3.11.2019

_MENIKAH DENGAN SETAN_ _________________ Part 3




_MENIKAH DENGAN SETAN_


_________________
Part 3


Tiga malam berlalu, Halimah berdiri didepan rumah, ia memandangi bulan.
Rasanya ia ingin sekali berteriak pada bulan untuk menyampaikan rindunya
yang teramat dalam pada laki-laki pujaan hatinya, kadang ia diam, kadang ia
berpuisi, kadang ia tersenyum, kadang ia menangis. Halimah Gadis desa itu
sedang dimabuk cinta, ia sangat begitu mengharapkan kehadiran Haikal
dihadapannya.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam Ayu!" Sahabat dekatnya itu datang mengunjunginya, Ayu
adalah putri dari Kepala Desa, ia sahabat dekatnya sejak SMP.


"ya Allah, kamu tau saja sahabatmu ini lagi pusing."


"Hmm.."Jawabnya dengan bibir menyungging satu keatas.


"Kamu kenapa yu? Malam-malam begini."


"Halimah, aku sudah tahu kedekatanmu dengan Haikal. Baiknya kamu tinggalkan
Haikal."


"Loh kenapa yu? Mas Haikal sudah melamarku yu, insyaAllah bulan depan kami
menikah!" tegasnya.


"Aku hanya khawatir terjadi sesuatu denganmu mah."


"Kenapa?"


"Baiknya kamu tinggalkan saja dia."


"Ngga yu, ngga akan."


"Kalau begitu kamu hati-hati ya." Jawabnya memperingati seraya meninggalkan
Halimah didalam keheningan malam.


Halimah sedikit khawatir dengan ucapan Ayu barusan, hanya saja ia meyakini
barang kali Ayu hanya ingin menyampaikan pesan, bahwa keluarganya dengan
keluarga Haikal tak semapan, atau mungkin Ayu cemburu.


"Bismillah." Gusar Halimah dalam hati.


Halimah tak bisa tidur memikirkan sikap Ayu padanya semalam, kenapa wanita
itu menyuruh untuk berhati-hati, apa yang akan terjadi jika ia tetap
menikah dengan Haikal. Halimah bangun dari tidurnya ia berdoa di sepertiga
malam memohon keselamatan baginya juga laki-laki yang hendak akan menikahinya.


Pagi hari, aktivitasnya berjalan seperti biasa ia membuat sarapan,
membereskan rumah, sholat subuh, lalu berangkat kerja, saat matahari sudah
menunjukkan keperkasaannya, ia kembali mengayuh sepeda. Hari itu sinar
matahari tidak begitu terang, cahayanya tertutupi oleh gumpalan awan Yang
terbentui sangat Indah. Mendung , namun tak Ada tanda-tanda lain Akan
turunnya hujan, Halimah terus mengayuh sepeda Tak lupa ia melemparkan
senyum pada setiap warga Yang melintas dihadapannya, dan kemudian seperti
biasa ia akan berjumpa dengan beberapa anak yang bermain di Gedong tua
sambil berteriak-teriak


"Setaan..metuu, Setan metuu"(setan keluar, setan keluar).


Seperti biasa ia pun mengusir kerusuhan mereka, ia memandang keatas,
melihat gedong tua yang nampak memang tak berpenghuni, rumah itu sangat
besar pantas disebut gedong warna putih pada cat dindingnya sudah berubah
gelap kecoklatan, pepohonan disekitar rimbun bagaikan hutan yang tak
terjamah, dedaunan kering dan sudah dua musim berlalu menumpuk membuat
rumah itu semakin angker dan menakutkan, jika senja tiba kabut akan
berkumpul menyelimuti rumah itu dan tak ada satupun yang berani melewati
rumahnya, hanya mereka yang menggunakan kendaraan beroda empat saja yang
berani melintas didepannya.


Halimah terperangah, ada tirai yang bergerak disalah satu jendela atas
lantai dua, ia sangat kaget dan takut, ia kayuh kembali sepedanya dan
lanjutkan perjalanannya. Tak jauh dari sana rantai sepeda ontel miliknya
terlepas, ia tak bisa melanjutkan perjalanan.


"Innalillahi.. ada ada saja."


Tak ada siapa-siapa di jalan perbukitan itu hanya Halimah dan suara-suara
burung yang sibuk menyambut pagi. Ia sibuk membenarkan rantai sepedanya,
pelan bulu kuduknya berdiri, keringatnya mengucur suara langkah kaki itu
berada persis dibelakangnya. Halimah pun berdiri dan melanjutkan perjalanan
dengan berjalan kaki sambil menggandeng sepedanya disisi kanan, ia berjalan
cepat dan semakin cepat, ia merasa ada yang mengikuti dari belakang. Tak
lama sebuah jeep terlihat dari jauh, mobil jeep yang ia ketahui sering
dikendarai oleh calon suaminya Haikal.


"Halimah,,, hai Halimah.."


"Alhamdulillah.." ia bernafas lega.


"Sepeda kamu kenapa mah?" tanya Faisal yang baru saja turun dari mobil, ia
mengenakan celana jeans, jake jeans juga kaca mata hitam. Tiga hari ini
Faisal menunjukkan sikap aneh padanya, sejujurnya Halimah merasa sangat
terusik dengannya.


"Ayo saya antar.."


"Ngga terimakasih, saya jalan saja."


"Jauh loh mah, 8 km lagi.. kasian murid-murid kamu nanti."
Halimah berfikir ada benarnya, lagian tidak ada salahnya ia menolak bantuan
Faisal sahabat Haikal. Faisal menaikkan sepedanya keatas jeep, lalu ia
membukakan pintu mobil untuknya, Faisal berusaha bersikap mesra padanya.
Tubuhnya sedikit condong kedepan.


"Nanti pulangnya saya jemput lagi saja ya Halimah."


"Tidak perlu mas, dekat pendopo ada bengkel, nanti saya benarkan disana
saja." Jawab Halimah ketus, Faisal pun berlalu meninggalkannya di Surau.


Matahari berdiri sejajar persis diatasnya hari sudah siang, saatnya ia
pulang. Kemalangan satu lagi menimpanya, bengkel langganan tutup, namun tak
jauh dari sana ia melihat mobil jeep yang dikendarai Faisal tadi pagi masih
menunggunya, rasa sungkan juga risih menghampiri dirinya, laki-laki itu
pasti akan keluar dan menawarkan bantuan, Halimah tidak bisa berbuat
apa-apa pelan ia melangkahkan kakinya menuju rumah.


"Halimah.!" teriak Faisal. Benar dugaannya laki-laki itu memanggilnya,


"Ayoo saya antar pulang." . Halimah menarik nafas dan dengan segala
kertepaksaan yang ada ia pun menerima tawarannya. Dijalan arah pulang,
Halimah terus berdoa. Mulut laki-laki itu terus mengoceh mengajaknya
berbicara, ia hanya diam dan mengangguk menjawab pertanyaannya.


Sore hari selepas Ashar, Dasinun pergi mengantarkan jahitan dan dua adik
laki-lakinya belum kembali dari aktivitasnya di sekolah, Halimah sendiri ia
sibukkan diri dengan membereskan rumah juga mencuci pakaian di belakang.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dari arah depan, Halimah sedikit
terperangah, ia bangun dari tempat ia mencuci. "Bue…Sur….Dwi." tak ada
suara yang menyaut, ia berjalan perlahan pintu depannya tertutup, padahal
baru saja ia merasakan ada orang yang masuk kedalam rumahnya.


"Halimah.." suara laki-laki datang dari arah yang tak diduga-duga. Halimah
terkejut ia sangat kaget,


"FAISAL!""" Ucap dia geram, ia menarik tirai yang memisahkan dua ruang itu
untuk menutupi pakaiannya yang melekat karena basah, kepala masih tertutup
rapi dengan hijabnya.


"TIDAK SOPAN KAMU FAISAL, KELUAR KAMU!!" jawab Halimah Murka.


"Relax..Halimah, tidak ada yang tau aku disini, tidak ada yang melihat
kita, jadi kita bebas sayang.." Faisal membuka kancing bajunya satu
persatu, dan perlahan mendekat ke arahnya, wajahnya menunjukkan haus yang
begitu mendalam.


"BIADAB KAMU..,!" Ia melemparkan beberapa barang ke arahnya, dan berlari
kearah keluar untuk meminta pertolongan, ia lihat pintunya tak terkunci ia
bisa bebas dari mangsa Setan berwujud manusia itu, Halimah berlari, Faisal
menarik tubuhnya yang mungil itu ketubuhnya spontan tangisannya pecah
karena takut "TOLONG!!"


Tak lama terdengar suara puluhan warga desa yang menghampiri rumahnya,
mereka datang dengan kebencian diwajah mereka.


"HALIMAH…KELUAR KAMU!", mendengarnya spontan Halimah berlari keluar
"TOLONG!!" teriaknya, puluhan warga sudah menunggu didepan rumah, beberapa
diantaranya ada yang memegang obor, wanita, laki-laki semua berkumpul disana.


"TOLONG., LAKI-LAKI ITU BERUSAHA INGIN MENODAI SAYA PAK.!" teriak Halimah
menjerit ketakutan dan menangis. Faisal keluar dengan keadaan pakaian yang
terbuka, dengan santainya ia berbicara


"BOHONG!!, kami melakukannya karena kami saling menyukai, Halimah terus
menggoda saya, hingga saya khilaf"


"BOHONG! KEJI KAMU FAISAL!" teriaknya memperjelas. Warga terdiam
mempertanyakan kebenaran apa yang baru saja mereka lihat, sebelumnya warga
desa digegerkan dengan berita, bahwa Halimah sedang melakukan perzinahan
dengan Laki-laki kota dirumahnya, entah dari mana kabar angin tersebut,
namun kabarnya sangat membuat murka warga, mereka berduyun-duyun datang
kerumahnya untuk memberikan sanksi akan perbuatannya. Seperti yang mereka
lakukan sebelum sebelumnya, setiap orang yang ketauan melakukan perzinahan,
mereka akan menghukum secara adat warga.


"Jelaskan pada kami Halimah!" teriak suara kepala desa yang baru saja
datang bersama ibu.


Halimah berlari ketakutan kearahnya


"Tolong saya pak, saya berbicara jujur laki-laki itu berusaha ingin menodai
saya!" ucap Halimah, matanya berkaca-kaca ia memohon.


"Ayu… kamu sahabatku kan.. katakan pada mereka, kalau aku tidak berbohong,
yu.." Ayu yang berdiri sejajar dengan Ayahnya itu memalingkan wajah, ia
merogoh tas dan mengeluarkan setumpuk foto lalu memberikannya pada Kepala
Desa. Halimah memperhatikan Ayu, wajahnya membiru Pak Kades bersama warga
yang berdiri persis dibelakangnya melihat dengan sungguh-sungguh foto yang
diberikan Ayu.


"Pembohong kamu Halimah..!"


"Tidaaak saya tidak berbohong..!" Teriaknya menjerit.


"Lalu ini apa Halimah?" Jawab Pak Kades memberikan setumpuk foto-foto
antara dia dengan Faisal.


"Ini Fitnah..Ini Fitnah,… ini tidak benar..!"


Warga yang melihat foto-foto itu naik pitam foto itu adalah foto Halimah
bersama Faisal, entah siapa yang mengambil gambar mereka namun yang jelas
ini seperti jebakan. Warga murka, wajah mereka terlihat sangar tidak ada
kedamaian diwajah mereka hanya kebencian juga kekerasan,


Mereka menarik tirai yang ia pakai untuk menutupi bajunya yang basah,
menampar wajahnya, menjambak hijabnya dan mempermalukan Halimah dihadapan
warga, dan Faisal sekejap menghilang, ia tak lagi berada dikerumunan warga.


"Tidaak..tidaak.. saya mohon..!" teriaknya menjerit pedih ia menangis
terisak-isak berharap ada satu diatara warganya yang iba padanya, Halimah
kacau ia payah hanya Allah saat itu yang sanggup menolongnya.


Warga murka mereka menarik tangannya dan menyeretnya ke jalan, Halimah
menjerit-jerit kesakitan.


"Halimaaaah…!" teriak Dasinun yang baru saja kembali mengantarkan jahitan
dari desa sebelah.


"Ada apa ini bapak-bapak?" jawab Dasinun melindungi putrinya yang lemah tak
berdaya.


"Buee..eeee!" tangisan Halimah pecah dipelukannya, ia sulit bernafas.


"HEI DASINUN!! PUTRIMU TELAH MENCORENG NAMA BAIK KAMPUNG KAMI, IA PANTAS
DIHUKUM!!"


"Tenang bapak-bapak apa yang telah Halimah lakukan hingga ia harus
diperlakukan seperti ini?"


"PUTRIMU ITU PENZINAH, DASINUN!""


"Nggak..itu nggak benar, putri saya putri baik-baik ia tak mungkin
melakukan hal serendah itu.!"


"Kami menyaksikan sendiri Dasinun ia ada didalam bersama laki-laki
berselimutkan tirai!"


Dasinun menatap wajah anaknya "Katakan itu tidak benar, nak…katakan pada
mereka."


Halimah menggelengkan kepala, ia menangis sejadi-jadinya, darah di dahinya
akibat hantaman keras dari warga mengucur menjadi air mata.


"SAYA SANGAT YAKIN PUTRI SAYA TIDAK MELANGGAR NORMA TUHAN!""


"BAKAR SAJA MEREKA!!""


"BAKAR!"


"TIDAK TOLONG SAYA MOHON..!" Wajah Dasinun memelas ia memohon pengampunan
untuk putrinya.


"AHH..!" Bongkahan batu terbang ke arahnya, ia melindungi putrinya, "TIDAAK
SAYA MOHON JANGAN..!"" Halimah berteriak, semangatnya mendadak bangkit ia
melihat wajah ibunya yang sudah dilumuri darah, ia menangis terisak-isak,
semua warga yang mengepungnya melempari mereka dengan batu.


"BERHENTII!!!"" Dua laki-laki itu datang, Dwi juga Sur mereka masih sangat
muda, namun dengan sekuat tenaga mereka melawan warga yang berusaha
menyakiti ibu dan kakak perempuannya, "HENTIKAN!" teriak mereka, warga
melakukan perlawanan begitupun mereka, suasana menjadi semakin mengerikan
saat seseorang berteriak


"BAKAR RUMAH MEREKA, BAKAR TEMPAT YANG SUDAH DIJADIKAN SARANG DOSA!"
BAKAAAAR!" teriak mereka, dan beberapa dari mereka melemparkan obor ke arah
rumah Halimah,


"TIDAAAK.." Halimah menjerit.. Mereka tak berdaya, mereka terdiam saat
melihat rumahnya habis dilahap api, kenangan akan Ayahnya dilahap abis oleh
api entah kemalangan apa ini, Halimah menangis sesegukan, Dasinun memeluk
ketiga anaknya seraya menangis menguatkan mereka, warga meninggalkan mereka
dalam kondisi yang mengenaskan.


Senjapun datang, perlahan Matahari meninggalkan sarangnya, kegelapan mulai
menyelimuti mereka, mereka berteduh direruntuhan rumah yang separuhnya
sudah habis terbakar. Halimah masih menangis meratapi nasibnya, tak lama
Dasinun ambruk, pandangannya gelap, ia tak bisa melihat apapun ia pingsan,
ada pembengkakkan di perut Dasinun akibat benturan batu yang menghujam mereka.


"Kakak Buee!" teriak kedua adiknya. Halimah menghampiri wanita yang tak
berdaya itu, "Buee bangun bue.. Bueee..!"


Halimah dan Sur berlari keluar mereka meminta pertolongan pada setiap warga
mereka pergi kedua arah yang berbeda, mereka mengetuk setiap pintu untuk
meminta bantuan, "Tolong bantu saya..ibu saya sekarat.. Tolong..!" tak
satupun diantara mereka yang membukakan pintu untuknya, tolong bantu saya..
"TOLOONG..!" Ia menjerit di heningnya malam.
Seketika kemurkaan menyelimuti Desa tempat mereka tinggal, tiada
pertolongan yang ia dapatkan setelah segala upaya ia cari.


Dari jauh Sur kembali kearah rumahnya, dengan keadaan lesu tak berdaya
adiknya itu tak mendapatkan satu bantuan sedikitpun. Halimah tak patah
arang, ia teringat cerita warga desa tentang Gedong tua, rumah angker yang
setiap pagi ia lewati, menurut mereka penghuni gedong tua hanya keluar saat
malam tiba.


Hari itu sudah malam, kekhawatiran akan Bue nya memberikan semangat pada
setiap langkahnya, Halimah terus berjalan memupuk keberanian sedikit demi
sedikit menuju ke Gedong tua, ia berharap instingnya benar bahwa penghuni
Gedong tua adalah seorang manusia, bukan jin/setan atau jelmaan jin seperti
apa yang dikatakan warga desa.


Halimah tiba didepan gerbang rumah yang ia sebut Gedong tua, penampakannya
sungguh angker persis 8 meter dibelakangnya adalah jurang kecil perbukitan
yang akan membawanya ke desanya jika ia terjun kebawah, Lorong jalan itu
tak bercahaya, hanya cahaya rembulan yang tertutup awan malam, jantung
Halimah berdetak semakin cepat,biasanya disiang hari gerbang ini tertutup
rapat dan terkunci, ia mencoba


"Bismillah.La Haula walaa quwwata Illa Billah"" ucap Halimah, dan benar
gerbang itu tak terkunci dan bisa ia buka dengan mudah.


"Ngeeek..!" Suara gerbang sangat nyaring besi pada setiap sudutnya sudah
sangat tua dan berkarat, pantas saja warga desa tau kapan Penghuni tempat
ini keluar.


Ia masuk dengan perlahan, sekujur tubuhnya berkeringat, air matanya terus
mengalir bibirnya terus mengucap Asma Allah dan berdzikir, setiap
langkahnya menimbulkan suara dedaunan kering yang ia injak, tak ada cahaya
lampu disekitar, tiba-tiba sekelebat cahaya melintas dihadapannya, ia
memberanikan diri menatap ruangan di lantai dua itu awalnya menyala,
tiba-tiba saja redup, ia yakin cahaya itu bersumber dari sana.


Ia terus melangkahkan kakinya, jarak pintu gerbang dengan muka rumah
sekitar 20 meter jauhnya, Lafaz dzikir terus ia bacakan di bibirnya, raja
istighfar, shalawat nabi, dan lainnya ia membaca semampu yang ia bisa.
Tiba-tiba "Non..!" Suara laki-laki tua terdengar dari arah belakang,
terdengar jelas ditelinga kanan.


Halimah berhenti ia memejamkan mata saking takutnya, tubuhnya mengigil
ketakutan.


"Mau kemana Non?" suara itu makin jelas, dan tak lama ia memegang pundak
Halimah. Halimah menjerit ketakutan .


"Haaaaaaa, Astagfirullah..Alhamdulillah." Ia adalah seorang Bapak berusia
kurang lebih 50 tahunan,


"Non mau apa ketempat ini? Tempat ini ngga berpenghuni non." Jelasnya pada
Halimah.


"Saya mau minta tolong pak, ibu saya sedang sekarat dibawah saya mau minta
tolong selamatkan ibu saya."


"Huh" Bapak ini menarik nafas, tidak ada siapa-siapa disini non, non lebih
baik pulang saja" kecewa Halimah kembali, bapak itu mengantarnya hingga
gerbang dan tak lama.


"Min...Darmin!" Suara wanita yang sebaya dengannya memanggilnya dari jauh,
ia berlari ke arah Halimah dan Bapak tua yang baru ia tahu namanya dengan
Darmin. Wanita itu membisikkan sesuatu ditelinga Darmin.


"Oh yo wis" Ucap Darmin.


"Non ayo ikut saya." Ajak wanita itu. Seketika hati Halimah merasa lega, ia
merasa seperti mendapat secercah harapan.


"Monggo masuk Non."


"Nggih mbok."


"Non tunggu disini saja, maaf ya Non tak ada lampu dirumah ini." Wanita
yang ia sapa mbok itu pergi, lalu ia kembali lagi dengan membawa dua buah
lilin kemudian ia pasangkan didekat Halimah. Halimah duduk diatas lantai
yang terbuat dari kayu, beberapa lukisan juga pajangan keramik bisa ia
lihat setelah lilin itu dinyalakan, sejenak hatinya merasa lega, namun
setelah si mbok pergi meninggalkannya sendiri, Jantungnya kembali berderu,
berdetak cepat seperti ingin keluar dari tempatnya.


"Ada perlu apa kamu kesini?" Tanya seorang laki-laki yang ia tak tau dari
mana arahnya.


Halimah terperangah ia bingung menjawab, ia tak tahu dengan siapa ia bicara
saat ini, tak ada wajah yang bisa ia lihat hanya suara, suara yang begitu
tebal dan jelas.


"KAMU TULI!" Lanjutnya kesal, Halimah belum menjawab pertanyaannya.


"Maafkan saya..saya mohon maaf jika kedatangan saya menganggu, saya
membutuhkan bantuan anda saat ini, ibu saya sedang sekarat tidak ada
satupun yang mau membantu saya, saya mohon, mohon dengan sangat." Halimah
memohon seraya menangis, tangisannya pecah badannya menunduk memohon.


Laki-laki itu terdiam, "Pak Darmin!" Ia berteriak memanggil bapak tua yang
baru saja ia tahu namanya.


"Iya den." Darmin berlari dan menghampirnya.


"Bantu dia" jawabnya dan tak lama suara itupun menghilang.


"Nggih den."


"Terimakasih, terimakasih, terimakasih." Halimah terisak.


Tak lama kemudian Darmin mengeluarkan sebuah mobil jeep dari garasi
belakang, benar apa yang ia pikirkan didalam rumah ini ada kehidupan,
Halimah dan Darmin pun beranjak pergi, dan melaju menuju Desanya tempat
dimana ibunya sekarat dan kedua adiknya gelisah menunggu kedatangannya.
Darmin membawa mobil dengan sangat cepat, tak lama Dasinun juga kedua
adiknya berangkat bersama dengannya ke Rumah Sakit.


Dasinun selamat, pertolongan untuknya tidak terlambat Halimah datang
sebelum pendarahannya semakin menjadi, Dasinun di rawat di UGD Rumah Sakit
Sayidiman, Halimah bersyukur setidaknya malam ini ia dan keluarganya bisa
selamat dari amukan massa yang tak mengenal arti fitnah, ia sangat
menyayangkan mereka yang rajin bershalawat, mereka yang rajin pergi ke
surau, mereka yang memiliki putri, mereka yang memiliki istri bisa menjadi
teramat keji hanya karena sebuah tuduhan yang tidak bedasar yang dituduhkan
untuknya, hari ini ia diselamatkan Allah, namun ia yakin suatu saat Allah
akan membalas perbuatan mereka dengan siksaan yang lebih keji dari apa yang
telah ia dapatkan hari ini.


#bersambung
_______________




Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar