3.11.2019

@Bende mataram@ Episode 002 Seri 3

@Bende mataram@


Episode 002
Seri 3


"Mengapa?"


"Mengapa?" ulangnya. "Karena mereka membawa benda ini. Kautahu, kedua benda
ini mula-mula tersimpan baik-baik di museum Belanda di Jakarta. Orang-orang
yang gila kekayaan dan martabat, sudah hampir melupakan adanya benda itu.
Tapi apa yang terjadi? Keturunan Sultan Cirebon datang ke Jakarta untuk
minta dihadiahkan kedua benda ini kepadanya. Nah semenjak itu, terjadilah
keributan-keributan lagi. Kedua benda ini dengan cepat berpindah tangan.
Mereka saling membunuh, memfitnah dan meracun. Mereka bersedia berhamba
pada Belanda, asalkan saja dapat memiliki. Cuh, aku tak bisa memberi tempat
hidup bagi manusia-manusia serendah itu?"


Tertarik kepada keterangan Hajar Karangpandan, kedua orang itu lantas saja
duduk mendekat.


"Apa untungnya memiliki benda ini?" kata Wayan Suage.


"Tanyalah pada setan dan iblis! Kata mereka, barang siapa yang memiliki
kedua benda ini akan dapat memerintah seluruh Nusantara. Dia akan sakti,
kebal dan berpengaruh. Setiap katanya akan didengar oleh sekalian raja-raja
di kepulauan Nusantara ini. Hah… bukankah itu omong kosong belaka?"


Wayan Suage dan Made Tantre bertambah tertarik hatinya. Dengan cermat
mereka mengamat-ngamati kedua benda itu. Yang disebut Bende Mataram, adalah
sebuah canang terbuat dari perunggu agak kehitam-hitaman. Benda itu
berkesan kuno. Sedangkan keris Tunggulmanik tak beda de¬ngan keris-keris
yang lazim dikenakan orang-orang Jawa. Bentuknya panjang lurus.


"Nah… apa yang istimewa dari kedua benda ini," kata Hajar Karangpandan.
"Meskipun demikian orang-orang yang gila nama saling berebut dengan
sungguh-sungguh."


"Tetapi bagaimanakah pendapat Tuan?" potong Made Tantre.


Hajar Karangpandan menarik napas dalam. Selagi ia hendak berkata, tiba-tiba
Sapartinah muncul dari ambang pintu dapur membawa niru penuh masakan. Asap
kuahnya meluap ke udara dan menyebarkan bau harum segar.


"Ah! Masakan apa itu?" Hajar Karangpandan mengalihkan pembicaraan.
Dikibas-kibaskan pakaiannya yang basah kuyup kemudian memperbaiki duduknya.


Wayan Suage dan Made Tantre cepat-cepat mengurungkan niatnya hendak
mendengarkan pendapat tamunya. Mereka berdiri serentak dan menyambut niru.
Diletakkanlah di atas meja dengan penuh nafsu. Sangaji dan Sanjaya datang
merubung.


"Sabar, sabar! Tunggu nasinya dulu. Baru kita makan bersama," dengus Wayan
Suage.


Sebentar kemudian Rukmini datang menghantarkan sebakul nasi. Dan tanpa
dipersilakan lagi, masing-masing telah melebarkan mulut menggerumuti
masakan hangat. Udara di kala itu, dingin basah. Hujan belum juga berhenti.
Karena itu, masakan sehangat itu benar-benar nikmat.


Sangaji dan Sanjaya ikut makan pula. Mereka berdua tidak takut lagi kepada
tamu¬nya yang galak. Mereka bahkan berani mendekati dan Hajar Karangpandan
bersikap ramah menyenangkan. Dengan jari-jarinya yang kuat ia membelah
ingkung ayam , kemudian dibaginya amat cekatan. Ia kelihatan gembira dan
tak segan-segan pula. Menyaksikan perubahan sikapnya Wayan Suage dan Made
Tantre diam-diam bersyukur dalam hati.


"Tentang kedua benda ini, menurut pendapatku tak lebih dan benda-benda kuno
lainnya," ujar Hajar Karangpandan tak terduga.
"Sayang, aku bukan keturunan priyayi atau begundal negeri. Seumpamanya aku
keturunan seorang priyayi atau salah seorang begundal negeripun, agaknya
usiaku tak mengijinkan memimpikan kekuasaan yang bukan-bukan. Kautahu, aku
seorang pendeta. Eh, apa tampangku sama sekali tak mirip dengan seorang
pendeta? Baiklah, setidaknya ada cita-citaku untuk jadi seorang pendeta."


la berhenti mendongakkan kepalanya. Dahinya mengerinyit seolah-olah sedang
teringat pada sesuatu yang mengerikan. Tak lama kemudian ia tertawa perlahan.
"Masakan ini sedap dan enak. Meskipun tak puny a uang, aku akan berusaha
membayar."


"Tidak, tidak," Wayan Suage dan Made Tantre berkata berbareng. "Tuan kami
undang berpesta."


Hajar Karangpandan tertawa. "Sepuluh tahun yang lalu, tak mau aku membayar
makanan yang disuguhkan padaku! Kalau aku mengemplang botak penyuguhnya,
sudah untung." la berhenti mengesankan. Meneruskan, "aku seorang jahanam.
Sudah terlalu banyak menyusahkan orang-orang yang mencoba berlaku baik
kepadaku. Sebab aku terlalu curiga kepada siapa saja. Aku terlalu benci
melihat kelemahan orang."


"Tapi demi persahabatan, kami tak dapat menerima bayaran," bantah Wayan Suage.


"Tentang mengapa Tuan selalu bercuriga kepada orang-orang yang Tuan jumpai,
apa peduliku?"


Hajar Karangpandan heran mendengar ujar Wayan Suage. Seperti kepada dirinya
sendiri ia berkata, "Kalau kamu berkata demikian pada beberapa tahun yang
lalu, tanganku sudah melayang ke mukamu. Sebab aku benci kepa¬da orang yang
berani membantah kemauanku."


Made Tantre yang semenjak tadi berkesan kurang baik kepadanya, tiba-tiba
menyahut sambil berdiri tegak.


"Eh, apakah dunia ini hanya Tuan seorang yang merasa diri seorang
laki-laki? Kami pun laki-laki."


"Bagus! Justru kamu seorang laki-laki, aku mau membayar makanan ini. Apa
salahnya? Nan dengarkan! Aku tak beruang, tapi aku mempunyai dua benda ini.
Apakah kedua benda ini cukup berharga untuk kubayarkan padamu?"


Made Tantre tergugu mendengar keterangannya. Matanya dilemparkan kepada
Wayan Suage minta pertimbangan. Wayan Suage ter¬gugu pula. Maklumlah, sama
sekali dia tak mengira kalau kedua benda itu akan diberikan sebagai alat
pembayaran.


"Tuan," katanya hati-hati. "Sungguh…. dengan hati selapang-lapangnya aku
tak mengharapkan balas jasa berupa apa pun juga. Apa Tuan kuatir, pesta
yang kami adakan kali ini seperti suatu jebakan seperti tuduhan semula,
agar Tuan berhutang budi pada kami? Kuminta singkirkan dugaan yang
bukan-bukan itu!"


"Aku salah seorang yang selama hidupku tak mau berhutang budi, kepada siapa
pun juga. Akupun seorang yang tak mau pula memberi hutang budi kepada siapa
pun. Kedua benda ini kuberikan kepada kalian, sebagai bayaran. Inilah
pengganti terima kasihku. Dimanakah ada persoalan balas budi?"


Wayan Suage terdiam, sedangkan Made Tantre masih saja berdiri tegak. Tak
sanggup lagi mereka berlawanan berbicara dengan tamunya. Tetapi mereka
seia-sekata tak dapat menerima kedua benda sebagai pembayar hidangan. Ini
tabu bagi mereka berdua.


Hajar Karangpandan agaknya tahu membaca gejolak hatinya. Dengan
merenggutkan sekerat daging, ia berkata, "Baiklah. Apa kalian menolak kedua
benda ini karena bukan milikku? Oho... Siapa pula yang berhak bilang kalau
kedua benda ini miliknya? Selain Pa-ngeran Semono yang hidup entah ribuan
tahun yang lalu tidak berhak berkata demikian. Karena itu pula, tiap orang
berhak memiliki dengan sah. Sekarang kedua benda ini ada padaku. Nah,
akulah pemiliknya. Aku pulalah ahli waris Pangeran Semono. Kuberikan kepada
siapa saja, tidak seorang pun yang akan mem-bantah. Kecuali bangsa tikus
dan cecurut."


Mendadak dia berdiri dan menyambar kedua benda itu. Kemudian diberikan
kepada Sangaji dan Sanjaya, masing-masing sebuah.


"Orangtua kalian tolol dan tak pandai berpikir. Nah, kepadamu berdua
benda-benda ini kuberikan," katanya. Kemudian menoleh kepada Wayan Suage
dan Made Tantre.


"Siapa nama mereka?"


Wayan Suage dan Made Tantre diam berbimbang-bimbang.


"Jawablah! Siapa nama mereka!" Hajar Karangpandan membentak.


Terpaksa Wayan Suage menjawab, "Mereka bernama Sangaji dan Sanjaya."


"Yang mana yang Sangaji dan yang mana Sanjaya?"


Wayan Suage memperkenalkan masing-masing. Setelah itu, dia bersiaga menolak
pemberian itu. Tetapi Hajar Karangpandan mendahului.


"Kali ini jangan kautentang maksudku. Kehormatan diriku akan tersinggung."


Mendengar ucapannya yang bernada sung-guh-sungguh, tak berani dia melawan.
Terpaksalah dia tegak seperti patung menyaksikan Hajar Karangpandan membagi
kedua bendanya kepada anak-anak. Terdengar Hajar Karangpandan berkata
mengesankan.


"Kedua benda ini pusaka Pulau Jawa yang keramat. Kalian berdua yang
beruntung memiliki. Kata orang, barang siapa memiliki kedua benda itu akan
dapat memerintah raja-raja seluruh Nusantara. Aku sudah terlalu tua untuk
memimpikan martabat itu. Kupujikan kini padamu sekalian, semoga kalian akan
menjadi penguasa kepulauan Nusantara di kemudian hari. Sanjaya, kuberikan
Keris Kyai Tunggulmanik agar kamu kelak menjadi seorang pahlawan tiada tara."


Kedua anak itu surut mundur. Mereka takut menghadapi raut muka Hajar
Karangpandan yang sungguh-sungguh. Gundu matanya mencari orangtuanya
masing-masing. Tiba-tiba terdengarlah suatu kesibukan di luar rumah. Tujuh
orang laki-laki datang memasuki halaman, sambil berseru, "Hai pendeta
busuk! Biar kaulari sampai ke ujung langit. Takkan mungkin terluput dari
pengamatan kami. Hayo serahkan!"


Mendengar seruan itu, Hajar Karangpandan meloncat dari kursi dan tiba-tiba
saja telah berada di depan ambang pintu. Gerakan itu sangat gesit, sehingga
Wayan Suage dan Made Tantre tergugu heran.


"In! Kiranya kamu bangsa cecurut berani mengikuti aku," bentak Hajar
Karanpandan. "Jadi kalian masih saja menginginkan kedua benda itu?"


Seorang berperawakan pendek gemuk yang rupanya menjadi pimpinan mereka
lantas datang menghampiri.


"Aku bernama Gandi. Aku diperintahkan pemimpin kami untuk membawa pulang
benda itu. Kauserahkan tidak?"


"Mengapa harus kuserahkan?"


"Kedua benda itu milik kami turun-temurun."


"Cuh!" Hajar Karangpandan meludah ke tanah. "Kaukira apa aku ini sampai
macam tampangmu berani mengelabui mataku. Katakan kepada pimpinanmu, kalau
kedua benda itu bukan milik siapa pun juga. Orang bilang, kedua benda itu
milik Belanda. Kemudian diberikan kepada anak keturunan Sultan Cirebon,
asalkan mereka bersedia men jadi hamba Belanda. Kemudian entah bagai mana
kalian berhasil merampas. Atau karena bersedia menjadi begundal Belanda?
Cuh! Alangkah rendah kalian. Aku seorang tua mana bisa membiarkan kamu
mengangkat diri menjadi majikan?"


"Lantas?" bentak si pendek gemuk.


"Siapa saja boleh memiliki, asalkan dapat mempertahankan diri. Aku telah
merampas kedua benda itu dari tangan kalian, nah akulah pemiliknya.
Sekarang apa yang kalian kehendaki?"


"Serahkan!"


"Ambillah kalau mampu."


Mendengar tantangan Hajar Karangpandan, salah seorang dari rombongan
pendatang itu menyerang dengan tiba-tiba. Hajar Karang¬pandan meloncat ke
samping. Tetapi Gandi si pendek gemuk ikut menggencet dari samping.


Hajar Karangpandan terkejut. Meskipun demikian, ia tidak nampak berusaha
membebaskan diri. Sengaja ia ingin memperlihatkan kekuatan tubuhnya.
Pukulan si pendek gemuk dibiarkan mendarat didadanya. Tubuhnya tak
bergetar. Sebaliknya si pendek gemuk mengaduh kesakitan. Kaget ia mundur
selangkah. Kemudian dengan mengajak teman-temannya, ia meninju dan
mengirimkan tendangan bertubi-tubi.


Hajar Karangpandan tetap tak bergerak dan tempatnya.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar