7.05.2019

@bende mataram@ Bagian 67

@bende mataram@
Bagian 67


Hebat pengaruh kata-kata Ki Tunjungbiru kepada Sangaji. Seketika itu juga
gejolak hatinya menurun. Tubuhnya tidak menggigil lagi. Selintas pintas ia
melihat seleret sinar cerah dalam benaknya. Meskipun demikian, akibat
gejolak dan pergerakan tadi, perutnya terasa sakit, la mengerang.


Ki Tunjungbiru memapahnya dan membawanya ke tepi pantai. Lalu ia
menelanjangi dan diceburkan ke dalam laut.


"Buanglah semua kotoranmu. Yang ada dalam dirimu tinggal sari-sarinya yang
bersih. Esok pagi aku akan mencarikan sebumbung tabuan ber-madu kepadamu.
Dalam hal ini, aku bertanggung jawab penuh."


Satu malam penuh Sangaji merendamkan diri dalam permukaan laut. Waktu fajar
hari menyingsing tubuhnya menjadi lemas tak berdaya. Ki Tunjungbiru
ternyata menekuni dengan sungguh-sungguh, la membersihkan tubuhnya dan
dipapah dengan perasaan kasih sayang. Kemudian ditidurkan lempang di atas
gunduk batu. Setelah itu ia melesat pergi entah ke mana.


Kira-kira hampir tengah hari dia datang kembali dengan wajah berseri-seri.
la membawa sepotong balok keropos. Dan ke mana saja dia bergerak dirinya
dirumuni gerombolan tabuan yang berwarna hijau biru kekuning-kuningan.


"Inilah tabuan Tunjungbiru namanya," dia berkata riang. "Selama hidupku aku
menghisap madunya. Itulah sebabnya aku di sebut orang Ki Tunjungbiru.
Tabuan ini mempunyai khasiat sakti. Barangsiapa menghisap madunya akan
berumur panjang. Darahnya akan mengalir bersih. Seluruh tubuhnya selalu
terasa nyaman dan riang. Banyak orang ingin menghisapnya. Tetapi bagaimana
mungkin? Sarangnya ada di pulau ini, jauh menjorok ke dalam gugusan. Tak
gampang-gampang orang dapat mencapai sarangnya. Nah—nih! Hisaplah!"


Dengan berdiam diri Sangaji menghisap madu tabuan Tunjungbiru dengan hati
tawar. Meskipun kata-kata Ki Tunjungbiru semalam berpengaruh besar di dalam
dirinya, tetapi kesan menghisap


darah manusia tidak juga lenyap dari perbendaharaan benaknya.


Kini mendadak ia memperoleh kesan lain. Setelah menghisap madu, hatinya
merasa menjadi lapang. Darahnya yang tadi dirasakan mengental berubah
menjadi encer dan ringan. Tubuhnya menjadi hangat pula. Rasanya nyaman, la
lantas berdiri dengan perasaan segar bugar. Menyaksikan itu, Ki Tunjungbiru
tertawa riang, "Nah, percaya tidak? Aku pandai menyulapmu menjadi seorang
manusia baru. Benar-benar manusia baru!"


Sangaji belum mampu berbicara. Seperti terbungkam. Sebenarnya cukuplah
jelas keterangan Ki Tunjungbiru. Orang tak gampang mendapatkan madu tabuan
Tunjungbiru. Seandainya tidak secara kebetulan, bagaimana dia akan mengenal
macam madu demikian. Gntuk ini sudah sepatutnya dia berterimakasih. Tetapi
hati Sangaji seolah-olah minta pertanggungjawaban si orang tua. Semua
kebajikan-kebajikan yang diberikan kepadanya dipandangnya sebagai
semestinya. Tetapi tiga hari kemudian hatinya berbicara lain. Tubuhnya kini
terasa ringan dan dapat bergerak dengan leluasa. Hanya di sudut-sudut
tertentu masih ada rasa nyeri seakan-akan terjadi keruwetan pada
urat-uratnya. Ia membutuhkan petunjuk-petunjuk lagi.


Pada malam hari keempat ia duduk berjuntai di atas bukit karang, la
mengharap kedatangan Ki Tunjungbiru. Harapannya ternyata terkabul, la
melihat perahu melaju melanda gelombang. Seperti dulu perahu itu berhenti
kira-kira berjarak dua puluh langkah dari pantai.


"Sangaji! Itu kamu?"


Sangaji menyahut dengan nada girang. "Bagus! Nah, melompatlah!"


Sangaji mundur selangkah dan melompat. Di luar dugaannya, tubuhnya dapat
terbang gesit dan hinggap di atas perahu hingga bergoyangan.


"Bagus!" seru Ki Tunjungbiru. "Apa kataku, kamu sekarang menjadi manusia
lain." Sangaji girang bukan main. Inginnya ia mencoba lagi, karena hatinya
tak mau percaya pada kesanggupannya.


"Ayolah berpesiar lagi," kata Ki Tunjungbiru. "Malam ini sengaja aku
mencarimu. Aku ingin kaupertemukan dengan guru-gurumu, agar mereka tak
salah terima. Aku tahu dengan pasti, kalau kemajuanmu akan maju pesat di
luar dugaan kedua gurumu. Hal itu akan menimbulkan kecurigaannya. Aku
khawatir kedua gurumu akan menyusahkanmu. Karena itu buru-buru aku datang.
Aih, tak kusangka kamu pun mengharap kedatanganku, Ini namanya pucuk
dicinta ulam tiba."


"Berpesiar ke mana?"


"Tidak lagi ke Pulau Edam. Ayo, kita berlatih di jauh sana. Kulihat kamu
belum bisa wajar menya-lurkan keringanan dan kekuatan tubuhmu."


Mereka mendarat di pantai sebelah timur. Sangaji kemudian dibawa masuk
pedalaman. Apabila telah diketemukan sebuah bukit batu, Ki Tunjungbiru
berkata memerintah. "Seumpama kamu sekarang telah menyimpan bendungan air,
seharusnya kamu mengerti cara menyalurkan. Kalau tidak, dirimu bisa terusak
dari dalam. Sekarang dengarkan! Mulai malam ini kamu harus menghapalkan dua
belas patah kataku."


"Apa itu?"


"Sebelum tidur hendaklah kau ingat-ingat dua belas kata mukjizat ini.
Tenangkan pikiran— lupakan perasaan—kosongkan tubuhmu—salurkan hawa—matikan
hati—hidupkan semangat! Nah, hapalkan!"


Gampang saja Sangaji menghapalkan dua belas kata-kata itu. Tetapi untuk
dapat mengerti artinya tidaklah mudah. Maka ia dilatih bertidur-an, dan
diberi petunjuk cara-cara mengatur napas dan menyalurkan hawa.


"Sekarang mulailah!"




Sangaji menurut, la mencoba dan mencoba. Mula-mula pikirannya masih saja
tergoncang dan mudah dipengaruhi sesuatu yang gemerisik di luar. la mencoba
melawan dan mengatasi gejolaknya. Lambat laun ia dapat menguasai, meskipun
belum sepenuhnya. Ia terus berusaha sampai tidur lelap. Tanpa disadarinya
fajar hari membangunkan dirinya. Dan Ki Tunjungbiru ternyata tidak lagi di
dekatnya.


Semenjak malam itu ia terus berlatih. Sekarang seluruh tubuhnya terasa
nyaman dan mantap. Pelajaran-pelajaran kedua gurunya dapat dilakukan tanpa
mengalami kesulitan. Wirapati dan Jaga Saradenta gembira menyaksikan
kemajuannya. Mereka mengira, kalau kemajuannya itu diperolehnya berkat
kerajinan dan keuletannya.


Dan tahun 1804 hampir di ambang pintu. Kemajuan Sangaji bukan main
hebatnya. Pernah Wirapati dan Jaga Saradenda melatihnya satu hari penuh dan
berganti-ganti, namun ia nampak segar-bugar. Hal itu mengejutkan mereka berdua.


"Ini aneh," kata Jaga Saradenta. "Dari mana ia mendapatkan keuletan dan
kekuatan luar biasa itu? Napasnya tak nampak mengasur. Gerak-geriknya tak
nampak berubah. Menurutmu bagaimana?"


"Terus terang aku tak bisa menduganya," sahut Wirapati. "Baiklah besok akan
kucoba. Jika benar-benar ia mendapatkan pelajaran di samping kita, sudahlah
berarti gagal. Kita tak jujur lagi mempertandingkan dia dengan anak asuhan
Ki Hajar Karangpandan."


Keesokan harinya pada tengah hari, Wirapati dan Jaga Saradenta mengundang
Sangaji datang ke pondokannya. Mereka nampak girang. Meja penuh dengan
panganan dan masakan hangat.


"Apa guru sedang berpesta?" tanya Sangaji heran.


"Benar! inilah hari ulang tahunku ke-35," sahut Wirapati membohong. "Hari
ini aku ingin menilik kecakapanmu untuk menggirangkan hatiku. Kemarilah!"


"Di dalam rumah?" Sangaji menegas.


"Di mana saja jadilah. Sebab di mana saja orang bisa bertemu musuh yang
menyerang dengan tiba-tiba. Bidang ciut atau lebar bukanlah soal lagi,"
kata Wirapati.


Setelah itu dengan kesehatan mengagumkan Wirapati menyerang sungguh-sungguh.


Sangaji terperanjat. Cepat ia mundur sampai ke dinding. Hatinya terpukul,
tatkala melihat tinju gurunya hampir mengenai dada. Buru-buru ia menangkis.
Semua gerakan khas dari kedua gurunya. Karena itu Wirapati mengelak dan
meneruskan serangan dengan jurus lain.


Kali ini Sangaji kalah cepat. Dadanya terpukul. Tetapi tenaga Wirapati
mendadak hilang seperti terhisap. Karena peristiwa itu baik Sangaji maupun
Wirapati tercengang sejenak. Sekonyong-konyong Jaga Saradenta datang
menghampiri dan membentak. "Dengan diam-diam kamu berguru dengan orang
lain. Mengapa kamu merendahkan kami berdua?"


Dituduh demikian Sangaji terperanjat. Dengan pucat lesi ia menjawab sambil
bertekuk lutut. "Aku tak pernah menerima ajaran orang lain, kecuali guru
dan kakak angkatku Willem Erbefeld. ltupun hanya ajaran menembak pistol,
senapan dan naik kuda. Ajaran pedang yang sebenarnya hendak diajarkan
terpaksa dibatalkan karena pesan guru."


Sangaji berkata dengan jujur. Memang ia tak pernah mendapat ajaran ilmu
dari Ki Tanjung-biru, kecuali menerima petunjuk-petunjuk cara bersemedi dan
berkat mukjizat pohon sakti Dewadaru.


"Hai, masih saja kamu berdusta?" damprat Jaga Saradenta garang. Sangaji
menangis. Air matanya bercucuran keluar.


"Guru memperlakukan aku seperti anak sendiri, bagaimana aku berani berdusta."


"Lalu? Darimana kamu mendapat kepandaian itu?" desak Jaga Saradenta. la
benar-benar gusar sampai kumisnya bergetaran. "Kamu pandai menghisap tenaga
pukulan!"


"Menghisap tenaga pukulan?" Sangaji heran bukan kepalang.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar