8.18.2019

@bende mataram@ Bagian 140

@bende mataram@
Bagian 140


"Bagaimana cara menentukan kalah-menangnya?" kata Titisari dengan cepat.


Tanpa berkata sepatah kata pun, sang Dewaresi menggaritkan ibu jarinya ke
lantai. Kemudian ia berputar-putar sepanjang kakinya. Setelah diangkat,
ternyata ibu jarinya berhasil menggarit sebuah lingkaran di atas lantai.
Lantai kadipaten yang terbuat dari marmer tergarit sedalam ibu jari. Inilah
suatu bukti, bagaimana ia memiliki tenaga yang sangat kuat. Diam-diam,
semua yang hadir kagum padanya.


"Kita berdua bertempur di dalam lingkaran ini. Siapa yang keluar dari
lingkaran, dialah yang kalah," kata sang Dewaresi. Habis-berkata demikian,
lantas saja ia memasuki lingkaran. Ia berdiri tegak seperti seorang
pahlawan yang sanggup mengangkat gunung.


"Jika kita berdua sampai keluar lingkaran, bagaimana keputusannya?"
Titisari minta keterangan.


"Apa kata Nona? Kita berdua?"


"Maksudku—seumpama aku kena kaulem-parkan keluar lingkaran, kemudian aku
berhasil menyeretmu pula keluar sehingga dua-duanya keluar lingkaran,
bagaimana keputusannya?"


Sang Dewaresi tertawa panjang.


"Bagaimana mungkin Nona akan dapat melemparkan aku keluar lingkaran? Kamu
boleh keluar lingkaran, tetapi aku takkan mungkin."


"Seumpama sampai terjadi demikian?" "Hitunglah aku kalah."


"Baik! Jika kamu kalah, kamu takkan bakal menggangguku lagi bukan?" ,


"Tentu saja. Kamu boleh bedaku dengan merdeka. Tapi sebaliknya jika kamu
bisa kukalahkan, kamu harus berjanji taat dan patuh pada tiap kemauanku.
Orang-orang yang berada di sini menjadi saksinya."


"Baik," jawab Titisari. Kemudian ia memasuki lingkaran pertandingan.
Suasana ruang kadipaten lantas saja menjadi tegang dan menarik. Semua orang
sibuk menduga-duga, bagaimana cara sang Dewaresi bertempur melawan si gadis
tanpa membalas menyerang dan bagaimana pula nanti akhir pertandingan itu.


Titisari lantas saja menyerang. Dengan gesit ia berputaran dan tiba-tiba
menyerang pundak. Ternyata sang Dewaresi tidak berusaha menangkis. Ia hanya
menancapkan kedua kakinya kuat-kuat agar tak kena dipentalkan. Dengan
demikian serangan Titisari tiba dengan dahsyat. Dengan suara bergemeretak
tinjunya mendarat di pundak. Tetapi kini, Titisari yang terkejut.


Ternyata sang Dewaresi seorang yang kebal dari senjata. Begitu pundaknya
kena serangan, sekonyong-konyong muncullah suatu tenaga ajaib. Tinju
Titisari kena dipentalkan membalik. Karuan saja Titisari berusaha sekuat
tenaga menahan diri. Meskipun demikian, tubuhnya tergeser juga dari
tempatnya dan hampir-hampir melintasi garis lingkaran.


Sang Dewaresi melihat kesempatan bagus. Segera ia mendesak, dan mau tak mau
Titisari menjadi gugup juga. Untung ia cukup tenang. Dengan menjejakkan
kaki ia meloncat melintasi garis desakan lawan, dan hinggap di seberang sana.


Sang Dewaresi benar-benar memegang janji. Ia tak mau menyerang, tetapi dia
cerdik. Dengan bersenjata kekebalan tubuhnya, ia terus mendesak tanpa
berhenti. Titisari sebaliknya tak berani melancarkan serangan seperti tadi.
Ia sadar akan bahaya. Apabila berani melontarkan pukulan, pastilah dirinya
akan kena dipentalkan balik. Itulah sebabnya ia hanya lari berputaran
menghindarkan desakan lawan. Sekonyong-konyong ia berkata nyaring. "Di
antara kita belum




ada yang kalah dan menang. Aku akan keluar lingkaran, tetapi bukan karena
kaudesak kalah atau kaulon-tarkan keluar. Semata-mata, karena aku ingin
pergi. Kamu kan tidak akan mengejar? Bila kamu mengejar, berarti kamu
kalah, karena kamu akan keluar dari lingkaran. Bukankah kau tadi berjanji,
apabila kedua-keduanya keluar dari lingkaran engkau akan terhitung kalah
dan tidak akan menggangguku lagi?"


Sang Dewaresi berdiri tegak tercengang-cengang. Alangkah cerdik gadis ini,
pikirnya. Terang-terangan ia kena diakali. Sebaliknya Titisari tak
memperdulikannya. Dengan tenang-tenang ia keluar dari ruang kadipaten.
Hanya saja, tatkala kakinya hampir sampai pada tangga lantai, segera ia
melesat pergi secepat-cepatnya. Ia tahu, bahwa di antara mereka bisa
berbuat sesuatu hal untuk mencegahnya pada sembarang waktu. Dugaannya
ternyata tepat. Belum lagi kakinya meraba halaman, sesosok bayangan telah
berdiri tegak di hadapannya. Tak lama kemudian yang lain-lain datang pula.
Dengan demikian untuk kesekian kalinya, ia kena terkurung. Diam-diam ia
mengeluh dalam hati.


"Eh, mengapa kalian mengurungku?" katanya tajam.


"Nona! Kamu benar-benar cerdik dan licin melebihi belut. Seorang demi
seorang dapat kauakali begitu mudah. Sekarang, baiklah kita semua maju
berbareng. Kamu mau apa?"


Yang berkata demikian adalah Manyarsewu, sedangkan bayangan yang
menghadangnya adalah Cocak Hijau. Kedua pendekar itu masih saja merasa
penasaran terhadapnya. Maklumlah, mereka termasuk golongan pendekar sakti
yang jarang ada bandingnya pada zaman itu. Kini—mendadak saja—bisa
diper-main-mainkan dengan cara tidak wajar oleh seorang gadis muda belia.
Siapa pun akan merasa mendongkol dan ingin menebus kekalahannya dengan cara
lain.


"Bagus! Bagus!" seni Titisari nyaring. "Jadi kalian tua-tua bangka yang
menyombongkan diri menjadi golongan pendekar-pendekar sakti hendak
mengeroyok seorang gadis? Bagus!"


Mendengar dampratan Titisari, di antara mereka banyak yang merasa malu.
Mereka jadi berbimbang-bimbang hendak melakukan niatnya. Tetapi Cocak Hijau
lantas saja berteriak tajam. "Manyarsewu! Apa perlu mengadu mulut dengan
dia! Semua tahu, dia anak iblis! Anak belut! Minggir! Biarkan aku seorang
yang merampungkan."


Titisari tak dapat lagi bergerak. Sekelilingnya adalah pagar manusia. Dan
semuanya adalah tokoh-tokoh kenamaan. Melawan salah seorang di antara
mereka belum tentu dapat menang. Apalagi melawan mereka dengan sekaligus.
Sekalipun malaikat belum tentu mampu menumbangkan mereka dengan gampang.


Sekonyong-konyong di luar dugaannya, terjadilah suatu perubahan yang
menggemparkan. Waktu itu terdengariah bunyi lonceng tanda bahaya. Mereka
yang menguning lantas saja menegakkan kepala dan saling memandang.


Pangeran Bumi Gede segera memanggil penjaga untuk minta penjelasan. Belum
lagi penjaga itu datang menghadap, terdengariah dua orang peronda malam
datang dengan tergopoh-gopoh. Mereka berteriak sebelum tiba di ruang kadipaten.


"Gusti Pangeran Bumi Gede! Gedung kediaman Raden Ayu kebobolan..."


Berita itu sangat mengejutkan hati Pangeran Bumi Gede. Serentak ia
mengumpulkan sisa penjaga dan diperintahkan memanggil seluruh pasukan
pengawal. Keadaan lantas saja menjadi kacau.


Manyarsewu dan Cocak Hijau kemudian lari menghampiri Pangeran Bumi Gede.
Tak lagi mereka menghiraukan si gadis. Yang lain-lain-nyapun ikut
berlari-lari hendak membuat jasa.


Hanya sang Dewaresi seorang yang tak begitu memperdulikan. Hatinya telah
terlanjur tertambat oleh kecantikan dan kecerdikan Titisari. Biar
bagaimanapun juga, tak rela ia melepaskan dengan begitu saja.




"Eh, Nona! Kau tadi belum memperkenalkan nama ayahmu. Biarlah aku sedikit
memaksa dirimu," katanya nyaring sambil menghampiri.


Titisari terkesiap. Cepat ia menjejakkan kaki hendak kabur daripadanya.
Tetapi bagaimana dia bisa melawan kegesitan sang Dewaresi. Tahu-tahu sang
Dewaresi telah menghadang di depannya dengan tangan terbuka.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar