@bende mataram@
Bagian 21
Ketika itu, Hajar Karangpandan menyerang lagi dengan garangnya. Tangannya
yang kanan mencengkeram mengarah kepala, sedangkan yang kiri menyodok
tulang rusuk. Wirapati cukup waspada. Ia mengendapkan diri sambil
mengirimkan tendangan.
Sodokan Hajar Karangpandan kebentur kakinya. Ia terguling ke samping dan
tepat pada saat cengkeraman Hajar Karangpandan turun ke bawah. Suatu kesiur
angin menyambar lambungnya. Sikunya lantas digerakkan sambil menjejak kaki.
Hajar Karangpandan tahu bahaya. Mau tak mau terpaksa ia meloncat mundur.
Dia luput dari serangan itu. Kemudian menerjang menerkam dada. Wirapati
menundukkan kepalanya sambil menyapu kaki.
Hajar Karangpandan tak sempat mengelak. Betisnya kena terhajar. Tetapi
Wirapati kena ditubruk pundak kirinya. Keduanya bercucuran keringat dingin.
Kemudian berdiri tegak sambil mengatur napas.
Hajar Karangpandan jadi panas hati. la merangsak lagi dengan
benturan-benturan dahsyat. Wirapati tak berani mengadu tenaga. Ia melesat
menghindari sambil mengayunkan tangan. Dengan demikian, pertarungan
bertambah seru. Masing-masing dapat bergerak dengan gesit dan cekatan.
Kala itu di pinggir gelanggang berdirilah dua orang laki-laki yang
mengawasi pertarungan tanpa mengedipkan mata. Mereka adalah Jaga Saradenta
dan Kodrat.
Jaga Saradenta berkesan lain, setelah menyaksikan kebakaran itu. la
mencurigai Kodrat dan berniat menghapuskan diri dari salah sangka. Sebagai
seorang yang jujur tak sudi dia memihak kepada orang yang salah. Meskipun
orang itu kemenakannya sendiri. Maka diringkuslah lengan kemenakannya dan
dibawa lari mengikuti jejak kaki Hajar Karangpandan.
la kalah cepat dalam hal berlari. Lagi pula, ia dibebani berat badan
kemenakannya yang ikut berlari ogah-ogahan. Meskipun demikian, ia mencoba
mengejar. Sesampainya di tepi hutan dilihatnya dua orang lagi bertempur
seru. Legalah hatinya demi nampak berkelebatnya Hajar Karangpandan. Tetapi
siapakah pemuda itu? Ia minta penjelasan kepada kemenakan¬nya.
"Apa dia termasuk salah seorang bawahanmu?" bentaknya bengis.
Kodrat menggelengkan kepala.
"Bagaimana yang benar?" bentaknya lagi. Mendadak ia melihat mereka meloncat
mun¬dur dua langkah.
"Hai, siapa kau sebenarnya? Bilanglah sebelum mampus!" Kata Hajar
Karangpandan nyaring.
"Apa perlu menyebut nama?" sahut Wirapati.
Hajar Karangpandan mendongakkan kepala sambil tertawa meriah.
"Bagus! Bagus! Kaumampus tanpa nama, jangan salahkan aku Hajar
Karangpandan. Nan, kaudengar sudah namaku. Kau tak perlu lagi penasaran di
alam kuburmu."
Wirapati tersenyum, "Mengapa kamu meracau tak keruan? Siapa bilang Wirapati
akan mati? Aku murid keempat Kyai Kasan Kesambi bagaimana mungkin gampang
mau kaupunahkan?"
"Hm!" Hajar Karangpandan meludah ke tanah. "Ayo, kita buktikan!"
Lantas saja dia menyerang cepat. Wirapati menangkis. Ia kena gempur sampai
mundur selangkah. Kemudian membalas menyerang dengan cepat pula. Keduanya
menggunakan serangan-serangan berbahaya dan mematikan.
Syahdan, ketika Jaga Saradenta mendengar disebutnya nama sahabatnya yang
bermukim di Gunung Damar terkejutlah dia. Ah, dia murid sahabatku. Kalau
sampai terluka parah, aku tidak bisa berpeluk tangan, pikirnya. Ia yakin,
kalau murid Kyai Kasan Kesambi takkan mungkin berbuat sesuatu hal yang
rendah. Sedangkan Hajar Karang¬pandan bertempur dengan suatu tuduhan
tertentu. Menduga demikian, ia jadi gelisah.
Akhirnya dia berseru, "Tahan! Tahan! Ayo, kita bicara!"
Dalam suatu pertempuran sengit, sudah barang tentu seruan Jaga Saradenta
tak tergubris. Hajar Karangpandan yang mengenal suara Jaga Saradenta malah
mendakwa yang bukan-bukan.
"Kamu kawanan bangsat, ayo maju sekalian!" dampratnya.
Dia lantas memperhebat serangannya. Sebentar saja Wirapati kena dirangsak
mundur sampai ke tepi batas lautan api. Karuan saja Jaga Saradenta
mendongkol berbareng khawatir. Mengingat kepada guru Wirapati, dia terus
melompat membantu dan mengirimkan gempuran.
"Monyet!" maki Hajar Karangpandan. "Ka¬mu kira aku mau lari lintang-pukang?"
Wirapati heran mendapat bantuan itu. Dia mau menebak-nebak siapa orang itu,
mendadak Hajar Karangpandan telah menyerangnya bengis. Terpaksa dia
memusatkan seluruh perhatiannya dan membalas menyerang.
Hajar Karangpandan jadi keripuhan dikerubut dua orang, meskipun Jaga
Saradenta bertempur dengan setengah hati. Maklumlah, dia tak menghendaki
pertempuran itu. Kalau sekarang sampai mengadu kekuatan semata-mata karena
terpaksa, demi melihat murid sahabatnya terangsak mundur.
Eh, ternyata dia bukan orang sembarangan, pikir Hajar Karangpandan. Untung
dia tidak muda lagi. Kutaksir umurnya kira-kira 70 tahun. Kalau kupaksa
bertempur berputaran, akan kulihat apa napasnya masih panjang.
Sambil berpikir begitu, segera ia mengadu kegesitan. Seakan-akan seekor
burung garuda ia menyambar cepat dan rapih dia menyerang bertubi-tubi. Jaga
Saradenta tak sanggup mengikuti gerakan itu. Cepat-cepat ia menutup diri.
Dadanya dilindungi dan ia merendahkan badan. Sebaliknya Wirapati dapat
mengimbangi kegesitan Hajar Karangpandan. Dengan menjejak tanah ia memotong
tiap serangan, tetapi ia menghindari suatu perbenturan karena merasa diri
tak sanggup menandingi tenaga lawan.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar