๐๐ฏ๐ฅ
CANTING PART 12
Ajeng tampak begitu cantik dengan balutan atasan ketat berwarna hitam yang
dipadu rok lilit batik berwarna coklat kombinasi warna keemasan. Sebuah
kalung etnic yang terbuat dari batok kelapa menjuntai di dadanya. Rambut
panjangnya dibiarkan tergerai, dengan jepit rambut keemasan terpasang di
sebelah kiri. Heels 15 cm favoritnya, dan juga tas tangan batik dengan pita
di atasnya membuatnya terlihat bagai model profesional yang tengah
berlenggak-lenggok di atas catwalk.
Malam tadi, kala ia membaringkan tubuh letihnya sambil berselancar di dunia
maya, ia tak sengaja melihat iklan acara festival batik ini. Senyumnya
terkembang. Iya yakin Hadi akan datang karena Hadi tidak pernah absen jika
ada acara seperti ini.
Ajeng tak menyia-nyiakannya. Ini kesempatan emasnya untuk bertemu dan
berbicara langsung pada Hadi setelah sudah lebih dari sebulan ia mencoba
meraihnya, namun tak pernah ada hasilnya. Tak peduli sesering apapun ia
mengirimkan pesan, selalu tak ada balasan. Begitupun saat ia mencoba
meneleponnya, selalu gadis itu yang mengangkatnya, membuatnya rasa kesalnya
semakin menumpuk memenuhi hatinya.
Pupus sudah harapannya untuk bisa berbicara pada Hadi.
Ajeng terus melangkah sembari jemarinya menyentuh beberapa hasil karya
berbahan batik yang terpampang di sekelilingnya. Sesekali manik matanya
melirik stand The House of Sundari milik Hadi. Ia mendesah. Hadi tak tampak
di sana. Hanya gadis itu yang tampak sibuk melayani pengunjungnya.
Kemana Hadi?
Sementara itu, dada Sekar bergemuruh. Sosok yang hampir tiap hari
menghubungi suaminya itu ternyata memang paripurna. Ia kembali merasa kecil
karenanya. Perlahan, ia mencuri pandang pada sosok semampai yang tengah
memilih-milih aneka tas batik. Gaya busananya tampak begitu berkelas. Ia
menelan ludah. Memang tak sebanding dengan gayanya yang sederhana. Ia
hampir saja menundukkan kepalanya, tapi sejurus kemudian, ia menegakkannya
setelah ia kembali ingat perkataan suaminya.
"Seharusnya kamu bilang begini. Aku istri Mas Hadi. Dari sekian banyak
gadis di sekitarnya, aku yang dipilihnya. Berarti aku istimewa. Sedangkan
dia, siapa dia? Yang bahkan dengan segala kesempurnaannya, Mas Hadi sama
sekali tidak meliriknya."
Sekar tersenyum. Benar, ia yang dipilih Hadi, ia yang mendampingi Hadi.
Jadi kenapa harus merasa rendah diri?
Tapi senyumnya tak bertahan lama, sebab beberapa pengunjung berambut pirang
dan kecoklatan kini mendekat ke standnya.
"Duh, Mas Hadi kenapa lama sekali?" Ia celingukan, kebingungan.
Terlambat untuk lari atau bersembunyi. Jarak pengunjung itu dengan standnya
hanya tinggal sejengkal lagi.
"I like this pattern. Can you tell me the history?" tanya si rambut
kecoklatan dengan jambang tipis menghiasi wajahnya.
"Umm... this...."
Sekar gugup. Ajeng yang kini berada tepat di stand seberang stand Sekar,
menoleh sekilas. Hal itu menarik perhatiannya.
Sekar menghela napas dan sejenak memejamkan matanya. Ia gugup luar biasa,
tapi tak mungkin ia mendiamkan pengunjungnya.
"Umm... we call this pattern as Truntum. It is believed that years ago,
Queen Beruk was really sad knowing that her husband, Sri Susuhunan Pakubowo
III no longer gave her his warm love. Being terribly sad, she went to
Balekambang park and decided to spill her sadness by painting a batik
pattern on a cloth. This is the pattern she painted, means re-grow, along
with the regrowth of his husband's love to her."
Ajeng mengernyitkan dahinya.
Gadis ingusan itu... berbicara dengan bahasa Inggris?
Ajeng menggeleng-gelengkan kepalanya, berharap ia hanya salah dengar. Tapi
tidak, ia masih mendengar gadis itu terus bicara dengan bahasa Inggris
kepada pengunjung asingnya. Ajeng mendesah. Sepertinya, ia telah salah
menilai gadis ingusan yang dipilih Hadi untuk menjadi istrinya. Ia kira, ia
hanya gadis desa polos dan bodoh yang tidak tahu apa-apa, yang tak seujung
kuku pun bisa dibandingkan dengannya. Tapi rupanya, gadis itu tak seburuk
yang ia kira.
Ajeng mendadak gelisah. Hatinya bergemuruh saat mendengar rombongan
pengunjung asing itu merasa puas dengan penjelasan Sekar. Beruntung, Ajeng
menghadap ke arah yang membelakangi Sekar, hingga rona keterkejutan dan
kegelisahannya tak tertangkap oleh siapapun, termasuk oleh Sekar.
"Mas Hadi dari mana saja to?" sungut Sekar saat melihat suaminya.
Hadi diam saja sambil terus menatap istrinya. Sekar salah tingkah.
Pandangan Hadi selalu bisa menimbulkan getaran di hatinya.
"Mas? Kenapa?" tanya Sekar.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu bisa berbahasa Inggris, hmm?"
tanyanya, tanpa sekalipun manik matanya beralih dari istrinya.
"Aku mendengar semuanya. Kamu tidak melihatku berdiri di belakang kerumunan
bule tadi? Aku cepat-cepat ke sini karena melihatmu kebingungan. Tapi aku
kalah cepat. Tahu-tahu bule-bule itu sudah mengerubutimu dan kamu sudah
memulai penjelasanmu," kata Hadi.
Sekar menatap mesra suaminya saat sosok itu melingkarkan tangan di pundaknya.
"Proud of you, Sayang," bisiknya di telinga Sekar. Sekar membalasnya dengan
sebuah senyuman.
Sungguh, ada banyak kejutan yang Sekar perlihatkan selama kurang lebih
sebulan ini mereka mengarungi bahtera pernikahan. Sekar yang sebelumnya
selalu rendah diri, kini sudah jauh lebih bisa membawa diri. Sekar yang ia
pikir akan selalu dirundung kesedihan menghadapi semua yang Ajeng lakukan,
ternyata mampu menunjukkan sebuah level kedewasaan. Hadi merasa sungguh
beruntung memilihnya, si gadis jahe yang teramat dicintainya. Tidak salah
memang jika ia menjuluki Sekar sebagai gadis jahe; tumbuh di dalam tanah,
tak terlihat oleh yang lainnya, tapi berhasil memesonakan mata dengan bunga
merah muda yang ditumbuhkannya.
Pengunjung tampak asik memilih kain dan juga baju batik yang terpampang
rapi. Beberapa melirik dan tersenyum melihat Hadi yang masih menggoda
istrinya. Tapi tidak bagi Ajeng yang masih bergeming di tempatnya. Gelak
tawa yang ditunjukkan Hadi bersama istrinya membuat api cemburunya berkobar
sedemikian dahsyatnya, membuat rasa perih semakin memenuhi hatinya.
"Mas, aku ingin bicara sebentar," katanya kemudian, setelah berhasil
menyeruak kerumuman dan mencapai stand milik Hadi.
Hadi terperangah. Begitu juga Sekar. Ia kira Ajeng sudah pergi entah kemana
karena ia tak lagi melihatnya. Tapi sosok itu kini sudah berada di hadapannya.
Sekar memegang lengan suaminya, erat.
Sebulan mengarungi bahtera bersama membuat benih-benih cinta untuh suaminya
tumbuh subur, mengakar dalam di hatinya. Hingga ia bertekad untuk tidak
akan membiarkan siapapun merebutnya. Ia akan melakukan apapun untuk
mempertahankan Hadi agar tetap berada di sisinya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Hadi.
"Aku hanya ingin bicara sebentar, Mas. Tolonglah," pintanya.
Sekar masih terdiam. Di telepon, ia bisa bersikap tenang. Tapi bertemu
langsung? Bayangkan saja, bagaimana rasanya bertemu dengan seseorang yang
mencintai suamimu?
"Tidak bisa, Jeng. Aku sibuk," kata Hadi lagi.
"Sebentar saja, Mas. Tolonglah. Ikutlah bersamaku sebentar. Kita bicara di
depan. Tidak akan lama. Aku janji," pintanya lagi. Hadi mendengus.
"Kamu mengajakku ikut bersamamu di depan istriku? Kemana otakmu, Jeng?"
Hadi menatap Ajeng lekat-lekat.
"Maafkan aku. Aku hanya ingin bicara sebentar. Itu saja," kilahnya.
"Jika memang ada yang ingin kamu bicarakan, bicarakan saja di sini. Biar
istriku juga dengar," kata Hadi.
"Iya, Mbak. Sampaikan saja di sini. Mas Hadi sedang sibuk."
Sekar ikut buka suara, setelah berhasil meredam gemuruh dahsyat di hatinya.
Ajeng melirik.
"Tidak usah ikut-ikutan. Aku bicara pada Mas Hadi. Bukan padamu," kata
Ajeng, membuat jemari Hadi mengepal karenanya.
Sekar mengelus lengan Hadi, mencoba meredam emosi suaminya yang semakin
meninggi, meski sejujurnya, hatinya juga mulai diterpa emosi.
"Iya, Mbak, saya tahu. Tapi saya istri Mas Hadi. Saya berhak tahu apa yang
akan Mbak bicarakan pada suami saya," kata Sekar sambil terus berusaha
menata gemuruh di hatinya.
Ajeng mendengus.
"Mas ingat soal analogi frekuensi radio yang pernah Mas ceritakan padaku?
Mas bilang, frekuensimu hanya berhenti pada gadis itu, kan? Aku hanya ingin
bilang, bukankah satu frekuensi radio bisa dinikmati oleh lebih dari satu
orang? Mungkin sebaiknya Mas juga mempertimbangkan itu," kata Ajeng.
Kemudian berlalu.
Hadi melirik istrinya yang mendadak menundukkan kepala. Ia mendesah. Ia
tahu ada bulir bening menggenang di mata istrinya.
**********
Hadi menatap nanar ke luar jendela kamarnya yang masih sedikit terbuka.
Meski gelap telah sempurna pekatnya, rintik hujan tetap tampak jelas di sana.
Ia sungguh tak menyangka Ajeng jadi begitu gila, begitu terbutakan oleh
cinta. Nekat menemuinya saat ia tengah bersama istrinya? Bukankah ini gila?
Ajeng yang dulu dikenalnya, menghilang entah kemana.
Hadi menutup jendela kamarnya, lalu beringsut, duduk di sebelah istrinya
yang mematung di sisi ranjang sambil menyisir rambut bergelombangnya.
"Kamu masih memikirkan soal tadi?" tanyanya, sambil membelai rambut istrinya.
Sekar mengangguk perlahan. Bohong jika ia bilang ia tidak memikirkan
perkataan Ajeng tadi. Dusta namanya jika ia bilang ia baik-baik saja.
"Aku tidak tahu kenapa dia jadi begini. Padahal dulu dia tidak seperti ini."
Hadi naik ke ranjang, lalu merebahkan dirinya. Sekar masih sibuk dengan
rambutnya.
"Soal frekuensi itu....," kata Sekar, lalu tercekat. Ia menengadahkan
kepalanya, menatap langit-langit kamarnya.
Hadi kembali bangkit dari tempat tidurnya, lalu merengkuh istrinya dari
belakang.
"Jika masih ada keraguan dalam dirimu, artinya kamu meragukanku. Kamu tidak
percaya padaku?" tanyanya. Kini kepalanya bersandar di pundak Sekar.
Sekar mendesah perlahan.
"Bukannya tidak percaya, Mas. Hanya saja...." Lagi-lagi Sekar tak bisa
melanjutkan kalimatnya.
Hadi melepaskan rengkuhannya, lalu menggeser posisinya hingga kini keduanya
duduk bersebelahan di tepi ranjang.
"Kamu takut aku mendua?" telisik Hadi. Sekar menjawabnya dengan sebuah isakan.
Hadi langsung merengkuhnya, membiarkan istrinya menumpahkan apa yang
dirasakannya.
"Menangislah agar kamu lebih lega. Tapi jangan keras-keras. Kalau kanjeng
ibu dengar, bisa mati aku dimarahinya," kata Hadi sambil sedikit menggoda
istrinya. Nihil, godaan recehnya tak berefek apa-apa.
Lembut, ia membelai kepala Sekar. Mencoba menyalurkan energi cinta yang
dimilikinya agar istrinya bisa sedikit lebih tenang.
"Sekar, dengarkan aku. Benar satu frekuensi radio bisa dinikmati oleh lebih
dari 1 orang. Tapi dalam hal ini, aku bukanlah si frekuensi radio,
melainkan aku adalah si pencari frekuensi. Aku tidak akan kemana mana
karena aku sudah menemukan frekuensiku yaitu kamu. Memang, aku bisa bisa
saja berpindah sebentar, mendua ke frekuensi lainnya saat frekuensi yang
kusukai sedang ada jeda iklan. Tapi, aku tidak akan melakukan itu. Kamu
tahu kenapa?"
Sekar menggeleng.
"Karena aku menyukai semua yang ada di frekuensi di mana aku mengentikan
pencarianku. Acaranya, iklannya, mungkin gangguannya, aku menikmati
semuanya. Jadi untuk apa mendua ke frekuensi lainnya?" jelas Hadi panjang
lebar, berharap penjelasannya mampu menjadi penawar bagi kegelisahan istrinya.
Sekar melepaskan diri dari pelukan Hadi. Hatinya lebih tenang setelah apa
yang Hadi katakan padanya.
Sejenak hening.
"Mas," panggilnya kemudian.
"Hmm?"
"Aku... aku ingin ke rumah simbok," kata Sekar.
Jujur. Di luar, ia bisa tampak tenang dan tegar menghadapi segala yang
dilakukan Ajeng. Hanya saja, ada kalanya ia merasa lelah. Bayangkan saja,
sejak malam pertama pernikahannya, perempuan itu masih terus mengganggu
bahteranya, sedang kondisi hatinya tak selalu sama setiap harinya. Seperti
hari ini misalnya. Berkunjung ke kampung simbok yang jauh dari keramaian,
mendengarkan nasihat-nasihat simbok yang menenangkan, sepertinya akan
membuatnya lebih baik.
Hadi kembali memandang istrinya dengan tatapan mesra.
"Baiklah. Besok aku bereskan pekerjaanku dan lusa kita ke sana. Sekarang
tersenyumlah," pintanya. Sekar membalasnya dengan senyum manisnya.
Keduanya lalu merebahkan diri di atas ranjang kebesaran mereka. Hadi
membiarkan Sekar menjadikan lengan kirinya sebagai bantal.
"Sekar...," panggil Hadi, sembari mengelus-elus lengan Sekar.
"Ya...."
"Kita memang tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
Tapi, kita bisa mengikhtiarkan akan seperti apa nanti akhirnya. Masih ingat
tentang filosofi kopi yang pernah aku ceritakan?"
Sekar mengangguk.
"Kita analogikan situasi kita yang sekarang dengan kopi yang pahit. Kita
bisa membuatnga menjadi manis dengan menambahkan gula. Agar tercampur, gula
ini harus diaduk, harus diudhek. Udhek tegese usahane aja nganti mandhek,
ikhtiar kita tidak boleh berhenti. Begitu juga dengan usaha kita dalam
membina rumah tangga kita. Nah, untuk mengaduk, kita perlu sendok, artinya
sendhekna marang sing kuasa, serahkan pada yang maha kuasa. Kewajiban kita
setelah ikhtiar adalah menyerahkannya pada yang kuasa, kan? Kencangkan doa
kita, perbanyak permohonan kita agar kita senantiasa terjaga."
Sekar mendengarkan wejangan suaminya dengan seksama. Ia selalu suka saat
suaminya memberinya wejangan seperti ini.
"Lalu?"
"Setelah itu, kita tunggu kopi tadi agar lebih adem agar kita bisa
meminumnya. Adem artinya ati digowo lerem. Tenangkan hati kita karena kita
sudah berikhtiar dan memasrahkannya pada yang kuasa, agar tak ada lagi
prasangka yang nanti bisa merusak semuanya. Jika kita bisa melewati semua
proses ini, saatnya kopi tersebut diseruput. Seruput artinya sedaya rubeda
bakal luput, segala godaan mudah-mudahan akan terhindar."
Hadi menutup wejangannya dengan memberikan satu kecupan mesra di kening
istrinya.
Beberapa menit berlalu, tak ada suara dari sosok yang meniduri lengan
kirinya itu. Sigaraning nyawanya sudah terlelap dalam pelukannya. Hadi
menatapnya, lalu kembali menghujaninya dengan beberapa kecupan mesra.
Sejujurnya, malam ini ia menginginkan istrinya untuk kembali bersamanya
berenang di lautan cinta. Hanya saja, melihat istrinya yang sedari tadi
gundah gulana, ia merasa tak tega untuk memintanya.
Hadi memejamkan kedua matanya yang mulai terasa berat, untuk menyusul
istrinya yang sudah terlebih dahulu terbuai mimpi. Sebelum matanya terpejam
sempurna, ia tersenyum penuh arti.
"Untung aku tidak minum kopi tadi."
(Bersambung)
Tunggu kelanjutannya di part 13.
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar