9.15.2019

@bende mataram@ Bagian 191

@bende mataram@
Bagian 191


Sang Dewaresi terkejut. Memang tata-berkelahi ilmu rahasia pamannya, tidak
diperkenankan menggunakan pembebat tangan sebagai pelindung. Maka dengan
terpaksa ia menyahut, "Ah— aku lupa, Nona..."


"Nah, sekarang teranglah bahwa ilmu keluargamu yang kaubanggakan, tiada
mempan berhadap-hadapan dengan murid Gagak Seta," dengus Titisari dengan
licin. "Artinya pula, bahwa ilmu rahasiamu tiada anehnya. Sewaktu dulu kita
mengadu kepandaian di serambi kadipaten Pekalongan, malaslah aku untuk
memperlihatkan kemampuanku. Karena itu, aku kalah. Tapi kini ternyata sama
kuat. Kau masih mendongkol. Baik! Aku pun masih mendongkol."


Semua yang mendengar ujar Titisari, jadi terheran-heran. Mereka berpikir,
"Gadis ini benar-benar licin." Sebenarnya belum tentu dia bisa mengalahkan
sang Dewaresi.


Hanya dengan menggunakan kelicinan akal, dia bisa mengalahkan. Tapi
mengapa, dia seolah-olah hendak menantang lagi."


Sebaliknya Gagak Seta yang dapat menebak akal Titisari tertawa dalam hati.
la percaya, bahwa muridnya yang satu ini amat cerdas otaknya dan tak
segan-segan menggunakan akal licin di luar dugaan orang. Maka itu dengan
tenang, ia terus menggerogoti tulang kambingnya sampai licin bersih.


"Nona! Aku menerima semua pernyataanmu. Tak perlu lagi, kita meneruskan
bertempur. Apa gunanya, kita bertempur sungguh-sungguh?" ujar sang Dewaresi
kuwalahan.


"Hih, enak saja kamu berbicara," tukas Titisari. "Ingat, dahulu di serambi
kadipaten pernah aku kaupermainkan. Aku kau ajak bertempur dalam satu
lingkaran. Kini, aku pun akan membalas menantangmu bertempur dalam satu
lingkaran pula."


Sang Dewaresi merasa terdesak. Tantangan Titisari tak dapat ditolaknya,
mengingat dia dulu menantangnya berkelahi pula dalam suatu lingkaran. Maka
berkatalah dia terpaksa.


"Nona, di antara kita siapa yang kalah, tidak penting. Tapi jika Nona
benar-benar bergembira hendak menantang mengadu kepandaian denganku, aku
hanya bersedia melayani belaka."




"Eh, kau mulut palsu, dengarkan," potong Titisari tak peduli. "Dahulu,
sewaktu aku terpaksa bertempur melawanmu, aku kalah suara. Semua yang hadir
dalam ruang kadipaten adalah sahabat-sahabatmu belaka yang bersiaga
membantumu, jika kamu kalah. Kini lainlah suasananya. Di belakang
berderetlah sahabat-sahabatmu. Aku pun berada di tengah sahabat-sahabatku.
Meskipun jumlahnya kalah besar dengan jumlah begundal-begundal-mu, tak apa.
Di sini aku berani mengeluarkan ilmu kepandaianku untuk melawanmu. Aku tak
usah takut, begundal-begundalmu akan membantumu."


"Hm," dengus sang Dewaresi geli bercampur mendongkol. "Sekarang marilah
kita membuat garis lingkaran seperti dahulu."


"Baik," sahut sang Dewaresi. Dan seperti tatkala di kadipaten Pekalongan,
sang Dewaresi menggarit suatu lingkaran dengan ujung kakinya.


Anak buah Gagak Seta benci terhadap sang Dewaresi. Tetapi menyaksikan
kesaktianorang itu bisa menggarit lantai dengan ujung kaki, mau tak mau
mereka memuji dalam hati. Sebab, apabila seseorang tiada memiliki tenaga
sakti tak mungkin dapat menggarit lantai sedalam satu kaki dengan hanya
menggu-nakan tekanan ujung kaki.


"Bagus!" seru Titisari girang. "Ingatlah! Dulu kamu mengikat kedua belah
tanganmu untuk melawanku. Sekarang pun, aku hendak bertanding dengan menim
caramu merendahkan lawan. Aku mau mengikat kedua kakiku. Nah dengan
demikian, adillah tata-pertandingan adu kepandaian ini."


Semua yang mendengar ujar Titisari heran sampai terlongong-longong. Pikir
mereka serentak, gadis ini meskipun cerdik dan pandai, bagaimana dapat
melawan kesaktian sang Dewaresi dengan mengikat kedua kakinya? Lagi pula
daerah geraknya begitu terbatas. Apakah dia memiliki ilmu siluman? Sang
Dewaresi sendiri heran bukan kepalang. Dengan mengerutkan kening, sibuklah
dia menduga-duga. Sangaji pun diam-diam ikut berpikir keras. Hanya Gagak
Seta seorang diri yang masih saja menggayemi sekerat dagingnya dengan
nyamannya.


Pada saat itu, tiba-tiba leher bajunya terasa tercekam oleh suatu tangan
yang kuat Tubuhnya terangkat lebih tinggi lagi sampai hampir mengenai atap.


Titisari terus memasuki lingkaran, la melepas cindenya dan kedua kakinya
kemudian diikatnya erat. Dengan pandang berkilatan ia menantang pandang
Dewaresi tanpa berkedip.


"Benar-benarkah Nona hendak melawanku dengan kedua kaki terikat?" Sang
Dewaresi masih sibuk menebak-nebak.


"Kau kira apa murid Gagak Seta ini? Bilanglah dengan terus terang, apakah
kamu dulu atau akulah yang menyerangmu terlebih dahulu."


Dengan mengerling garis lingkaran sang Dewaresi menjawab, "Aku adalah
seorang laki-laki. Sudah barang tentu harus menerima seranganmu terlebih
dahulu. Kemudian akan kupertimbangkan, apakah aku perlu membalas serangan
pula."


"Kau licin sekali!" damprat Titisari. "Kau hendak menaksir kelemahan lawan
terlebih dahulu, bukan? Kemudian membalas serangan dengan sekali hantam.
Bagus! Mari kita mulai. Siap?"


Melihat Titisari begitu bersikap tenang, sang Dewaresi beragu. Pikirnya,
dalam lingkaran sekecil ini, apakah yang hendak dilakukan terhadapku.
Tapi... siapa tahu dia mempunyai ilmu rahasia di luar dugaan. Baiklah aku
menyerangnya saja terlebih dahulu untuk melihat bagaimana cara dia mengelak
dan melontarkan serangan. Mendapat pikiran demikian, maka dengan licin dia
berkata, "Nona... sebenarnya dalam suatu arena pertempuran, tiada beda
antara kedudukan seorang wanita dan pria. Jika aku membiarkan Nona
menyerangku terlebih dahulu, itu berarti bahwa aku merendahkan Nona.
Baiklah biar aku dahulu yang menyerangmu."


Tapi berbareng dengan kalimatnya yang penghabisan Titisari telah memotong
dengan seruan nyaring, "Awas serangan!"




Ia melihat Titisari meloncat dengan menjejakkan ujung kakinya yang terikat.
Belum lagi dia dapat menduga bagaimana gadis itu menyerang, tiba-tiba
terlihatlah barisan isi sawo berkeredep menghujani dirinya. Inilah suatu
serangan yang tak pernah diduganya.


Sang Dewaresi terkejut bukan main. Gntuk menangkisnya dengan pedang
tipisnya, tiada sempat lagi. Jarak antara dia dan Titisari terlalu dekat,
karena mereka berdua berada di dalam satu lingkaran. Satu-satunya daya
untuk menangkis senjata bidik itu hanyalah lengan bajunya. Tetapi lengan
bajunya sudah terlanjur disobeknya tadi, tatkala hendak dipergunakan
membebat kedua tangannya untukmelawan baju mustika Titisari. Hendak
melon-cat mundur, berarti kalah. Sebaliknya membiarkan tubuhnya ditembus
senjata bidik lawan, berarti akan mati terjengkang dalam lingkaran dengan
hati penasaran. Dalam keadaan terjepit ia menjejak tanah dan tubuhnya terus
terloncat ke udara dan mengapung tinggi. Dengan demikian, semua senjata
bidik Titisari lewat berdesingan di bawah tapak kakinya. Tetapi celaka.
Belum lagi dia turun ke tanah, Titisari sudah menghujani serangan bidikan
untuk kedua kalinya.


"Lihat serangan kedua!" seru gadis itu.


Serangan kali ini, benar-benar tak dapat dihindarkan lagi. Maklumlah,
tubuhnya masih berada di udara. Lagi pula serangan itu meliputi semua
bidang gerak. Atas—bawah— samping-menyamping dan bertebaran begitu padat.
Itulah hasil ajaran Gagak Seta untuk melawan tabuan kelingking binatang
piaraan Kebo Bangah.


"Tamatlah riwayatku," sang Dewaresi mengeluh dengan putus asa. "Tak kuduga,
gadis ini begitu kejam!"


Pada saat itu, tiba-tiba leher bajunya terasa tercekam oleh suatu tangan
kuat. Tubuhnya terangkat lebih tinggi lagi sampai hampir mengenai atap.
Kemudian terdengarlah suara senjata Titisari berdesingan lewat di
sampingnya. Tahulah dia, bahwa ada seseorang yang menyelamatkan jiwanya.
Belum lagi dia sempat mengetahui siapakah yang menjadi malaikat
penolongnya, tubuhnya telah terlempar jatuh ke tanah. Sebenarnya lemparan
itu tiada keras. Tapi aneh. la seperti tak dapat bergerak, sehingga ia
jatuh dengan menyangga lengan.


Mau tak mau, ia terpaksa jatuh tersungkur mencium tanah. Seketika itu juga
sadarlah dia, bahwa yang menolong dirinya adalah Gagak Seta. Sebab di
antara mereka tidak ada orang yang melebihi kepandaiannya selain Gagak
Seta. Itulah sebabnya, begitu ia berhasil merayap bangun, terus saja
ngeloyor keluar rumah dengan diikuti seluruh anak buahnya.


"Paman! Mengapa Paman menolong ular bandot itu?" Titisari menyesali.


Gagak Seta tertawa. Menjawab, "Dengan pamannya, aku bersahabat baik
meskipun jahatnya bukan kepalang. Kalau kemenakannya sampai mati oleh
tangan muridku, kesannya kurang baik." Setelah berkata demikian, ia
menepuk-nepuk pundak Titisari sambil berkata penuh bangga. "Anak manis!
Karena kecerdikanmu, kamu telah mengangkat nama perguruanmu. Gntuk jasamu,
apakah yang harus kulakukan terhadapmu?"


Titisari bergembira mendapat pujian gurunya. Dengan menggigit bibir dia
menyahut, "Paman! Tongkat paman yang buruk itu, begitu menakutkan hatiku
sampai Yuyu Rumpung tak berani berkutik."


"Eh, anak cerdik? Tapi meskipun aku sudi mempertimbangkan ujarmu itu, tak
dapat aku mengajarimu. Aku hanya akan mewariskan satu-dua tipu silat
kepadamu dalam beberapa hari ini. Sayang, hari ini aku begitu malas."


"Aku akan menyediakan beberapa masakan kegemaran Paman."


"Hari ini, tiada sempat untuk menikmati masakanmu. Lain kali apakah buruknya?"


Dalam pada itu Sondong Majeruk dan kawan-kawannya menghampiri Sangaji dan
Titisari untuk menyatakan terima-kasih. Gusti Ratnaningsih pun telah
berhasil membebaskan diri dan segera menarik tangan Titisari. Seperti
terhadap saudara sekandungnya, puteri itu terus mengutarakan rasa hatinya,
la amat terharu memperoleh pertolongannya.




"Paman Suryaningrat yang menjadi guru Tuan Puteri adalah adik-guru Sangaji.
Nah, dengan demikian, kita semua sebenarnya adalah satu keluarga
perguruan," ujar Titisari seraya memperkenalkan Sangaji.


Gusti Ratnaningsih sejenak terhenyak. Kemudian dengan suatu luapan
kegirangan yang tak tertahankan, menarik pergelangan tangan Sangaji dan
diajaknya berbicara.


Sondong Majeruk kemudian membungkuk hormat kepada Gagak Seta dan ikut
menyatakan gembira bahwa orang tua itu kini sudah mempunyai dua orang
murid. Dia tahu, bahwa Gagak Seta benar-benar melanggar pantangannya
sendiri dengan mengambil murid. Dia yang hanya memperoleh warisan satu
jurus belaka, menaruhkan harapan besar kepada Sangaji. Segera dia menoleh
kepada Sangaji sambil berkata takzim.


"Meskipun berusia jauh lebih muda dariku, aku akan memanggilmu kakak,
karena kakak adalah murid panembahan Gagak Seta. Nah, terima hormatku.
Apabila senggang, sudilah kiranya singgah di rumahku di Desa Nglaran."


Dengan tersipu-sipu, Sangaji membalas hormat Sondong Majeruk. Wajahnya
bersemu merah, karena tak tahu apa yang harus dilakukan.


"Gcapan Sondong Majeruk patut kaudengarkan," kata Gagak Seta kepada
Sangaji. "Sudah sewajarnya, kamu dipanggilnya kakak. Karena dalam suatu
perguruan, tingkatan ilmu merupakan tataran kehormatan dan bukan usia jasmani."


Mendengar ujar Gagak Seta, maka Sangaji terpaksa juga menerima panggilan
itu, meskipun hatinya masih merasa canggung.


'Tahukah kamu hai anakku, bahwasanya adikmu Sondong Majeruk itu sebenarnya
adalah seorang kepala polisi dusun. Dialah Kepala Kampung Dusun Nglaran.
Nah, kalian sekarang sudah menjadi sahabat. Hatiku bersyukur bukan
kepalang. Sekarang muridku yang kecil kuperintahkan mengantarkan Gusti
Retnoningsih pulang ke Pesanggrahan. Aku sendiri mempunyai urusan penting
yang belum selesai kukerjakan."


Sampai di sini, mereka berpisah. Gagak Seta pergi ke jurusan timur. Sondong
Majeruk dan kawan-kawannya mengarah ke utara. Sedangkan Titisari
mengantarkan Gusti Retnoningsih pulang ke Pesanggrahan. Sangaji ikut pula
mengawal, karena mengkhawatirkan mereka akan bertemu dengan sang Dewaresi
di tengah jalan.


Ternyata Gusti Retnoningsih seorang puteri bangsawan yang ramah. Di
sepanjang jalan, ia terus berbicara dengan Sangaji dan Titisari. Terhadap
Sangaji ia mengabarkan, bahwa sebenarnya dia belum berhak di sebut murid
Suryaningrat. Karena ilmu yang diwarisi belum sampai seperempat bagian. Dan
terhadap Titisari ia menerangkan, kalau murid-murid Gagak Seta tersebar
luas di persada wilayah Jawa Tengah. Kebanyakan mereka menjabat pangkat
kepala kampung atau polisi pangreh-praja. Mereka dahulu adalah bekas
pengikut Gagak Seta tatkala Perang Giyanti sedang berkecamuk hebat.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar