BENDE MATARAM
Karya: Herman P
Episode 1
Seri 3
"Bukan. Kami rombongan penari yang akan merayakan pesta penobatan Suitan di
Dusun
Karangtinaiang," jawab saiah seorang dari rombongan penari. Dia adaiah si
gemuk pendek.
Suaranya keras agak parau.
"Hm, aku tidak bisa kalian kelabui. Meskipun kalian mengenakan samaran
ibiis sekalipun.
Mataku tidak bisa kautipu."
"Bagus. Siapa kamu?"
Orang yang menghadang rombongan penari tidak segera menjawab. Dia mendehem
dua kali, kemudian berkata, "Grusan Bende Mataram dan Keris Tunggulmanik
jangan dikutik-kutik lagi.
Kembalilah kalian ke Banyumas. Hidup bebas dari marabahaya, bukankah iebih
menyenangkan?"
"Hooo. Hi hi hi... ha ha ha Jadi maksudmu menghadang kami berhubung dengan
adanya Bende Mataram dan Keris Tunggulmanik? Apa alasanmu? Apa kamu berhak
memiliki bende keramat itu?"
Orang yang menghadang tidak berbicara lagi. la memperdengarkan suara
tertawanya yang
dingin. Wirapati yang berhenti agak jauh, terkejut mendengar lagu tawa itu.
Suatu perasaan aneh menyelinap daiam tubuhnya. Karena takut barangkali si
penghadang iagi menggunakan mantran siluman, cepat-cepat ia bersembunyi di
belakang pohon.
Penglihatannya ditajamkan. Dilihatnya
kini seorang berperawakan kurus ramping berdiri bertolak pinggang di tengah
jaian.
Warna pakaian dan raut mukanya tidak nampak jeias, karena kegelapan maiam.
Tetapi jeias terlihat ia memegang tongkat yang selalu diputar-putarkan.
Pada saat itu si tinggi jangkung mencoba menerangkan.
"Bende Mataram dari Keris Tungguimanik adaiah pusaka turun-temurun Bupati
Banyumas.
Kedua pusaka itu hilang dicuri orang. Sekarang telah kami temukan jejaknya.
Apa salah kami
datang untuk mengambilnya?"
Si penghadang tidak menyahut.
Diperdengarkan lagu tertawanya lagi yang mengesankan perasaan aneh
memuakkan. Sikapnya tinggi hati dan merendahkan lawannya. Tiba-tiba si
gemuk pendek yang berwatak berangasan (gampang marah), meloncat ke depan
sambil membentak.
"Jahanam, minggir. Apa kamu bosan hidup?"
Tetapi belum lagi menyelesaikan umpatannya, mendadak saja ia memekik
tinggi. Kemudian
robohlah dia seperti pohon tumbang. Menyaksikan si gemuk pendek roboh,
rombongan penari aneh dari Banyumas bergerak serentak. Tetapi si penghadang
meloncat menyeberang pengempangan sawah dan lenyap tanpa bekas.
Mereka mengerumuni si gemuk pendek. Ada pula yang mencoba mengejar. Tetapi
si jangkung tinggi cepat-cepat mengumpulkan teman-temannya, la membungkuk
memeriksa tubuh si gemuk pendek. Ternyata nyawanya telah melayang.
Menyaksikan kematian temannya, semua anggota rombongan menggeram penuh
kegusaran. Tetapi ke mana larinya si penghadang tadi?
Wirapati heran. Tak dapat ia menebak, sebab-musabab dari kematian itu.
Dalam gelap malam, ia tak tahu gerakan si penghadang. Tiba-tiba, si gemuk
pendek mati terjungkal. Siapa mengira, si penghadang mendadak menyerang
begitu cepat tak terduga.
Seumpama dia sendiri menghadapi
orang itu, belum tentu dapat menghindarkan malapetaka. Nampak' nya, si
penghadang
mempunyai sejenis senjata rahasia yang disimpan dalam tongkatnya.
Cepat-cepat ia berjongkok, agar dapat menambah kewaspadaannya. Siapa tahu,
si penghadang hanya lari berputar dan bermaksud menikam dari belakang.
Menyaksikan kecepatan geraknya, tidaklah mustahil dia dapat berbuat di luar
dugaan.
Lagipula, rombongan penari itu dapat
mendakwanya sebagai si penghadang tadi. Bagaimana mereka dapat membedakan
antara dia dan si penghadang di tengah kegelapan demikian, "Letakkan
jenazah Gandi di tepi jalan. Kita selesaikan dulu urusan ini. Setelah kita
berhasil, kita menguburnya," kata si tinggi jangkung.
"Apa kita biarkan si jahanam tadi kabur tanpa pembalasan?" tungkas yang lain.
"Perlahan-lahan kita selidiki dia. Kelak kita pasti dapat menuntut balas."
Tidak seorang pun yang membantah perintah si tinggi jangkung. Dengan rasa
haru mereka
meneruskan perjalanan. Langkah mereka kali ini bertambah cepat dan pesat.
Sebentar saja tubuh mereka telah lenyap di gelap malam.
Waktu itu hujan yang tadi turun rintik-rintik, kian menjadi deras. Angin
pegunungan meniup
cepat, membungkuk-bungkukkan semua penghalang. Mahkota pohon-pohon yang
berdiri di sepanjang jalan dirontokkan dan padi di sawah terdengar
bergemerisik.
WIRAPATI menyabarkan diri sampai rombongan penari yang aneh itu tidak
terdengar lagi langkahnya. Perlahan-lahan ia muncul dari balik pohon dan
datang menghampiri mayat si gemuk pendek. Ia melihat mayat meliuk seperti
udang terbakar.
Maka diurungkan niatnya hendak menyelidiki sebab-musabab kematiannya itu.
Ia menduga adanya suatu racun berbahaya yang belum dikenalnya. Itulah
sebabnya, tidak berani ia menyentuh mayat si gemuk pendek. Segera
Wirapati mundur dan lari menyusul rombongan penari.
Perjalanan di malam gelap lagi hujan, tidaklah mudah. Tanah jadi becek,
sedangkan langkahnya tak boleh mengeluarkan suara sedikit pun. Siapa tahu,
di antara mereka ada yang mendekam di pinggir jalan hendak menuntut balas
si penghadang tadi. Kalau sampai kepergok, dapatlah dibayangkan apa yang
bakal terjadi. Suatu pertempuran bernapaskan suatu pembunuhan takkan
mungkin dapat dihindari.
"Bende Mataram dan Keris Tunggulmanik," Wirapati komat-kamit. "Apa benar mereka
membicarakan tentang dua benda keramat itu?"
Tentang nama dua benda keramat itu, bagi Wirapati tidaklah asing. Gurunya
seringkali
membicarakannya bila sedang mempersoalkan benda-benda bertuah pada jaman
dahulu. Menurut gurunya, kedua benda tersebut milik Pangeran Semono pada
jaman kerajaan Mentaok9). Kedua benda itu amat keramat dan mempunyai
kekuatan mukjizat. Barang siapa yang memiliki kedua benda itu akan menjadi
kebal dari segala senjata lagi sakti. Suaranya akan menjadi menggelegar.
Tubuhnya ringan dan dapat melintasi pohon-pohon tinggi seakan-akan terbang.
Kakinya kuasa
mendepak hancur batu gunung dan mampu pula menggerakkan bidang tanah
tertentu yang
dikehendaki. Tetapi bagaimana cara menggunakan, gurunya tidak pernah
menerangkan.
Gurunya hanya mengesankan, kalau cerita perkara kekeramatan kedua benda itu
adalah suatu khayal belaka.
Ah, andaikata malam ini guru mendengar percakapan tentang adanya dua benda
itu, pastilah akan iain kesannya, pikir Wirapati. Tetapi ia yakin, gurunya
yang sudah mengung-kurkan keduniawian takkan tertarik untuk saling berebut.
Saat itu sampailah dia di tepi batas Desa Karangtinalang. Cahaya pelita
nampak berpancaran.
Desa daiam keadaan pesta ria. la melihat, rombongan penari tadi berhenti
sejenak di tepi jalan.
Mereka berunding sebentar, kemudian berjalan berpencaran menuju ke selatan.
Diam-diam Wirapati heran. Ke mana tujuan mereka? la memanjat pohon agar
bisa melihat lebih leluasa. Tetapi sekali lagi, gelap malam menggagalkan
maksudnya. Maka turunlah dia ke tanah dan menyusul ke selatan.
Sekiranya ini perbuatan iblis, hai malaikat, bimbinglah aku kepada mereka.
Tapi apabila mereka bermaksud berbuat kebajikan, hai malaikat sesatkan aku,
kata Wirapati dalam hati.
Tiba-tiba ia melihat sebuah rumah panjang yang berbeda di tepi sungai.
Rumah itu terbuat dari papan dan berdiri di tengah ladang yang agak luas.
Pagarnya terbuat dari ranting-ranting bambu.
Kesannya tenteram damai.
Rombongan penari yang berjalan berpencaran itu, sekaligus mengepung rumah.
Kini mereka
berjongkok menghadap gamelannya.
Masing-masing menyalakan obor. Gerak-geriknya seperti penabuh-penabuh
gamelan yang hendak ditanggap si pemilik rumah. Tapi mereka tahu, kalau
seluruh penduduk berkumpul di kelurahan.
Sungguh ajaib! kata Wirapati dalam hati. Jika peristiwa malam ini
kuceritakan kepada rekanrekan seperguruan pasti mereka takkan percaya.
Lihat, bagaimana pandai dan licinnya! Mereka berbuat begitu agar tidak
dicurigai orang.
Sebagian berpura-pura menabuh gamelan dan yang lain bekerja dengan diam-diam.
Mereka yang memisahkan diri dari penabuh, berjalan mengelilingi rumah.
Mereka mengeluarkan segulung tali halus. Kemudian direntangkan dari tempat
ke tempat. Sebentar saja, rumah panjang itu telah terlingkari. Mereka
bekerja dengan hati-hati. Wirapati segera menyadari, gulungan tali itu
pasti mengandung racun berbahaya.
Seketika itu juga, jiwa kesatria Wirapati terbangun. Hm! Tak peduli pihak
mana yang benar atau salah, aku tak boleh membiarkan mereka seenaknya
meracuni orang. Itu bukan perbuatan kesatria. Sayang mengapa mereka yang
begitu tangkas bisa berbuat sedemikian rendah dan keji.
Biarlah kuberi kisikan penghuni rumah ini, agar terlepas dari jebakan keji,
iicik dan terkutuk, pikir Wirapati.
Berpikir demikian ia memperhatikan gerak-gerik rombongan penari yang sedang
sibuk
mengatur jebakan. Pagar taii yang direntang-nya belum lagi setinggi leher.
Cepat ia
mengumpulkan napas dan menjejak tanah. Segera ia melintasi taii beracun itu
dan hinggap di atas genteng. Kemudian meloncat ke taiang air.
Dibongkariah beberapa deret genteng. Sambil
meringkaskan tubuh, ia menerobos ke bawah.
Ruang rumah panjang itu ternyata di bangun dalam beberapa sekat. Bagian
depan berderet
empat buah kamar yang sama besar.
Kemudian ruang tengah yang memanjang. Di ujung sana nampak siku-siku jalan
penghubung. Karena keadaan gelap gulita, Wirapati tidak dapat melihat
dengan jelas.
Khawatir jika penghuni salah sangka kepadanya, maka ia berjongkok kemudian
berteriak, "Aku Wirapati, murid keempat Kyai Kasan Kesambi. Ada sesuatu hal
yang harus kusampaikan kepadamu. Kuharap jangan salah paham!"
Suaranya cukup keras, la menunggu jawaban. Tapi dari dalam rumah tidak
terdengar suatu
suara yang berkutik. Suasananya sunyi hening.
Wirapati mengulangi perkataannya lagi. Sekali lagi dan sekali lagi. Tetapi
tetap tak terjawab.
Suasana rumah bertambah sunyi hening. Ia melangkah maju. Tiba-tiba
nampaklah sinar berkedip.
Cepat ia berjongkok. Berteriak.
"Aku Wirapati, murid keempat Kyai Kasan Kesambi. Ada sesuatu yang harus
kusampaikan.!"
SEKIAN..
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar