3.16.2019

*Part 11* *MENIKAH DENGAN_ SETAN* ___________________




*Part 11*


*MENIKAH DENGAN_ SETAN*
___________________


Hari itu Halimah sudah mulai membiasakan diri, menyiapkan sarapan untuk
suaminya, ia turun setelah sholat subuh.


Pagi itu Sum tidak terlihat, entah dimana wanita yang sudah ia anggap
seperti ibunya itu. Halimah memulai semua pekerjaan yang biasa dilakukan
Sum, mulai dari mencuci piring, membersihkan dapur yang sebenarnya tidak
terlalu kotor dan banyak hal.


Ia mulai mengeluarkan semua bahan masakan yang Sum sudah siapkan di meja,
hanya ada beberapa sayuran dan tak terlihat bumbu-bumbu disana. Biasanya
saat ia masak, Sum sudah menyediakan semua bahan yang akan ia gunakan di
meja dapur yang besarnya sama dengan meja makan rumahnya.


Halimah membuka beberapa lemari. Ia terperangah. "Obat Aden," sebuah tas ia
temukan dilaci dapur. Gerak tubuhnya mulai melambat, perlahan ia mengambil
tas tersebut dan membuka isinya.


Satu botol obat kapsul beserta catatan kecil jadwal meminum obat tertulis
dengan rapih, jadwal terakhir Rhandra minum obat tadi malam pukul 10 malam,
waktu dimana ia sudah terlelap. Dalam satu hari ada tiga jadwal yang
dituliskan Sum. Halimah shock ia tak tahu bahwa selama ini Rhandra
mengkonsumsi obat. Detak jantungnya kian melemah, kekhawatiran yang begitu
besar mengeruak di dadanya.


"Non…" sapa Sum yang mendadak hadir dibelakangnya.


Halimah masih diam, tangannya masih menggenggam obat yang ia curigai milik
Rhandra.


"Maaf Non, si mbok kesiangan."


"Ini apa Mbok?" tanya Halimah, wajahnya memerah karena khawatir.


"Ohh…E…Nganu…Ehmm…" jawab si Mbok gugup.


"Jawab Mbok…"


"Hmm…itu…"


"Apa ini punya Rhandra…? Mbok jawab Mbok!" tanya Halimah dengan nada yang
mulai meninggi.


Sum mulai menangis…"Nggih Non…"


"Kenapa saya tidak tahu Mbok? Rhandra sakit apa?" Mata Halimah berkaca-kaca.


"Saya…Saya tidak tahu Non…"


"Mbok bohong…pasti ada rahasia disini, ada yang tidak saya ketahui kan
Mbok? Mbok jawab Mbok…saya istrinya Rhandra saya berhak tahu apa yang
terjadi dengan suami saya…" ucap Halimah seraya mengguncangkan bahu Sum.


"Itu hanya vitamin Halimah!" Mendadak Rhandra datang dan menjawab semua
pertanyaannya.


Laki-laki itu menghampirinya dan mengambil obat yang ia pegang.


"Jika itu vitamin, mengapa minumnya harus terjadwal. Ada apa dengan kamu
Rhandra?" tanya Halimah penasaran.


Laki-laki itu membelakanginya, dari pundaknya terlihat Ia menarik nafas.


"Kamu hanya terlalu khawatir Halimah, aku tidak apa-apa."


"Kalau begitu biar aku yang memberikan vitamin itu, aku istrimu aku yang
harus merawatmu…"


Rhandra diam, ia tak menjawab dan pergi membawa tas berisi obat bersamanya.


Halimah menangis, pasti ada yang disembunyikan darinya. Nafasnya
tersengal-sengal, seharusnya ia sudah curiga dari awal, si Mbok pun selalu
membelikan bahan masakan yang rendah lemak padanya. Semua masakan seperti
sudah diatur olehnya, Halimah hanya mengolah yang sudah tersaji di dapur.


"Maafkan Mbok ya Non…" ucap si Mbok seraya mengusap pundaknya.


Menu yang tersaji di meja hari ini sayur bayam, Jagung juga ada tempe dan
satu buah kelapa.


"Ini mau diapakan Mbok?"


"Terserah si Non, air kelapa untuk si Aden minum."


Tangisan Halimah semakin deras. Betapa bodohnya ia sebagai istri, mengapa
ia tak bisa menebak segala sesuatu tentang suaminya. Batinnnya terus
menerka sakit yang diderita Rhandra Abyakta.


Pelan Halimah membawa makanan diatas nampan menuju kamarnya. Sayur bayam
dengan jagung didalamnya, tempe bakar juga nasi putih dan air kelapa untuk
ia minum. Ia melangkahkan kakinya perlahan menuju kamar.


Dilihatnya Rhandra sedang duduk termenung didepan jendela, ia tak bergeming
mendengar langkah Halimah yang sudah tiba dihadapannya.


Halimah tak berbicara, ia menyajikan makanan yang sudah ia sediakan. Ia
ambil sayur bayam sedikit dan tempe bakar. Ia memotong tempenya perlahan,
lalu ia serok dengan sendok makan dan ia sodorkan ke wajahnya. Halimah
hendak menyuapinya.


Rhandra tak bergeming, ia terus menatap keluar.


"Aku bukan anak kecil Halimah…Aku tidak sakit…"


Halimah menurunkan tangannya. Air mata itu menetes, ia ingin menjerit
meminta haknya sebagai istri untuk menjaga dan merawat Rhandra suaminya, ia
begitu cemburu dengan Sum yang selalu menyediakan segala kebutuhan untuknya.
Halimah membalikkan badannya, dan tak lama tangan itu meraih tangannya.


"Duduklah disini, kita makan bersama…" ajak Rhandra yang seketika berubah.


Halimah menarik bangku satunya dan duduk disebelah Rhandra, ia
memperhatikan Rhandra makan begitu lahapnya, tak lama Rhandra mengambil
sendok yang baru dan menyodorkan sendok berisi makanan padanya.


"Aa…" ucapnya. Rhandra menyuapinya dengan tulus.


Halimah membuka mulutnya dan melahap makanan yang ia berikan, Rhandra
tersenyum.


"Berhentilah bersedih Halimah, berhenti mengkhawatirkan aku, aku bahkan
lebih kuat dari apa yang kamu kira. Sedihmu itu hanya membuat kepalaku
ingin pecah…"


Rhandra mengusap pipinya dan mengunyah makanan yang ada dimulutnya.


Rhandra menyelesaikan makanannya dengan meneguk air kelapa yang disediakannya.


"Enak…Aku suka…" Wajahnya berbinar, tak lama ia memeluk istrinya dengan erat.


"Maafkan aku Halimah…Terimakasih…"


Halimah beranjak, ia turun kebawah untuk membantu Sum.


"Maaf untuk apa? terimakasih untuk apa? aku ini istrimu…" bisiknya dalam hati.


Selesai membantu Sum, wanita itu termenung di kursi taman. Ia masih
memikirkan obat yang baru saja ia temukan, pikiran negatif tentang sakitnya
Rhandra memenuhi isi otaknya. Ia terus menggeleng-gelengkan kepala dan
mengucap "Naudzubillah…"


Siapa Rhandra masih menjadi misteri baginya, Rhandra tak pernah mau
menjawab pertanyaan darinya, siapa ibunya, kenapa ia mengurung diri, dari
mana ia mendapatkan uang, semua itu menjadi misteri bagi Halimah.


Kadang Halimah merasa ia belum mempercayainya sepenuh hati, ada banyak hal
yang ia sembunyikan darinya. Tembok besar itu masih mengelilinginya.


Tak lama hembusan angin begitu terasa di lehernya, ia merasakan kesejukan
yang begitu segar hingga masuk dikerongkongan hingga dada. Begitu sejuknya
hingga ia terlelap.


"Dorr…" Suara tembakan itu membangunkannya. Halimah bangun, ia masih berada
di kursi yang sama namun suasananya yang berbeda. Ia merasa hari menjadi
kelabu, ia melihat sekeliling tak ada satupun orang yang bersamanya. Tak
lama ia melihat sebuah mobil sedan era 70an, Halimah terperangah, ia tak
bisa bangkit tubuhnya berat seperti terkunci, mulutnya pun berteriak namun
seperti tak ada yang mendengar, ia hanya bisa mengamati.


"Ayah…"bisik Halimah. Ia melihat seorang laki-laki yang mirip Ayahnya
mengenakan seragam dan keluar dari mobil seperti seorang supir.


"Ayaaah!" teriak Halimah, rasa rindu pada Ayahnya tiba-tiba mengeruak.
Halimah mencoba bangkit dan tubuhnya pun terangkat, ia mengikuti Ayahnya
yang terburu-buru masuk kedalam villa.


Halimah tercengang, ia seperti melihat sebuah tayangan drama dihadapannya,
ia melihat Ayahnya sedang berusaha mengangkat jasad wanita yang bersimbah
darah di ruang tengah, wanita itu hanya mengenakan kaos juga rok sebetis ia
terlihat sederhana, ditubuhnya darah mengalir. Seketika air mata Halimah
meleleh. Ayahnya tak lebih seperti seorang jongos.


Ada seorang wanita disana, ia seperti seorang bangsawan, rambutnya ikal
sebahu, bibirnya berwarna merah darah sama dengan baju yang ia pakai,
matanya tertutup dengan topi juga kacamata hitam yang ia kenakan. Ada
sebuah senjata ditangan kanannnya, jasad wanita dihadapannya sepertinya
baru saja ia tembak.


Tak lama seorang laki-laki lain datang, ia membantu Ayah Halimah mengangkat
jasad itu dan membawanya ke arah selatan Villa.


Halimah terus mengikutinya, rumput bersemak itu menghalangi langkah, jauh
dari sana sebuah sumur terlihat, Tubuhnya bergemetar, Halimah berkeringat,
jantungnya berdegup kencang. Ayahnya beserta rekannya hendak membuang
jasadnya ke dalam sumur.


"A…Ayah…Jangan…Ayah jangan…" tangis Halimah memohon, namun ia hanya
penonton disana, bahkan tubuhnya pun serasa dilewati oleh Ayahnya.


"Tidaaaakk!" mereka pun benar membuang jasadnya ke dalam sumur dan menutup
mati sumurnya dengan tutup yang terbuat dari beton.


Halimah menjambak rambutnya, ia tak bisa membayangkan Ayahnya telah
melakukan dosa yang begitu besarnya.


"TIDAAAAKK!" teriak Halimah dalam tidurnya, pipinya basah.


TIDAAAK…Ayahhh…"


"HALIMAH…BANGUN…" teriak Rhandra berusaha menyadarkannya.


"Halimaaah…"


Halimah tak sadarkan diri, Rhandra bergegas menggendong dan membawanya ke
kamar.


"Mbok, ambilkan minyak hangat.."


"Ya den!"


Rhandra mengusap tubuhnya dengan minyak yang dibawakan si Mbok, sesekali ia
letakkan minyak yang berbau menyengat itu ke hidungnya.


"Halimah…aku mohon bangunlah…" ucap Rhandra cemas.


Perlahan Halimah membuka mata, Rhandra sudah berada dihadapan, ia langsung
memeluknya dengan erat. Detak jantungnya berdegup kencang, tubuhnya
menggigil ketakutan.


"Rhandra…Rhandra…"


"Kamu kenapa Halimah?" tanya Rhandra heran.


Halimah terlihat shock atas apa yang baru ia saksikan. Rhandra
memberikannya minum, dan merebahkan tubuhnya di dada.


Halimah shock luar biasa, ia tak sanggup jika harus memejamkan mata. Gambar
Ayahnya terlihat jelas dalam bayangannya, tidak seperti mimpi, ini seperti
asli. Halimah diam seribu bahasa, bertanya-tanya akan apa yang baru saja ia
lihat di kepalanya.


"Halimah kamu kenapa…?" tanya Rhandra khawatir.
Tangannya ia kepal erat, sesekali ia mengusap kening Halimah yang berkeringat.


"Rhandra…"


"Hmm…"


"Apa di tempat ini ada sebuah sumur?" tanyanya pelan.


"Sumur?" Rhandra berbalik tanya.


Halimah diam dan mengangguk tipis.


"Aku tidak tahu Halimah, aku tak pernah memperhatikan," jawabnya.


"Aku mohon Rhandra…aku butuh jawaban yang pasti, apakah ada sumur di Villa
ini?"


"Halimah…pertanyaanmu itu sangat menakutkan, sebenarnya apa yang ingin kamu
tanyakan…"


"Aku perlu tahu Rhandra…Aku mohon, apa kita bisa melihat kebelakang Villa
ini…?" pintanya seraya mengeratkan genggaman tangannya.


"DARMIN!" teriak Rhandra memanggil.
Tak lama Darmin datang. "Ya Den…"


"Darmin, apa di villa ini ada sebuah sumur?"


"Ada Den… tapi sudah lama mati, tidak digunakan ada dibelakang."


Seketika tubuh Halimah melemah, ia seperti disergap rasa sedih yang amat
mendalam hingga menusuk ke dadanya, air matanya meleleh.


"Tidak…tidak…itu hanya mimpi…tidaaak…" ucap Halimah menyangkal.


"Halimah…kamu kenapa?" tanya Rhandra seraya mendudukkan tubuhnya disebelah
tubuh Halimah. Rhandra memeluk dan menenangkannya.


Pagi menuju siang itu, halimah tampak kepayahan ia terus memeluk Rhandra
karena takut, ia masih belum berani menceritakan isi mimpinya pada Rhandra.


Semua terlihat nyata, Halimah ingin tahu kebenarannya. Hanya Dasinun yang
bisa menjawab teka-teki yang ada dalam bayangannya.


"Aku ingin pulang Rhandra…" ucapnya berbisik di dada suaminya.


"Aku mau pulang…" ucapnya kembali, matanya terus lembab.


"Halimah tidurlah…kamu sedang kurang sehat…" ucap Rhandra seraya mengusap
punggungnya.


Tak lama wanita itu terlelap, halimah tertidur di dadanya. Pelan Rhandra
baringkan ia di ranjang dan memperhartikannya dari sofa.


Sum datang membawakan makan siang untuknya juga Halimah. Rhandra terlihat
terus memandangi istrinya, ada kekhawatiran di matanya yang tak bisa ia
ungkapkan.


"Maafkan Si Mbok Den…tadi pagi Mbok lupa menyimpan obatnya…"


"Tidak apa-apa Mbok, sudah waktunya ia tahu…"
Sum diam, ia terenyuh melihat kesedihan di matanya.


"100 hari saja Mbok, 100 hari aku ingin bersama Halimah setelah itu aku
akan pergi darinya..." ucap Rhandra seraya melihat Halimah yang terbaring
lemah. Dimatanya masih terekam jelas, senyum Halimah saat menjalani
hari-hari terakhir bersamanya.


Tangisan Mbok Sum pecah, ia sangat tak mengharapkan Rhandra akan pergi
meninggalkannya.


"Kasihan Non Halimah Den..."


"Saya sudah memutuskan untuk melepaskannya Mbok, bersamanya hanya membuat
saya lemah, dia pantas bahagia, dia pantas mewujudkan mimpi-mimpinya
memiliki suami yang baik dan anak-anak yang lucu..Saya tak pantas untuknya
Mbok"


"Ceritakan saja padanya Den.. Mbok yakin dia pasti akan menerima keadaan
Den seutuhnya.. dia sangat mencintai Aden..." jawab Sum, nafasnya sesak
memikirkannya.


Rhandra diam, ia menunduk, kedua tangannya menahan kepalanya.


"Saya tak bisa Mbok…, Saya belum siap kehilangan dia sekarang…" jawab
Rhandra, kedua matanya lembab, ada air di kedua sudut matanya.


"Si Mbok tak bisa berbuat apa-apa Den, Mbok hanya berharap Aden bisa
bahagia bersama Non." Sum menangis, ia tinggalkan Rhandra dalam kesedihannya.


Rhandra mendekati Halimah, ia duduk disebelah tubuhnya, ia belai rambut
juga pipinya yang lembut. "Kamu akan selalu dihatiku Halimah…" bisiknya.


Rhandra berbaring disebelah tubuhnya, nafas Halimah begitu terasa di
wajahnya, aroma tubuhnya membakar jiwanya, ia hanya diam dan memeluk
tubuhnya erat.


Halimah terperangah, ia buka matanya pelan. Rhandra masih setia mendampinginya.


"Rhandra…" ucap Halimah.


"Aku disini Halimah," ucap Rhandra.


"Seseorang telah berbuat jahat Rhandra, seseorang telah dibunuh ditempat
ini, mereka membuang jasadnya disumur itu, aku melihatnya Rhandra, aku
melihatnya dengan jelas…Aku takut Rhandra..." ucapnya menangis.


"Tenanglah Halimah…itu hanya halusinasimu saja…"


"Tidak Rhandra, aku mohon kita harus melihat sumur itu, aku mohon…" ucap
Halimah memaksa.


Rhandra diam, ia sedikit percaya dengan apa yang dikatakannya.


"Akan aku lihat Halimah…" ucapnya seraya menggenggam tangannya.


"Aku ikut, aku ingin tahu…"


"Halimah kamu masih shock…"


"Bersamamu aku merasa lebih baik, aku mohon…"


Rhandra bangkit lalu membantu Halimah bangkit dari tempat tidurnya.


Tak lama, sejurus dengan pandangannya sebuah mobil jeep hitam yang tak
asing baginya masuk ke dalam pekarangan villa mereka, mobil itu berjalan
dengan pelan.


"DARMIN!" teriak Rhandra yang tau akan kedatangan Haikal.


"Ya Den…" teriak Darmin yang berlari menuju kamarnya.


"Kamu jaga dibawah, laki-laki itu datang lagi," rutuknya kesal.


"Haikal…" bisik Halimah.


Ya Allah kenapa Haikal terus mencariku apa maunya?


"Ikut aku Halimah."


Rhandra menarik tangannya, tak ada ruang rahasia disana. Di lantai dua
hanya sebuah kamar tak berpintu dan satu buah kamar mandi, mereka masuk
kedalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam.


Tubuh Rhandra persis dihadapannya, jaraknya sangat dekat. Pelan ia menelan
salivanya.


Halimah teringat saat ia tak sengaja memergokinya didalam kamar mandi di
kamarnya di Gedong tua, saat itu laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya
terlihat bersih, ia hanya menggunakan sehelai handuk. Badannya tegap,
perutnya rata dengan otot yang membentuk six pack, ada ruam-ruam merah di
sekitar tubuhnya
.
Jantung Halimah berdegup kencang, berulang kali ia menelan salivanya.
Rhandra adalah laki-laki yang sempurna baginya, kekurangannya hanya satu
jauh dari Tuhan.


Halimah mulai berkeringat, bukan karena Haikal namun karena ia menikmati
kehadiran Rhandra dihadapannya.


"HALIMAAH…" suara Haikal masih terdengar jauh. Halimah terperangah, Rhandra
memeluknya, tangannya ia genggam erat.
"Mohon maaf tuan, anda tak boleh naik keatas!" teriak Darmin yang berusaha
mencegahnya.


Haikal terdengar memaksa. Benar apa yang dikatakan Rhandra, bahwa Haikal
mampu melakukan apa saja demi hal yang ia inginkan.


Langkah kaki itu kian terdengar di telinga Rhandra, Rhandra geram kedua
alisnya mengerut karena kesal. Nafas emosi sudah tercium oleh Halimah,
Halimah kian mendekat, ia memeluk dada suaminya yang penuh dengan amarah.


"Halimah aku mohon…keluarlah, aku tahu kamu disini. Mushafmu …aku tahu itu
mushafmu…" Halimah terperangah, ia lupa membawanya bersamanya.
Haikal tahu keberadaan Halimah, ia bisa merasakan Halimah bersembunyi dalam
kamar mandi, Haikal tidak menggedornya, ia membiarkan pintu itu terbuka
untuknya.


"Aku mohon Halimah, Ibumu sakit parah…" ucap Haikal berbohong.


Seketika air mata Halimah jatuh, tubuhnya bergetar dan lemas, pandangannya
kosong. Rhandra terenyuh, Air mata Halimah semakin deras. Ia tak sanggup
melihatnya menangis, Rhandra melepaskan genggamannya, dan membiarkannya
mengambil keputusan yang ia mau.


Tak lama Haikal turun, ia tak bisa meyakinkan Halimah. Ia keluar dari Villa
Abyakta, Sum dan Darmin mendampinginya. Mereka tak bicara sedikitpun
tentang keberadaan Halimah, namun keyakinan Haikal sangat kuat, untuk itu
ia memaksa untuk masuk.


"Pergilah Halimah."


"Rhandra…" Halimah menggelengkan kepala.


"Aku akan menjemputmu…Aku janji…Pergilah bersamanya…" ucap Rhandra lembut.


"Jika kamu tidak datang?" tanya Halimah ragu.
Rhandra diam, ia kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Halimah.


"Aku akan datang Halimah, kapanpun kamu membutuhkanku aku selalu ada
untukmu, aku janji…"


"Aku ingin bertemu keluargaku Rhandra, tak bisakah kamu yang mengantarku?"


"Halimah, laki-laki itu akan terus datang. Dia akan terus bertanya tentang
keberadaanmu, keluarlah dan berikan jawaban padanya kamu baik. Biarkan ia
mengantarkanmu pulang"


Rhandra menatap wajah Halimah yang begitu tulus.
Ia terharu, ia memeluknya dengan erat. Lalu Halimah keluar dari kamar
mandi, ia ambil hijab juga jaket yang tergantung di lemari pakaian, secarik
kertas juga sebuah pulpen ia ambil di laci nakas, ia menulis beberapa pesan
singkat diatasnya lalu berlari kebawah.


"Mas Haikal!" teriak Halimah


"Halimah…" Haikal lega, senyum di bibir Haikal begitu lebar, rasa rindu
yang teramat dalam begitu menyeruak, rasanya Ia ingin memeluknya dengan
erat, meluapkan emosi juga cinta yang tertahan dalam jiwa.


Rhandra rapuh, ia duduk dibalik pintu, air matanya mengalir. kedua
tangannya ia genggam, emosi yang ia rasakan begitu besar. Namun ia pasrah,
baginya Halimah kembali atau tidak itu sudah menjadi keputusannya.


"Non…" sapa Mbok yang berusaha menghentikan Halimah.
"Saya akan kembali Mbok…saya pasti kembali…" Halimah memeluk erat tubuh Sum
seraya menangis, di telinganya ia berbisik "Jaga Rhandra ya Mbok, titip dia
untuk saya…" ucap Halimah, suaranya parau ia menangis matanya lembab,
hidung memerah karena tangisan.


Halimah pergi, pikirannya kacau memikirkan Dasinun yang sedang sakit juga
Rhandra yang ia tinggal sendiri, jiwanya pasti sepi. Alangkah indahnya jika
Suaminya sendiri yang mengantar menjenguk Ibunya.


Sudah beberapa kali Halimah memohon padanya untuk pulang, namun Rhandra
selalu menolak. Entah apa yang membuat Rhandra menahan Halimah, sampai saat
ini pun Halimah belum tau jawaban pastinya.


Mobil itu berjalan ke arah Utara Magetan, mereka kembali menuju desa tempat
Dasinun dan adik-adiknya tinggal. Sepanjang perjalanan Halimah hanya
memandang keluar jendela, Haikal berusaha mengajaknya berbicara namun
Halimah tetap diam dan berpaling muka.


"Halimah…apa kabarmu?"


Halimah tak bergeming ia tetap diam. Ia duduk meminggir seraya mendekap
erat pada kedua bahunya. Mulutnya datar tak ada ekspresi.


"Halimah…Mas mau minta maaf, tolong bicaralah…"
Halimah tetap tak bergeming, pikirannya sedang kalut. Dasinun, Ayahnya, dan
Rhandra semua memenuhi pikirannya. Halimah buntu, mulutnya terasa berat
menjawab pertanyaan Haikal, ia sudah muak mendengar suaranya, tak ada lagi
sinyal hati yang ia rasakan padanya beberapa bulan lalu. Haikal mati,
baginya hanya sebuah kenangan yang tiada arti.


"Tolong lebih dipercepat Mas…" ucap Halimah, memotong kesekian pertanyaan
darinya.


Haikal mengangguk, ia menambah kecepatan mobilnya agar kekecewaan Halimah
berkurang padanya.


Mobil mereka sudah masuk ke pedesaan baru, lokasinya berada diantara desa
Genilangit juga desa Poncol. Pesawahan terhampar begitu luasnya, pohon
pinus berjejer disepanjang jalannya. Udara yang begitu sejuk perlahan
berhembus sesaat Halimah membuka kaca mobil.


Seketika kenangan akan Rhandra muncul, ia rindu saat mereka berdua
melakukan kencan bersama ke taman genilangit, ia rindu belaian Rhandra, ia
rindu gelak tawanya, ia rindu ocehan pedasnya.


Halimah menangis, air matanya terbang bersama angin. Ia diam dan terus
berharap dalam doanya, Rhandra akan datang menjemputnya ia pasti menepati
janjinya.


Haikal pun menepi, mobilnya berhenti di sebuah rumah yang berada persis di
tengah pesawahan, rumah yang sederhana namun memiliki pondasi yang kokoh,
Halimah mamandang Haikal.


"Disana…" ucap haikal menjawab sebuah pertanyaan yang tergambar diwajahnya.
Pelan Halimah turun dari mobil, ia langkahkan kakinya menuju rumahnya yang
setaunya, Rhandra yang memberikannya untuk mereka.


Langkah kakinya bergetar, tak lama wajah wanita yang tak asing baginya
muncul, sebuah bak pakaian basah berada di tangannya. Wanita itu sudah tak
muda lagi, namun ia masih kuat mengerjakan pekerjaan Rumah.


"Bueee..."teriak Halimah.


"BUE!" teriaknya kembali… langkahnya semakin cepat.


"HALIMAH!" Dasinun berlari mengejarnya, keduanya berhambur menjadi satu
dalam pelukan, Dasinun tak kuasa menahan kerinduan pada putrinya, ia ciumi
wajah putrinya, begitu pun Halimah sebaliknya.


Tak lama Dwi dan Sur berhamburan keluar, mereka berlari kearah kakaknya,
pelukan erat ia berkan ke Halimah.


Haikal bernafas lega, ia tak ingin menghancurkan kebersamaan mereka, ia
turun dari mobil hanya seke
dar berpamitan.


"Bue sakit kenapa masih kerja?" tanya Halimah khawatir.


"Bue sehat kok Nak, Bue hanya kangen sama kamu Nak, bue disini tidak
apa-apa, Sur juga Dwi baik-baik saja, kami semua justru mengkhawatirkanmu Nak."


Halimah memicingkan matanya ke arah Haikal, bisa-bisanya orang
berpendidikan berbohong hanya untuk memuaskan harapan juga keinginannya,
kekesalannya semakin bertambah.


"Saya permisi dulu Bue," ucap Haikal seraya mengulurkan tangan padanya
untuk ia cium.


"Terimakasih banyak Nak Haikal," jawab Dasinun seraya mengangguk-anggukan
kepalanya dan menangis.


Halimah tak bergeming, ia bahkan tak menoleh sedikitpun padanya.


"Nanti malam aku kembali Halimah," ucap Haikal ditelinganya.


Halimah masuk kedalam bersama Dasinun, ia tak mempedulikan laki-laki yang
sudah setengah mati mencari keberadaannya.
_____
Sementara di desa Genilangit, Rhandra masih termenung di dalam kamar mandi,
pandangannya terus menunduk kebawah. Laki-laki itu hanya diam, dan sesekali
menangis.


"Den…Bisa saya masuk?" Suara Darmin terdengar dari luar.


Darmin sudah seperti Ayah baginya, ia selalu ada disaat ia sedang sedih
atau terluka. Laki-laki itu bagai pengobat untuk jiwanya yang luka,
nasihatnya, perhatiannya tak berbeda dengan perhatian orang tua pada anaknya.


Rhandra tak menjawab, tak lama knop pintu terbuka perlahan. Dilihatnya
Rhandra sedang duduk meratapi kesedihannya.


"Den…Ayo bangun…" pinta Darmin seraya mengangkat bahunya.


Tak lama tangisan itu pecah, ia menekan giginya hingga menangis sesegukan.
Darmin memeluknya erat, ia mengusap pundaknya, ia biarkan anak laki-laki
itu bersandar pada tubuhnya.


"HAAAAAA!" teriakan Rhandra menghancurkan keheningan Villa Abyakta.
Laki-laki itu hancur.


Rhandra pun keluar dari kamar, Darmin memapah tubuhnya , ia rebahkan tubuh
Rhandra diatas ranjang,


Tak lama Rhandra melihat mushaf Halimah dan sebuah surat kecil diatas nakas
yang berada persis disebelahnya.


"Rhandra…aku bawa jaketmu untuk aku pakai, maaf karena mungkin aku akan
rindu padamu. Aku tinggalkan mushafku padamu, aku mohon jaga mushaf itu
baik-baik untukku, jika kau rindu kamu bisa memeluknya."


Rhandra diam, ia luluh ia peluk mushaf itu erat didadanya. Halimah pergi
bukan untuk sehari atau dua hari, namun Rhandra yakin, Halimah akan tahu
rahasia besar tentangnya dari orang lain, dan saat itu ia sangat yakin
Halimah tak akan kembali untuknya.


Malam itu setelah meluapkan rasa rindu pada keluarganya, Halimah menatap
pada setiap sudut ruangan rumah yang Rhandra sediakan untuk keluarganya.


Rumah sederhana yang terlihat kokoh, didalamnya ada ruang tamu, ruang makan
juga ruang dapur, ada tiga buah kamar persis seperti rumahnya yang terbakar
sebelumnya, dan yang menarik semua barang yang masih utuh dirumah yang
lama, semua ada didalam, khususnya didalam kamarnya, ranjangnya masih sama
karena belum terbakar, lemarinya masih utuh beserta pakaian yang masih
tersusun rapih didalam, meja belajar, juga sebuah jendela kamar yang
berhadapan persis dengan sinar rembulan.


Rhandra menepati janjinya, ia perlakukan keluarganya dengan baik, ia pun
memberikan uang pada Dwi untuk ia pakai secukupnya.


"Nduk…" sapa Dasinun yang melihatnya termenung selepas maghrib.


"Ya Bue…"


"Terimakasih ya Nduk, sudah bantu Bue dan adik-adikmu, kamu pasti bekerja
keras untuk semua ini…Sebenarnya apa yang kamu kerjakan, kenapa tiba-tiba
kita seperti orang yang serba cukup, Dwi titipkan uang yang cukup untuk
kita pakai selama satu bulan, belum lagi rumah yang kita tempati sekarang,
mesin jahit di kamar bue, semua ini kamu dapatkan dari mana Nduk?" tanya
Dasinun penasaran.


"Bue…Halimah buatkan makanan ya… sudah lama Halimah tidak masak untuk orang
rumah," ucap Halimah mengalihkan pertanyaannya.


Ia menyiapkan makanan yang sebelumnya sudah dibeli ibunya di pasar, ia
masak dengan sungguh-sungguh, rindu yang begitu besar ia tumpahkan hari
ini. Ia rindu Bue dan kedua adiknya, Halimah rindu masa-masa bersama mereka.


"Dwi, Sur…Ayo makan…"


Kedua adiknya lari ke arahnya, mereka nikmati hari-hari bersama kakak
perempuannya. Dasinun tersenyum lebar, kebahagiaan tak terkira terpancar
diwajahnya.
"Allah selalu bersamamu Nak," ucap Dasinun seraya mengusap kepalanya.


Setelah makan malam Halimah kembali kekamar. Malam itu adalam malam pertama
Halimah tidak bersama Rhandra, rasa rindu teramat dalam sangat ia rasakan.
Pelan Halimah memeluk jaket Rhandra, ia ciumi bau yang masih menempel di
jaketnya. Cincin kayu yang Rhandra berikan terus menerus ia putar dan ia
mainkan.


"Halimah…" sapa Dasinun seraya mengetok pintu kamarnya.


"Ya Buee…" Halimah bangkit dan membukakan pintu untuknya.


"Ada Nak Haikal didepan…"


Halimah diam, ia tak ingin diganggu.


"Halimah lelah Buee…"


"Temui dulu Nak, kasihan dia. Dia terus mencari dan menanyakan kabarmu…"


Halimah luluh, ia dengarkan perintah ibunya untuk datang menemuinya.


Laki-laki itu tengah berdiri di teras depan, tubuhnya membelakangi Halimah.
Baju koko berwarna biru yang selalu ia kenakan dulu, begitu bersinar di
kulitnya yang putih.


"Mas," sapa Halimah, tak lama Haikal berbalik ia lemparkan senyuman pada
wanita yang teramat Ia rindukan.


"Apa kamu lebih baik sekarang?" tanyanya.


"Langsung saja mas, mas Haikal ada keperluan apa dengan Halimah?"


"Mas ingin minta maaf Halimah…Mas tau kesalahan Mas amatlah besar," tutur
Haikal.


"Sudah Halimah maafkan, Mas…"


"Terimakasih Halimah, lalu apa kita bisa mulai lagi dari awal?"


"Untuk itu, mohon maaf mas Halimah tidak bisa."


"Mas Paham. Halimah pasti masih kecewa dengan Mas, kapan pun Mas siap
menunggu..."


"Tetap tidak bisa Mas."


"Setidaknya beri mas kesempatan Halimah, meskipun hanya sekali, mas janji
akan memperbaiki semuanya," tuturnya memohon.


"Tetap tidak bisa mas, Halimah sudah tidak sebebas dulu," ucap Halimah.


"Maksud kamu apa?"


"Halimah sudah menikah…"


Haikal lemas, hatinya hancur mendengar jawaban Halimah, namun ada setitik
rasa tidak percaya didalam hatinya, ia yakin Halimah hanya berbohong agar
ia bisa pergi darinya.


"Mas mohon Halimah, tolong jangan berbohong jawabanmu itu membuat mas hancur."


"Halimah tidak pernah berbohong mas, semua yang Halimah katakan adalah
kebenaran, bahkan perkataan Halimah dulu kepada Mas Haikal bukan ucapan
dusta, tapi Mas Haikal tetap tidak percaya dengan Halimah, hari itu Halimah
tidak butuh bukti mas, Halimah hanya butuh rasa percaya…"


Haikal menangis, ia menyesali semua perbuatannya dulu.


"Jika benar…katakan dengan siapa kamu menikah?"


"Dengan orang yang memberikan bantuan padaku malam itu?"


"Katakan siapa?" rutuk Haikal, cemburu mulai menguasai jiwanya, bagaimana
bisa ia memiliki Halimah hanya karena bantuan yang ia berikan.


"Mas tidak perlu tahu," tutur Halimah.


"Katakan Halimah!" rutuk Haikal dengan nada yang lebih tinggi.


"Mas tidak punya hak untuk tahu dengan siapa Halimah menikah…"


"Apa dengan penghuni rumah tua itu? apa kamu menikahi jin atau sebangsanya?"


"TUTUP MULUT LANCANGMU ITU MAS!" rutuk Halimah kesal, ia menarik emosi dari
setiap kejadian yang menimpanya.


"Halimah, mas masih mencintaimu, jika itu benar terjadi padamu, mas akan
berusaha membantu."


"Rendah sekali dirimu Mas, bahkan gelar yang menempel didirimu tak mampu
menahan keegoisan juga kesombonganmu."


"Katakan Halimah dengan siapa kamu menikah? tidak ada satupun penghuni disana?"


"Rhandra Abyakta…" jawab Halimah menegaskan.


"Tidak mungkin…Ia sudah mati Halimah…tidak mungkin," jawab Haikal tidak
yakin dengan jawaban Halimah.


"Halimah bersyukur atas kejadian yang menimpa Halimah setidaknya Halimah
bisa terhindar untuk menikahi mas Haikal…"


Halimah berpaling, ia mengakhiri percakapannya dengan Haikal dengan masuk
kedalam rumah dan menguncinya."


"Halimah…mas mohon…Laki-laki itu sudah Mati, percayalah Halimah" ucap
Haikal seraya menggedor pintu rumahnya.


Halimah bersandar dibalik pintu, wajah Dasinun pucat pasi melihat putrinya,
ia mendengar sedikit percakapan Halimah dengan Haikal. Tubuhnya bergetar,
Air matanya mengalir, mendengar putrinya sudah menikah.


Sementara diluar Haikal terdiam, ia meratapi penyesalannya, ia bangkit dan
pergi meninggalkan Halimah yang sudah jelas menolaknya.


Tak jauh dari sana, seorang wanita tengah berdiri di balik pepohonan, ia
mendengar semua percakapan Halimah dengan Haikal, ia pun terkejut saat
mendengar Halimah sudah menikah dengan penghuni rumah tua.


Wanita itu adalah Ayu, sahabatnya yang tak pernah puas akan jawaban Haikal,
ia terus mengikutinya belakangan ini, ia tak terima rasa cinta yang begitu
dalam yang dirasakan Haikal hanya untuk Halimah seorang.


Halimah termenung, ia masuk kedalam kamar. Ia tak menyesali atas apa yang
dikatakannya pada Haikal, ia merasa lega ia berharap Haikal tidak datang
untuk mencarinya, Ia duduk dibawah sinar rembulan, ia pandangi rembulan
dengan penuh rindu pada seseorang.


"AKu merindukanmu Rhandra…" bisiknya.


Sementara jauh disana, laki-laki yang ia rindukan tengah memandang rembulan
yang sama.


"Aku rindu Halimah…" ucapnya lembut.


Perasaan mereka seperti bertemu dibawah sinar rembulan yang temaram,
laki-laki itu terus meraba Mushaf milik Halimah, ia rindu ocehannya, ia
rindu nasihatnya, ia rindu gelak tawanya.
_____
Dasinun masuk kekamarnya, dilihat putrinya sedang sibuk memandang rembulan,
mulutnya basah karena berdzikir, ia memeluk jaket yang begitu tebal.


"Halimah Bue ingin bicara," ucap Dasinun.


"Katakan saja Bue."


"Apa benar kamu sudah menikah?"


Halimah diam, ia tak bergeming. Ia biarkan pertanyaan Dasinun tergantung.


"Jawab Halimah," rutuk Dasinun seraya menarik bahu putrinya agar melihat
kearahnya.


Halimah mengangguk, air mata itu menetes, ia menahan sesak didadanya, sesak
karena rindu akan suaminya.
Dasinun jatuh, ia jatuhkan tubuhnya di ranjang persis disebelahnya,
wajahnya pucat, ia diam seribu bahasa.


"Apa kamu menikah demi kami, apa dia menolong kami agar ia bisa
menikahimu?" tanya Dasinun memelas. "Jawab Halimah!" lanjutnya merutuk.


Halimah mengangguk.


"Haaah…Maafkan Buee mu ini Nak, Bue tak bisa melindungimu," tutur Dasinun
menyesal.


"Halimah tidak menyesal Bue, Awalnya seperti itu Bue, namun perlahan waktu
demi waktu Halimah mulai mencintainya, didalam dirinya yang terlihat jahat,
ada hati yang tulus, hati yang mulia. Bahkan sedetik pun Halimah tak ingin
berpisah darinya, Halimah begitu mencintainya Bue… sangat…"
Dasinun menangis, ia memeluk putrinya yang terlihat payah.


"Katakan siapa dia?"


"Bue harus percaya dia laki-laki yang baik," jawab Halimah meyakinkan.


Halimah diam, mendadak ia teringat dengan bayangan akan wajah Ayahnya tadi
pagi. Buru-buru ia mengelap wajahnya dan bangkit dari pelukan ibunya.


Halimah memegang erat tangan ibunya.


"Bue…katakan pada Halimah apa dulu pekerjaan Ayah?"


"Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan Ayahmu?"


"Halimah ingin tahu Bue… Halimah mohon Bue berkenan untuk bercerita tentang
Ayah…"


"Ayahmu hanya seorang petani Nak…"


"Sebelum itu?"


"Kamu rindu Ayahmu?"


"Bue, tolong jawab pertanyaan Halimah. Apa pekerjaanya sebelum jadi petani
Bue…"


Dasinun menarik nafas "Supir Nak…"


"Apa ia supir keluarga Abyakta?"


"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Dasinun heran.


"Bue…Halimah mohon ceritakan pada Halimah tentang pekerjaan Ayah dulu,"
tanya Halimah serius, seketika lamunannya akan Rhandra Abyakta sedikit
berkurang.


"Ayahmu adalah seorang pekerja keras Nak, ia sudah menjadi supir keluarga
Abyakta sejak usianya 20 tahunan. Bue menikah dengannya saat usianya sudah
kepala tiga, tidak ada yang aneh pada pekerjannya."


"Lalu kenapa Ayah mendadak menjadi seorang petani?"


"Malam itu Ayahmu pulang sangat larut, ia menangis namun Bue tak tahu apa
yang membuatnya menangis, ia terus menerus sujud bersimpuh, namun Bue tak
tahu apa masalahnya, dan tak lama Ayahmu mengundurkan diri dari pekerjaannya."


"Apa pernah Bue, menemukan gelagat aneh Ayah sebelum ia mengundurkan diri?"


"Halimah kamu kenapa mendadak seperti mengitrogasi Ibumu?"


"Halimah mohon jawab Bue…"


"Suatu hari Ayahmu datang membawa anak laki-laki berusia 3 tahunan
bersamanya…Saat itu Bue marah karena curiga, awalnya Bue pikir itu
anaknya…Namun Ayahmu bilang, ia diminta Nyonya untuk membawanya, dan
esoknya peristiwa itu terjadi, Ayahmu pulang dengan perasaan bersalah yang
amat dalam, namun Bue tidak tahu kenapa? Bue tanya dia tak menjawab. Bue
pikir Ayahmu trauma dengan kejadian itu, untuk itu ia mengundurkan diri."


"Peristiwa? peristiwa apa Bue…?"


"Peristiwa yang amat mencekam bagi warga desa, bahkan sempat mendapat
perhatian pemerintah. Saat itu warga desa dengan sengaja dan sadar
menghabisi 3 keluarga sekaligus, mereka diisolir dalam satu rumah, lalu
mereka dihabisi secara mengenaskan, mereka dibakar hidup-hidup, warga
dengan tega main hakim sendiri, mereka lupa ada Allah yang menjadi saksi
akan tindakan keji mereka…


Sampai Ayahmu datang dan Bue baru tau keluarga Abyakta pun tak luput dari
penyerangan itu, istri tuan Abyakta dan anak laki-lakinya meninggal
mengenaskan disana."


Halimah tercengang "Anak laki-laki?" batinnya
bertanya.


"Apa kesalahan mereka Bue? apa yang membuat warga desa hingga murka seperti
itu?"


"Virus HIV nak…dulu virus itu menyebar begitu cepat, beberapa anggota
keluarga mereka yang dihabiskan secara keji telah meninggal lebih awal,
penyakit itu dengan cepat menular, ditambah lagi dengan pernyataan Dokter
yang saat itu memeriksa warga desa, bahwa penyakit ini ditularkan akibat
hubungan tubuh yang tidak sehat, ganti-ganti pasangan dan banyak lagi.
Warga desa murka, saat itu mereka mengatakan bahwa ini penyakit kutukan,
penyakit setan, dan tak satupun penderita yang boleh hidup di desa ini,
termasuk Nyonya juga anaknya pun terkena imbasnya."


"Nyonya…dan Anaknya…?" tanya Halimah, tubuhnya bergetar, batinnya bertanya
siapa anak yang dimaksud.


"Iya, Nyonya Arkadewi dan anaknya…" pelan Halimah menggenggam tangan ibunya.


"Apa Bue tahu…Siapa nama anaknya…?"


"Bue lupa Nak…kenapa kamu tanyakan itu…?"


"Jawab Bue…apa namanya Rhandra Abyakta…?" tanya Halimah suaranya mengecil,
berharap bukan nama itu yang disebutnya matanya mulai berkaca-kaca.


"InsyaAllah iya, semua warga desa tau nama itu…"


Halimah menarik nafas, ia shock tangisannya pecah seketika.


"Halimah ..kamu kenapa?" tanya Dasinun kebingungan melihat putrinya
mendadak rapuh.


"Huaaa…" Halimah menangis meraung-raung, ia kehilangan kendali akan
kesadarannya.


"Halimah!" ucap Dasinun seraya memegang pundak Halimah.


"Kamu kenapa Nak!"
Halimah tak menjawab, ia biarkan tangisan, jeritan hati itu keluar. Halimah
tak sanggup lagi mendengar cerita Dasinun.


"Halimah jawab!" Dasinun ketakutan melihat putrinya, ia memeluknya dengan erat.


"Katakan Nak..apa yang terjadi padamu…" tangisan Dasinun pecah, putrinya
rapuh tak sekuat dulu.


"Dia belum mati Bue…dia belum mati…Rhandra belum mati…Rhandra masih hidup
Bue…" ucap halimah, bibirnya bergetar dan basah karena air mata yang tiada
henti.


Dasinun tercengang "Apa maksudmu Nak?" tanyanya heran.


"Huaaa…." tangisanya semakin menjadi.


"Halimah sadarlah…"


"Siapa yang masih hidup?"


Dasinun membiarkan tangisan putrinya habis di dadanya, ia tak bisa
berbicara banyak melihat kondisi Halimah yang mendadak rapuh.


Malam itu Dasinun terlelap dikamarnya. Halimah sudah dapat mengontrol
emosinya, ia terjaga malam itu, matanya tak bisa ia pejamkan. Pikiran akan
Rhandra suaminya terus menghantui hati juga pikirannya.


Halimah termenung diatas tempat tidur, ia lihat Buenya terlelap
disebelahnya, tubuhnya ia hadapkan ke jendela, ia tatap langit, menatap
pada rembulan yang selalu setia menemani Rhandra suaminya setiap malam. Ia
peluk jaket suaminya yang ia bawa, ia putar-putar cincin kayu pemberian
Rhandra yang melingkar di jari manisnya. Air matanya terus mengalir
memikirkannya, ia berharap secepatnya Rhandra datang untuk menjemputnya dan
menceritakan semua masalahnya padanya.


Sementara jauh disana, pun Rhandra sedang menatap pada rembulan yang sama.
Rhandra sudah menata hati untuk bisa bersabar juga ikhlas melepaskan
Halimah. Ia yakin, Halimah pasti sudah tau kebenaran tentangnya, tentang
siapa dirinya dan masalah yang ia hadapi. Halimah berhak menentukan jalan
hidupnya.


"Den...Semua sudah siap," sapa Darmin.


Rhandra mengangguk.


"Den…?" tanya si Mbok, wanita itu masih yakin jika Halimah tak akan tega
meninggalkannya sendiri, Sum tahu betapa berartinya Rhandra untuknya.


"Besok kita berangkat Mbok…"


Besok mereka akan meninggalkan Genilangit, menuju Gedong tua setelah itu
Rhandra berencana akan pergi ke Jakarta untuk mengakui keberadaan dirinya
pada keluarga yang dulu telah meninggalkannya, menyerahkan wasiat yang
mahadi berikan padanya.


Rhandra adalah pemilik sah dari Abyakta Corporation, 70 % saham perusahaan
itu adalah miliknya, dan 30 % sisanya milik Maharani saudaranya, karena
hanya mereka berdualah anak sah dari Mahadi Abyakta , sisanya Puspa
mendapatkan Hak kepemilikan rumah dan tanah yang berada di Jakarta,
sedangkan Arkadewi mendapat hak atas rumah, villa dan kebun teh.


Setelah resmi, Rhandra dianggap meninggal semua harta mereka yang
mengelola.Harsa Mahardika kakak tirinya yang menjalankan perusahannya,
hanya aset Magetan yang tak pernah mereka sentuh.


Rhandra lelah, kebenciannya selama ini pada keluarganya telah menghancurkan
dirinya, Nasihat Halimah bagai penyembuh bagi luka-lukanya.


Darmin pernah menunjukkan kekhawatiran yang besar tehadapnya, ia tahu
betapa Puspa membenci Rhandra, bahkan alasan Rhandra dibunuh saat peristiwa
30 tahun lalu, masih menjadi misteri hingga saat ini.


Rhandra pasrah, Rhandra sudah tidak memiliki semangat dalam hidupnya.
Dendam itu terkikis setelah kepergian Halimah. Kini ia hanya tinggal
menunggu waktu detik demi detik masa kematiannya, ia bosan dengan penyakit
yang telah lama bertengger di tubuhnya, setiap meminum obat tubuhnya bagai
tak bertulang, seluruh tubuhnya berkeringat, mati segan hidup tak mau,
itulah Rhandra dulu dan jiwa itu kembali dalam dirinya.


Satu per satu sebuah misteri mulai mencuat, Halimah yang tak tahu banyak
tentang Gedong tua merasa terpanggil untuk menyelesaikan sejarah yang masih
tergantung.


Halimah terjaga, ia tak lelah menunggu matahari datang, ia ingin kembali
menemui Rhandra suaminya.


Malam semakin larut, Halimah bangkit ia mengambil wudu dan beranjak untuk
tahajud, ia lapangkan sajadah, ia bermunajat diatasnya.


Setiap doa yang keluar dari mulutnya ia hiasi air mata yang mengalir ke
mulutnya. Ia pasrah, berharap pertolongan untuk suaminya, kesehatan untuk
suaminya, penjagaan untuk suaminya, perlindungan untuk suaminya dan hidayah
untuk suaminya. Semua doa malam itu khusus ia munajatkan untuknya, Rhandra
abyakta.


Dasinun sadar pelan ia membuka matanya, ia lihat putrinya sedang bermunajat
pada Tuhan.
Seketika air mata membasahi pipinya, ia tak tahu apa yang sudah terjadi
pada putrinya.


Dasinun mendekat ia sandarkan tubuhnya disebelah ranjang persis
dibelakangnya, munajat itu tak henti-henti, Halimah belum juga menurunkan
tangannya. Tak lama Dasinun memeluknya dari belakang, ia sandarkan tubuh
putrinya ke dadanya, anak itu menangis pipinya basah, matanya membengkak,
hidungnya memerah.


"Katakan laki-laki mana yang telah membuatmu seperti ini Halimah?"


Halimah diam, ia belum bisa menjawab pertanyaan Dasinun. "Bagaimana kamu
bisa menikah ceritakan pada Bue."


"Dwi yang menikahkan kami Bue."


"Bue …sudah bisa menebak, Dwi tak pernah bicara, namun Bue tau kamu pasti
berada ditangan yang tepat. Katakan siapa dia Nak?"


Halimah diam, ia ragu untuk mengatakan pada ibunya.


"Halimaah…"


"Rhandra Bue….Rhandra Abyakta," ucap Halimah ragu.
Seketika tubuh Dasinun bergetar, ia membuka matanya lebar, dan menarik
nafas panjang.


"Bagaimana bisa? bukankah dia sudah meninggal?"


"Belum Bue…dia nyata dia masih ada…"


"Tidak Nak, ayahmu sendiri yang mengatakan pada Bue, Bue tidak salah
dengar, ia meninggal dipelukan Arkadewi ibunya…"


"Halimah sah menikah dengannya Bue…jika bukan karenanya, Halimah tidak bisa
membayar rumah sakit, Halimah juga tidak bisa memberikan tempat yang layak
untuk Bue dan adik, ini semua Rhandra yang memberikan Bue…dia laki-laki
yang baik.Dia masih hidup Bue, semua berita tentang kematiannya itu tidak
benar," tutur Halimah yakin.


Dasinun diam. Ia perhatikan wajah Halimah yang penuh dengan harapan juga
suka cita, hati anak itu betul-betul sedang merekah.


"Apa dia sehat…?" tanya Dasinun seraya mengusap pipinya.
Halimah diam, ia tak tahu bagaimana keadaan Rhandra sesungguhnya. Jika
merunut pada cerita yang diceritakan Dasinun, besar kemungkinan Rhandra
memiliki virus HIV ditubuhnya.


"InsyaAllah Bue… dia sangat kuat, dia mampu menggendong Halimah, dia bisa
berlari kencang seperti jaguar, dia juga bisa melakukan apapun layaknya
orang Normal, Halimah sangat yakin ia sehat, namun meskipun Ia sakit,
bukankah sudah kewajiban Halimah untuk terus menjaganya…?"


Dasinun menarik nafas. Ia memeluk erat putrinya, berharap putrinya
mendapatkan kebahagiaan yang ia inginkan.


"Tidak ada orang tua mana pun yang ingin melihat anaknya celaka Nak…Jika
pun Rhandra masih hidup sudah pasti ia menderita penyakit menular itu, Buee
tidak siap Nak…"


"Bue… Hak atas Halimah saat ini hanya pada dia, tanpa dia
Halimah takkan bisa hidup Bue…Halimah hanya bisa hidup dengan Rhandra…"


"Penyakit itu pasti ada obatnya Bue.. Halimah yakin itu..., izinkan Halimah
pergi Bue…Halimah hanya bisa hidup dengannya…Halimah mohon…" lanjut Halimah
ia menangis sesegukkan di dada ibunya.


Dasinun pasrah, ia mengangguk, ia merestui hubungan mereka.


"Asalkan kamu bahagia Nak…" bisiknya, air matanya sudah membanjiri mulut
Dasinun, ia tak dapat menghalangi cinta putrinya yang begitu besar pada
anak laki-laki yang bahkan belum ia jumpai.
____


Pagi itu setelah sholat subuh, Halimah duduk sarapan bersama, seperti
hari-hari suka yang mereka lakukan dahulu, sebelum ia mengenal Rhandra,
sebelum ia difitnah. Sarapan bersama dengan kedua adiknya Sur dan Dwi juga
Ibunya adalah hal yang paling ia rindukan.


Mereka tersenyum lebar, begitu rindunya mereka dengan kakak perempuan
mereka satu-satunya, Sur yang selalu manja padanya, Dwi yang selalu
berusaha menjadi pelindung baginya dan Ibunya merupakan sosok paling
sempurna diantara ketiganya, Halimah belajar banyak hal darinya seperti
ketegarannya, kesabarannya, rasa tauhid yang begitu dalam pada Tuhannya,
rasa cinta yang begitu mendalam pada Ayahnya.


Tak lama Halimah menangis, di meja itu ia merasa ia tak akan berjumpa lagi
dengan mereka, ia merasa ini adalah hari terakhir baginya untuk bersama.


Dwi dan Sur terenyuh, tangan-tangan kecil mereka memeluknya dengan erat.


Pagi itu alam menjadi saksi bagaimana indah juga tegarnya sebuah keluarga
kecil yang selalu diramati oleh Allah..


"Berikan ini untuk suamimu Nak…" Dasinun datang membawa sebuah bingkisan,
entah apa isinya namun ia sangat terharu ibunya memahami perasaannya.


"Itu adalah hadiah pernikahan dari Bue, awalnya Bue buat untuk Nak
Haikal…Ibu merajutnya siang malam, tapi ternyata jodohmu bukan dia, semoga
muat untuk dia…"


Halimah memeluk Dasinun erat, "terimakasih Bue…terimakasih…"


"Kami akan mengunjungi kalian, kalian tidak usah datang kekampung ini,
mereka orang-orang jahat Nak, mereka tak paham ilmu, seribu kali kamu
mengatakan penyakit itu sudah ada obatnya, mereka tak akan paham, yang
mereka pahami 20 orang telah tewas akibat penyakit menular itu,"


Jauh dari rumahnya Haikal sudah menunggunya sejak subuh, ia menunggu
Halimah keluar dan melihat kesungguhan akannnya. Haikal masih tak percaya
dengan apa yang dikatakan Halimah, ia ingin meyakinkan Halimah akan
kematian Rhandra, ia menganggap apa yang terjadi pada Halimah adalah sebuah
halusinasi semata.


Halimah keluar, ia duduk di teras ia menunggu janji Rhandra untuk
menjemputnya. Sorot matanya begitu kosong, ia hancur setelah mendengar
cerita Dasinun.


Rasanya ia ingin kembali menuju Villa Abyakta, ia ingin memeluk Rhandra
yang selama ini menimpa masalahnya sendiri, ia ingin meminta beban di
pundaknya.


Haikal turun dari mobilnya, ia langkahkan kakinya menuju Halimah yang
sedang termenung meratapi kesedihannya.


"Halimah…"
Halimah diam tak bergeming.


"Aku akan mengantarmu menemui Rhandra…"
Halimah terperangah, Haikal berniat mempertemukannya dengan Rhandra.


"Apa kamu yakin?" tanya Halimah meyakinkan.
Haikal mengangguk.


"Tunggu sebentar…"
Halimah kedalam, ia mengambil jaket juga tas bersamanya.
Wajahnya berbinar mendengar Haikal akan mengantarnya. Ia keluar dengan
semangat, setelah pamit dengan Dasinun. Haikal dan Halimah berangkat dari
rumahnya menuju ke tempat Rhandra berada.


Halimah begitu senang, ia memakai bedak yang tak biasa ia kenakan, bibirnya
yang mungil ia poles dengan warna merah muda, ia terlihat cantik persis
seperti hari dimana Haikal melamarnya, wajahnya yang polos dan cantik masih
terngiang hingga sekarang.


Mobil melaju pelan, Halimah menikmati setiap hembusan angin yang semilir
masuk ke sela-sela hijabnya. Entah apa yang membuat Haikal berubah pikiran,
namun yang jelas Haikal bisa melihat sorot kebahagian di matanya, wajahnya
terlihat berbeda, ia sungguh mencintai laki-laki yang bahkan belum pernah
ia jumpai.


Mobil melaju ke arah Utara, Halimah terperangah.


"Mas Haikal kenapa kita ke utara, bukankah Genilangit arah selatan?"


"Rhandra sudah kembali ke Gedong tua Halimah…"


"Betulkah, dari mana Mas Haikal tahu?"


"Nanti kita akan berjumpa disana, kamu istirahatlah dulu…"


Matahari mulai menunjukkan keperkasaannya, dari arah timur perlahan sinar
mulai menyelimuti desa Poncol Magetan, Halimah tenang ia sudah tak sabar
menemuinya, Mobil itu mulai masuk ke jalan Desa, pohon pinus berjejer
seperti pasukan yang hendak menyambut keluarga kerajaan, suara gemiricik
air terdengar begitu lembut. Kabut di depan perlahan mulai memudar, Mobil
yang dikendarai Haikal berjalan dengan mulus. Halimah rindu, ia rindu
kembali di desanya.


Wajah Gedong tua sudah terlihat dari arah Utara, bangunan yang tinggi itu
terlihat dari segala arah, rumah yang terlihat angker awalnya, namun
memiliki kenangan baginya.
Gerbang Gedong tua kini berada dihadapannya, Gerbang itu sudah lama tak
terkunci. Haikal masuk dengan mudah, ia parkirkan mobilnya didalam. Halimah
begitu bersemangat, ia turun lalu berlari kedalam.


"Rhandra… Mbok Sum!" panggil Halimah.
Ia mengelilingi setiap ruangan didalam, ia naik ke lantai dua, ia pun naik
ke lantai tiga, tidak ada Rhandra maupun Sum dan Darmin disana.


"Rhandraaa!" teriak Halimah.
Dibelakang Haikal memperhatikannya, ia biarkan Halimah.


"Rhandra tak berada disitu Halimah."


Halimah bingung, apa yang ingin Haikal lakukan, mengapa ia seakan-akan
lebih tau darinya tentang Rhandra.


Haikal mengajak Halimah ke arah selatan gedong tua, tempat yang terlarang
baginya, tempat yang tak boleh ia lihat.


"Kita mau kemana Mas Haikal?"


"Menemui Rhandra…"


Perasaan Halimah mulai tidak enak, ada yang menjanggal dengan laki-laki
yang pernah menjadi calon suaminya itu.
Halimah penasaran, ia mengikuti perkataanya, tak jauh disana sebuah
pemakaman sudah terlihat dekat, ada 15 hingga 20 lebih makam, dan
ditengah-tengahnya ada dua makam yang terlihat berbeda dibanding makam yang
lain.


"Mendekatlah Halimah…"


Halimah mendekat, jantungnya berdenyut cepat, ia menoleh ke arah makam
"Rhandra Abyakta" seketika tubuhnya lemas, Halimah hancur, ia bersimpuh di
makamnya.


"Bohong, ini bukan makamnya. Rhandra masih hidup, aku banyak memiliki saksi…"


"Berhentilah berhalusinasi Halimah, saat itu pikiranmu sedang tak menentu
wajar jika mereka menganggumu," ucap Haikal dengan yakinnya.


"Ia belum mati.. aku sangat yakin..aku yakin Rhandraku belum mati…" Halimah
begitu yakin, namun melihat sebuah makam meruntuhkan kesadarannya.


"Buktikan padaku jika ia masih hidup!" tanya Haikal.


Halimah lemas "Suatu saat dia akan menjemputku Mas… kamu akan lihat itu,
Rhandraku belum mati, ia masih hidup.. Rhandra masih hidup…" Tangisannya pecah.


Haikal terpaku melihat kesedihan dimatanya, ia diam menunggu Halimah sadar
dengan halusinasinya.


Halimah bagai manusia tanpa arah, begitu melihat makam bertuliskan nama
suaminya hatinya hancur, ia diam, tubuhnya bagai tak bertulang. Di makam
itu ia bersimpuh, ia rebahkan tubuhnya di sebelah nama yang terukir di batu
nisan.


Dimata Haikal ia tak lebih dari seorang yang paling menyedihkan di dunia,
argumentnya tentang pernikahannya dengan Rhandra Abyakta sama sekali tak
terbukti. Pelan di hati Haikal ia ingin menyadarkannya, ia ingin
mengembalikan senyumnya, ia yakin suatu saat Halimah akan kembali bersamanya.


#BERSAMBUNG




Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar