmu Gagak Seta, belum
pernah sekali juga dia berteriak. Diamdiam ia bersyukur dalam hati, karena
ternyata kepandaiannya kini bertambah maju tanpa sadar. Sebaliknya
mendengar suara itu— meskipun bertenaga luar biasa—Wirapati segera
mengenalnya. Dengan setengah tercengang, ia berseru girang, "Apakah anakku
Sangaji berada di sana?"
Wirapati ternyata tak berani lengah barang sebentar pun sehingga tiada
menoleh. "Benar, aku Sangaji!" sahut Sangaji.
Karena girangnya Wirapati terus saja menjejak tanah dan berlompat
berjumpalitan di udara. Sudah sering Sangaji menyaksikan kepandaian gurunya
berjumpalitan di udara. Tapi kali ini, dia benar-benar kagum. Karena tanpa
melihat, Wirapati dapat berjumpalitan terbang di udara dan turun dengan
manis sekali satu langkah di depannya. Kalau Sangaji sendiri sebagai
muridnya terus kagum, lainnya tak usah dibicarakan lagi. Mereka
tercengang-cengang sampai mulutnya terlongoh-longoh. Ternyata mereka adalah
Yuyu Rumpung, Abdulrasim, Manyarsewu, Cocak Hijau, Sawungrana dan Sanjaya.
Hanya orang yang membantu Wirapati itu sajalah yang masih nampak tak
bergerak dari tempatnya. Pandang matanya tetap tajam dan angker.
"Kangmas Bagus Kempong! Inilah muridku selama pergi meninggalkan
perguruanku," seru Wirapati. Kemudian ia mengarah kepada Sangaji, "Aji!
Dialah paman gedemu ) kakak-seperguruanku."
Sangaji adalah seorang pemuda yang mengutamakan tata-santun di atas
segalanya. Maka begitu mendengar ujar gurunya, terus saja menghampiri dan
membungkuk hormat kepada Bagus Kempong.
"Anakku terima-kasih. Siapa namamu?" kata Bagus Kempong sambil mendengarkan
kelegaan hatinya.
"Sangaji."
"Nama bagus!" pujinya. Kemudian berseru kepada Wirapati, "Adik Wirapati!
Engkau me-nemukan bahan bagus dan luar biasa. Muridmu begini hebat!"
Wirapati terus menghampiri dan memeluknya dari belakang. Bagus Kempong
membalas pelukan itu pula. Nampaknya mereka tak mengacuhkan kehadiran
lawannya yang berjumlah lebih banyak dan bersiaga menyerang dengan tiba-tiba.
"Eh, monyet! Anjing!" Maki seorang laki-laki berkepala botak dan bertubuh
pendek. "Kamu akan segera berangkat ke neraka apa perlu berpeluk-pelukan
seperti perempuan?"
"Eh, kaubangkotan jahanam, masih beranikah mengumbar suara di hadapanku?"
tiba-tiba Titisari menyahut tajam.
Mendengar suara Titisari, Bagus Kempong menoleh. Kemudian bertanya kepada
Wirapati, "Siapakah Nona ini?"
Belum lagi Wirapati menjawab, Sangaji cepat-cepat memberi penjelasan. "Dia
adalah kawanku berjalan, Paman."
"Oh," terdengar Bagus Kempong tercengang. Tetapi dia tak berkata lagi.
Dalam pada itu, Yuyu Rumpung maju selangkah dengan pandang berkilat-kilat.
"Aku tidak berbicara kepadamu, mengapa kamu begini kurang ajar?"
"Eh, enak saja kamu bicara," damprat Titisari berani. "Kauhilang, pamanku
ber-peluk-pelukan seperti perempuan. Kautahu, di antara semua yang berada
di sini, hanya akulah seorang perempuan. Nah, bukankah kamu menghina aku?"
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar