8.17.2019

@bende mataram@ Bagian 136

@bende mataram@
Bagian 136


Sanjaya memang telah menaruh curiga kepada ibunya, tatkala mendengar
suaranya. Dasar ia cerdik dan berhati licin. Maka berpura-puralah dia
berjalan menjauhi, kemudian meloncat balik dengan meringankan tubuh. Dengan
demikian, tapak kakinya tidak terdengar oleh pendengaran ibunya.


Wayan Suage terkejut. Tahulah dia, kalau Sanjaya akan memasuki kamar. Cepat
ia mengundurkan diri dan bergerak ke arah jendela, la hendak melompati,
tiba-tiba matanya melihat berkelebatnya seseorang. Terpaksa ia membatalkan
niatnya.


Sapartinah segera menuding ke arah almari besar. Maksudnya menyarankan agar
berlindung di baliknya. Terharu Wayan Suage melihat sikapnya. Memang ia tak
rela meninggalkan isterinya dengan begitu saja. Masih ingin ia berbicara
lama lagi. Kalau mungkin sampai besok pagi. Itulah sebabnya, segera ia
melangkah ke balik almari. Mendadak, nampakiah Sangaji berdiri tegak
memipit dinding. Wayan Suage terkejut, terlebih-lebih Sapartinah sampai ia
menjerit tertahan.


Mendengar suara Sapartinah, Sanjaya terkejut. Takut ibunya kena ganggu
orang, segera ia mendobrak pintu dan masuk ke dalam kamar. Tetapi di dalam
kamar kosong tidak ada orang lain kecuali ibunya. Ternyata Wayan Suage
telah ditarik Sangaji ke balik lemari.


Sanjaya mengamat-amati ibunya yang berparas pucat lesi. Kedua kelopak
matanya penuh percikan air mata pula. Hatinya bercekat.


"Ibu! Apa yang terjadi?" tanyanya gugup.


"Tidak! Tidak!" Sapartinah bergeleng kepala. "Hanya malam ini hatiku tidak
tenteram." "Mengapa? Apakah karena aku?"


Sapartinah menunduk. Dan Sanjaya menjadi perasa. Dengan kasih-sayang besar, ia


menghampiri dan merangkulnya. Kemudian membiarkan kepalanya merebahi dada
ibunya.


"Ibu! Sekarang aku berjanji, takkan main gila lagi. Pengalaman hari ini
cukup memberi pelajaran padaku. Kuminta Ibu jangan bersusah hati lagi.
Mengapa aku begini buruk tabiatku?"


"Pergilah tidur. Hari sudah begini larut malam," potong ibunya. Sanjaya
menegakkan tubuh sambil berkata mengalihkan pembicaraan. "Ibu! Apa
benar-benar tidak ada orang masuk kemari?"


"Siapa?" hati Sapartinah berdetak.


"Seorang anak edan. Dia lolos dari kepungan kita."


Sanjaya berdiri dan perlahan-lahan berjalan menuju ambang pintu. Mendadak
ia mendengar napas orang di belakang almari. Tetapi ia bersikap seakan-akan
tidak mengetahui. Hanya saja matanya mengerling, kemudian berbalik
menghadap ibunya seraya berkata, "Anak kerbau itu pandai berkelahi. Tadi
siang Ibu kan sudah menyaksikan."


"Hm," dengus ibunya. "Mengapa mesti berkelahi?"


Sanjaya menghampiri dinding dan menurunkan batang pedangnya. Kemudian
dilolos-nya dan dibolak-balikkan.


"Ibu! Meskipun anak kerbau itu pandai berkelahi, tak usahlah ibu
mencemaskan aku. Aku bisa menjaga diri. Lihat!" kata Sanjaya. Lantas saja
ia memperlihatkan jurus-jurus ilmu pedang.


Sapartinah memaksa diri untuk melihat setiap perubahan tata berkelahinya.
Tiba-tiba parasnya pucat. Ternyata Sanjaya mendekati dinding almari.
Kemudian menikam.


Sapartinah kaget bukan kepalang. Saking kagetnya, ia terhuyung hampir jatuh
pingsan. Tetapi ternyata Sanjaya mengurungkan tika-mannya. Dengan menarik
pedangnya, ia berkata menyesali, "Ah Ibu! Mengapa Ibu melindungi orang?"


Ia meletakkan pedangnya di atas meja dan menolong ibunya. Matanya tak
berkisar dari arah almari. Perlahan-lahan Sapartinah dapat menguasai diri.
Saat melihat almari tetap utuh tidak kurang suatu apa, ia beriega hati.


"Ibu! Mengapa Ibu membohongi aku? Kata Ibu, aku ini anak kandungmu. Mengapa
Ibu merahasiakan sesuatu terhadapku?"


"Sanjaya! Kau memang anak-kandungku. Mengapa menuduh Ibu bohong padamu?"
sahut Sapartinah tergagap-gagap. Tetapi di dalam hatinya, ia mengakui
kebenaran tuduhan anaknya. Maka berpikirlah dia, aku bermimpi yang
bukan-bukan, seolah-olah dia bisa kubawa berjalan ke mana aku pergi seperti
tiga belas tahun yang lalu. Mana bisa terjadi begitu. Rasanya sulit pula
aku memberi penjelasan. Tapi biar bagaimana, Wayan Suage adalah ayahnya.
Aku wajib mempertemukan. Apakah aku akan tetap berada di istana atau
mengikuti ayahnya, itu bukan soalnya...


Setelah berpikir demikian, Sapartinah berkata, "Sanjaya! Ibu berbesar hati,
karena mendengar kabar kalau otakmu cerdas. Nah, sudah semenjak lama Ibu
mempunyai teka-teki. Maukah kamu menolong memecahkan?"


Sanjaya tertegun. Ia mengamat-amati wajah ibunya dengan kepala
menebak-nebak. Menduga, kalau ibunya mempunyai soal pelik yang membutuhkan
bantuannya, maka ia lantas saja mengangguk.


"Dengarkan!" kata Sapartinah sambil mempersilakan anaknya duduk di
hadapannya, la tak berani mengerling ke almari. Malahan lantas menggeser
tempat duduknya sehingga agak membelakangi.


Wayan Suage kala itu dalam keadaan tak keruan. Hatinya bergoncang keras,
sampai tak terasa menggenggam tangan Sangaji keras-keras. Memang waktu itu
dia berpikir, aku sudah berpisah dengan dia selama tiga belas tahun.
Keadaan diriku rusak. Penghidupanku rusak pula.




Sebaliknya, dia menjadi isteri seorang pangeran. Hidupnya mulia. Anaknya
hidup mulia pula. Mana bisa dia akan kubawa hidup merantau dari satu tempat
ke tempat lain? Dia sekarang lagi berteka-teki. Apakah dia lagi berusaha
mencelakaiku dengan memberi perintah sandi kepada anaknya?


Dalam pada itu Sanjaya telah duduk di hadapan ibunya. Kemudian terdengarlah
Sapartinah berkata, "Ada seorang perempuan dusun. Ia kawin dengan seorang
laki-laki sego-longannya selama lebih kurang tujuh-delapan tahun. Dalam
perkawinannya itu, ia mempunyai seorang anak laki-laki umur enam atau tujuh
tahun. Mendadak pada suatu hari, datanglah suatu malapetaka hebat. Suaminya
hilang tak keruan dan dikabarkan telah tewas. Ia sendiri bersama anaknya,
ditolong oleh seorang pangeran yang luhur budi. Pangeran itu merawat dan
mengasuh anaknya seperti anak-kandung sendiri. Sedangkan terhadap dia,
sangat menaruh perhatian. Meskipun demikian, ia tak mau dikawin pangeran
itu. Karena kesan-kesan lama masih saja membekas dalam kenangannya. Tetapi
setelah tiga tahun lebih, akhirnya mau diperisteri. Maklumlah, pangeran itu
sikapnya tiada tercela. Lagi pula, anaknya diangkat pula sebagai seorang
anak golongan ningrat. Bagi perempuan itu kepentingan diri sudah tak
menjadi per-soalan hidupnya. Karena itu, bagaimana ia tak terharu
menyaksikan perkembangan nasib anaknya. Coba, andaikata perempuan itu tak
bertemu dengan sang pangeran atau menolak diperisteri, belum pasti anaknya
bisa hidup lebih lama dari lima tahun. Sekiranya tidak mati kelaparan, akan
hidup terlarat-Iarat. Bagaimana pendapatmu Sanjaya?"


"Ini aneh! Apa perempuan dusun itu cukup berharga menjadi isteri seorang
Pangeran, sampai pula mengangkat derajat si anak dusun?"


Sapartinah tidak menjawab. Tetapi terasa dalam hati, kalau ucapan anaknya
adalah benar. Kalau dipikir, anaknya bisa dijual mahal—sehingga Pangeran
Bumi Gede bersedia memberikan jasa-jasa baiknya, bila dibandingkan dengan
perempuan ningrat sendiri. Bukankah banyak perempuan-perempuan cantik yang
melebihi kecantikannya? Bukankah pula banyak perempuan-perempuan yang
derajatnya jauh lebih tinggi dari-padanya? Kalau saja bukan suatu nasib,
kalau saja tiada mempunyai latar belakang suatu peristiwa, pastilah dirinya
tidak cukup berharga untuk menjadi isteri Pangeran Bumi Gede, meskipun
hanya menjadi seorang selir.


"Perempuan dusun itu hidup selama tiga belas tahun dengan pangeran itu.
Hitunglah, sepuluh tahun! Karena dia mau diperisteri setelah tiga tahun
dari peristiwa malapetaka. Dan selama hidup berumah tangga dengan pangeran
itu, ia dirawat baik-baik, dididik, diperhatikan dan tak pernah diingatkan,
bahwa dirinya adalah seorang perempuan dusun. Bahkan, anaknya diangkat
menjadi ahli warisnya," sambung Sapartinah. "Sekarang, mendadak pada suatu
hari, suaminya yang dikira tewas itu muncul kembali. Perempuan itu roboh
pingsan karena terkejut, terharu dan girang. Ia terkejut, karena bertemu
dengan seseorang yang telah lama dianggapnya mati dan yang mempunyai
pertalian erat dengan darah dagingnya. Ia terharu, karena menyaksikan
keadaan suaminya. Kini dia telah cacat, raut mukanya rusak dan kabarnya
hidup tak keruan, la girang, karena teringat oleh kesan-kesan lama dan
sejarah berumah tangga. Tetapi setelah itu, ia mempunyai
pertimbangan-pertimbangan lain. Pertimbangan-pertimbangan akal yang
bertentangan dengan ucapan rasa. Nah, inilah soalnya. Sekarang kutanyakan
kepadamu, apakah perempuan itu akan kembali kepada suaminya yang lama atau
tidak?"


Hebat bunyi pertanyaan itu, sampai Sanjaya menegakkan kepala. Dengan
berdiam diri, ia mengamat-amati ibunya. Dahinya berkerinyit, seolah-olah
sedang berusaha membaca latar belakang persoalan yang membuat ibunya
mengemukakan teka-teki demikian.


Wayan Suage yang bersembunyi di belakang almari, tercekat pula hatinya.
Tanpa merasa, tubuhnya gemetaran. Tahulah dia, kalau perempuan itu adalah
riwayat Sapartinah sendiri tatkala terenggut oleh suatu malapetaka
terkutuk. Sebaliknya Sangaji tak mengerti latar belakang kisah mereka.
Meskipun demikian, ia ikut pula berpikir keras. Maka di dalam kamar itu,
tiba-tiba suatu ketegangan terjadi dengan dahsyatnya.




Mendadak Sanjaya berkata dengan penuh iba. "Ibu! Tidurlah! Biarlah besok
kujawab." Sapartinah menghela napas.


"Nah, apa kubilang. Bukankah kamu kusuruh tidur pula? Sekarang, pergilah
tidur! Biar Ibu sendiri yang memecahkan teka-teki itu. Entah mengapa, malam
ini Ibu belum mau tidur. Hatiku tak tenteram..."


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar