_MENIKAH DENGAN SETAN_
#PART2
______________
SATU BULAN SEBELUM
Alunan ayat suci sendu terdengar di tengah keheningan malam. Gelapnya malam
tak terlalu tampak dengan tertutupnya jendela dengan kain tipis berwarna
putih dikamarnya. Cahaya lampu menjadi begitu mempesona ketika malam tanpa
mentari dan hanya rembulan yang datang dengan sinar tanpa silau.
Mulut Halimah semangat melantunkan ayat-ayat Tuhan, tak sedikit yang
mengatakan suaranya terdengar amat merdu, ia terkenal didesanya sebagai
guru ngaji di surau masjid Pendopo desa, 5 kali dalam seminggu ia mengajar
setiap harinya, dan ia harus mengayuh sepeda menuju surau yang kurang lebih
10 kilometer dari rumahnya, melewati lembah perbukitan lalu turun mengikuti
arus sungai mengalir.
Desanya memang sangat terpencil, setiap warga pasti memiliki kendaraan roda
dua tak bermesin, hanya orang-orang mampu dan sugih(kaya) saja yang mampu
membeli kendaraan bermesin.
Desa kecil di kaki gunung lawu ini adalah desa terakhir dari semua desa
yang menuju kekota, udaranya sangat dingin kadang kabut datang lebih awal
dari semestinya, pukul delapan malam kabut-kabut itu akan berkumpul
membuyarkan pandangan, tak satupun warga desa yang berani keluar dari
rumah, mereka sibuk bershalawat, bertasbih, dan ada pula yang bersemedi,
mandi kembang dan banyak lagi ritual lainnya yang dilakukan saat malam
sudah menjemput.
Halimah konsisten, sehabis Isya ia habiskan waktunya untuk menderes bacaan
quraannya dirumah bersama dua adik laki-lakinya dan ibunya yang renta.
Malam itu langit cerah bintang tersenyum menyambut alunan suaranya yang
merdu, bulanpun meruncingkan sabitnya dan membentuk sebuah lengkungan indah
untuk menunjukkan indahnya kebesaran Tuhan.
""shadaqallahul Adzim" (Maha benar Allah Yang Maha Agung ...) Ucapnya
terakhir seraya mencium mushaf bersampul emas yang ada digenggamannya.
"Nduk.., kenapa kamu berhenti nduk… ?" teriak ibunya dari ruang tengah, ia
sedang sibuk menjahit dan kedua adiknya sedang sibuk belajar. Tak ada TV
dirumahnya yang bisa membantu hari-hari mereka ceria. Hanya ada beberapa
tumpuk buku peninggalan ayahnya, mesin jahit tua milik ibunya dan dua buah
sepeda ontel satu miliknya, dan yang satu milik mendiang Ayahnya yang
sekarang dipakai Sur dan Dwi kedua adiknya.
"Sebentar lagi Ustad Haikal mau datang bue" Jawabnya girang.
"Loh ada apa Ustad Haikal datang malam-malam nduk?"
"Ada yang mau dibicarakan katanya bue, sama bue dan aku."
"Wah serius banget toh?, kamu sms dia nduk jangan malam-malam tidak enak
dengan tetangga."
"Nggih bue."
Tak lama suara motor terdengar tiba di pekarangan mereka, kebanyakan orang
kampung masih mengendarai RX King, suaranya memang kurang enak terdengar
namun tarikannya untuk melewati perbukitan perlu diberikan bintang. Ustad
Haikal turun dari motor, ia bersama ustad Sholih pengurus surau tempat
Halimah mengajar., lalu kemudian Faisal sahabatnya menyusul dari belakang.
"Assalamualaikum.." Suaranya yang tebal itu terdengar, menggetarkan hati
Halimah yang sedang bersiap memilih kerudung terbaik.
"Waalaikumsalam."jawab bu Nun, menyambut mereka dengan senyuman yang
hangat. Suasana malam itu begitu syahdu.
"Nduk, ada tamu.."
"Nggih bue." Halimah keluar dengan membawakan dua buah cangkir teh hangat
dan menyajikannya diatas meja, Halimah mengenakan kerudung berwarna putih,
wajahnya terlihat begitu ayu, bulu matanya yang lentik, juga bibirnya yang
mungil mampu membuat aliran darah laki-laki menjadi panas melihatnya.
Haikal memandanginya sejak ia masuk dari ruang tengah menuju ruang depan,
ia sungguh terkesima dengan kecantikan Halimah yang sebelumnya tidak pernah
bersolek, jangankan gincu bedakpun barang kali tak pernah ia pakai.
"Diminum mas." Ucapnya suaranya terdengar bening.
"Oh iya.. " Haikal gugup mengambil cangkir yang sudah ia bawa.
Haikal adalah Putra dari Pak Anggoro Saputra keluarga ningrat didesa
mereka, ia sudah menaruh hati sejak lama oleh Halimah, setiap hari ia
datang mengunjungi Halimah ke Surau bersama sahabatnya Faisal, pertama kali
ia mengenalnya saat Halimah mengajukan diri untuk mengajar disurau tempat
ia bekerja. Saat itu ia baru menyelesaikan studinya di Mesir, satu-satunya
putra desa terbaik yang mendapat gelar Lc.
"Langsung saja bu Dasinun, kedatangan saya kemari bermaksud baik, ingin
bermaksud menyempurnakan agama Allah, saya membawa Ustad Sholih juga
sahabat saya untuk bisa menyaksikan, bahwa saya Haikal Saputra bermaksud
ingin melamar putri ibu, ingin menjadikan ia istri saya, ingin bermaksud
memindahkan semua beban dipundaknya ke pundak saya, ingin bermaksud berbagi
keceriaan juga kesedihan bersamanya" Jelasnya menunduk malu, sesekali ia
memandang wajah Halimah dari cermin kaca meja yang memantul karena cahaya
lampu malam yang menderang.
Mata Dasinun berkaca-kaca, wanita yang tak lagi muda itu sangat terharu
mendengar perkataannya, ia tak menyangka putrinya yang hanya seorang guru
ngaji dan putri dari seorang tukang jahit bisa dilamar oleh putra ningrat
lulusan Mesir pula. Dasinun menatap kedua mata putrinya itu, Halimah menangis
"Semua tergantung kamu, kamu menerima?" tanyanya terisak.
"InsyaAllah.. Halimah terima bue.."
"Alhamdulillah..!" Semua mengucap syukur pada keagungan Allah, Haru juga
senang bercampur aduk menjadi satu.
Sesekali mata mereka bertemu, dan aliran darah pun langsung panas, hati
berdesir parah, sepasang manusia itu sudah tak sabar ingin memadu kasih.
"Lalu kapan, Mas Haikal mau membawa keluarga kesini?"
"Rencananya tidak usah lama-lama, bue. Semua keluarga saya sudah setuju
dengan Halimah, insyaAllah jika Halimah mau bulan depan kami sudah bisa
melangsungkan akad nikah, bue tidak perlu memikirkan biayanya, semua biaya
keluarga kami yang akan menanggungnya." Terangnya kembali membuat hati
Halimah semakin berbunga-bunga.
"MasyaAllah..!" Dasinun mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, pipinya
basah mendengar rencana yang ditarakan laki-laki bertubuh tegap itu.
"Kalo gitu, Bue ikut saja. Bue doakan semoga lancar hingga hari pernikahan."
Pertemuan sakral itu pun berakhir, Halimah mengantar Haikal kedepan rumah.
Wajahnya masih menunduk malu, ia tak sanggup melihat wajah Haikal yang
sejak tadi serius mengamatinya.
"Dek.. insyaAllah besok mas akan pergi untuk menjemput Bue mas di Jakarta,
tidak lama dari itu kita akan segera menikah." Ucapnya yakin.
"Nggih mas." Jawabnya lembut, mendengarnya jantung Haikal berdegup kencang,
bisikan setan mengalir dialiran darahnya memaksanya untuk segera memeluk
tubuh mungil itu.
"Astagfirullah"Batinnya berbisik
"Mas pulang dulu ya.., Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
***
Hujan mengguyur pagi hari yang elok. membuat hari semakin dingin. begitu
dingin sekali. Halimah terbangun ia menyiapkan sarapan sebelum adzan subuh
berkumandang, setelah itu adik-adiknya ia bangunkan begitupun ibunya yang
selalu terlihat lelap dalam tidurnya, dan sesekali ia membersihkan kotoran
- kotoran yang menyelip di sebuah indra pengeliatan Dasinun ibunya.
Adzan shubuh berkumandang, mereka sholat berjamaah setelahnya mereka
berdzikir, bershalawat memohon pertolongan juga rahmat pada sang pemilik
bumi. Tak lama Matahari menebarkan cahayanya, rumput-rumput merekah,
pepohonan mulai menampakkan siluet indahnya melalui bayangan yang tergambar
ditanah, dingin itu rindu akan hangat, mereka rindu kehadiran matahari
menghangatkan setiap tubuh mereka yang menggigil semalaman.
"Alhamdulillahirobbilalamin.." Bisik Halimah dalam hati. Ia pun mulai
melanjutkan aktivitasnya, ia mengayuh sepedanya dengan penuh semangat,
jalan-jalan itu sudah dipenuhi dengan petani yang berjalan menuju ladang
mereka masing-masing.
"Assalamualaikum bu guru..!" Sapa mereka dari jauh.
"Waalaikumsalam, .." jawabnya dengan senyum yang merekah.
Ini adalah aktivitas hari-harinya, setiap hari ia harus melewati
jalan-jalan perbukitan, untuk bisa sampai di Surau tempatnya mengajar, dua
kilometer dari rumahnya ia pasti akan bertemu dengan anak –anak nakal yang
bergerombol memanjat sebuah rumah tua persis diujung jalan mereka hanya
memanjat lalu berteriak dengan kencang "Woi .. Setan Metuu (keluar)..!"
"Wusss,,,turun,,,!" Halimah berteriak , ia turun dari sepedanya dan
mengusir mereka. Rumah itu sangat besar dan berada persis diatas
perbukitan, sehingga Nampak seperti istana jika dilihat dari jauh, Halimah
tau rumah ini ada penghuninya, pernah sekali ia merasa melihat seorang
laki-laki berdiri di kaca jendela kamar lantai dua. Warga desa menyebutnya
penampakan.
Menurut informasi yang ia dapat dari warga desa, laki-laki yang tinggal
didalam gedong tua itu adalah jelmaan jin, yang akan keluar setiap jam
delapan malam, jam dimana semua warga desa sudah masuk rumah, orang yang
berjumpa dengannya pasti akan sial, hidupnya akan sengsara dijauhi banyak
orang dan akan mati secara menyedihkan. Halimah adalah satu-satunya dari
warga desa yang tak mempercai hal tersebut, baginya desanya sudah tercemar
dengan banyaknya ajaran-ajaran perdukunan. Sehingga argument-argument
tentang gembala jin, mandi kembang, babi ngepet sudah sering ia dengar.
"Haduuh…" Seperti biasa, ia mengangkut bebatuan yang berada persis di muka
gerbang rumah tua itu, batu-batuan yang setiap hari anak-anak nakal itu
lemparkan. Bulu kuduknya merinding, jantungnya berdegup kencang , lagi-lagi
ia merasa ia sedang diperhatikan dari arah jendela kamar lantai dua.
"Assalamualaikum Halimah.." Sapa seseorang memegang pundaknya,
"Hah!" spontan ia teriak ketakutan "Faisal.?" Jawabnya seraya memegang
pundaknya yang baru saja ia sentuh.
"Oh maaf Halimah, saya lupa kalo kita bukan mahrom, maafkan saya saya sudah
terbiasa menyapa teman-teman saya di Jakarta seperti itu."
"Iya tidak apa-apa."
"Halimah." Sapanya kembali,
"Ada apa?"tubuhnya mendekat, batinnya berbisik apa yang hendak ia lakukan.
"Ngga apa-apa, kamu sangat cantik, Haikal dan kamu sangat cocok."
Halimah tersenyum tipis, "terimakasih, Saya pamit ya mas faisal" wanita itu
kembali mengayuh sepedanya, dan meninggalkan Faisal juga gedong tua yang
penuh dengan misteri.
Hampir setiap hari saat Halimah melewati Gedong tua itu ada perasaan takut
yang amat mendalam, ia merasa seseorang sedang memperhatikannya, laki-laki
bertubuh besar itu seperti sedang menatapnya dari jauh, ia hanya berharap
jika mitos itu benar, semoga kebaikannya setiap hari untuk membersihkan
bebatuan di depan gerbang rumahnya bisa menjauhkannya dari kesialan.
Halimah terburu-buru, ia mengayuh dengan cepat dan benar apa yang ia
rasakan laki-laki yang orang bilang jelmaan jin itu sejak tadi berdiri
memperhatikannya dari jauh, pandanngannya kosong dan ada kebencian
diwajahnya, kegelapan menyelimuti wajahnya.
#bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar