@bende mataram@
Bagian 69
"Jaga Saradenta, sabarlah barang sebentar!" terdengar Wirapati menyabarkan.
"Tuduhan kita baru separoh benar."
"Apalagi yang masih meragukan?" Jaga Saradenta memotong. "Kita baru
menduga-duga."
"Sangaji sudah membenarkan apa yang kaukatakan, bukankah sudah cukup jelas?
Gntuk memaksa si bocah agar menceritakan tentang dia tidaklah mungkin.
Karena dia sudah terikat suatu perjanjian, untuk merahasiakan si jahanam
itu. Apa kita harus mencincang dulu si bocah agar mau buka mulut? Cih!
Kalau sekiranya Sangaji akhirnya mau bicara, macam apa bocah itu? Tak lebih
bocah picisan. Aku tak mau punya murid picisan."
Wirapati terdiam. Ia berpikir keras. Memang kata-kata Jaga Saradenta tak
dapat dibantah lagi. Tapi aneh, dalam hatinya ia merasa seolah-olah ada
sesuatu yang belum terang. Tapi apakah itu, tak dapat ia menebak dengan
segera, la mendongakkan kepala mencoba menemukan kekurangan itu. Kemudian
berkata hati-hati seperti kepada dirinya sendiri.
"Jaga Saradenta, memang sudah cukup jelas alasan kita untuk mengambil
nyawanya— seandainya orang yang mengajar dia bersemadi itu benar-benar
Pringgasakti."
"Apa dia bukan Pringgasakti?" potong Jaga Saradenta dengan suara tinggi.
"Sampai sekarang—seperti kataku tadi—kita baru menduga-duga. Sangaji
mengatakan kalau orang itu hanya memberi petunjuk cara orang bersemadi.
Apakah benar seseorang yang hanya berlatih bersemadi dapat melawan orang
semacam kita, sekiranya Pringgasakti benar-benar ingin meminjam tenaga
pembalas dendam?"
"Orang itu tidak hanya memberi petunjuk cara bersemadi, tetapi membawa si
bocah pula ke Pulau Edam agar menghisap getah pohon siluman. Kalau Sangaji
berlatih diri selama lima tahun saja sambil menerima ajaran-ajaran ilmu
kita, sudahlah cukup tenaga untuk menghabisi nyawa kita berdua. Seandainya
itu terjadi, alangkah sejarah dunia ini akan terguncang. Bukan aku sayang
kepada nyawaku yang sudah tua ini, tetapi peristiwa pembunuhan itu luar
biasa biadab dan lucu. Bayangkan saja, kalau sampai guru dibunuh muridnya.
Sebelum hal itu terlanjur, lebih baik kita hancurkan hubungan antara murid
dan guru agar kita semua luput dari noda sejarah kemanusiaan. Bagi Sangaji
sendiri, lebih baik begitu daripada bisa hidup berumur panjang tetapi
tangannya penuh berlumuran darah kedua gurunya."
Mendengar kata-kata Jaga Saradenta yang hebat itu, Sangaji terkejut bukan
kepalang. Tak sadar, air matanya bercucuran keluar. Hatinya terlalu sedih,
diramalkan akan bisa membunuh kedua gurunya dikemudian hari. Sesuatu hal
yang tak pernah terlintas dalam angan-angannya. Lagi pula bagaimana
mungkin! Meskipun demikian, ia tak berani membantah dan mengingkari. Semua
kata-kata kedua gurunya pasti mempunyai dasar alasan yang kuat.
Karena pikiran ini, ia menjatuhkan diri ke tanah sambil menyembah. "Guru
boleh memperlakukan aku sebebas-bebasnya. Tak usah guru ragu, kalau aku
akan mati penasaran. Bunuhlah aku sekarang juga, sekiranya guru mempunyai
alasan untuk mengambil nyawaku. Karena guru berhak menghukum tiap kesalahanku."
Wirapati tergugu mendengar kata-kata Sangaji. Sedetik ia seperti terpaku di
atas tanah, tapi pada saat itu juga terhentaklah darah jantannya. Tak sudi
ia memperlihatkan kelemahan hatinya di depan muridnya. Itulah sebabnya,
tiba-tiba ia menjadi garang berwibawa. Berkata membentak, "Sangaji!
Mengambil nyawamu itu urusan gampang—segampang orang memutar leher ayam.
Tapi aku ingin kamu mati sebagai seorang kesatria. Tak senang aku melihat
muridku menyerah kepada nasib. Seekor cacing tanah pun akan berontak pula,
kalau kena injak. Mengapa kamu tak mempertahankan diri?"
"Bagaimana mungkin aku berani mempertahankan diri terhadap hukuman guru?
Semua ke: cakapan yang kumiliki ini adalah semata-mata hasil jerih payah
guru berdua. Kini guru menghendaki agar aku mengembalikan semua, apakah
hakku untuk mempertahankan diri?"
"Bukan aku menyuruhmu melawan aku, tapi pertahankan semua tuduhanku ini!"
bentak Wirapati menggigit. "Kau kutuduh menerima ajaran-ajaran dari siluman
Pringgasakti. Kau dituduh gurumu Jaga Saradenta akan mengkhianatinya di
kemudian hari. Pertahankan dirimu dari semua tuduhan itu! Apa kamu tak
pandai mempertahankan diri?"
Sangaji adalah seorang anak yang kukuh dalam tiap kata hatinya. Apa yang
telah dilakukan, tak mau lagi ia menarik diri atau merubah-nya oleh
pertimbangan-pertimbangan lain. Pada saat itu, ia telah memutuskan bersedia
mati di depan kedua gurunya. Itulah sebabnya semua kata-kata Wirapati tak
masuk lagi dalam pertimbangannya.
Waktu itu tiba-tiba terdengarlah suara orang terbatuk-batuk dan berkata,
"Sekiranya aku mempunyai murid berjiwa seteguh itu, aku mau mati lebih muda
lagi."
Bukan main kagetnya Wirapati dan Jaga Saradenta. Mereka adalah tokoh-tokoh
pendekar yang jarang ada pada masa itu, meskipun demikian pendengarannya
masih belum dapat menangkap kehadiran orang pendatang itu. Suatu tanda
kalau pendatang itu bukan orang sembarangan.
"Siapa dia?" mereka membentak berbareng. "Itulah dia ...," sahut Sangaji.
"Dia siapa?"
Tak berani lagi Sangaji memberi penjelasan, la membungkam, meskipun tahu
dengan pasti orang itu adalah Ki Tunjungbiru. Wirapati adalah seorang yang
cerdas. Begitu melihat Sangaji beragu, lantas saja dia dapat menebak.
Serentak ia melesat keluar jendela sambil mempersiapkan senjatanya. Jaga
Saradenta melesat pula keluar pintu dengan menggenggam cempuling.
Mereka melihat seorang laki-laki berperawakan kekar, berkulit hitam lekam,
bermata tajam, berbibir tebal, berambut panjang dan berkepala gede.
Ternyata dia bukan Pringgasakti.
"Maaf, aku mengganggu kalian berdua," kata orang itu, "sudah agak lama aku
mendengarkan percakapan kalian. Dan aku inilah orang yang kalian bicarakan.
Orang memanggilku Ki Tunjungbiru. Bukan Pringgasakti seperti kalian tuduhkan."
Ki Tunjungbiru kemudian membungkuk memberi hormat. Wirapati terdiam, lalu
mengerling kepada Jaga Saradenta. Mereka saling memandang dengan mengunci
mulut.
"Sudah lama aku mengenal kalian berdua. Dan aku mengagumi keperkasaan
kalian. Beberapa bulan yang lalu sudah kuceritakan ke Sangaji, kalau pada
suatu hari aku akan menemui kalian berdua. Nah, sekarang aku bertemu dengan
kalian, sungguh aku bersyukur dalam hati," kata Ki Tunjungbiru dengan takzim.
Jaga Saradenta nampak mengerenyitkan dahinya. Ia seperti mengingat-ingat
sesuatu. Waktu itu Sangaji telah berada di antara mereka. Dengan
membungkuk, ia mencoba menjelaskan, "Guru, karena dia telah menerangkan
tentang dirinya, barangkali aku telah diperkenankan pula
memberi-penjelasan. Dia dijuluki orang Ki Tunjungbiru. Menurut
tutur-katanya sendiri, sebenarnya dia bukan bernama Ki Tunjungbiru. Hanya
karena dia selalu membawa-bawa
tumbuhan yang menghisap kembang Tunjungbiru ke mana dia pergi, maka ia
diberi julukan demikian."
Mendengar keterangan Sangaji tentang dirinya, Ki Tunjungbiru tertawa riang.
"Waktu kanak-kanak orang menyebut aku si Otong. Otong si kurus tipis
seperti cancing." "Ah!" tiba-tiba Jaga Saradenta memotong. "Apa kamu bukan
Otong Damarwijaya?"
"Hai! Bagaimana kamu mengenal namaku?" Ki Tunjungbiru terkejut.
"Wirapati!" kata Jaga Saradenta kepada rekannya seolah-olah tidak
mempedulikan pertanyaan Ki Tunjungbiru. 'Tak mengherankan, kalau kamu belum
mengenalnya. Otong Damarwijaya adalah seorang pahlawan dari Banten. Namanya
termasyhur di seluruh Jawa Barat sebagai seorang tua pelindung rakyat
kecil. Guruku—Kyai Haji Lukman Hakim—sering memperkenalkan namanya yang
harum kepada murid-muridnya. Dialah yang meletuskan pemberontakan rakyat di
seluruh Banten pada thun 1750, sehingga Kompeni Belanda terpaksa membagi
kekuatannya. Dengan begitu, secara tak langsung ia membantu Pangeran
Mangkubumi I dalam Perang Giyanti."
"Ih, apa perlu perang Banten diungkit-ungkit? Perang itu memalukan sejarah
bangsa, karena kami ternyata dikalahkan," potong Ki Tunjungbiru.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar