8.18.2019

@bende mataram@ Bagian 139

@bende mataram@
Bagian 139


Sang Dewaresi tertawa. "Apakah Nona telah berjumpa dengan mereka? Kalau
mereka sampai kena Nona gantung di atas pohon, jelas sekali kalau mereka
menyerah kalah karena kagum atas kecantikanmu."


Mendengar kata-kata sang Dewaresi, muka Titisari menjadi merah jambu.
Tetapi ia dapat menguasai diri. Menyahut dingin, "Jika mereka benar-benar
takluk padaku karena semata-mata kagum pada kecantikanku... hm... mengapa
kamu tak membantuku? Lihat, aku dikepung manusia-manusia tua bangka."


Sang Dewaresi tergugu. Tak dapat ia cepat-cepat menjawab, karena kata-kata
Titisari di luar dugaannya. Dengan tajam ia mengamat-amati wajah si gadis.
Terasa dalam hatinya, kalau gadis yang berdiri di hadapannya itu
benar-benar gadis yang cerdik dan tajam mulut. Dia pandai dan berani
melakukan suatu perbuatan apa pun juga demi kepentingannya hendak
membebaskan diri. Bukankah kata-katanya tadi berarti menerima pengakuannya
secara terbuka dan melontarkan kembali padanya dengan tak usah
bersegan-segan lagi?


Tapi diam-diam sang Dewaresi mengakui, Titisari memang gadis cantik luar
biasa. Tubuhnya padat, gesit dan otaknya cerdas. Kalau tadi ia bermaksud
mengejek, kini hatinya benar-benar jadi tertambat. Mendadak timbullah niat
jahatnya. Katanya dalam hati, gadis ini meskipun memiliki otak setinggi
langit, masa aku tak dapat mengalahkan. Biarlah kudesak dan kupeluknya di
depan orang banyak. Ingin kutahu, apa yang akan dilakukannya.


"Nona! Kau tadi bicara apa?" katanya mengalihkan pembicaraan.


Waktu itu Titisari telah menggeserkan tubuhnya, la bermaksud mau segera
meninggalkan ruang kadipaten. Tatkala mendengar kata-kata sang Dewaresi,
dengan tersenyum dia menjawab, "Aku mau pergi. Kaulihat, mereka mau
menangkapku. Entah apa maksudnya. Kamu mau membantuku menghalang-halangi
maksud mereka, bukan?"


"Ah, Nona minta bantuanku? Itu perkara mudah, asal saja Nona mau menjadi
muridku dan taat pada setiap perintahku."


Titisari menaikkan alisnya. Kemudian dengan tersenyum ia menjawab,
"Kauingin mengambilku menjadi muridmu?"


"Ya, bahkan kuangkat pula menjadi pem-bantuku."


"Ha—andaikata aku menjadi muridmu, apa perlu kamu mengangkatku pula sebagai
pem-bantumu?"


"Agar selalu berdekatan denganku." Merah muka Titisari mendengar ujar sang


Dewaresi. Sebagai seorang gadis yang cerdik, tahulah dia maksud sang Dewaresi.


"Jika aku menolak menjadi muridmu, apa yang akan kaulakukan?" ia masih
mencoba mengadu untung.


"Hm... bukankah aku mempunyai kebebasan untuk berbuat sekehendakku?" Sang
Dewaresi tersenyum nakal.


Titisari terhenyak, la tahu, musuhnya kali ini tidak gampang dapat diakali.
Lagi pula mendengar caranya berbicara, pasti bisa juga membuktikan
ucapannya. Maka ia mengasah otak.


"Baiklah. Aku mau menjadi muridmu, tetapi kamu harus membuktikan
kepandaianmu di depan mataku."


"Bagus!" seru sang Dewaresi girang. Memang itulah maksudnya sebenarnya hen-dak




menantang Titisari dengan terang-terangan di depan orang banyak, la ingin
meme-luknya dan menciumnya sepuas hati.


Titisari seolah-olah tidak mengerti apa maksudnya. Tetapi sebenarnya ia
cerdik, la sadar, kalau ia takkan bisa membebaskan diri apabila mengadu
kepandaian secara wajar. Mau tak mau ia harus menggunakan akal setindak
demi setindak sambil menunggu perkembangannya.


"Nah—macam kepandaian apakah yang mau kauperlihatkan padaku, agar aku mau
menjadi muridmu?"


"Kemarilah! Tak usahlah kau takut aku akan menyerang."


"Kau bicara apa?" sahut Titisari seperti seorang gadis linglung. "Apa kamu
akan dapat memenangkan aku tanpa menyerang?"


Sang Dewaresi tertawa. Tahulah dia, lawannya benar-benar cerdik dengan
memutar balikkan tiap-tiap kata kalimat untuk mengambil suatu keuntungan.
Tetapi di depan Pangeran Bumi Gede, tak sudi ia memperlihatkan segi-segi
kekerdilan hati. Bahkan ia sengaja hendak memamerkan sedikit kepandaiannya.


"Baiklah," katanya mengalah. "Kamu ingin mengadu kepandaian? Dengan
disaksikan oleh sekalian yang hadir, aku dapat menga-lahkanmu tanpa
melontarkan serangan macam apa pun juga."


Orang-orang yang mendengar ujar sang Dewaresi heran. Bagaimana dia dapat
memenangkan pertandingan itu tanpa membalas menyerang? Apa dia dewa sakti?
Abdulrasim yang pernah bertempur selama sepuluh jurus melawan Titisari
berpikir dalam hati, alangkah sombong orang ini. Meskipun dia memiliki
kepandaian setinggi langit, dapatkah ia membuktikan ucapannya? Aku yang
terang-terangan menyerang dia dengan sepuluh jurus, hampir-hampir tak dapat
berbuat banyak. Masa dia mampu mengalahkan tanpa membalas menyerang. Hm...
coba kulihat, macam kepandaian apa yang dimiliki.


"Aku tak percaya, kamu dapat memegang janji. Semua mulut di sini
hampir-hampir tidak ada yang dapat kupercayai," kata Titisari sengit.


"Kamu boleh memukulku sepuluh kali tanpa kubalas, apa lagi menyerangmu,"
sahut sang Dewaresi dengan tersenyum.


Hati Titisari terkesiap melihat senyum lawannya. Makin sadarlah dia, kalau
lawannya mungkin bermaksud jahat kepadanya. Maka ia bersikap lebih
hati-hati. Katanya lagi mencari keyakinan. "Selama hidupku aku tak pernah
menaruh kepercayaan kepada seseorang yang banyak berbicara. Mungkin sekali
kamu menggunakan ilmu siluman sehingga dapat memukulku sampai pingsan
dengan sekali pukulan. Jika demikian halnya, bagaimana aku dapat membalas
memukulmu sepuluh kali?"


"Jangan khawatir, Nona. Nah—ikatlah kedua lenganku," kata sang Dewaresi
sambil membuka ikat pinggangnya, lantas ditaruhkan di atas lantai. Kemudian
ia menyilangkan kedua lengannya di atas punggung.


Titisari heran menyaksikan tata-laku lawannya. Pikirnya, benar-benarkah ia
mau bertanding melawanku tanpa menggunakan kedua tangannya? Apakah dia
bermaksud membantuku agar dapat memenangkan pertandingan? Dengan cara
demikian, bukankah ia dapat kukalahkan tanpa merosotkan harga dirinya?


Mendapat pikiran demikian, segera ia mengikat kedua lengan sang Dewaresi
erat-erat. Ternyata sang Dewaresi tidak berkutik atau berusaha mau
meringankan kata-kata perjanjian. Wajahnya berkulum senyum penuh rahasia,
sehingga hati si gadis jadi bergeridik.


"Hai! Benarkah kamu mampu mengalahkan aku?" Titisari mencoba.


"Kata-kata seorang laki-laki sejati berharga seribu gunung," tukas sang
Dewaresi.




Titisari berpikir keras. Ia mencoba menebak arti senyum lawannya. Mendadak
ia bercuriga. Pikirnya, kalau ia tak mempunyai pegangan kuat dapat
memenangkan pertandingan, masa dia menurut saja kuikat kedua lengannya? Ih!
Kalau sampai ia berhasil mencekukku, apakah...
apakah...


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar