@bende mataram@
Bagian 135
"Kau... kau siapa?" tanyanya bergemetaran. "Kenapa kamu bisa menirukan
kalimat percakapan antara suamiku dan saudara-saudaraku..."
Raden Ayu Bumi Gede sesungguhnya adalah Sapartinah, isteri Wayan Suage. Dua
belas tahun yang lalu rumah tangganya yang aman damai hancur berantakan
oleh suatu malapetaka, la dan anaknya dibawa lari oleh Pangeran Bumi Gede.
Dua tiga tahun lamanya, ia menunggu kabar berita suaminya. Tetapi sama
sekali tak pernah didengarnya. Bahkan Pangeran Bumi Gede pernah membawanya
menjenguk bekas rumahnya dan tanda-tanda hidupnya sang suami pun tiada. Ia
percaya, Wayan Suage telah meninggal dunia. Karena merasa diri tidak
bersanak keluarga, maka ia membiarkan diri mengikuti Pangeran Bumi Gede.
Lagi pula, sikap dan perlakuan Pangeran Bumi Gede sangat baik terhadap
dirinya. Malahan lantas saja pangeran itu mendidik dan mengasuh Sanjaya
seperti anak kandungnya. Sebagai seorang ibu, hatinya lantas saja luluh
menyaksikan perlakuan sebagus itu terhadap anaknya. Beberapa bulan
kemudian, tak dapat ia menolak bujukan Pangeran Bumi Gede, akhirnya dia
diambil selir terdekat.
Sepuluh tahun lamanya ia jadi selir Pangeran Bumi Gede. Dan perlakuan serta
sikap, sang Pangeran tidak berubah. Nampak sekali, betapa besar cinta sang
Pangeran terhadapnya. Ia dimanjakan dan dirawat dengan cermat. Tak
mengherankan kalau perawatan yang baik itu membuat keadaan dirinya makin
sehat dan montok. Dia ibarat intan yang belum tergosok. Maka begitu intan
itu kena gosok, lantas saja bersinar cemerlang. Itulah sebabnya, banyak
para pangeran membicarakan kecantikan dan kejelitaan dirinya. Mereka pada
menginginkan nasib baik Pangeran Bumi Gede.
Sebaliknya badan Wayan Suage yang menanggung penderitaan batin dan jasmani,
makin lama makin nampak tua. Rambutnya mulai nampak memutih. Raut mukanya
agak kisut, kakinya buntung. Kesegaran masa muda hilang. Karena itu tak
mengherankan jika Sapartinah tidak dapat mengenal dirinya.
Mendadak Wayan Suage berkata lagi seperti kepada dirinya sendiri. "Ah,
dapur kita harus satu saja. Apa perlu mesti memasak masing-masing?"
Sekarang Sapartinah tiada ragu demi mendengar tata-kata kalimat itu. Sebab
kali-mat yang diucapkan Wayan Suage itu adalah kalimatnya sendiri pada
Wayan Suage sewaktu mau mulai memasak ayam.
"Kau... kau Suage?" tanyanya tersekat-sekat.
Wayan Suage memandangnya sedih. Menjawab setengah parau, "Tinah! Aku adalah
Wayan Suage... suamimu..."
Mendengar pengakuan itu, tubuh Sapartinah seperti terbanting. Ia jatuh
menelungkupi kursi. Ternyata Sapartinah tak pernah melupakan suasana damai
dalam rumah tangganya dahulu. Benar saja—sebagai selir—dia dihormati,
dihargai, dirawat dan dimanjakan oleh siapa saja,
tetapi hatinya senantiasa kosong. Dia bisa hidup di tengah-tengah desa dan
dilahirkan sebagai perempuan desa pula. Jiwanya bebas seperti tetumbuhan
tumbuh di tengah alam. Karena itu, tidak gampang ia kena dipincuk oleh
kesenangan serba benda yang cemerlang. Tata hubungan suami-isteri antara
dia dan Pangeran Bumi Gede diikat oleh peraturan-peraturan tertentu juga.
Mana bisa jiwanya yang bebas ria mau diikat oleh tata-hidup demikian.
Tetapi setiap kali timbul suatu pemberontakan, teringatlah dia akan
nasibnya yang tidak bersanak keluarga. Teringat akan anaknya, ia
terhiburlah. Seumpama Pangeran Bumi Gede tidak menolong dirinya, apa yang
akan terjadi tak dapat ia bayangkan.
Sangaji yang berada di kamar tak mengetahui latar belakang kisah itu. Ia
hanya merasakan suatu kegoncangan hati yang tak dimengerti sendiri apa
sebabnya. Lama ia merenungi mereka dan heran mendengar kata-kata ibu
Sanjaya yang diucapkan penuh semangat.
Wayan Suage nampak mengelus-elus rambut isterinya dengan mulut tergugu.
Sedang Sapartinah terus mendekapnya makin erat, seakan-akan takut akan
kehilangan lagi.
"Suage! Mengapa diam saja? Bukankah kamu benar-benar Suage?" kata
Sapartinah. "Ya, ... aku Suage. Percayalah, aku Suage. Bukan setan atau iblis."
"Nah, marilah kita pergi. Apa yang kita takuti lagi?"
Wayan Suage hendak menjawab, tiba-tiba terdengarlah suara Sanjaya di luar
kamar. "Ibu! Apa anak edan masuk di sini? Bu...! Bu...! Ibu berbicara
dengan siapa?"
Suara Sanjaya itu seperti geledek di siang hari. Hebat akibatnya. Selain
mengejutkan, membangunkan pula mimpi Sapartinah.
Sungguh! Entah dari mana datangnya pertimbangan itu, tiba-tiba saja dia
sadar kalau dirinya bukan lagi kepunyaannya sendiri seperti tiga belas
tahun yang lalu, tatkala nasib merenggutkan dari Dusun Karangtinalang.
Hendak melarikan diri bersama Wayan Suage begitu saja dari istana Pangeran
Bumi Gede? Bagaimana mungkin! Dia kini adalah isteri syah seorang pangeran
yang merawat dirinya dengan cinta kasih yang besar. Bahkan anaknya,
diakuinya pula sebagai anak kandung. Dengan begitu, dirinya sendiri kini
adalah milik Pangeran Bumi Gede dan anak kandungnya. Terhadap anak
kandungnya, dia sudah menyerahkan dirinya semenjak lama. Yakni, tatkala ia
memutuskan mau menjadi selir Pangeran Bumi Gede, demi nasib anaknya di
kemudian hari. Dan terhadap Pangeran Bumi Gede, meskipun lambat jalannya
karena terganggu oleh kesan-kesan lama, akhirnya tanpa disadari sudah
merasa diri menjadi bagian hidupnya. Maklumlah, dengan Pangeran Bumi Gede
ia hidup berumah tangga lebih lama daripada Wayan Suage. Tiga belas tahun!
Sedangkan dengan Wayan Suage tujuh-delapan tahun. Kesan-kesan berumah
tangga yang dulu, lambat-laun menjadi suatu kenangan belaka. Makin lama,
malahan makin terkikis dan terkikis. Itulah sebabnya, ia tak cepat-cepat
mengenal wajah Wayan Suage.
Tetapi ia tahu, Wayan Suage masih berhak merasa diri menjadi suaminya.
Pertimbangan norma-norma rasa bergelora hebat dan membenarkan sikapnya.
Meskipun nasibnya pontang-panting dan cacat kaki pula, pastilah dia tak mau
tinggal diam sebagai penonton di luar garis. Sungguh! Sapartinah menghadapi
suatu persoalan tak gampang dan harus diselesaikan secepat-cepatnya.
"Bu! Ibu sudah tidur?" teriak Sanjaya lagi. "Tidak," Sapartinah menjawab
gugup. "Mengapa tak menyahut?"
Sapartinah tertegun. Mendadak pikirannya berkelebat, lantas menjawab, "Kau
tadi mencari seseorang, kan? Aku lagi memeriksa kamar..."
"Lantas?" "Mana dia?".
Sanjaya diam seperti lagi menimbang-nimbang. Mendadak berkata, "Biarlah aku
memeriksanya sendiri."
"Carilah dulu di luar, barangkali dia berada di kamar lain!"
Sanjaya heran. Suara ibunya seperti orang meminta. Tetapi dia tak
membantah. Dengan berdiam diri ia meninggalkan serambi kamar.
Lega hati Sapartinah, setelah langkah Sanjaya terdengar makin menjauh.
Dengan berbisik dia berkata kepada Wayan Suage. "Anak kita sudah menjadi
dewasa. Kau telah melihat, bukan?"
"Ya. Bahkan sudah terlalu dewasa," sahut Wayan Suage pahit dingin. "Kau tak
merasa bersyukur?"
"Bersyukur kepada siapa?"
Sapartinah terdiam. Menghadapi pertanyaan itu, ia menemukan sesuatu hal
yang sulit. Dan datangnya sekonyong-konyong pula. Ya, Wayan Suage harus
merasa bersyukur terhadap siapa? Terhadap Tuhan yang memberikan nasib baik?
Dengan sendirinya harus berterima kasih kepada Pangeran Bumi Gede. Dan
kejadian ini alangkah pahit bagi Wayan Suage.
Sekarang—dengan tiba-tiba saja, ia merasa jadi manusia lain yang berdiri di
suatu tempat yang jauh dari Wayan Suage. Seolah-olah ada jurang dalam dan
lebar yang menyekatnya. Tiga belas tahun ia sudah menyerahkan diri demi
kepentingan si anak. Bahkan dia mau berbuat apa saja demi kebahagiaannya
sampai mau menjadi selir. Mana bisa Wayan Suage diajak seperasaan dan
sepikiran dengan dia? Mana bisa Wayan Suage menerima jasa itu? Lantas saja
ia merasa diri bersalah.
"Aku memang seorang pengecut lagi bodoh..." ia berkata berbisik dan
perlahan-lahan ia melepaskan diri dari dekapan Wayan Suage.
Mendadak, di luar kamar terdengar suara Sanjaya lagi. "Ibu! Ibu berbicara
dengan siapa?"
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar