7.06.2019

@bende mataram@ Bagian 68

@bende mataram@
Bagian 68


"Coba, terimalah pukulan ini!" Habis berkata demikian Jaga Saradenta
kemudian memukul dengan sekuat tenaga. Sangaji tak berani menangkis, takut
menyinggung perasaan gurunya. Tapi dagingnya bergerak tanpa disadari,
berkat getah pohon Dewadaru yang memiliki kodrat alam menghisap darah.
Begitu pukulan Jaga Saradenta tiba, lantas saja berkurang tenaganya.
Sangaji merasakan sakit, tetapi ia heran juga melihat otot dan dagingnya
bergerak menangkis sendiri.


"Nah! Apa ini bukan ilmu siluman?" bentak Jaga Saradenta garang. "Dari mana
kau memperoleh ilmu ini?"


Sangaji mulai berpikir. Teringat akan sifat pohon asli Dewadaru, hatinya
bergidik sendiri.


"Guru! Aku bersumpah, aku tak pernah berguru kepada siapapun juga. Hanya
secara kebetulan aku menghisap getah sebatang pohon ajaib bernama Dewadaru."


la lalu menceritakan pengalamannya beberapa bulan yang lampau ketika
menghisap getah pohon Dewadaru di Pulau Edam. Mendengar keterangan Sangaji,
Jaga Saradenta dan Wirapati saling memandang. Diam-diam mereka bergirang hati.


"Siapa yang menunjukkan kamu ke sana?" tanya Wirapati menegas.


"Seseorang yang memberi petunjuk kepadaku pula, cara menyalurkan hawa dan
bernapas dengan teratur, la memberi petunjuk pula cara merebahkan badan.
Aku disuruh menghapalkan dua belas patah kata. Tenangkan pikiran—lupakan
perasaan—kosongkan tubuhmu—salurkan hawa—matikan hati—hidupkan semangat."


Wirapati heran. Itulah cara ilmu bersemedi tingkat tinggi, pikirnya.
Pastilah Sangaji pernah bertemu dengan seorang yang berilmu tinggi. Di kota
Jakarta ini siapakah orangnya yang memiliki ilmu demikian? Mendapat pikiran
demikian, Wirapati menegas lagi, "Siapa dia?"


"Dia bermaksud hendak menemui Guru pada suatu kail Tetapi ia melarang
kepadaku meng-gambarkan siapa dirinya. Bahkan aku dilarang pula
menggambarkan perawakan tubuhnya."


Wirapati semakin heran, la menyiratkan pandang kepada Jaga Saradenta yang
berdiri tergugu bagaikan patung.


"Di manakah kamu bertemu mula-mula dengan dia?"


"Sewaktu aku sedang berburu dengan keluarga Sonny. Sonnypun mengenal siapa
dia." "Sonny mengenal dia?" Wirapati semakin terperanjat.


"Benar. Diapun dilarang menggambarkan siapa dirinya dan bagaimana perawakan
tubuhnya. Untuk perjanjian itu aku dan Sonny mendapatkan dua ekor lutung."


Wirapati terpekur kini merenungkan keterangan Sangaji. Setelah mengerling
kepada Jaga Saradenta, Wirapati berkata:


"Baiklah. Kau tunggu di luar!"


Sangaji menurut Dengan kepala menebak-nebak ia keluar pintu dan duduk di
tepi jalan memandang lalu-lintas.


"Bagaimana menurutmu?" Wirapati minta pertimbangan kepada Jaga Saradenta.


"Aneh," sahut Jaga Saradenta. "Hatiku tergetar mendengar keterangannya.
Teringat aku sifat kesaktian Sangaji, hatiku lantas saja menaruh curiga."


"Apa kamu teringat Pringgasakti?"


"Benar," sahut Jaga Saradenta cepat. "Masih teringat kata-katamu dulu,
kalau dia pasti mempunyai cara sendiri untuk membalas dendam. Siapa tahu ia
mencoba meracuni jiwa Sangaji agar kelak bisa dibuatnya alat membunuh kita
berdua. Inilah celaka, kalau sampai kejadian guru dibunuh muridnya.
Daripada terjadi demikian, lebih baik kita putuskan hubungan antara guru
dan murid."




Wirapati merenungkan kata-kata Jaga Saradenta. Alisnya meninggi. Suatu
tanda, kalau hatinya sedang bergolak keras. Kemudian dia bangun.


"Kemungkinan itu ada. Pringgasakti seorang iblis yang licin. Dia sengaja
mempermainkan kita agar selalu berada dalam teka-teki kita. Ini berbahaya.
Baiklah, kita paksa Sangaji memberi keterangan yang lebih jelas. Kalau
sudah jelas, apa boleh buat!"


Dengan suara nyaring ia memanggil Sangaji agar menghadap padanya. Sangaji
seorang yang jujur dan polos, la tak berprasangka buruk terhadap perubahan
sikap gurunya. Dengan sikap tenang ia memasuki rumah. Dilihatnya kedua
gurunya bersikap garang dan besungguh-sung-guh. Sangaji heran.


"Apakah aku bersalah? Hukumlah aku!"


Wirapati menyahut, "Sangaji, jawablah pertanyaanku. Kamu tak perlu
menambahi keterangan. Cukup jawab ya atau tidak. Nah,—dengarkan! Apakah
orang yang kaujumpai berkepala


gede dan berkulit hitam mengkilat?


* * *


SANGAJI diam menimbang-nimbang. Ki Tunjungbiru memang berkepala gede,
tetapi kulitnya bukan hitam mengkilat. Hanya hitam lekam. Mungkin itulah
yang dimaksudkan gurunya. Karena pertimbangan ini, ia mengangguk.


Melihat Sangaji mengangguk, Wirapati terkejut. Hatinya lantas saja jadi
bergolak. Gugup ia mencari keyakinan lagi. Katanya tergegap, "Apa dia
berambut panjang?"


Sangaji diam mengingat-ingat, la mengangguk lagi untuk yang kedua kalinya.
"Matanya tajam dan berbibir tebal?"


Sangaji mengangguk.


"Tubuhnya kekar dan berwibawa?"


Sangaji mengangguk. Dan melihat Sangaji mengangguk untuk ke sekian kalinya,
tak kuasa lagi Wirapati mempertahankan gejolak hatinya. Tubuhnya nampak
menggigil dan alisnya meninggi dan meninggi. Jelaslah, kalau orang yang
memberi pengertian tentang ilmu bersemadi kepada Sangaji adalah
Pringgasakti. Menghadapi kenyataan demikian, tak bisa dia tinggal diam. Mau
tak mau ia harus mengambil tindakan yang bertentangan dengan wataknya yang
we-las-asih. Ini semua demi memelihara hubungan antara murid dan guru. Tapi
pada detik ia mau melaksanakan kata hatinya, timbullah suatu pertimbangan
lain. Selama bergaul empat tahun dengan muridnya, terbersitlah kesan lain
dalam hatinya terhadap si bocah. Ia menganggap si bocah seperti bagian dari
tubuhnya sendiri, la yakin, kalau hati Sangaji bersih dari semua noda.
Kalau toh sampai terjadi peristiwa yang menyedihkan itu, sebenarnya adalah
di luar kekuasaannya sendiri. Terasalah dalam hatinya, dialah yang bernasib
buruk. Jaga Saradenta juga. Tak terkecuali Sangaji. Berpikir demikian,
hatinya serasa hampir meledak. Napasnya yang menye-sak dadanya di dorongnya
ke pojok jantungnya. Kemudian ia memusatkan sisa keteguhan hati, untuk
mengenyahkan keragu-raguannya.


Tiba-tiba tatkala ia sedang bergulat dengan dirinya sendiri, terdengarlah
kesiur angin lewat disampingnya. la melihat Jaga Saradenta berkelebat
dengan cempulingnya hendak menghabisi nyawa Sangaji. Tanpa berpikir lagi,
ia ikut melesat dan membenturkan lengannya. Hebat akibatnya. Kedua-duanya
terpental ke samping dan berdiri dengan bergoyang-goyang.


"Tahan!" seru Wirapati dengan napas memburu.


Jaga Saradenta menghela napas. Cempulingnya dibanting ke tanah dan
tertancap tegak dengan mengaung-ngaung.


"Wirapati! Hatimu lemah seperti perempuan!" bentak Jaga Saradenta. "Sudah
jelas, kalau muridmu seorang pengkhianat, kamu masih mau melindungi. Jelas
sekali, kalau orang yang mengajar ilmu siluman itu Pringgasakti tapi kamu
masih ragu. Alasan apalagi yang kau


tunggu?"


Sekarang Sangaji menjadi bingung menyaksikan gurunya bertengkar mengenai
dirinya, la ingin menjelaskan, kalau orang yang berkepala "gede, bertubuh
kekar, bermata tajam, berbibir tebal, berambut panjang dan berkulit hitam
itu bukanlah Pringgasakti. Dia Ki Tunjungbiru, seorang sakti yang penuh
diliputi rahasia. Meskipun belum pernah sekali juga melihat Pringgasakti,
tetapi ia yakin kalau Ki Tunjungbiru bukanlah Pringgasakti. Sayang, ia tak
diperkenankan berbicara selain ya dan tidak atau mengangguk dan menggeleng.
Kecuali itu, dia berjanji pula dengan Ki Tunjungbiru takkan mengabarkan
dirinya. Bahkan membayangkan perawakan tubuhnya dengan kata-kata
dilarangnya pula. Bagi dia, melanggar janji adalah tabu. Mengingat hal ini,
ia jadi sibuk sendiri.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar