_MENIKAH DENGAN SETAN_
_______________________
Part 1
Suara langkah kaki terdengar dari kamar Halimah yang begitu gelap, tak ada
cahaya lampu disana, hanya sinar rembulan yang menerangi kamarnya dan dua
buah lilin yang diletakkan Mbok sum saat senja menjelang malam tadi.
Suara langkah itu makin jelas, kemudian tanpa ada yang mengetuk pintu
gagang pintu itu pun berputar, Halimah benar-benar merasakan ketakutan yang
amat mendalam, "Astagfirullah…Astagfirullah.. Allahuma ya Allah lindungi
aku" Ia terus menerus berdzikir, wajahnya semakin panik ketakutan, bibirnya
biru, tubuhnya pun menjadi dingin, ia mengamati pintu itu tanpa berkedip,
dan terbuka.
Laki-laki itu berdiri didepan pintunya, ia sungguh menakutkan, sinar
diwajahnya sama sekali tidak Nampak, rambutnya yang panjang juga janggut
dipipi yang memenuhi isi wajahnya.
"Mau apa kamu?" Jawab Halimah gusar, "Jangan mendekat!" Lanjutnya lagi
sambil berteriak seraya mengambil benda keras disebelahnya untuk ia gunakan
sebagai senjata.
"Aku ini suamimu, Hak aku untuk masuk kekamarmu!"
Jawabnya tegas, laki-laki itu kemudian membanting pintunya.
"Aku mohon jangan..aku mohon!" pinta Halimah ia menangis ketakutan, ia
berteriak namun tak mampu membangunkan setiap jiwa yang ada disekelilingnya
ruangan itu begitu rapat dan jauh dari warga.
"Aku mohoon jangan...!" jiwanya sudah kaku ia terjebak, ia sudah tak mampu
melawan.
"Bukankah ajaranmu itu yang selalu menyuruh istrinya untuk Taat pada
suami?" jawabnya seraya menangkap tangan wanita yang sudah tak berdaya itu.
"Lepaskan benda itu.!" Pintanya sambil melotot
"Aku mohon… jangan lakukan ini.. aku mohon..!" Jawab Halimah memohon
tangisannya pecah, laki-laki itu menciumi wajahnya dengan penuh nafsu dan
kegilaan layaknya setan yang haus akan darah.
"Tolong . Tolong aku,,,!" Ia menangis sesegukan.
"Non… Non… bangun Non..!" Suara itu terdengar ditelinganya dengan jelas.
"Hah…!" Halimah terbangun , seluruh tubuhnya basah karena keringat,
"Astagfirullah..Astagfirullah..Astagfirullah.." setelah itu ia meludah
kekiri, "Alhamdulillah ya Allah ini hanya mimpi, terimakasih ya Mbok sum
sudah membangunkan saya."
"Ya Non, Non.. Aden sudah manggil Non dari tadi."
"Oh iya Mbok, saya segera keluar."
Setelah ia bisa mengontrol emosi juga rasa takutnya, Halimah keluar, ia
menuju kearah meja makan, saat itu sudah pukul delapan malam, Rumah itu
bagaikan istana baginya, sungguh besar untuk menuju ke setiap ruangan ia
perlu berjalan antara 10 hingga 15 meter. Ia pun berhenti diruang makan,
laki-laki itu yang bahkan baru ia kenal sehari ini sudah duduk dikursi meja
makan, ia duduk paling depan menghadap kearahnya,
"Baru sebentar aja udah males-malesan." Jawab laki-laki yang sudah sah
menjadi suaminya itu.
"Maaf saya sangat lelah, tadi saya ketiduran." Jawab Halimah mendekatinya.
"Duduk!" perintahnya.Halimah pun menarik kursi yang ada dihadapannya, dan
duduk.
"Siapa yang suruh kamu duduk disitu?" Halimah sangat kaget mendengarnya,
buru-buru ia berdiri.
"Duduk disini!" perintahnya seraya menunjuk kearah lantai persis disebelahnya.
Halimah duduk dan mengikuti perintahnya, ia pikir tak mengapa asalkan ia
tak disentuhnya.
"Mbok sum!"
"Ya den,"
"Pekerjaan apa yang belum beres?"
"eeh,, ehh,, apa ya den, sudah beres semua den, Cuma.."
"Cuma apa?"
"Ruang kerja den aja yang berantakan, tadi mbok mau bereskan Aden masih
sibuk kerja"
"Hei denger, kamu bersihkan ruangan itu sampai rapih."
"Iya." Halimah mengangguk ketakutan.
"Terus satu lagi, bukan berarti menikah dengan saya, bisa menjadikan kamu
nyonya dirumah ini!, kamu harus masak, ngepel, beresin rumah, semua yang
ada dirumah ini harus kamu bersihkan, ngerti?"
Halimah merinding ketakutan "Ya,,insyaAllah akan saya kerjakan semua,"
"Jangan bawa nama Tuhan disini!" teriaknya seraya menghentakkan sendok
makannya.
Halimah mundur dari tempat ia duduk, tangannya mengepal ia sangat
ketakutan, Laki-laki itu pun berdiri lalu meninggalkannya. Tak lama Mbok
sum membantunya bangun dari tempat ia duduk, ia masih gugup ketakutan,
bibirnya bergetar, tubuhnya dingin seperti es.
"Non..Non makan dulu ya,,"
"Ngga Mbok.. saya ingin pulang Mbok." Jawabnya menangis.
"Jangaan Non, nanti si Aden semakin marah." Mbok sum mengambilkan air putih
dan memberikan padanya, Halimah meneguk air itu hingga habis tangannya
masih gemetar saat memegang gelas, ia sangat kehausan. Ia pun mencoba untuk
tenang, ia hapus air matanya dan mencoba untuk kuat.
"Non yang sabar ya.."
"Ya Mbok."
"Non, Mbok Cuma mau kasih tau beberapa hal disini yang perlu Non tau,
pertama saat malam Non ngga perlu nyalain lampu, lampu hanya boleh menyala
dikamar si Aden saja saat malam, kedua si Aden ngga suka kalo ia denger
nama Tuhan dirumah ini, jadi Non harus membiasakan diri ya."
"Nama Tuhan maksudnya Mbok?"
"Yah kan kayak Non barusan bilang InsyaAllah, Aden ngga suka itu."
"MasyaAllah.. kalo nama Allah tidak boleh diperdengarkan lantas bagaimana
saya bisa beribadah Mbok? Ngga bisa Mbok itu sangat bertentangan bagi saya.
"Sudahlan Non, ikutin aja, Non kalo mau sholat pintu kamar tutup yang rapat."
Halimah diam, ia tidak mengiyakan permintaan terakhir Mbok sum barusan,
Baginya menyebut nama Allah adalah sebuah keharusan, lidahnya sudah
terbiasa mengucap nama Tuhannya, hanya Setan saja yang tak sanggup
mendengar nama tuhannya.
Malam itu Halimah semakin yakin, ia menikah dengan setan seperti yang sudah
banyak dibicarakan warga kampung, bahwa laki-laki yang tinggal dirumah
angker ini adalah Jelmaan jin.
"Ya Allah cobaan apa ini, cobaan apa yang kau berikan padaku, lindungi aku
ya Allah..Lindungi," Jeritnya dalam hati.
***
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar