_MENIKAH DENGAN SETAN_
______
Part 4
Malam semakin larut, Halimah dan kedua adiknya sholat berjamaah disebelah
tubuh Dasinun yang tak berdaya, Dwi yang menjadi imam sholat tak sanggup
membaca ayat-ayat Allah ia tahu betul arti dari Ummul Qur'an (Induk
Al-Qur'an) Alfatihah, ia membacakan dengan lantang seraya menangis
terisak-isak, Dwi memberikan penekanan pada ayat "Maaliki yawmiddiin yang
artinya "Yang menguasai Hari Pembalasan", ada dendam membara dalam hatinya
melihat keluarganya diperlakukan bagai sampah.
Setelah salam, tangisan Halimah pecah, Dwi dan Sur memeluknya dengan erat
diatas koran yang mereka jadikan alas untuk bersujud.
Malam berlalu, pagi menjadi satu-satunya harapan mereka untuk tetap
bertahan. Halimah harus bangkit mencari uang, ia harus membiayai biaya
Rumah Sakit yang tak sedikit nilainya, Dwi dan Sur pun harus tetap
bersekolah. Halimah berfikir keras, ia tak memegang satu rupiah pun
ditangannya.
"Dwi, Sur, Mba mau pulang dulu kerumah, Mba harap celengan ibu juga Mba
masih tersimpan rapat di lemari, semalam kita terlalu panik sehingga lupa
apa saja yang harus kita bawa."
"Jangan mba, bahaya!" cetus dwi "tidak ada jalan lagi, Mba harus kesana
wi." Jawab Halimah.
"Kalau begitu aku antar mba"
Halimah mengangguk ,
"Sur, Mba dan Mas Dwi pergi dulu ya, jaga bue ya kalau kamu lapar, kamu
minum air putih saja dulu yang banyak ya sur, insyaAllah Mba dan mas Dwi
akan datang bawa makanan." Lanjut Halimah. Ia menangis, dan menguatkan
adiknya yang masih duduk dibangku SD itu, Sur memeluk tubuh Mbanya ia
tersenyum dan menguatkan Mbanya.
Halimah dan Dwi berangkat menggunakan sepeda ontel yang berhasil mereka
pinjam oleh petugas Rumah Sakit yang iba pada mereka. Dwi mengayuh sepeda
itu dengan hati-hati, Halimah memeluk tubuhnya dengan erat, pandangan
mereka kosong. Air mata Halimah tak henti-hentinya mengalir.
Sesampai di desa mereka berjalan pelan-pelan menyelinap seperti maling,
mereka masuk kedalam rumah, ruang tamu,kamar depan milik Dasinun juga ruang
tengah sudah habis terbakar hanya tersisa dapur dan dua kamar belakang.
Bersyukur beberapa pakaian juga celengan yang ia simpan dilemarinya masih
tertata rapih, ia mengambil beberapa plastik dan memasukkan segala
kebutuhan didalamnya, begitupun Dwi yang mengambil beberapa kebutuhan
untuknya juga Sur.
Halimah menuju kamar Dasinun yang sudah terbakar habis, ia berharap
celengan ibunya masih selamat. "Alhamdulillah"pujinya, Dasinun menyimpan
uangnya ditoples kaleng bekas biscuit, celengannya utuh hanya warnanya saja
jadi hitam.
Halimah diam-diam bersama Dwi keluar dari bangunan yang hampir roboh itu,
dari jauh suara yang tak ia inginkan terdengar "HALIMAH!" Ia kaget, Dwi dan
Halimah buru-buru naik keatas sepedanya, namun kalah cepat dengan langkah
warga yang ingin mengulangi kesalahan mereka lagi.
"HALIMAH, KELUAR KAMU DARI KAMPUNG KAMI!" teriak seorang wanita yang seusia
dengan Dasinun. Halimah diam ia tak menghiraukan kata-kata mereka.
"PERGI KAMU HALIMAH!" usir mereka kembali. Seseorang berusaha mengulangi
kejahatan serupa, ia melemparkan batu kerikil ke wajahnya sontak membuat
ibu-ibu itu menjadi bringas dan turut mengambil kerikil di kaki mereka.
"BERHENTI!" teriak seorang laki-laki yang suaranya sangat ia rindukan,
Halimah menangis mendengar suaranya "Mas Haikal" desahnya.
"Berhenti ibu-ibu," Laki-laki itu melindungi Halimah dengan tubuhnya, warga
pun berhenti karena menghormati Haikal anak dari seorang ningrat.
"Bangun Halimah." Matanya berkaca-kaca ia membangunkan Dwi yang semula
berlindung dibalik sepeda.
Halimah menangis, rasanya ia ingin memeluk laki-laki yang hampir menjadi
imamnya, ia ingin menceritakan semua kekejaman yang mereka lakukan padanya,
hatinya tidak lagi berdesir karena rindu, hatinya merasa aman ia merasa
tentram, wanita itu berharap Haikal bisa melindunginya saat ini.
"Apa yang terjadi dengan kamu Halimah? Kenapa bisa seperti ini?" tanya
Haikal, matanya berkaca-kaca menahan tangis, Halimah yang terkenal tangguh
dimatanya begitu kacau, pakaiannya dekil, kerudungnya tak serapih biasanya,
ia hancur.
"Aku..aku.." jawab Halimah terisak-isak ia tak sanggup bicara, mulutnya
seperti terkunci melihat Haikal dihadapannya.
"Dia telah selingkuh dibelakangmu Haikal, ia bahkan tak malu melakukan
perzinahan disini dengan sahabatmu Faisal!" sergah Ayu yang tiba-tiba
datang bersama beberapa remaja perempuan didesanya.
"Bohong..bohong..itu Fitnah Mas!"
"Kami dan warga disini saksinya Haikal, kami juga sering melihat Faisal
bersama Halimah saat kamu pergi." lanjut Ayu.
"Fitnah..itu fitnah Haikal."Mata Halimah memandang mata Haikal dengan penuh
belas kasih, ia memohon untuk Haikal agar percaya padanya, ia sudah lelah
menjelaskan padanya akan kebiadaban mereka, ia hanya menuntut laki-laki itu
untuk percaya padanya.
"Halimah.." panggil Haikal, mereka terdiam.
"Maafkan aku, aku tidak ada saat kamu membutuhkanku, saat ini aku tidak
bisa menentukan mana yang benar dan salah, aku mohon maaf Halimah, sampai
kebenaran itu nyata untukku aku belum bisa mempercayaimu, aku bebaskan kamu
Halimah atas lamaranku minggu lalu." Haikal berpaling membelakanginya, ada
air mata yang keluar dikedua sudut matanya. Halimah melihatnya pergi
menjauh, harapan ia satu-satunya kandas, laki-laki yang seharusnya percaya
berlalu darinya. Tubuhnya lemas, tulang belulang bagai lolos dari tubuhnya.
"Biarkan saja dia mba!" ucap Dwi menguatkan Mbanya, ia mengangkat Mbanya
dari keterpurukan, Sepeda itu berjalan kembali keluar dari Desa menuju
Rumah Sakit, mereka sudah membawa semua kebutuhan yang diperlukan, Halimah
masih terdiam bagai raga tak bernyawa, ia tak menangis. Hatinya sudah hancur.
Halimah sampai dirumah sakit, mereka bergegas menuju ruangan UGD, Sur yang
menunggunya sejak tadi memintanya untuk keruangan dokter. Ia pun bergegas,
dengan membawa beberapa uang dari hasil bongkaran celengan miliknya dan
milik Dasinun. Dokter yang merawat Dasinun sudah menunggunya sejak 30 menit
yang lalu,
"Dok."
"Iya silahkan, mba anak dari ibu Dasinun?"
"Ya dok saya."
"Mba, setelah kami melakukan pemeriksaan menyeluruh, kami bisa simpulkan
bahwa saluran usus bu Dasinun pecah akibat peradangan yang ia alami
sebelumnya dan benturan benda keras, itulah yang menyebabkan pembengkakkan
terjadi diperutnya, harus dilakukan tindakan operasi segera, jika tidak
bisa berbahaya, kami dari tim rumah sakit akan mempersiapkan segalanya, mba
silahkan mengurus administrasinya agar kami bisa segera melakukan tindakan."
Halimah lelah, begitu berat cobaan baginya, ia berjalan menuju ruang
administrasi, uang yang ia kumpulkan dari bongkaran celengan miliknya tak
lebih dari tiga juta rupiah, nilai yang sangat sedikit sekali untuk biaya
perawatan ibunya, untungnya Rumah Sakit ini memberikan kemudahan baginya
untuk bisa membayar uang muka terlebih dahulu diawal, dari uang tiga juta
yang ia punya, dua jutanya sudah ia pakai untuk biaya rawat inap, biaya
UGD, obat dan lainnya. Halimah tegar, ia mencoba berfikir tenang, selembar
kertas dari ruang administrasi ia terima, biaya operasi ibunya beserta
biaya rawat inap kelas 3 dan lainnya berjumlah fantastis baginya, 30 juta
rupiah, angka yang sangat besar. Ia menarik nafas, ia mencoba berfikir
dengan tenang kemana ia harus meminjam uang sebesar itu.
"Mba." sapa Dwi yang melihatnya termenung didepan loby.
"Ehh..!" Ia terperanga, adiknya mendekat dan mengambil secarik kertas yang
ia pegang.
"30 juta mba." Dwi memelas.
Halimah diam dan terus berfikir, ia memandang kesegala arah melihat
orang-orang disekitarnya yang mungkin memiliki masalah yang sama dengannya,
pikirannya lalu terbang ke gedong tua, pikirannya sudah buntu, seperti tak
ada jalan lain ia harus kembali ke Gedong tua untuk meminta bantuan, hati
kecilnya merasa laki-laki yang membantunya kemarin adalah orang yang baik.
"Mba harus kembali ke Gedong tua, wi."
"Jangan mba, jangan kita ngga boleh minta bantuan pada jelmaan jin"
"Dia Manusia wi, mba merasakan itu, bohong semua cerita orang-orang itu,
dia orang baik mba yakin, hanya dia satu-satunya harapan wi, dia yang
kemarin membantu kita, mba yakin kali ini dia pasti mau membantu kita."
"Tapi ini masih sore kak, bukankah mereka membuka gerbangnya saat malam hari."
"Mba akan menunggunya, sampai mba dapat mba tidak akan pulang."
"Mba, aku ikut."
"Kamu disini saja, mba khawatir terjadi apa-apa dengan bue, Sur masih kecil
ia tidak mengerti apa-apa, mba berangkat sekarang."
"Ya mba."
Halimah sholat, setelah ashar ia berangkat menggunakan sepeda yang tadi ia
pakai bersama adiknya, dengan kegigihan juga keyakinan, ia yakin ia akan
pulang dengan membawa uang. Senja menyingsing, kabut tebal mulai turun
kebawah udara semakin dingin, menjelang maghrib Halimah tiba di Gedong tua,
rasa takut yang ia alami beberapa malam lalu sedikit berkurang, cahaya
matahari mulai padam, Rumah itu pun mulai menebarkan aura gelapnya.
Gerbang masih tertutup, ia menunggu dengan sabar seraya berdzikir, sesekali
ia melihat kedalam menanti Pak Darmin, atau Mbok yang ia belum tahu
namanya, atau bahkan Tuan penghuni keluar. Ia mulai berani membunyikan
gembok yang sebesar tangannya, ia bentur-benturkan tak lama Pak Darmin
berlari menemuinya, tanpa membuka gerbang Pak Darmin memintanya untuk pergi
"Ya Ampun mba, ada apa lagi toh.. tolong jangan terus menerus kesini." Ucapnya
"Izinkan saya sekali lagi bertemu dengannya pak, setelah ini saya janji
tidak akan meminta bantuan lagi." Ucap Halimah hingga bibirnya menyentuh
dinding gerbang yang tertutup begitu rapat.
Tak lama terdengar suara si Mbok ia berlari lalu ia meminta untuk dibukakan
gerbangnya untuk Halimah, Halimah bersyukur hatinya lega. Ia masuk seraya
mencium tangan si Mbok, laki-laki itu berdiri dipekarangan rumah, dari jauh
Halimah melihat tubuhnya tinggi besar, pundaknya bidang, rambutnya panjang
juga wajahnya penuh dengan janggut kedua tangannya ia lipat didada, ia
menatap Halimah begitu tajam. Halimah berjalan pelan kearahnya, tak lama ia
masuk kedalam rumah. Halimah menginjakkan kakinya kembali di rumah Gedong
tua. Ia duduk dibawah lantai itu, Laki-laki itu duduk disebuah kursi tua
persis dihadapannya,air mata Halimah terjatuh, ia berharap laki-laki itu
mau mengasihaninya.
"Katakan!" ujarnya, suaranya begitu menggelegar di hati Halimah, mendengar
suaranya jantung terasa berhenti.
"Maaf..sekali lagi maaf, tak seharusnya saya datang pada anda tapi saat ini
taka da satpun yang bisa saya membantu saya." Jawab Halimah merendah.
"Langsung saja tidak usah bertele-tele!"
"Saya butuh uang, ibu saya harus dioperasi, saat ini saya tidak memiliki
uang saya berjanji secepatnya akan saya kembalikan, tolong bantu saya."
"Berapa?"
"30 juta.." jawabnya memelas, air matanya kembali menetes.
"Apa jaminannya?"
"Saya tidak punya apa-apa Tuan, saya bisa membayar dengan tenaga saya, saya
bisa melakukan apa saja, tolong bantu saya Tuan."
"Saya tidak butuh pekerja!"
"Apapun itu Tuan, saya akan menggantinya demi nyawa ibu saya, saya mohon.."
Halimah menangis, nafasnya mulai tersendat, suaranya semakin parau terdengar.
"Ok! Kamu bisa mendapatkan uang itu, asalkan."
"Apapun itu, apapun itu."
"Kamu menikah dengan saya." Halimah bagai tersambar petir, ia sama sekali
tak menyangka laki-laki yang terlihat seperti monster itu memintanya untuk
menjadi istrinya.
"Nggak..nggak.. itu hal yang tidak bisa saya terima.. tolong jangan
manfaatkan saya, saya sedang kesulitan, tolong bantu saya.!" Tangisan
Halimah pecah, ia tak mungkin menerima permintaan laki-laki itu.
"Kalau begitu tidak uang! Pak Darmin! Usir dia!"
"Tolong saya.,,saya mohon tolong saya," Halimah menangis sesegukan Darmin
membopong tubuhnya "Saya mohon bantu saya, saya akan melakukan apa saja
asal jangan itu, saya mohon!" teriak Halimah, pintu ditutup Halimah terdiam
di teras rumah, ia menggedor-gedor untuk meyakinkannya agar mau membantunya
dengan tulus.
Halimah tak berdaya, ia jatuh pikirannya kacau, ibunya harus segera di
operasi, tangisannya semakin menjadi, ia duduk disana hingga malam semakin
larut, berharap laki-laki itu mau berbesar hati membantunya tanpa syarat,
namun ia tak bergeming Halimah tetap duduk didepan hingga ia teringat pesan
dokter malam ini juga harus dilakukan operasi.
Halimah berdiri, pikran juga hatinya kacau ia menggedor pintu rumah itu
sekencang-kencangnya
"Keluar, kamu!! Benar kata mereka kamu tak lebih dari jelmaan jin,
Syaiton!! Ia meluapkan emosinya,
"keluar kamu, jika itu memang keinginanmu aku bersedia..aku bersedia..
tolong selamatkan ibu saya.. tolong!" ia terus menjerit, suaranya semakin
lama semakin pelan.
Pintu itu terbuka, laki-laki itu membawa koper ditangannya,ia melihat
Halimah yang tak berdaya duduk dihadapannya seraya menangis.Halimah terperangah
"Pak Darmin!"
"Ya den!"
"Bawa ini kerumah sakit, pastikan semuanya lancar, dan katakan pada
adiknya, kakaknya akan segera menikah besok!"
"Baik den!"
Halimah berdiri, ia menatap benci pada laki-laki dihadapannya, Halimah pun
mengalihkan wajahnya dan berlari menuju jeep yang Darmin bawa, tak lama
laki-laki itu menangkap tangannya,
"KAMU DISINI SAJA!" Jawabnya melotot.
"Tidak,, Tidaaakk, lepaskan saya, lepaskan saya Syaiton, biadab, kamu sama
dengan mereka, lepaskan saya..!" Mobil Darmin melaju cepat ke Rumah Sakit,
laki-laki itu menarik lengan Halimah, ia masuk ke dalam kamar lalu
membanting tubuh Halimah keatas kasur lalu menguncinya dari luar, Halimah
menjerit histeris, ia terus menjerit hingga suaranya habis.
"Mbok Sum!"
"Ya Den..!"
"Bawakan dia makanan, dan tutup mulutnya rapat-rapat!"
Halimah lelah, ia terus memikirkan ibunya juga adik-adiknya, ia sendiri
menangis di sebuah kamar yang gelap tanpa cahaya, hanya ada cahaya rembulan
yang masuk dari sela-sela jendela, ruangan yang begitu hampa.
Dilangkahkan kakinya yang masih lemas itu menuju kearah pintu, ia
menggerakkan kenop pintu, tapi rupanya sia-sia. Pintu itu terkunci, air
mata terus mengalir dari matanya, bayangan buruk memenuhi otaknya, kini
dirinya yakin bahwa ia telah ditukar oleh laki-laki itu dengan uang yang ia
pinjam untuk menyelamatkan ibunya, Laki-laki itu pasti akan menjadikannya
mangsa hanya untuk memuaskan nafsu birahinya, Halimah menggeleng kuat-kuat
memikirkan hal itu.
"Non" mbok sum mengetuk pintu dari luar. tak lama, ia membuka pintu
kamarnya dengan perlahan, mbok sum membawa nampan ada lilin juga makanan
diatasnya, saat mbok sum lengah, Halimah berlari keluar.
"Non…Non…berhenti Non, jangan keluar!" Teriak Mbok sum mengejarnya.
Halimah berhasil keluar dari rumah itu, ia berlari kencang tanpa alas kaki
menuju gerbang yang sudah setengah terbuka dan
"Bugg!" Ia tertangkap, laki-laki itu mengejarnya dan memeluknya, tangannya
ia silang kuat dibawah dadanya, ia mengangkatnya hingga kedua kaki Halimah
terangkat.
"Lepaskan saya..lepaskan saya bajingan kamu..lepaskan!" Ia menggendongnya
dan membawanya masuk kembali kedalam kamar Halimah terus menjerit
"DIAM!!" Teriak laki-laki itu persis dihadapannya, suaranya menggelegar,
memperlambat detak jantung.
Halimah diam, bibirnya terkunci rapat, ruh juga tubuhnya ketakutan.
Laki-laki itu pergi meninggalkannya lalu mengunci kembali ruangannya.
Halimah kini tak lagi bersuara, amarahnya sungguh membuat siapapun diam
membisu, kamar yang ia tempati kini tak lagi gelap, mbok Sum sudah
meletakkan dua buah lampu minyak di setiap sudutnya, kamar yang ia tempati
amat besar, ranjang ala eropa, juga beberapa lukisan kuno terpajang disana,
rapih namun berdebu semua yang ia sentuh berdebu, kamar ini sudah lama tak
terisi. Halimah diam disudut kamar, duduk dan menyilangkan tangannya,
suara-suara aneh mulai menghantuinya, ia tak bisa memejamkan matanya, ia
terjaga hingga pagi.
**
Pagi menjelang Dasinun telah selesai di operasi, masa kritisnya telah
lewat. Darmin menunggu hingga operasi selesai, ia mengikuti semua perintah
Tuannya, ia membayar semua kebutuhan Rumah Sakit, ia juga memberikan Dwi
dan Sur pakaian yang layak, uang juga banyak makanan, bahkan kendaraan
untuk mereka bisa gunakan, hal yang lebih dari yang Halimah pinta.
Dwi sangat syok saat mengetahui kakak perempuannya menjual harga dirinya
demi menyelamatkan ibu mereka, batinnya sakit sulit rasanya bisa menerima
kakaknya akan menikah dengan laki-laki yang dibilang Setan oleh banyak
orang. Namun keadaan mereka sangat sulit, ia tak bisa mengelak.
Akad nikah akan dilakukan malam hari, Halimah hanya berdiam diri membisu
dikamarnya, cahaya pagi itu sama sekali tak membawa semangat baginya,
harusnya ia menikah dengan Haikal, harusnya ia bisa hidup bahagia setelah
sekian lama penderitaan merajai dirinya. Air matanya kering, suaranya
habis, ia pasrah.
Mbok sum membuka pintu, ia membawa sarapan Halimah tak terperangah
sedikitpun, ia hanya memandang kearah jendela dengan posisi duduk dibawah
dan tangan terlipat diatas lututnya, makanan dan minuman semalam sama
sekali tak ia sentuh, ia bahkan tak ingat kewajibannya akan tuhan,
kekecewaannya begitu mendalam cukup menyurutkan imannya.
"Non.. non harus makan..non!" Halimah tak menjawab.
"Non.. makan non." ucapnya kembali seraya berusaha menyuapinya.
"Non..!" lanjut Mbok Sum , ia terus berusaha meyakinkannya, Mbok Sum tak
tega melihat kesusahannya, tak lama ia menangis
"Ayo makan Non, kasihan ibu Non juga dik-adik, ayo makan Non" lanjutnya
seraya menyuapi.
Halimah mengalihkan wajahnya kearahnya,
"Mbok menangis?" bibir Halimah menyungging keatas
"akhirnya ada juga yang menangis untuk penderitaan saya mbok." lanjutnya.
"Yang Sabar ya Non, makan ya Non."
"Saya tak akan makan mbok, saya juga tak akan minum, biar sampai mati saya
akan berada disini, jika Allah berkehendak saya mati disini, maka saya
ikhlas, daripada saya harus menikah dengan laki-laki keji itu, saya tak
akan pernah rela, lebih baik ia menghujami saya dengan batu atau bahkan
menusuk saya dengan belati, bahkan teraniyaya sekalipun itu lebih baik
daripada saya harus menikahinya." Jawabnya mngguratkan kebencian.
"Non.. yang sabar ya,,. , oh ya apa Non sudah tau kabar ibu Non?"
"Belum mbok." jawabnya menggelengkan kepala.
"Ibu Non sudah selesai dioperasi, dan masa kritisnya sudah lewat ia juga
sudah sadar, pak Dirman yang memberitahu mbok."
Wajah Halimah bergairah mendengarnya hatinya sedikit lega
"Benarkah mbok?"
"Benar Non. Pak Darmin menunggu hingga operasi selesai"
"Dia jahat mbok, seharusnya dia tidak meminta syarat apapun!" jawabnya murka.
Mbok Sum meninggalkannya sendiri, lalu ia mengunci kembali kamarnya. Mbok
Sum lalu melanjutkan pergi kelantai dua mengantarakan sarapan untuk
Tuannya, pelan ia mengetuk
"Den,, sarapan den" tak lama Laki-laki itu membuka pintu. Ia mengambil
nampan dari tangan Mbok Sum, tak satupun yang boleh masuk kekamarnya,
"Bagaimana mbok?"
"Operasinya berhasil den, ibunya selamat."
"Lalu dia?"
"Non tidak mau makan dan minum dari semalam den." Ia Marah, Laki-laki itu
langsung berjalan cepat kearah kamarnya, Ia membuka pintu kamarnya dan
Halimah masih ada ditempat semula ia tak bergerak sedikitpun,
"Bangun..bangun!" ujarnya seraya menarik lengannya lalu membantingnya
kekasur, ia lalu mengambil makanan yang ada diatas meja lalu menyuapinya
"MAKAN..MAKAN!" teriaknya keras.
"SAMPAI MATI SAYA TIDAK AKAN MAKAN !" jawabnya lantang.
"MAKAAAN!" teriaknya kembali, jantung Halimah bergetar, tak lama hatinya
menjadi ciut
"Saya akan makan sendiri."
"SEKARANG!" lanjutnya, Halimah makan dihadapannya, sedikit makanan yang ia
masukkan ke dalam mulutnya.
"Kamu tak akan bisa menikah denganku." rutuk Halimah.
"Kenapa ?" jawabnya membalikkan badan kearahnya.
"Aku hanya bisa menikah dengan manusia, bukan setan sepertimu!"
"Kalau gitu aku akan membuktikan, apakah Setan ini bisa menikahimu atau
tidak?" jawabnya seraya mendekatkan wajah seramnya ke wajah Halimah.
"kenapa harus aku?kenapa?" Halimah terisak, tangan laki-laki itu melengkung
memegang kencang mulutnya, hampir mencekik.
"Karena hanya kau yang berani datang mengganggu kediamanku!" rutuknya
kesal, matanya melotot ke arahnya, matanya merah bagaikan darah, wajahnya
sangar bagai singa yang siap menghabisi mangsa.
"Seorang muslim hanya bisa menikahi muslim lainnya, pernikahan ini tidak
akan sah."rutuk Halimah.
Laki-laki itu tertawa, ia menertawai Halimah yang terbaring kaku diatas kasur,
"Kamu pikir aku tidak tahu syarat sah menikah dalam islam, berduduk
manislah Halimah, kamu akan mendapatkan pernikahan sesuai ajaranmu!"
Laki-laki itu berbicara seraya mundur kearah pintu, bibirnya menyungging
keatas menunjukkan keangkuhannya. Ia keluar dan kembali mengunci pintunya.
"DENGAR HALIMAH! JIKA KAMU TIDAK MAKAN, AKU AKAN MENGHABISI KELUARGAMU,
DENGAR ITU!" teriaknya diluar kamar.
Halimah tak berdaya, dan tak lama tangisan itupun pecah, ia menjerit, ia
terus menerus menangis, matahari beranjak naik, tak lama bagaikan sebuah
pertanda sebuah bayangan berlafaz Allah memantul persis dihadapannya,
jendela itu berukirkan lafaz Allah. Halimah bangkit ia menatap ke arah
jendela, ia meraba ukiran jendela itu yang baru saja ia sadari,
ia tersenyum, ada harapan baru dihatinya, ia mengingat Dasinun, Dwi juga
Sur, ia mulai merasa ia harus kuat dan menghadapi semua kenyataan ini, "Aku
harus kuat, aku harus kuat"Ia melahap habis makanan yang sudah berantakan.
Halimah memperhatikan setiap sudut di kamar yang ia tempati, kamar yang
berukuran 50 meter itu adalah kamar utama Gedong Tua, semua furniturenya
berasal dari eropa, ada beberapa rak buku disebelah tempat tidur, lemari
pakaian dan sebuah kamar mandi, lantainya dialasi karpet tebal yang mampu
menghangatkan setiap langkahnya, tirai kelambu terpasang diatas ranjang, di
sudut kamar, sebuah ranjang bayi tertutup rapih oleh selembar carik,
ruangan ini pasti punya sejarah, mereka dulunya pasti keluarga bahagia
"Siapa dia?" batin Halimah bertanya.
Halimah melangkahkan kakinya kemar mandi, kamar mandi yang luasnya sama
dengan kamar Halimah dirumah, sebuah bathtub, closetnya begitu bagus hanya
kotor sudah berwarna coklat , ia mengambil wudu lalu ia sholat ia
bermunajat memohon ampun atas keraguannya, ia memohon perlindungan kepada
dirinya juga keluarganya ia memohon agar Allah membukakan pintu hati
laki-laki yang memaksa dirinya untuk menikah dengannya.
Malam itu Dirman datang, ia membawa Dwi juga seorang penghulu yang berasal
dari desa sebelah. Akad nikah itu benar-benar akan diwujudkannya, Dwi
adiknya hanya bisa menangis membayangkan nasib Halimah.
Dirman mengantarkan mereka masuk kedalam sebuah ruangan, Mbok Sum sudah
mempersiapkan semuanya, Suasananya begitu sacral, beberapa buah lilin juga
dua buah lampu minyak menerangi ruangan tersebut, tak ada Halimah disana,
ia tidak diizinkan keluar oleh laki-laki yang akan menjadi suaminya itu.
Laki-laki itu keluar dari kamarnya, ia memakai jas, kaos lusuh dan celana
bahan seperti kulot yang biasa ia gunakan, tampilannya lebih rapih,
wajahnya mulai terlihat ia tak seperti yang dikatakan orang, rambut yang
selama ini menutupi wajahnya ia kuncir belakang, laki-laki itu bertubuh
tinggi tegap, matanya tajam berwarna kecoklatan dan sangat indah, hidungnya
mancung, dari jauh Dwi berlari kearahnya dan bersimpuh di kedua kakinya
"Tolong maafkan kakak saya, lepaskan dia" ujarnya
"Kakakmu sendiri yang setuju menikah denganku, jadilah adik yang baik dan
lakukan tugasmu!" rutuk Laki-laki itu dengan wajah kesal dan bibir sedikit
menyunggi keatas.
"Kita langsung saja, semua syarat sah menikah dalam islam sudah terpenuhi?
Pengantin wanita, laki laki, dua orang saksi, dan Wali perempuan juga
Mahar?" tanya penghulu setelah mencatat semua nama yang akan ia nikahkan.
Hadir disana, dwi sebagai wali, Dirman dan Sum sebagai saksi.dan Mahar yang
sudah mereka gunakan untuk pengobatan ibunya dirumah sakit.
"Nggih sudah pak"jawab Darmin.
"Langsung saja tidak usah bertele-tele!" Serunya,
"Baik siapa walinya?"
"Saya." keluh Dwi menangis.
Penghulu itu menyodorkan secarik kertas untuk Dwi baca"
"Aku wakilkan kepadamu untuk menikahkan Halimah Sahardaya binti Sahardaya
kakak perempuan saya dengan Rhandra dengan mahar 50 juta ripiah Tunai."
"Saya terima perwakilanmu untuk menikahkan kakak kandung perempuanmu dengan
Rhandra, dengan mahar tersebut tunai."
Dwi menyetujui pernikahan tersebut, ia telah meminta kepada penghulu untuk
menikahkan kakak kandungnya dengan laki-laki yang ia baru kenal bernama
Rhandra Abyakta.
"Sebelum memulai pernikahan anda harus mengucapkan Syahadat terlebih dahulu"
"Kenapa? Hal itu tidak ada dalam rukun sah pernikahan dalam islam!"
retuknya menatap dengan tajam.
"Hal ini memang tidak wajib, tapi hal ini dijadikan dasar bagi saya, bahwa
saya telah menikahkan seorang muslimah dengan seorang yang beragama islam,
bukan beragama lain."
"Den" Darmin memegang paha Rhandra kepalanya mengangguk memintanya untuk
mengalah dan bersyahadat. Rhandra diam ia setuju.
"Ikuti saya"
"Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah"
Rhandra mengikutinya dengan suara lantang dan jelas. Dwi melihat caranya
mengucap Syahadat ia bukanlah anak kemarin sore yang terbata-bata dalam
bersyahadat, ia adalah muslim sejati, mulutnya dengan lantang mengucap
lafaz syahadat dengan benar dan jelas.
Akad nikah berlangsung :
"Saudara Rhandra Abyakta bin Mahadi Abyakta Saya nikahkan anda dengan
Halimah Sahardaya binti Sahardaya yang hak walinya mewakilkan kepada saya
dengan mas kawin uang 50 juta rupiah terbayar tunai."
Dengan lantang dan tegas Rhandra menjawab
"Saya terima nikahnya Halimah Sahardaya binti Sahardaya yang walinya
mewakilkan kepada bapak untuk saya sendiri dengan mas kawin tersebut tunai."
"Sah.. sah Alhamdulillah.." penghulu melafaskan doa, semua mengadahkan
tangan memohon rahmat pada sang khalik, hanya Rhandra yang terpaku diam,
dan membiarkan semua itu terjadi dihadapannya.
Halimah telah sah menjadi istrinya, laki laki yang belakangan baru
diketahui bernama Rhandra Abyakta. Dalam heningnya malam, Halimah terdiam
ia memandang ke arah jendela, pasrah akan semua takdir yang terjadi dalam
hidupnya, bibirnya kering terus menerus ia berdzikir berharap Allah
memberikan petunjuk dan jalan penerang baginya.
Kenop pintu bergerak, Halimah mengalihkan pandangannya ia berharap bukan
laki-laki yang ia anggap monster itu yang masuk ke dalam kamarnya, ia
mundur dan bersembunyi di balik nakas.
"Mba..Mba halimah." Suara Dwi terdengar.
"Dwi!" Halimah berdiri dan berlari memeluknya, mereka menangis,
"Gimana kabar bue wi.. gimana?"
"Bue baik mba, ia sudah lebih baik sekarang, mba yang sabar ya, dwi minta
maaf." Dwi bersimpuh di kakinya, ia memohon maaf karena tak bisa berbuat
banyak ata kejadian yang menimpa keluarganya.
"Bangun wi."
"Mba, Mba sekarang sudah sah menjadi istrinya, dwi yang memberikan tangan
mba padanya, dwi khawatir , maafkan dwi mba."
Halimah menangis, ia tahu itu pasti akan terjadi, kini ia sah menjadi istri
dari penghuni Gedong Tua, hatinya hancur meratap harusnya ia bisa menikah
dengan Haikal laki-laki pujaannya bukan dengan jelmaan Jin seperti dia.
"kalian akan tinggal dimana? Rumah masih hancur, dan kalaupun kalian
kembali desa, hidup kalian pasti tidak akan aman."
"Mba tidak usah khawatir, laki-laki itu membiayai sembua kebutuhan kami di
Rumah Sakit, bahkan bue diopname dikamar utama Rumah sakit, kami tidur
beralaskan sofa empuk mba didalam kamar, ia juga memberikan pakaian untuk
saya dan Sur, juga sepeda, dan tempat untuk kami tinggali setelah bue
keluar dari Rumah sakit nanti."
Halimah diam, ia bersyukur setidaknya laki-laki itu menukar dirinya dengan
harga yang setimpal. Ia kini pasrah, harga dirinya sudah terjual, ia
sekarang menjadi hak Rhandra seutuhnya.
____
#bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar