@bende mataram@
Bagian 70
"Menang dan kalah adalah kejadian lumrah dalam suatu perjuangan. Mengapa
kita mesti malu? Meskipun perjuangan rakyat Banten bisa dikalahkan, tapi
sekarang kulihat dan kusaksikan dengan mata kepala sendiri—kalau kekalahan
itu bukan merupakan kekalahan menyeluruh. Otong Damarwijaya masih hidup.
Semangat tempurnya masih tinggi, terbukti masih tetap bersedia menjadi
orang buruan. Bukankah begitu?"
"Hai! Bagaimana kautahu?"
"Sikapmu berhati-hati. Gerak-geriknya penuh rahasia, sampai-sampai terhadap
kitapun— kamu belum bersedia memperkenalkan diri dengan terang-terangan.
Gntung kamu datang tepat pada waktunya, kalau tidak...." Jaga Saradenta
menundukkan kepala. Dalam hatinya ia menyesali diri sendiri atas
perbuatannya tadi yang sembrono.
"Maaf! Maafkan aku! Bukan maksudku, menyusahkan kalian. Satu tahun yang
lalu, secara kebetulan aku berjumpa Sangaji di tengah hutan perburuan di
daerah Tangerang. Aku tertarik pada hatinya yang jujur dan polos, la lagi
bersedih hati menekuni ajaran-ajaran kalian yang terlalu sulit baginya.
Dengan seluruh kemampuannya ia mencoba berlatih diri. Tapi mana bisa dia
mampu memecahkan ajaran-ajaran ilmu kalian yang begitu tinggi. Kukatakan
kepadanya, kalau seratus tahun lagi ia takkan mampu menyelami intisari
jurus ajaran kalian."
Wirapati terkejut. Sebagai seorang yang encer otaknya, tahulah dia maksud
kata-kata Ki Tun-jungbiru. Secara tak langsung, orang tua itu menyesali
dirinya—karena memberi ajaran-ajaran tertentu tanpa mengingat kemampuan si
bocah. Cepat-cepat ia membungkuk hormat.
"Ini semua adalah gara-gara gejolak nafsu kami yang berlebihan. Kami
bersedia menerima teguran Ki Tunjungbiru."
"Eh—mana bisa aku berani menegur kalian!" seru Ki Tunjungbiru berjingkrak.
"Apa yang kalian ajarkan sangat kukagumi. Sedikitpun tidak ada celanya.
Cuma si bocah belum menemukan titik tolak sebagai dasar latihan. Dalam hal
ini tak ada seorangpun di dunia yang dapat dipersalahkan. Sebab ini soal
bakat. Soal karunia alam. Kalau kemudian, dia kubawa ke Pulau Edam dan
kuberi petunjuk cara orang menya-lurkan semangat dan tenaga, bukanlah
maksudku aku mau mengambil dia sebagai murid. Bagaimana mungkin aku berani
berlaku begitu? Meskipun demikian, dengan setulus hati aku minta maaf
kepada kalian atas kelancanganku ini."
Wirapati menoleh kepada Sangaji dan berkata menyesali, "Sangaji, mengapa
kamu merahasiakan hubunganmu dengan Ki Tunjungbiru Otong Damarwijaya? Kalau
semenjak dulu kamu ceritakan hal itu, pasti tidak akan ada salah sangka
terhadapmu."
Gcapan Wirapati ini berarti memaklumi dan memaafkan semua yang terjadi.
Karena itu, baik Sangaji maupun Ki Tunjungbiru bersyukur dalam hati.
"Aki Tunjungbiru melarangku mengabarkan tentang dirinya," sahut Sangaji.
"Ya—ya—ya, dia benar. Akulah yang melarang," sambung Ki Tunjungbiru.
"Soalnya, karena aku seorang buruan. Sudah bertahun-tahun lamanya aku
membiasakan diri berkelana seorang diri. Tak mau aku dikenal orang."
Wirapati meraih Sangaji dan merangkulnya sambil mengusap-usap rambutnya
dengan penuh sayang.
'Tentang salah paham ini, perkenankanlah aku mohon maaf sebesar-besarnya,"
kata Ki Tunjungbiru lagi sambil membungkuk hormat.
Wirapati dan Jaga Saradenta membalas hormat. Hati mereka berdua tertarik
akan sikap orang tua yang sopan-santun. Mereka kemudian mempersilakannya
memasuki pondokan. Kebetulan di atas meja tersedia bermacam-macam panganan
dan masakan seolah-olah sedang berpesta. Mereka lantas saja mengge-rumuti
panganan dan masakan sambil membasahi kerongkongan sepuas-puasnya.
"Eh—perkenankan aku si orang tua minta penjelasan barang sedikit," kata Ki
Tunjungbiru. "Kulihat kalian bedaku luar biasa terhadap si bocah. Nampaknya
semua murid kalian, kalian perlakukan demikian hebat! Inilah suatu kemajuan
luar biasa. Sekiranya tiap perguruan bedaku begitu luar biasa terhadap
murid-muridnya, pastilah dalam sepuluh tahun lagi aku akan bertemu dengan
kesatria-kesatria perkasa untuk menggantikan angkatan tua yang sudah
bangkotan seperti aku ini."
"Kami berdua tak mempunyai murid lain, kecuali Sangaji," sahut Wirapati.
Mendengar keterangan Wirapati, Ki Tunjungbiru ternganga-nganga keheranan.
Tak mau ia percaya kepada keterangan itu. Pikirnya, kalau mereka tak
mempunyai murid lain, mengapa membanting tulang berlebihan terhadap si
bocah? Apa mereka berdua mendapat bayaran tinggi? Wirapati agaknya dapat
menebak kata hatinya.
"Kami berdua datang dari Jawa Tengah. Aku Wirapati dan temanku itu Jaga
Saradenta. Secara kebetulan kami bertemu dan berkenalan. Secara kebetulan
kami hidup bersama dan merantau seperti orang gila di daerah barat. Secara
kebetulan pula kami mempunyai seorang murid yang sama. Secara kebetulan
pula, kami mempunyai panggilan hidup yang sama."
Mendengar keterangan Wirapati, keheranan Ki Tunjungbiru kian menjadi-jadi
sampai mulutnya terlongoh-longoh. Jaga Saradenta kemudian mengisahkan
riwayat perjalanan ke daerah barat sambil mendekap kepala Sangaji. Teringat
akan perjalanan itu, ia jadi menyesali wataknya yang terburu nafsu dan
semberono. Hampir-hampir saja ia menewaskan nyawa si bocah yang suci bersih
dan patuh-setia kepada guru. Sekarang rasa kasih-sayangnya kepada si bocah
begitu besar, sampai-sampai ia merasa susah berbicara.
"Horah! Orang itu masih saja edan-edanan," sela Ki Tunjungbiru.
"Apa kau kenal Ki Hajar Karangpandan?" Jaga Saradenta dan Wirapati berkata
berbareng.
"Mengapa tidak? Aku kenal dia dalam Perang Giyanti. Dia utusan dari Raden
Mas Said. Bukankah perawakannya agak pendek tapi kekar? Tampangnya seperti
orang edan. la orang yang mau menang sendiri. Seringkali kami bertengkar,
tetapi dia seorang kesatria yang jujur meskipun lagak-lagunya kasar. Apa
yang telah dikatakan, tak mau ia mengingkari. Seumpama dia mempunyai
piutang, celakalah orang yang berutang padanya. Dia bersedia menguber-uber
orang itu meskipun bersembunyi di ujung langit, sampai tercapai keinginannya."
Habis berkata begitu, Ki Tunjungbiru tertawa berkakakkan. Suara tertawanya
menggelegar, sampai meja yang penuh panganan terguncang-guncang. Diam-diam,
Wirapati dan Jaga Saradenta mengagumi tenaga gunturnya.
"Aku pernah bertempur melawan dia selama lima hari lima malam," kata Ki
Tunjungbiru lagi. "Perkaranya cuma sepele. Waktu itu kami masih sama-sama
muda. Kehormatan diri merupakan suatu hal yang terpenting di atas
segalanya. Pada suatu sore sehabis bertempur di sekitar Pekalongan, kami
beromong-omong di tepi pantai membicarakan tetek bengek di luar perjuangan
untuk melepas lelah. Pembicaraan tanpa dasar pegangan itu, seringkah
melantur tak karuan juntrungnya. Nah—sampailah pembicaraan pada soal
kecantikan perempuan. Se-. bagai seseorang yang dilahirkan di atas tanah
Pasundan, sudah barang tentu aku membanggakan gadis-gadis Sunda. Tetapi dia
mengatakan kalau gadis Sunda kurang cantik dan menarik. Karena perawakan
tubuhnya terlalu kekar dan pantatnya terlalu besar. Aku mendengar
celaannya, hatiku jadi panas. Serentak aku mempertahankan gadis-gadis kami.
Aku jelaskan kalau tidak semua gadis Sunda berpantat besar dan berperawakan
kekar. Ada juga yang lemah gemulai, menggairahkan hati. Tapi ia tak mau
menerima keteranganku seperti adatnya yang mau menang sendiri. Aku jadi
tambah penasaran. Lantas saja aku katakan kalau gadis Jawa Tengah-pun
banyak juga yang bertubuh kekar dan berpantat yang terlalu besar. Karena
celaanku itu, ia merasa sakit hati. Kami lantas bertengkar. Akhirnya kami
bertempur lima hari lima malam. Di antara kami berdua tidak ada yang kalah
atau menang. Pada hari ke-enam kami berhenti berkelahi karena kecapaian.
Ke: mudian kami bersumpah tak akan kawin seumur hidup. Siapa yang kawin,
dialah yang kalah. Begitulah, maka sampai sekarang aku tetap membujang. Aku
percaya juga, jika dia tetap membujang. Nah, bukankah ini suatu
pertengkaran edan-edanan? Coba bayangkan bertempur lima hari lima malam dan
menyiksa diri seumur hidup, semata-mata karena perkara pantat."
Mendengar perkataan Ki Tunjuangbiru, mau tak mau mereka tertawa
berkakakkan. Sangaji tak terkecuali. Ia mendapat kesan luar biasa terhadap
pribadi Ki Tunjungbiru dan kedua gurunya. Mereka semua adalah laki-laki
sejati yang mengutamakan kebajikan dan budi pekerti luhur di atas
segala-galanya. Meskipun pembicaraan mereka kedengarannya ugal-ugalan,
tetapi mengandung sari-sari kejantanan yang pantas dikagumi.
Mendadak di Liar terdengar derap kuda ber-derapan. Aba-aba dan gemerincing
pedang berkesan sangat sibuk. Ki Tunjungbiru menegakkan kepala. Dahinya
berkerenyit, alisnya meninggi dan wajahnya nampak angker. Kemudian berkata
tegang, "Sangaji, sebenarnya aku datang ke mari untuk memberi kabar padamu.
Semalam secara kebetulan aku mendengar ge-rombolan kompeni sedang
berunding. Nampaknya mereka akan berontak. Pemimpinnya seo-rang mayor yang
buntung lengannya. Karena aku mendengar mereka menyebut-nyebut nama Willem
Erbefeld teringatlah aku kepadamu tentang kakak angkatmu yang sering
kauceritakan. Mereka merencanakan akan menyerbu tangsi dan mau menangkap
kakakmu hidup atau mati. Agaknya telah lama terjadi suatu persaingan dan
rasa dendam antara kakak angkatmu dan mayor yang buntung lengannya itu."
Mendengar berita itu, Sangaji terkejut bukan kepalang. Opsir yang buntung
lengannya itu, siapa lagi kalau bukan Mayor De Groote. Mayor De Groote
memang bermusuhan dengan Willem Erbefeld. Ia berdendam besar, karena
jabatannya kena geser.
Willem Erbefeld berada di bawah komando Kapten De Hoop, ayah Sonny. Jika
Mayor De Groote hendak memusuhi Willem Erbefeld, dengan sendirinya akan
berlawanan pula dengan Kapten De Hoop. Teringat akan hal itu, serentak ia
hendak bangkit. Tetapi Jaga Saradenta mendekapnya.
"Guru, perkenankan aku pergi sebentar," kata Sangaji memohon.
"Jangan! Tak usah kamu pergi. Biarkan me-' reka menyelesaikan urusannya
sendiri," sahut Jaga Saradenta. "Kau tetap berada di sampingku."
Jaga Saradenta merasa menyesal atas perbuatannya yang sembrono. Tak mau ia
berpisah dengan muridnya lagi, sebagai penebus kesem-bronoannya. la ingin
agar Sangaji tetap berada di sampingnya. Karena itu, Sangaji menjadi
bingung. Ingin dia menjelaskan, betapa penting
berita itu bagi Willem Erbefeld dan Kapten De Hoop yang sama sekali tak
berprasangka buruk pada Mayor De Groote. Tapi pada waktu itu kedua gurunya
telah sibuk mendengarkan keterangan Ki Tunjungbiru tentang diri mereka.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar