8.18.2019

@bende mataram@ Bagian 138

@bende mataram@
Bagian 138


LONCENG TANDA BAHAYA LANTAS SAJA MEMECAHKAN kesunyian alam. Waktu itu hari
hampir menjelang fajar-hari. Seleret awan cerah mulai mengambang di udara
timur. Angin dingin mulai pula menebarkan diri menusuki segala penjuru.


Sangaji terus dibawa lari oleh Wayan Suage. Tetapi tiba-tiba saja Yuyu
Rumpung telah menghadang di depannya.


"Anak tolol! Apa dia gurumu?" bentaknya. "Jangan harap kamu bisa kabur."


Sehabis membentak demikian, terus saja dia menyerang. Tangan kanan Sangaji
masih tergenggam erat-erat, maka terpaksalah dia menangkis dengan tangan
kiri. Sudah barang tentu, tak kuasa ia menahan serangan Yuyu Rumpung,
tubuhnya terus saja terpental dan terlepas dari genggaman tangan Wayan Suage.


Wayan Suage terkejut. Ia tahu, orang yang menghadangnya itu bukan orang
lemah. Meskipun demikian, tak mau dia mengalah. Ia seperti seorang yang
tengah memperebutkan suatu benda berharga dan tidak mau kehilangan. Itulah
sebabnya, begitu melihat tubuh Sangaji terpental daripadanya, lantas saja
ia membalas menyerang. Sayang, pergelangan tangannya kena dipatahkan
Sanjaya kemarin siang. Karena itu, tak dapat ia menggunakan tinjunya dengan
leluasa. Tatkala Yuyu Rumpung hendak menyambut serangannya dengan suatu
gempuran, cepat-cepat ia menarik dan menyusulkan sikunya.


Yuyu Rumpung terkejut. Dengan sedikit memiringkan tubuhnya ia berhasil
mengelakkan diri. Meskipun demikian, lengan kanannya masih juga kena tersodok.


"Eh! Bukankah kamu si buntung tadi siang?" teriak Yuyu Rumpung. Rupanya dia
mengenal si Mustapa yang mencanangkan gadisnya kemarin siang. Heran ia
menduga-duga mengapa orang itu berada di halaman kadipaten. Mendadak
teringatlah dia akan sikap Sanjaya tatkala didesak Panembahan Tirtomoyo.
Sebagai seorang benggolan kawakan, lantas saja ia dapat menebak. Dengan
tertawa lebar ia berkata meneruskan, "Bagus-bagus! Apakah gadismu berada
pula di sini?"


Wayan Suage tak mempedulikan ejekan orang itu. Ia tahu, dirinya takkan
sanggup melawan. Cepat ia menoleh ke arah Sangaji yang telah berdiri tegak.
Kemudian sambil menyambar pergelangan tangan Sangaji, ia berkata gugup.
"Anakku! Jangan layani dia, yang lain-lain akan segera tiba."


Sekali lagi Sangaji kena dibawa lari dengan tak dikehendaki sendiri. Tapi
kali ini, ia membantu mempercepat langkah. Maklumlah, sebenarnya dia takut
kepada Yuyu Rumpung. Maka dengan menggenggam pergelangan tangan Wayan
Suage, ia lari mendahului.


"Hai! Kalian mau kabur ke mana?" bentak Yuyu Rumpung. Orang tua itu segera
mengejar. Tetapi dalam hal kecepatan bergerak, ia kalah gesit dengan
Sangaji. Maka ia ketinggalan beberapa langkah. Meskipun demikian, ia
berusaha sekuat-kuatnya hendak menyusul. Dalam hati, ia takkan membiarkan
buaiannya kabur seenaknya sendiri.


Sangaji dan Wayan Suage telah tiba di pagar dinding kadipaten. Seperti
telah bermufakat, mereka meloncat berbareng dan hinggap di atas dinding.
Kemudian menghilang di balik sana.


Yuyu Rumpung memaki-maki kalang-kabut. Maklumlah, dia tak berani meloncat
dinding karena mengkhawatirkan luka dalamnya yang belum sembuh benar
seperti sediakala.


Dalam pada itu di ruang kadipaten terjadilah suatu perubahan yang
menggemparkan. Titisari telah kena dikurung jago-jago undangan Pangeran
Bumi Gede. Mereka semua ingin mendengar pengakuan Titisari tentang
hubungannya dengan si iblis Pringgasakti.


"Nona," bentak Abdulrasim jago dari Madura. "Sekalipun kamu licin melebihi
belut, tapi tak


dapat kau mengingusi aku. Nah— bukankah kamu murid Pringgasakti?"


Titisari kala itu dalam keadaan gelisah setelah mendengar pekik Sangaji.
Kecuali itu, ia sedang menguasai pemapasannya. Tetapi orang-orang tak
mempedulikan keadaan dirinya. Syukur, otaknya cerdik. Segera ia menenangkan
hati, sehingga tidak nampak perubahan mukanya.


"Kalian berkata, kalau aku murid Pringgasakti? Siapakah Pringgasakti itu?"
katanya dengan suara acuh tak acuh.


Abdulrasim tertawa lebar sambil mendamprat, "Nona—jangan harap kamu bisa
mempermainkan aku. Meskipun kamu memungkiri kenyataan itu sampai
jungkir-balik, bagaimana kamu bisa jungkir balik? Bukankah jurusmu tadi...."


"Kamu mengacau-balau!" potong Titisari cepat. "Sekali aku belum kenal siapa
itu Pringgasakti. Apakah dia iblis? Setan atau bangsat?"


Mendengar kata-kata Titisari, Abdulrasim kini jadi tercengang-cengang.
Bagaimana tidak? Orang boleh berbohong atau berpura-pura memungkiri siapa
nama gurunya. Tetapi ia takkan mencaci-maki nama gurunya di depan umum.
Tetapi terang sekali, jurus Titisari tadi adalah jurus ajaran Pringgasakti
yang sudah lama terkenal semenjak beberapa tahun yang lalu. Pikirnya, masa
aku bisa salah menebak. Sang Dewaresi ikut pula menguatkan pendapatku. Maka
dengan hati-hati ia minta penjelasan.


"Eh Nona! Benarkah kau bukan murid Pringgasakti?"


"Hm," dengus Titisari. "Kuakui, memang aku mengenal nama itu. Tetapi
kepandaian Pringgasakti belum cukup berharga untuk kusujudi."


"Ataukah dia ayahmu?" tiba-tiba sang Dewaresi ikut berbicara.


"Ayahku? Cuh!" Titisari meludah. "Bagaimana mungkin aku anak seorang jahanam.


Bukankah dia seorang iblis yang sudah terkenal sejak aku belum lahir
sebagai seorang perusak keadilan dan kemanusiaan? Ah— kalian pasti sudah
lama mengetahui. Kalianpun sudah pula mendengar kabarnya, bagaimana dia
mengkhianati gurunya dengan mencuri sebuah kitab pusaka. Bukankah dia
tadinya murid Kyai Hasan Bafagih yang bermukim di Cibesi?"


Sekarang, orang-orang yang mendengar ucapan Titisari jadi
berbimbang-bimbang. Mereka mulai percaya, kalau Titisari bukan murid atau
anak Pringgasakti. Tetapi masa seorang gadis semuda itu dapat mengetahui
sejarah Pringgasakti begitu jelas, jika tidak mempunyai hubungan dekat?
Mereka jadi sibuk menduga-duga dan saling berpandang-an.


Sekonyong-konyong Abdulrasim menggeser tubuhnya. Mau tak mau ia harus
mengakui kekalahannya. Katanya dengan hormat, "Nona, hitunglah aku telah
bisa kaukalahkan. Dengan terus-terang aku kagum kepadamu. Sekarang
perkenankan aku minta penjelasan tentang namamu."


Titisari tertawa perlahan.


"Namaku Titisari. Lengkapnya, Endang Retno Titisari" "Siapakah nama ayahmu?"


"Hm! Bukankah kamu hanya ingin mengetahui namaku belaka?"


Terpaksa Abdulrasim membungkam mulut. Tak dapat lagi ia mendesak, karena
telah kalah berjanji. Sebagai seorang tokoh kenamaan, enggan ia berkutat
melawan seorang gadis di depan orang banyak. Kini tinggal seorang belaka
yang masih mampu menahan si gadis. Yakni, sang Dewaresi. Maklumlah, orang
itu telah ikut campur berbicara. Mau tak mau ia harus mengulurkan tangan.


"Nona," katanya takzim. "Seorang demi seorang telah kaujatuhkan. Kini
perkenankanlah aku menguji diri melawan Nona."


Titisari mengamat-amati sang Dewaresi yang berpakaian serba putih.
Teringatlah ia akan


gerombolan orang-orang anak-buah Kartawirya. Pikirnya, apa ia pemimpin me-reka?


"Kaki-tanganmu bukan main banyaknya, sampai ada yang tersesat di Cirebon,
malahan terpaksa ada yang harus kugantung di atas pohon. Baiklah, malam ini
aku minta maaf kepadamu atas kelancanganku," kata Titisari.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar