3.15.2019

#MENIKAH_DENGAN_SETAN PART10 ___________




#MENIKAH_DENGAN_SETAN


PART10


___________


Sementara itu, setelah Haikal bertemu dengan Dwi ia terus berusaha mencari
keberadaan Halimah, ia menanyakan kepada semua warga desa yang mengetahui
tentang misteri Gedong tua, banyak dari mereka takut untuk menceritakannya.


Kepercayaan mereka sangat kental sebuah musibah besar tidak boleh
dibicarakan katanya. Haikal buntu, Pak Dirjo memberi informasi bahwa rumah
itu milik keluarga Abyakta, dan Ayah Haikal adalah teman dekat dari
Abyakta, Haikal terus menelusuri jejak keluarga Abyakta.


Kayakinannya kuat bahwa Halimah berada bersama mereka.


Malam itu setelah ia menemukan Gedong tua kosong dan tidak adanya mushaf
milik Halimah, Haikal berangkat ke Jakarta, ia menemui Ayahnya disana.


Setahu Haikal Ayahnya pernah dekat dengan keluarga Abyakta.


Malam itu dari bandara Haikal langsung menuju ke rumahnya yang berada di
bilangan Cilandak Jakarta, Ayah Haikal memiliki perusahaan di Jakarta. Ia
juga mempunyai yayasan pendidikan Agama di Magetan dan yang mengurus
yayasannya adalah anak laki-laki satu-satunya Haikal Mahardika.


Haikal tiba dirumahnya pukul 8 malam, dan tak disengaja kedatangannya
sangat diharapkan oleh kedua orang tuanya. Rumahnya sedang kedatangan tamu
agung katanya. Seorang wanita cantik, duduk diruang depan bersama laki-laki
disebelahnya.


"Assalamu'alaikum..."


"Waalaikumsalam..." sahut mereka bersamaan.


"Alhamdulillah berjodoh...insyaAllah..." ucap Ibu Haikal, pada tamu yang
sedang duduk di kursi depan.


Mereka bernama Maharani dan Harsa, Percakapan membaur kearah pendekatan
Haikal dan seorang wanita yang hari itu baru ia kenal, bernama Maharani.


Wanita itu juga asal Magetan, kampung yang sama dengannya. Ia terlihat
cantik juga bersih, tubuhnya tinggi, rambutnya lurus sebahu berawarna
coklat, matanya bulat.


Pikirannya tak fokus, apa yang mereka bicarakan tak masuk kedalam otaknya,
otaknya sudah penuh dengan misteri akan hilangnya Halimah.


Ibunya berusaha mengenalkannya dengan Maharani, anak dari sahabat Ayahnya.
Ia hanya bisa melemparkan senyum dan berharap pertemuan mereka lekas usai.


Maharani anak yang cantik, sebagai laki-laki seharusnya ia tertarik untuk
berbicara dengannya, namun ia tak merasakan perasaan senang atau apapun,
nama Halimah masih terus mengusik hati juga pikirannya.


Tak lama mereka pulang.


Ibu Haikal melilihat anaknya resah, selama ada tamu hatinya tak menentu,
kakinya terus ia gerak-gerakkan menandakan ketidaknyamanannya.


"Haikal..." sapa Ibunya "Kamu ngga apa-apa kan?"


"Tidak apa-apa bu…"


"Gimana kabar yayasan nak?" tanya Ayahnya yang baru saja bergabung.


"Ayah...tolong ceritakan sejarah keluarga Abyakta!" Anggoro dan istrinya
tercengang dan tak lama senyum mereka melebar.


"Kamu baru saja bertemu dengan keluarga Abyakta Haikal…"
Haikal bingung, ia semakin bingung dengan pernyataan Ayahnya.


"Gedong tua?" tanya Haikal.


"Gedong tua?" tanya Ayahnya balik.


"Iya Gedong tua, apa itu milik mereka?" tanyanya tak sabar.


"Rumah itu milik Abyakta, namun sudah lama mereka tinggalkan Magetan,
mereka meninggalkan semua kenangan buruk di Magetan, dan memutuskan untuk
tidak pernah kembali."


"Jelaskan apa yang terjadi pada Gedong tua, Ayah pasti tahu banyak," tanya
Haikal seraya duduk bersama Ayahnya di kursi tengah.


Perbincangan pun semakin serius, belum lagi masih adanya keluarga Abyakta
yang masih hidup, semakin membuatnya penasaran.


"Gedong tua adalah milik sahabat Ayah Mahadi Abyakta. Ia adalah seorang
pengusaha yang sukses, ia berhasil membangun usahanya di Magetan, lalu
merambah hingga Jakarta dan luar Negeri.


Jauh sebelum kejadian itu terjadi Mahadi Abyakta memiliki istri yang sangat
ia cintai, istri pertamanya meninggal karena sakit yang Ia derita, dari
pernikahannya yang pertama Mahadi tidak memiliki anak.


Dua tahun berjalan Mahadi menikah lagi dengan seorang janda beranak satu,
Puspa namanya, dari pernikahannya keduanya ia memiliki seorang putri yang
dia beri nama Maharani, wanita yang baru saja kamu lihat, Puspa juga
memiliki anak bawaan dari pernikahan sebelumnya, seorang anak laki-laki,
mereka yang baru saja datang kesini nak "


"Maharani cantik loh nak, tinggal kamu minta dia untuk berhijab, dia pasti
sudah jadi bidadari," celetuk ibunya memotong cerita Ayahnya.


Haikal diam tak menanggapi apa yang dikatakan ibunya barusan.


"Lanjut yah…"


"Saat itu ia ada pekerjaan di luar kota Mahadi pergi ke Jakarta
meninggalkan keluarganya di Magetan, dan disana.. ia jatuh cinta dengan
seorang perempuan keturunan belanda, Arkadewi namanya. Wanita itu sangat
cantik, Mahadi terbius akan kecantikkannya. Mahadi menikahinya, dan
memberinya rumah yang disebut Gedong tua sekarang," lanjut Ayahnya.


"Menurut mu gimana nak? Maharani?" tanya ibunya lagi memotong.


"Cukup bu…kedatangan Haikal ke Jakarta bukan untuk Maharani atau siapapun,
Haikal masih mencintai Halimah, dan selamanya seperti itu," ujarnya kesal
medengar celotehan ibunya yang terkesan memaksa.


"Halimah?! Apa yang ingin kamu harapkan dari wanita yang sanggup menjual
kehormatannya dalam sesaat?"


"BERHENTI BU!"


Haikal marah, yang ibunya katakan tidak sesuai dengan kenyataan.


"Ibu sudah tau semua beritanya dari Pak Dirjo,Halimah tidak pantas untuk
kamu Haikal, kamu berhak mendapat wanita lebih baik dari dia."


"Halimah di fitnah bu…dan sekarang Haikal sedang membantunya mencari
keberadaannya, Halimah menghilang…"


"Ibu tidak peduli, memang dia lebih baik menghilang…"


Seketika air mata itu menetes mendengar ibunya.


"Lanjutkan Ayah aku mohon…"


"Haikal apa maksud kamu Halimah menghilang…?" tanya Ayahnya heran.


"Ya Ayah..kejadian yang menimpanya amat pedih, ia di fitnah, rumahnya
dibakar, keluarganya tidak diberikan bantuan, dan banyak hal. Warga desa
kita sangat keji, harusnya Haikal tak meninggalkannya, ia pasti sendiri di
luar sana. Haikal mencintainya Ayah, sebelum Halimah kembali, Haikal tak
akan menikah."


"CUKUP HAIKAL!" teriak ibu nya saat mendengar ucapannya.


"Ibu tidak akan setuju kamu dengan wanita itu! Dulu kamu melamarnya hanya
atas kehendakmu, dan Ayahmu saja, sama sekali pendapat Ibu tidak pernah
kamu dengarkan, kamu berbeda dengan dia. Kamu harus paham itu!" lanjutnya.


"Apa yang membedakan kita? Harta, pangkat, kedudukan? Ibu lupa Haikal
belajar apa dan dimana? Tak ada satupun yang berbeda di mata Allah bu…semua
sama, yang Haikal butuhkan hanyalah wanita yang sholiha, wanita yang mampu
menjadi pembimbing bagi anak-anak Haikal, wanita yang bisa menasihati
Haikal..."


"Kamu!" rutuk ibunya kesal.


"Sudah hentikan bu!" bentak Ayahnya.


Haikal rapuh, ibunya sama sekali tak menyetujui pernikahannya dengan
Halimah, sejak awal ia memang tidak menyetujuinya hanya Ayahnya yang
setuju. Laki-laki itu menangis, ia semakin bingung dengan apa yang ia rasakan.


"Istirahatlah nak, besok kita lanjutkan…" pinta Ayahnya.


"Tidak Ayah, Haikal harus segera menemukan Halimah…Ceritakan lagi tentang
Gedong tua?"


"Gedong tua sudah tak berpenghuni nak, Arkadewi meninggal dengan putranya
yang berusia 3 tahun, mereka dibunuh oleh warga desa yang mengamuk"


"Apa tempat itu tidak ada yang menempati saat ini?"


"Setahu Ayah tidak ada, Ibu Puspa pun secara sah tidak bisa memiliki rumah
itu, karena itu milik Arkadewi, atas namanya pun Arkadewi, dan sebuah Villa
di genilangit juga kebun teh semua diserahkan Mahadi untuknya, Mahadi
sangat mencintai Arkadewi…"


"Villa?"


"Ya...Villa Abyakta ada di daerah Genilangit," jawab Anggoro.


"Anak Arkadewi, apa Ayah yakin dia sudah meninggal?" tanya Haikal meyakinkan.


"Kenapa kamu menanyakan itu?"


"Jawab saja Ayah, apa Ayah yakin dia sudah meninggal?" tanyanya kembali.


"Sangat yakin Haikal, ayah yang menggendongnya menuju pemakaman, makam
mereka masih berada di dalam lingkungan Gedong tua." ketus Ayahnya lelah
menjawab semua pertanyaan Haikal.


"Sudah Ayah mau istirahat…" lanjutnya.


"Siapa namanya Ayah?" tanyanya. Anggoro sudah berdiri membelakanginya.


"Rhan…Hmmm..Andra Abyakta…Ya Rhandra Abyakta namanya," ucap Anggoro ragu.


Anggoro berlalu darinya, haikal sudah mengantongi satu tempat yang menjadi
harapannya terakhir untuk bisa menemukan Halimah.


"Kamu pasti disana Halimah…" bisiknya dalam hati.


Haikal memutuskan untuk kembali besok, batinnya menjerit jika tidak ada
satupun di Gedong tua, lantas dengan siapa Halimah saat ini? Kenapa semua
menjadi misteri? Haikal rindu Halimah, ia rindu gelak tawanya, ia rindu
senyumnya.


Hasutan Ayu juga Ibunya saat itu membuatnya yakin, bahwa benar Halimah
telah berselingkuh darinya. Haikal menyesal, di kamarnya ia berdiri
menghadap jendela, ia menatap bulan, hal biasa yang selalu dilakukan
Halimah dulu.


"Semoga kamu tau kekhawatiranku Halimah…maafkan aku," bisiknya, Haikal
menangis tak menentu.


Sementara itu diatas langit yang sama, Halimah pun tengah memandang bulan
yang melengkung begitu indanya, pemandangan itu Halimah abadikan bersama
Rhandra suaminya.


Mereka duduk bersama memandang bulan di pekarangan Villa Abyakta, kepala
Halimah ia sandarkan di pundak suaminya, dan tangan kanan Rhandra memeluk
erat pada bahunya.


"Rhandra…"


"Hmm…"


"Kenapa kamu menyukai kegelapan?"


"Aku tidak menyukainya Halimah, aku membencinya."


"Jika kamu membencinya, kenapa kamu tidak menyalakan semua lampu disana?"


"Karena ada seseorang yang tak menginginkan keberadaanku…"


"Siapa?" tanya Halimah khawatir.


Rhandra tersenyum, mata Halimah melotot, kerut di dahinya menunjukkan
kekhawatiran yang amat dalam.


"Dengan wajah seperti itu pun kamu masih tetap cantik Halimah…" jawab
Rhandra meledek.


Halimah diam, ia menurunkan dahinya, dan menarik nafas .


"Hmm… Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan…aku disini untukmu," lanjutnya
seraya mengepal tangan kanan Halimah dan memasukkan ke saku jaketnya.


Halimah kian menyandarkan kepalanya.


"Kenapa malam itu kamu menolongku?" tanya Halimah.


"Karena aku tahu tidak ada satupun yang mau menolongmu."


"Kamu tahu?" jawab Halimah terperangah, ia bangkit dari pelukannya dan
memandang wajahnya.


"Ya…" jawab Rhandra santai.


"Apa kamu tahu juga alasan mereka melakukan itu?"


"Tahu…"


Halimah tercengang. Air matanya hampir meleleh.


"Bagaimana bisa kamu tahu?"


"Siang itu aku melihat seseorang mengikutimu, dan seseorang yang lain
mengambil gambar kalian berdua."


"Kamu lihat bagaimana ciri-ciri orang yang mengambil gambarku?"


"Entahlah…dia berhijab sama dengan hijab yang kamu pakai," jawab Rhandra.


Halimah lemas.


"Ayu," bisiknya .


"Kamu percaya tuduhan itu?"


"Tidak..."


"Kenapa?"
"Karena aku percaya padamu, aku tahu apa yang mereka perbuat padamu, Aku
pun melihat mereka membakar rumahmu, aku juga melihat mereka melemparimu
dengan batu, malam itu diatas atap Gedong tua aku mendengar teriakanmu yang
menggelegar."


Air mata Halimah meleleh,kedua matanya bertemu dengan mata Rhandra,
bayangannya kembali pada masa-masa yang sangat memprihatinkan itu, masa
dimana Faisal masuk kedalam rumahnya dan memeluknya dengan paksa, masa
dimana tangan-tangan mereka menghabisi harga diri juga melukainya. nafasnya
mulai tersengal-sengal, ia tak sanggup memikirkan Ibu juga adik-adiknya,
jika tidak ada Rhandra malam itu mungkin ibunya sudah meregang nyawa,
bahkan Rhandra yang tak mengenalnya bisa memberikan kepercayaan padanya,
bahkan lebih besar dari kepercayaan Haikal untuknya,


Sekejap tangisannya pecah.


"Terimakasih Rhandra…" Halimah melepaskan genggamannya dan memeluknya
dengan erat.


"Terimakasih…terimakasih," ucap Halimah, tangisannya semakin pecah, hanya
dipelukannya ia bisa menyandarkan semua masalah yang menimpa dirinya.


"Katakan…Apa yang laki-laki itu lakukan padamu?"
Halimah terus menangis dan meremas jemarinya, ada kemarahan besar di hatinya.


"Katakan Halimah, apa yang ia lakukan?" tanyanya tenang seraya mengusap
punggung istrinya.


"Ia masuk kerumah, dan ia berusaha…" Halimah menarik nafas, tangisannya
semakin menjadi.


"Ia berusaha menodaiku, aku melawannya dan ia berusaha memelukku dengan
paksa, tangannya begitu kuat, sampai teriakan warga itu datang, aku pikir
mereka datang untuk menyelamatkan, tapi mereka justru menuduhku."


Tangisan Halimah pecah, harusnya ia sudah menceritakan hal ini pada Haikal,
laki-laki yang sudah melamarnya, namun Haikal memilih berbalik badan. Hati
Halimah hancur, ia terus menangis,kedua tangannya ia remas karena geli,
dendam juga sedih.


Rhandra diam, ia memeluknya dengan erat.


"Siapa namanya?" tanya Rhandra dengan tenang.


"Faisal…"


Rhandra geram di balik wajah Halimah. Ada kebencian yang begitu besar akan
apa yang terjadi pada wanita yang kini ia cintai.


Entah takdir apa yang membuat mereka bisa bersama, malam itu Rhandra
seperti memahami apa yang Halimah rasakan.
Saat itu Rhandra menikahinya bukan karena kasihan atau karena
ketertarikannya akan Halimah, ia menikahi Halimah hanya untuk memuaskan
nafsu bejatnya, ia ingin menyakitinya, namun ia luluh tangisan Halimah
setiap malam di Gedong tua, menggetarkan hatinya.


Pelukan itu masih erat, Halimah belum melepaskannya. Rhandra membiarkannya
hingga kesedihannya berkurang, suara isak tangis pun mulai berkurang.


Kini dendam di hati Rhandra kian bertambah, laki-laki yang berusaha menodai
Halimah pun tak luput dari hatinya yang membara karena kesal.


"Suatu saat aku akan menghabisinya…" bisiknya dalam hati. Rhandra tau wajah
Faisal, dulu saat ia mendekati Halimah didepan rumahnya, ia memandang
curiga pada laki-laki itu.


Ia peluk erat istrinya, ia biarkan Halimah hanyut dengan kesedihannya.


Malam semakin larut, Halimah terlelap di pelukannya. Matanya bengkak karena
menangis tiada henti. Rhandra menggendong tubuh mungil itu, dan
merebahkannya ke atas sofa, ia pakaikan istrinya kaus kaki yang baru dan ia
hangatkan tubuhnya dengan selimut.
Rhandra duduk dibawahnya, dan ia rebahkan tubuhnya diatas karpet.


Mereka lelap.


Mbok Sum bangun, malam itu cuaca sangat dingin. Ia menyalakan lampu
didapur, dilihatnya Rhandra dan Halimah tertidur pulas di ruang tengah,
Tangan Rhandra menggenggam tangan Halimah.


Seketika, Sum menangis tubuhnya bergetar melihat cinta yang begitu hebatnya
diantara mereka berdua.


"Ya Allah…Abadikan lah kebahagiaan mereka."


Pagi menjelang, Alunan Adzan begitu nyata terdengar di telinga Halimah, ia
membuka matanya perlahan, dilihatnya suaminya tidur dibawah beralaskan
karpet, tak ada satupun selimut yang melindungi dirinya dari dingin.


Halimah bangkit, ia pindahkan selimut ditubuhnya ke tubuh Rhandra. Ia
menatap wajah Rhandra dan mengecup keningnya dengan lembut.


"Terimakasih Rhandra…"bisiknya.


Halimah beranjak, bersama Sum dan Darmin ia sholat berjamaah, posisinya
tidak jauh dengan tempat Rhandra terlelap.


"Allahu Akbar!" takbir Darmin.


Suara itu membangunkan Rhandra dari lelapnya. Dihadapannya kini mereka
sholat dengan tenang, Rhandra mengamati gerakan dengan seksama, ia
membalikkan badannya ke arah jendela, ia duduk dibawah tangannya ia pangku
dilututnya. Ia masih memikirkan kejahatan yang dilakukan warga desa pada
halimah, hatinya membara jika membayangkan apa yang terjadi pada wanita
yang kini menjadi istrinya itu.


"Assalamualaikum Waramatullah…Assalamualaikum," ucap Darmin mengakhiri
rakaat terakhir.


Setelah doa, Halimah menghampirinya. Ia mencium tangannya dan duduk
disebelahnya.


"Kamu mau makan sesuatu?"tanya Halimah.


"Buatkan aku roti isi," ucap Rhandra datar, ia bangkit dan jalan menuju ke
atas.


Seperti biasa Halimah membuatkan Roti isi. Setelah selesai, Halimah naik ke
kamar. Laki-laki itu tengah duduk diatas sofa, seraya menyaksikan Fajar
menyingsing melalui jendela kamarnya.


"Kamu kenapa Rhandra?"


"Halimaah…katakan, apa mereka yang membakar rumahmu, menyakitimu, percaya
dengan Tuhan?"


Halimah terkejut mendengar pertanyaannya. Halimah berfikir, berusaha
mencari-cari jawaban yang baik agar dia tidak salah mengartikan Tuhan.


"Ya…"


"Jika Ya…kenapa mereka melakukan tindakan sekeji itu?" tanya Rhandra,
Halimah sudah bisa menebak pertanyaan ini yang akan keluar dari mulutnya.
Halimah mendekatinya ia duduk dibawah seraya memegang kedua lutut Rhandra.


"Rhandra…Tindakan buruk atau baik adalah keputusan manusia itu sendiri
bukan perintah Tuhan, semua yang Tuhan perintahkan adalah menunaikan
kebajikan, Tuhan tidak membenarkan apa yang mereka lakukan. Terkadang,
manusia tidak bisa berfikir jernih, ia hanya menggunakan emosinya hanya
untuk memenuhi ambisinya sesaat, bahkan banyak diantara mereka yang
mengatasnamakan Tuhan atas tindakannya, seakan-akan Tuhan menyetujui
tindakannya, mereka lupa atau bahkan mereka tidak tahu batas-batas norma
kemanusiaan dalam agama," ujar Halimah.


"Rhandra…jika ada sebuah sekolah yang sudah membuat peraturan yang sangat
ketat, dan sebagian kecil anak murid ada yang melanggar, dan sebagian besar
lainnya anak-anak baik yang selalu mematuhi aturan, mana yang akan kamu
salahkan? peraturan atau anak-anaknya?"lanjut Halimah bertanya


Rhandra diam ia tak menjawab pertanyaan Halimah, lagi-lagi ia benar atas
argumentnya. Halimah tidak hanya cantik, ia juga cerdas. Rhandra begitu
menyukainya.


" Duduklah disini," pinta Rhandra. Halimah kini duduk dipangkuannya.


"Suasana disini sungguh menyenangkan, suara gemiricik air, hembusan angin
yang lembut, aku sangat menyukainya," ucap Halimah.


"Kamu pernah bertanya, apa saja yang aku suka kan?" tanya Rhandra seraya
mengambil roti isi miliknya.


Halimah mengangguk.


"Aku suka melihat bulan, bintang, aku suka roti isi buatan Halimah, aku
suka bertarung, dan satu hal yang paling aku tidak suka."


"Apa?" tanya Halimah.


"Air matamu…Aku membencinya," ucap Rhandra, ia menahan roti yang hendak
masuk kedalam mulutnya.


Halimah tercengang, hatinya berdesir, mata itu kini sedang menatap begitu
dalam, perlahan Rhandra mendekatkan tubuhnya, wajahnya semakin mendekat,
hembusan nafas itu mulai terasa, Halimah menutup matanya, dan untuk pertama
kalinya Rhandra memberanikan diri untuk mencium bingkai di wajahnya. Pagi
itu terasa indah, Rhandra menciumnya dengan tulus dan lembut.


______


Desa Genilangit pagi ini begitu memukau dimatanya, hamparan kebun teh,
udara yang sejuk, pepohonan rindang, dan bayangannya yang terlihat
membentuk siluet luar biasa indah, gemericik air sungai mengalir. Semua itu
membuat siapapun terkesima akannya. Rhandra mengajaknya berkeliling,
mengelilingi desa Genilangit, desa terpencil di kaki gunung lawu.
Kebahagiaan itu terpancar di wajah Halimah, begitu pun Rhandra yang
menikmati senyum istrinya.


Mereka pergi dengan Mobil Jeep miliknya, kaca mobil Halimah buka, kedua
tangan dan wajahnya berpangku pada pintu mobil, udara sejuk itu menerpa
wajahnya. Rhandra ingin menghabiskan waktunya bersama Halimah istrinya,
Desa Genilangit membantunya menyembuhkan diri dari kegelapan yang selama
ini menyiksanya.


Sesekali ia tatap suaminya yang sibuk menyetir. Rhandra tersenyum,
senyumannya begitu lebar dari biasanya. Pertama kali dalam hidupnya, ia
bisa merasakan kebebasan seperti saat ini.


"Kamu mau kemana Halimah?"


"Terserah…bawa aku Rhandra, bawa aku sejauh mungkin…"
Rhandra tersenyum tipis, ia mengusap kepala istrinya dengan penuh manja. Ia
menginjak gas mobil dan menuju Taman Genilangit, disana ia bisa melihat
perbukitan juga kaki gunung Lawu yang sangat indah, taman bunga juga pasar
yang menjual berbagai macam pernak/pernik.


Sampai di taman, mereka menghabiskan waktunya bersama. Tak ada lagi jarak
diantara mereka, tak ada rasa khawatir, takut atau cemas.


Rhandra memegang erat tangannya. Halimah begitu riang akan kebebasan,
Halimah berlari bagai kupu-kupu yang rindu akan bunga. Rhandra pun turut
larut dalam tawanya.


Senyuman Halimah begitu indah, bahkan lebih indah dari bunga-bunga yang
mengelilinginya saat ini.


"Halimah..." sapa Rhandra.


"Hmm.." jawab Halimah, Rhandra menggeragap tangannya, dan sebuah cincin ia
lingkarkan di jari manisnya. Cincin yang baru saja ia beli, cincin kayu
berukir warna emas.
Halimah terenyuh, begitu memasangkan cincin ia berlalu darinya.


Rhandra tak pernah bicara romantis, namun tindakannya sangat membuat hati
wanita manapun bergetar.
Laki-laki itu belum pernah mengenal cinta, Halimah adalah cinta pertamanya.
Sikapnya yang lembut tertutupi oleh sikapnya yang dingin juga kasar.


"Rhandra.."


"Hmm.."


Tak lama mereka duduk di sebuah pendopo, dihadapan mereka hamparan sawah
yang berwarna kekuningan, puluhan petani sedang bekerja disana.


"Kenapa kita tidak jadi petani saja? Tinggal di gubuk, makan sego seadanya,
menikmati indahnya bulan setiap malam bersama, membesarkan anak-anak kita."


Rhandra tertawa, lamunan Halimah sudah mulai tak masuk akal.


"Kenapa kamu tertawa?" Tanya Halimah heran.


"Aku belum membayangkan kita akan punya anak Halimah. Hal itu tidak akan
pernah terjadi, jika itu terjadi. Aku adalah satu-satunya laki-laki yang
paling berbahagia didunia, sudah siang kita pulang," ucap Rhandra.


Tangan itu menarik tangan Halimah, mereka kembali. Halimah terus memikirkan
kata-kata terakhir Rhandra. Sepanjang perjalanan Halimah hanya diam dan
terus memikirkan masa depannya dengan laki-laki disebelahnya kini.


***
Haikal tiba di bandara Adi Sumarmo, ditangannya kini sudah ada alamat Villa
yang ia dapatkan dari Hendry pengacara Abyakta. Haikal melanjutkan
perjalanan dengan mobil yang ia parkir semalaman di bandara.


Malamnya ia tiba di Magetan, alamat ditangannya adalah satu-satunya harapan
terakhir yang ia punya. Besok rencananya ia akan pergi menuju Villa
Abyakta, harapannya begitu besar, semoga kali ini ia bisa bertemu dengan
Halimah.


Perasaanya yang makin kian tak menentu membuat Haikal melajukan mobilnya ke
sebuah rumah tempat Dasinun dan anak-anaknya tinggal.


Malam itu begitu sunyi sesunyi hatinya, Haikal sudah sampai disana, rumah
baru yang mereka tempati,Ia memberanikan diri untuk berjumpa dengannya,
meskipun ia tahu Dasinun pasti akan sangat kecewa jika ia tahu Haikal
pernah meninggalkannya saat ia perlu bantuan.


Jauh ia melihat Dasinun sedang duduk diluar dengan sulaman benang di
tangannya, sesekali wanita itu mengelap pipinya, ia sedang menangis ada
kesedihan yang mendalam dimatanya. Batin Haikal tersiksa, Halimah pasti
lebih hancur jika melihatnya.


"Assalamualaikum..."
Suara itu terdengar jelas di telinga Dasinun.


"Nak...Haikal..." jawab Dasinun, seketika air matanya menetes. Ia tak
sanggup menahan kesedihan yang ia alami tubuhnya lemas, laki-laki itu pun
memapahnya dan mendudukkan tubuhnya ke kursi.


"Buee apa kabar?" tanyanya lembut.


Air matanya terus mengalir, ia bahkan tak sanggup menjawab pertanyaan
ringan darinya.


"Buee..sabar..."


"Tolong bantu Bue nak.. cari Halimah...Bue tidak tahu Halimah bekerja
dengan siapa, Bue sangat merindukannya, Bue ingin tahu keadaannya...Dwi
sudah beberapa kali mencarinya ditempat kerjanya namun ia tidak menemukannya."


"Haikal janji Buee...Haikal akan menebus kesalahan Haikal, Haikal akan
membawa Halimah pulang..."


Seketika tangisannya pecah, wanita yang usianya sudah lebih dari setengah
abad itu memeluknya, menyerahkan semua masalah ke pundaknya. Sementara di
dalam, Sur dan Dwi menangis mendengar percakapan mereka. Mereka pun
berharap Halimah bisa segera pulang.


Hari semakin larut, Halimah berbaring di sisi Rhandra keduanya terlelap
setelah menikmati hari-hari yang begitu membahagiakan, dan Haikal
dirumahnya masih termenung, ia teringat akan sebuah hadist


"Rabb kita tabaraka wa ta'ala turun ke langit dunia setiap sepertiga malam
akhir. Ia lalu berkata: 'Barangsiapa yang berdoa, akan Aku kabulkan. Siapa
yang meminta kepada-Ku akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku,
akan Aku ampuni. Hingga terbit fajar' " (HR. Bukhari 1145, Muslim 758)


ia beranjak dari tempat tidurnya, ia basuh wajahnya dengan penuh harapan.
Shalawat dan salam ia berikan khusus pada junjungan Nabi Muhammad Saw.


Laki-laki itu melapangkan sejadahnya, ia bermunajat pada Allah, tangisan
juga harapannya pecah. Hanya kepadaNya ia memohon pertolongan juga
perlindungan atas diri Halimah.


______#BERSAMBUNG




Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar