3.12.2019

#MENIKAH_DENGAN_SETAN Part 5




#MENIKAH_DENGAN_SETAN


Part 5


Rembulan malam tertutup awan gelap, kamar Halimah malam itu terlihat lebih
gelap dari biasanya, setelah semalam ia resmi menjadi istri sah dari
Rhandra Abyakta pikiran liar terus menghantuinya, ia membayangkan laki-laki
itu akan datang kekamarnya dan mencabik-cabik kehormatannya, seluruh
tubuhnya berkeringat, kepalanya terus menggeleng-geleng memikirkannya ia
terus berdoa agar Laki-laki yang kini menjadi suaminya itu tidak merenggut
kesuciannya malam ini.


"Deg..deg.." Suara langkah kaki itu menuju kamarnya, malam itu sudah pukul
satu malam dan Halimah masih terjaga karena khawatir, Halimah merespon ia
berlari menuju arah pintu, ia menarik nakas yang berada disebelah tempat
tidurnya lalu ia rapatkan dipintu dengan rapat, dan benar kenop pintunya
berputar, dorongan kuat dari arah luar untuk membuka pintunya tak bisa ia
bendung, Halimah terlempar, Rhandra mendorong pintu yang terhalang oleh nakas.


"Apa yang kamu lakukan!" rutuknya kesal melihat kelakuan Halimah.


"Mau apa kamu?"


"Kenapa, aku suamimu sekarang aku bebas mau melakukan apa saja denganmu?"
Rhandra mendekat, rambutnya terurai acak-acakkan seperti biasa, janggut
juga alisnya begitu tebal.


"Jangan mendekat, atau aku akan berteriak!"


"Teriak saja, tidak ada yang akan dengar!"


"HAAAAAAAPPP!" Halimah berteriak dan seketika Rhandra menutup mulutnya
dengan tangannya yang kekar.


"Berani sekali kamu rupanya ya!"


"Mmmmm.." Halimah menangis, mulutnya masih tertutup tangannya.


"Ini..!" Rhandra melemparkan pakaian padanya, "ganti pakaianmu itu,
pakaianmu sudah tak layak." Halimah memang belum berganti pakaian dari
kemarin, ia masih Nampak kacau, debu pun masih menempel ditubuhnya, ia tak
ada gairah untuk membersihkan diri.


Halimah memeluk pakaiannya dengan erat seraya menangis.
"Dengar baik-baik, aku tidak akan memaksa untuk masuk kekamarmu, kamar kita
terpisah, tapi jangan sesekali kamu mengunci diri seperti malam ini, karena
aku bebas masuk kekamarmu kapanpun aku mau, jika terulang habis kau.!" Ia
merutuk kemudian beranjak keluar


"Tunggu!" halang Halimah. Rhandra berhenti membelakanginya.


"Terimakasih.. apa yang kamu berikan untuk keluargaku itu sangat berarti
untukku, terimakasih." Ujar Halimah, sejujurnya disaat semua orang menjadi
penjahat baginya Rhandra bagaikan sinar yang menolongnya dari kegelapan, ia
cukup terharu akan kebaikannya, meskipun ia terluka dengan pernikahan yang
sama sekali tak ia inginkan.


Rhandra pergi tanpa menjawab sedikitpun, ia tinggalkan Halimah dengan pintu
terbuka dan kunci yang menempel dari arah dalam.


Halimah berbaring diatas ranjang, tubuhnya meliuk ketakutan suasana
kamarnya begitu gelap hanya ada dua cahaya yang berasal dari lampu minyak
yang tak begitu terang. Ia menangis terus menerus meratapi nasibnya, ia
bagaikan rembulan yang terkungkung malam, tak bisa bergerak, ingin menjerit
pun tak akan ada yang mendengar.


Halimah melamun, pikirannya melayang ke Haikal laki-laki yang beberapa hari
lalu telah membebaskan ikatan dengannya, semudah itu dia membebaskan
ikatannya, jika tidak ada yang memfitnahnya mungkin saat ini ia adalah
wanita yang paling bahagia didunia, memiliki laki-laki yang sholih juga
tampan dan mapan, namun nasibnya tak seberuntung rupanya, Allah mungkin
menganugrahkannya wajah yang cantik, namun kecantikkan tak bisa merubah
nasibnya, kecantikkan tak mampu membahagiakannya, bahkan karena
kecantikkannya itulah ia jadi sumber fitnah.


Halimah terus menangis meratap.


"Allahuakabar..Allhuakbar..!" Alunan adzan terdengar ditelinganya, Halimah
bangkit suara adzan dari surau didesanya terdengar merdu hingga kekamarnya,
tiada tuhan selain Allah, tiada kekuatan selain hanya milikNya. Ia menatap
ke arah kamar mandi yang begitu gelap, tak ada cahaya sedikitpun disana,
sisi kanan-kiri kamar menuju kamar mandi pun terlihat sangat menyeramkan,
ia membawa lampu minyak bersamanya ia menuju arah kamar mandi, "Bismillah."
Ada suara-suara asing ditelinganya ia hiraukan begitu saja, ia yakin semua
itu akan hilang hanya dengan doa juga sholat yang ia dirikan diruangan ini.


Pagi menjelang, suasana Gedong tua Nampak asri dari arah jendela kamarnya,
matahari mulai memancarkan sinarnya, wajahnya terasa hangat tersiram
cahayanya. Halimah menatap keluar kamar, biasanya dijam yang sama ini ia
melintas didepan Gedong tua, ia menatap keluar dan benar jalanan yang
selalu ia lewati berada persis dibawah, ia bisa melihat desanya lewat kamar
ini pula, hatinya sedikit terhibur.


Ia teringat beberapa waktu lalu, ia sempat melihat seseorang dari tempat ia
berdiri saat itu "Di tempat inikah Rhandra memperhatikan saya?" batinnya
bertanya.


"Pagi Non..!" Mbok Sum datang membawa segelas susu dan sarapan, roti berisi
sayuran didalamnya.


"Terimakasih mbok."


"Non, mata non gelap sekali."


"Saya tidak bisa tidur mbok, sudah dua malam ini saya terjaga, terakhir
saya terlelap adalah saat dimana saya memeluk adik saya Sur di Rumah Sakit."


"Ya ampun Non, Non harus tidur, kalau tidak sakit."


"Entah kenapa mbok, ruangan ini terlalu besar untuk saya, saya tidak terbiasa."


"Non takut?"


Halimah mengangguk.


"Yang sabar ya Non, kalo Non takut Non teriak saja panggil saya."


"Kalo mbok yang dateng, kalo Monster itu gimana?"


"Hahahhaa.. Den Rhandra memang kayak Monster ya non?"


Sekejap ruangan itu menjadi hangat, Halimah dan Mbok Sum tertawa hebat
didalam, sebelumnya tak pernah ada tawa, tak pernah ada keceriaan dirumah
itu, yang ada hanya ketegangan yang menghantui seisi rumah.


Hari itu Halimah berusaha untuk tegar, ia tak lagi bersedih ia berusaha
menerima Rhandra sebagai suaminya, ia yakin Allah tak akan memberikannya
cobaan seberat dari apa yang tak bisa ia jalani, ia pun bekeyakinan bahwa
ia adalah orang baik, maka Rhandra seharusnya pun orang baik ia teringat
akan sebuah nasihat yang pernah ia dapatkan di surau


" Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan
laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita
yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang
baik. (Qs. An Nur:26).


.Sore itu setelah sholat ashar, Mbok Sum datang kekamarnya.


"Non.. mau ikut mbok berkeliling?"


"Keliling Rumah mbok? Mau mbok."


Mbo sum menunjukan juga mengenalkan isi rumah yang ia kenal dengan sebutan
Gedong tua padanya, mereka mulai melangkah dari ruang depan, diruang depan
terdiri dari dua set sofa, yang satu berada dijung dan yang satunya persis
dekat dengan pintu masuk, ada kursi tua santai gaya belanda satu buah
didalamnya, kursi itu yang dipakai Rhandra malam lalu. Lanjut mereka
keruang tengah, sebuah meja marmer bundar dengan vas bunga besar diatasnya,
di ruang tengah ini terdapat beberapa foto-foto, jika dilihat foto-foto itu
cetakkan 20 atau 30 tahunan lebih .


"Rhandra yang mana mbok?"


"Tidak ada Den Rhandra disitu non,, yuk kita lanjut." Ajak Mbok Sum.


Halimah memasuki sebuah lorong untuk masuk keruangan berikutnya disisikanan
lorong adalah sebuah tangga yang menghubungkannya ke lantai dua dan tiga,
kamarnya berada di lantai dua, sedangkan kamar Rhandra berada di lantai
tiga, lantai tiga adalah daerah terlarang, siapapun kecuali Mbok Sum yang
bisa naik dan mengantarkan makanan hanya sampai depan pintu. Lantai tiga
itu jika digambarkan oleh Mbok Sum seperti loteng, bangunan ini memiliki
tiang-tiang yang tinggi, gaya arsktekturnya pun seperti rumah-rumah di
eropa. Jika bukan seorang bangsawan, siapapun tidak bisa membangun rumah
selua dan semegah ini.


Halimah masuk keruang makan, disana ia bisa melihat meja panjang yang
sangat unik terbuat dari ukiran jati berwarna hitam, disisi kanan kirinya
terdapat rak rak buku, hampir semua ruangan memiliki jendela yang besar
hingga saat pagi hari, rumah tidak terlihat menyeramkan.


Setelah ruang makan ia kembali melewati sebuah lorong, ada ruang keluarga
disisi kanan, dan disisi kiri sebuah balkon yang menghadap ke sebuah taman,
persis dihadapannya ada kolam air mancur kecil yang sudah berlumut dan tak
terawat.


"Ini Kamar saya non, dan disebelah sana dapur."


"Luas sekali ya mbok."


"ya."


"Bagaimana bisa rumah sebagus ini bisa menjadi rumah yang tak terawat?
Bahkan banyak yang bilang ini adalah rumah hantu."


"Kemari Non." Mbok Sum menariknya untuk duduk diatas kursi di dapur.


"Den Rhandra memang sengaja membuat seisi rumah ini terlihat angker, dia
tak ingin siapapun tau keberadaannya dirumah ini, untuk itu saya mohon
dengan sangat pada non, tolong jangan beritahu siapapun tentang Den Rhandra."


"Tapi kenapa Mbok?"


"Mbok ngga bisa menjelaskan lebih jauh Non, jika waktunya tepat Mbok yakin
Aden akan cerita banyak dengan Non."


"Non, Den Rhandra itu anak yang baik, yakinlah Non." Mbok Sum menangis.


"Mbok,,"Halimah terharu, ia pun merasakan hal yang sama dengannya, entah
dari mana asalnya hati kecilnya selalu berkata bahwa Rhandra adalah
laki-laki yang baik, ia bisa melihat dari sinar matanya meskipun gelap
disana, namun ada keteduhan yang bisa membuatnya merasa aman.


"Non, dirumah ini non bebas melakukan apapun, kecuali"


"Kecuali apa mbok?" potong Halimah.


"Non tidak boleh kelantai tiga, Non juga tidak boleh keluar disiang hari,
Non tidak boleh ke sisi selatan pekarangan rumah, itu terlarang. Non harus
menjaga diri dari orang lain, buat seolah-olah rumah ini tak berpenghuni non."


"Kenapa begitu menyeramkan sekali mbok, kenapa?"


"Itu aturan yang Den Rhandra buat, non patuhi saja."


"Jadi maksud si mbok, saya akan selamanya didalam rumah ini, saya juga tak
bisa mengunjungi bue saya?" Lanjut Halimah terkejut.


"Sebaiknya begitu."


"Rumah macam apa ini mbok. Tidak ada kebahagiaan didalamnya, saat ini saya
sangat merindukan keluarga saya mbok, saya ingin tahu kabar mereka,
meskipun saya tau mereka sudah mendapatkan tempat yang layak, tapi saya
berhak tau mbok, jika bertemu dengan keluarga atau orang lain saja saya
tidak boleh lalu bagaimana bisa saya tidak menyesali pernikahan saya.!"


Halimah menangis, ia lari kekamarnya ada sesuatu yang janggal yang ia
rasakan, pertama mistery rumah ini dan misteri si Tuan rumah yang keras
kepala, mengapa ia mau dianggap setan padahal ia adalah orang baik.


Halimah kembali kedalam kamar, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan saat
senja menjelang, pelan ia pandangi kamarnya, ia menuju ke sebuah rak buku
yang berada persis disebelah nakas, buku-bukunya tersusun rapih, ia
bersyukur ia menemukan hiburan, ia meraba susunan buku yang tersusun rapi
didalamnya, dan saat ia mengambil salah satu buku, bisikan itu pun terdengar.


"HALIMAAHHH..!"


"Hah..!" Halimah kaget, suara bisikan itu adalah suara perempuan ia sangat
yakin. Ia seperti berbisik ditelinga sebelah kanannya. Tak sengaja ia
menjatuhkan buku yang berada digenggaman, ia melompat ke atas ranjang dan
berdzikir.


"Astaghfirullah..astaghfirullah..astaghfirullah.." mulutnya tak berhenti
berdzikir, ia duduk diatas ranjang seraya menutup mata juga telinganya
karena syok dan ketakutan dan saat ia membuka mata, seorang wanita berbaju
putih dengan rambut terurai terlihat sedang menggendong bayi dihadapannya,
Halimah melotot, badannya kaku, bibirnya beku, nafasnya terengap egap,
jantungnya berdegup kencang dan pelan kepalanya bergerak lalu dengan cepat
ia menyambar "HAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" Halimah berteriak.


Teriakannya menyeruak membangunkan Rhandra yang sedang tertidur pulas,
Rhandra berlari, begitupun Sum juga Darmin semua kaget mendengar
teriakannya. Rhandra menemuinya Halimah dalam keadaan ketakutan diatas kasur.


"kenapa kamu Halimah?" rutuk Rhandra yang kesal mendengar teriakannya.


Spontan Halimah meloncat dari kasur dan memeluknya, pelukan pertama dari
seorang wanita, pelukan yang begitun hangat, Halimah tak berkata
sedikitpun, jari-jarinya meremas punggungnya hingga berbekas, Rhandra
berusaha melepaskannya namun Halimah semakin erat memeluknya, Sum dan
Darmin melihat mereka, sebelumnya mereka tak pernah melihat Rhandra tuan
muda yang sudah mereka anggap sebagai anak mendekati makhluk lain selain
mereka, hari itu Halimah menjadi bidadari yang turun untuk menyinari
kegelapan dihatinya.


"Lepaskan Halimah,"teriak Rhandra berupaya melepaskan cengkramannya


"Tolong jangan tinggalkan saya, tolong saya takut sekali, tolong, wanita
itu terus menerus memanggil nama saya, tolong..!" Rhandra luluh, melihat
Halimah yang begitu kacau, matanya gelap, juga pelukannya yang erat.


"Tidurlah Halimah."


Tanpa Halimah sadari, ia tertidur dipangkuan Rhandra Tangannya masih
meremas kaosnya dengan erat, Halimah Syok ketakutan, Rhandra melihat
Halimah dari dekat, jantungnya berdebar sangat cepat,


Halimah dibekali wajah menawan dari sang Ilahi, yang jelas membuat semua
mata yang memandang takjub dibuatnya, bibirnya yang mungil berwarna merah
muda, matanya bundar dengan hitam mata yang pekat dan putih mata yang
bersih, bulu mata yang lentik, dan tampak seperti selalu memakai celak, ia
begitu cantik bagai bidadari di khayangan.


Rhandra tergoda belum pernah seumur hidupnya ia menyentuh wanita dan
apalagi sedekat wanita seperti saat ini, Halimah tidur dan tak sadarkan
diri dipangkuannya, ia begitu syok dengan apa yang ia dengar dan ia lihat
baru saja.


Perlahan Rhandra mengusap wajahnya yang penuh dengan keringat, ia buka
peniti hijabnya yang dua hari ini tak ia lepas, ia biarkan angin berhembus
kesekitar lehernya, hijab itu pun terbang terhembuh angin, Rhandra
melepaskannya dan membiarkan rambutnya terurai, rambutnya panjang dan
lurus, lehernya jenjang sangat cantik jika ada sebuah liontin yang
terpasang disana, pikirnya. Telinganya caplang mirip dengannya namun tak
ada hiasan anting juga yang menghiasi telinganya yang indah.


Begitu Halimah pulas, Rhandra beranjak pergi dan meninggalkannya sendiri,
Halimah tertidur pulas sore itu dan Rhandra menyimpan kesan yang mendalam
dihatinya.
Rhandra terdiam lama di depan kamar Halimah, ia memegang dadanya yang terus
bergetar, belum pernah ia merasakan perasaan seperti itu sebelumnya,
jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.


"Den.."


"Heh..ya Mbok."


"Non Halimah kenapa Den?"


"Mbok minta pak Darmin untuk menutup jendelanya dengan paku, dan tambahkan
jumlah lampu dikamarnya setiap malam, dan malam ini saya mau makan di meja
makan Mbok."


"Nggih Den."


Mbok Sum tersenyum melihat perhatian Rhandra pada Halimah, belum pernah ia
melihat Rhandra seperti ini, dan untuk pertama kalinya dalam kurun waktu 20
tahun lamanya akhirnya ia mau makan diruang makan. Halimah tertidur cukup
pulas, dua malam ia tak bisa memejamkan mata, namun hari itu ia sangat
merasa aman, sosok Rhandra memberikan rasa nyaman di hati kecilnya.


***
(Back to episode 1, cerita disini langsung loncat kelanjutan episode 1)


Halimah menuju ke ruang kerja yang dibilang masih berantakan itu,
ruangannya berada di lantai dua lorong sebelah kiri dari tangga, dan
kamarnya berada dilorong sebelah kanan. Ditemani Mbok Sum, ia membersihkan
ruangan yang menjadi tempat favorite Rhandra suaminya, ruangan itu dipenuhi
dengan buku-buku disekeliling dindingnya, sebuah meja ditengah dan lampu
meja, tidak ada jendela disana.


"Mbok..kenapa hanya Rhandra yang boleh menyalakan lampu?" tanya Halimah heran.


"Karena hanya ruangan Den Rhandra yang tak berjendela, semua ruangan yang
ia tempati tidak memiliki jendela, makanya ia bebas menggunakan lampu, ia
tak ingin ada orang yang tau bahwa rumah ini masih berpenghuni makanya
diruangan lain hanya boleh dipasang lilin atau lampu minyak yang sinarnya
masih kalah dengan sinar rembulan." Halimah semakin penasaran dengan alasan
Rhandra yang tak ingin orang tau akan keberadaannya.


"Tapi hari ini Den Rhandra, meminta pada si mbok untuk menambah lampu
minyak dikamar Non."


"Kenapa?"


"Sepertinya ia khawatir sama Non."


"Dug,,dug,,dug,," Halimah terperangah "Suara apa itu Mbok?"


"Pak Darmin sedang memaku jendela Non, biar cahaya dari dalam tidak keluar."


"Apah?" mendengar penjelasan Mbo Sum, Halimah berlari ke arah kamarnya ia
tak bisa membiarkan Darmin menutup mati jendelanya, jendela itu adalah
sumber kehidupan baginya, Asma Allah jelas berada di ukiran itu.


"Berhenti pak." Teriak Halimah menghalangi.


"Ya Non, maaf saya diminta Aden untuk menutupnya dengan kayu."


"Jangan pak Darmin, biarkan jendela itu seperti itu saya mohon."


"Maaf Non, Aden meminta saya untuk menutupnya."


"Jangan Pak Darmin saya mohon."


"Kenapa kamu suka sekali buat keributan!" rutuk Rhandra kesal yang
tiba-tiba datang kekamarnya. Halimah terdiam


"Kamu tidak bisa menutup jendela itu!" rutuk Halimah, wajahnya memandang
Rhandra, matanya melotot.


"kenapa?"


"Hanya itu yang bisa membuatku tenang, aku tak bisa hidup tanpa sinar
matahari seperti kamu, aku manusia normal."


"Apa kamu bilang?" Tubuh Rhandra mendekat, ia membalas tatapan Halimah yang
tajam kepadanya.


"Pak Darmin, ikuti apa maunya, dan kurangi cahaya dikamar ini, jangan
teriak kalau kamu ketakutan, camkan itu!" lanjutnya.


Rhandra berpaling, Halimah merasa benar dengan apa yang sudah ia katakan.
Halimah menarik nafas panjang, ia membayangkan suasana gelap dikamarnya
belum lagi saat lilin itu tertiup angin, itu pasti akan sangat lebih
menakutkan, sejenak ia menyesali perbuatannya.


Malam itu, Halimah tak tidur ia bersama Mbok Sum masih sibuk membenahi
ruang kerja Rhanda yang berantakan, sosok Rhandra memang sangat membuatnya
penasaran buku-buku diruangannya tergeletak tak beraturan, beberapa
diantaranya ada buku-buku yang membahas tentang keTuhanan, alam ghaib, ilmu
kedokteran dan banyak lagi, ia melahap habis semua buku yang ada.


"Mbok, apa ini yang ia kerjakan setiap hari? Membaca buku?"


"hmm.. si Mbok diam tak menjawab, Non sudah malam si Mbok ngantuk, apa
boleh kita lanjutkan besok?"


"Oh ya mbok,, maafkan saya ya mbok."


"Ngga apa-apa Non, mbok pamit ya non."


"Nggih Mbok."


Halimah melanjutkan sisa pekerjaan yang tinggal sedikit. Halimah
melangkahkan kakinya menuju kekamar semua lorong gelap, tak bercahaya hanya
sinar rembulan yang membantu menuntunnya berjalan, ia membayangkan
bagaimana jika tidak ada rembulan, bagaimana mungkin mereka bisa bergerak?
Misteri itu selalu menghantuinya.


Halimah berdiri dipersimpangan antara lorong menuju kamarnya dan tangga
menuju keatas juga lantai bawah disebelah kanannya, ia sungguh penasaran
apa yang dilakukan Rhandra diatas sana, kenapa ia menghabiskan masa
hidupnya hanya untuk mengurung diri.


Pelan Halimah melangkahkan kakinya menuju anak tangga, ia berjalan sangat
pelan dan mendadak ia teringat dengan perkataan si Mbok, "Rhandra tak
mengizinkan siapapun naik ke lantai tiga", Halimah kemudian memutar balik
badannya dan mengejutkan seorang wanita melintas dihadapannya, wanita yang
sama persis yang ia lihat tadi siang, rambutnya hitam berantakan panjang
hingga sepinggang, pakaiannya putih bagai kain kafan.


Halimah melotot dan terpaku melihatnya, kakinya membeku, berat baginya
untuk melangkah maju, Jantungnya berdegup kencang dan tiba-tiba
"HALIMAAAHH.." "Halimaah.." "Halimaaah" Bisikan itu terjadi lagi, Halimah
meliuk dianak tangga, ia sangat ketakutan tangisannya pecah, wanita itu
terus menerus memanggil namanya. "Halimaah..Halimaaah.."


"Pergi,,saya mohon pergi jangan ganggu saya..
Astagfirullah..Astaghfirullah..pergi Jangan ganggu saya.. pergi.."Halimah
menutup mata dan telinganya erat, ia menggoyang- goyangkan kakinya karena
takut.


Tiba-tiba seseorang menyentuh tangannya, Halimah semakin takut, ia semakin
mengepal tangannya dan semakin meliukkan badannya


"Halimah!" Suaranya terdengar nyata dan tegas.


"Hah..!" Halimah membuka matanya, "Rhandra!" spontan ia memeluk laki-laki
yang berada dihadapannya. Rhandra bisa merasakan jantung Halimah berdegup
sangat kencang, kedua kalinya ia merasakan desiran kuat dihatinya, Halimah
memeluknya sangat erat, tubuh Halimah berkeringat, dan mulutnya tak
berhenti menyebutkan kata


"Astagfirullah..Astagfirullah." Namun Rhandra sama sekali tak bergeming
biasanya ia akan marah mendengarnya namun malam itu ia biarkan Halimah
merasa tenang dipelukannya.


"Halimah!" tegurnya.


"Hah.." Halimah terperanjat "Maaf. maaf." Halimah pun berlari
meninggalkannya menuju kekamarnya.


Rhandra terdiam sejenak ia melihat Halimah lari ketakutan meninggalkannya,
ada keinginan yang sangat dalam untuknya agar bisa tidur sekamar dengannya
melindunginya, menenangkannya. Rhandra menggelengkan kepala memikirkannya,
perasaan aneh itu datang kembali mengganggu relungnya.


Malam itu Halimah kembali terjaga, ia belum terbiasa dengan semua ini.
Wanita itu terus menghantuinya, sepertinya ia adalah penghuni kamar yang ia
tempati saat ini. Halimah meringkuk ketakutan di kamarnya ia memperhatikan
setiap gerak-gerik yang nyata di kamarnya,


Tak lama knop pintu kamarnya terbuka, ruh Halimah semakin ketakutan, air
matanya terus mengalir, raganya bagai es yang bisa hancur dalam seketika.


"Rhandra..!" Laki-laki itu masuk kedalam kamarnya, Halimah membisu,
bibirnya biru, badannya sangat dingin, ia terpaku melihat Randra
dihadapannya, ada perasaan senang karena setidaknya ada seseorang yang
menemaninya, namun jiwanya yang lain menolak kehadirannya malam itu, karena
Halimah belum siap satu ranjang dengannya, meskipun Rhandra memiliki hak
kapanpun ia mau ia bisa saja mendatanginya sesukanya ia berhak atas diri
juga kehormatannya.


"Tidurlah, aku akan menemanimu." Halimah tercengang, ia kaget dengan
prilaku Rhandra malam ini, ia menggeser dan tidur membelakanginya,
kelakuannya tidak seperti laki-laki lain yang haus akan wanita, Halimah
begitu senang Rhandra tak berusaha menyentuhnya. Mereka berdua berada
diatas satu ranjang yang sama, ranjang yang berukuran 200cm itu menjadi
saksi akan kebisuan mereka.


Rhandra tidur meliuk disisi kanan membelakangi Halimah, dan begitupun
Halimah tertidur di posisi sebelah kiri menghadapnya, ada jarak satu meter
lebih diantar mereka, mereka tak saling menatap, juga saling bicara. Malam
itu Rhandra datang hanya untuk membuatnya nyaman dan tertidur dengan
tenang. Seketika semua suara yang menganggu Halimah hilang bagai terhembus
angin.


______#BERSAMBUNG




Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar