3.15.2019

@bende mataram@ Episode 003 Seri 2




@bende mataram@
Episode 003
Seri 2


"Ah! Kanjeng Arya Dipasana atau Kanjeng Pangeran Arya Kusumayuda lebih
tepat," sambung Kepala Kampung Gumrenggeng. "Sebab mereka berdua lebih
perwira dan perkasa."


"Siapa bilang," bantah Kepala Kampung Kemarangan. "Meskipun mereka sakti,
apakah dapat menandingi kekeramatan tombak Kyai Pleret. Raden Mas Sundara
beruntung memperoleh warisan pusaka. Sekiranya tidak, beliau pun takkan
dapat naik tahta."


"Hm!" Kepala Kampung Krosak memotong. "Berbicara tentang pusaka inilah
pusaka sakti tak terlawan. Kalian tahu, Pangeran Semono dulu adalah
cikal-bakal kerajaan Jawa. Dia putera Bathara Karawelang, Raja Loano.
Pusaka Raja Karawelang sebenarnya tiga buah. Yang pertama: Bende Mataram,
kedua: kens Kyai Tunggulmanik dan ketiga Jala Karawelang. Barang siapa
memilikl ketiga pusaka itu, akan dapat merebut tahta kerajaan Jawa."


"Mengapa?" mereka bertiga menyahut berbareng.


"Mengapa?" Kepala Kampung Krosak mengulang. "Dia akan sakti tak terlawan.
Suaranya seperti guntur. Gerak-geriknya gesit bagalkan kilat. Otaknya
menjadi cerdas tanpa guru. Sekali melihat lantas bisa. Dia akan disujuti
jin, setan dan iblis di seluruh kepulauan. Mereka bersedia menjadi bala
tentaranya yang kelak disebut balatentara sirolah. Nah, siapa dapat
melawan? Apa kalian sanggup berlawanan dengan jin, setan dan iblis yang tak
nampak oleh mata?"


Dengan disinggungnya nama kedua pusaka itu, gejolak hati mereka tak
tertahankan lagi. Mereka lantas saja meruntuhkan pandangan kepada pusaka
Bende Mataram dan Keris Kyai Tunggulmanik.


"Pernahkah kamu melihat pusaka Jala Karawelang?" ujar Kepala Kampung
Karangtinalang.


"Bagaimana mungkin aku kuasa melihatnya," sahut Kepala Kampung Krosak.
"Menurut tutur-kata orang-orang kuno, jala itu tidak nampak. Dia selalu
bersama dengan kedua pusaka ini."


"Kalau begitu, pasti pusaka Jala Karawelang berada di sekitar kedua pusaka
ini," seru Kepala Kampung Karangtinalang. Tangannya kemudian meraba-raba,
karena napsunya sangat besar hendak menjamah kedua pusaka itu. Tetapi belum
lagi dia menyentuh, mendadak tangan Kepala Kampung Kemarangan menyambar cepat.


"Jangan sentuh! Kau tak berhak!" bentaknya. Kemudian seperti seorang
majikan yang berhak melarang pegawainya, ia berganti menurunkan tangan.
Tetapi maksudnya dihalang-halangi Kepala Kampung Gumrenggeng.


"Hai beraninya kamu menghalangi aku?" bentaknya.


"Mengapa tidak?" Kepala Kampung Gum¬renggeng membalas membentak. "Kalau dia
tak berhak, kamupun tak berhak pula. Memang kamu ini siapa?"


"Bangsat!" maki Kepala Kampung Kema¬rangan.


Dimaki demikian, meledaklah amarah Ke¬pala Kampung Gumrenggeng. Tanpa
berpikir panjang lagi, tangannya menyambar, Kepala Kampung Kemarangan
terkejut. Gugup ia menangkis dan sebentar saja mereka berdua telah
berhantam seru.


Melihat mereka berdua saling berhantam Kepala Kampung Karangtinalang
mempergunakan kesempatan itu. Ia tak mempedulikan lagi pandang tajam Way an
Suag'e dan Made Tantre yang berdiri di pojok. Pikirnya, mereka kan penduduk
kampungku nanti tak akan menghalangi maksudku.


Bersambung




Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar