#MENIKAH_DENGAN_SETAN
Part 8
________
Menjelang pagi Rhandra dan Halimah belum juga menunjukkan mukanya, mereka
masih berdua didalam kamar. Sepanjang malam itu Rhandra dan Halimah
terlelap dengan pulasnya, bagai pengantin baru yang masih segar-segarnya,
tak satupun dari mereka yang ingin menjauh, Halimah terlelap diatas
lengannya yang kekar seraya memeluk dadanya dan tangan Rhandra yang satunya
memeluk perutnya.
Sementara itu Sum terharu, sepanjang pagi ini ia menangis di dapur.
Sesekali ia melihat foto Rhandra saat ia masih bayi, ia memeluk foto itu
dengan penuh haru layaknya seorang ibu.
"Semoga Allah terus memberkatimu nak," ujarnya menangis.
"Den belum keluar Sum?" tanya Darmin yang tak lain suaminya.
"Semoga tidak ada pertengkaran lagi diantara mereka, semoga Non Halimah
bisa mencintai dia dengan tulus dan mau hidup dengannya selamanya."
"Apa kamu yakin, mereka sudah...?"
"Dia anak yang baik Min.. saya yakin, dalam hatinya ia tak berani menyakiti
wanita polos itu, biarlah Allah membukakan pintu Non Halimah hanya untuknya."
"Laki-laki itu kembali lagi Sum, kita harus membangunkannya."
"Biarlah Min, dia tidak akan bisa melewati pagar itu kan?"
"Sepertinya dia tau Non Halimah ada didalam, saya khawatir dia akan berbuat
nekat"
"Apa kamu ngga bosan hidup dalam kegelapan seperti ini Min? bahkan
Setan-Setan itu sudah seperti sahabat bagi kita, hanya Non Halimah yang
merasa ketakutan sendiri. Biarkan saja mereka mendobrak benteng ini, siapa
tahu masalah Den Rhandra justru akan terselesaikan."
"Tidak bisa begitu Sum, ingat janji kita sama Nyonya."
"Saya ingat betul Min, tapi melihat anak itu sedih hati ini sakit Min,
bahkan anak kita yang sudah kita bantu saja tak pernah menemui kita"
Darmin diam, ia pun merasakan hal yang sama.
___________________
"Rhandra...Rhandra" Halimah berbisik lembut suaranya sedikit agak serak,
seraya menyentuh hidungnya yang mancung dengan jarinya yang lentik.
"Ehhmm." Rhandra mendesah, pelukannya semakin ia eratkan.
"kita harus keluar, Mbok Sum pasti mencari" bisik Halimah kembali.
"Biarkan saja." Jawab Rhandra melindur.
Halimah tersenyum lebar, air matanya mengalir di pipinya. Belum pernah ia
merasakan kebahagiaan seluar biasa ini. Meskipun Rhandra belum menyatakan
perasaannya padanya, namun ia bisa melihat dari sorot matanya. Rasa cinta
yang teramat dalam, haus akan kerinduan yang mungkin selama hidupnya belum
pernah ia rasakan.
Halimah terus menatap Laki-laki itu, ia perhatikan betul-betul setiap
detail diwajahnya, alangkah tampannya ia, tangannya begitu kekar dan kuat.
Bidang tubuhnya mampu melindungi siapapun yang bersandar. Rhandra adalah
makhluk sempurna yang diciptakan Tuhan ke bumi.
Tak lama angin berhembus ditelinga mereka, hembusan angin yang begitu sejuk
dan damai, Halimah memejamkan matanya dan menghirupnya dengan penuh suka
cita, hembusan itu menerbangkan rambut Rhandra yang panjang tak beraturan,
semakin membuatnya rupawan.
Hembusan itu adalah sesosok Ruh. Ruh yang senantiasa hadir bersamanya di
rumah yang penuh sejarah. Ruh itu tersenyum mengamati dua insan yang sedang
di mabuk cinta, selama ini ia menunggu kehadiran Halimah untuk dapat
membuka tabir di hati Rhandra yang sudah tertutup rapat.
Wanita yang sudah menjadi ruh itu melihat laki-laki yang tengah tertidur
pulas disamping Halimah, ia merasa bahagia. Berulang kali ia mengusap
kepala Rhandra, namun baginya hanya hembusan angin yang bertiup halus
ditelinganya, Rhandra tak akan bisa merasakan kehadirannya.
Tak lama Halimah menghirup hembusan angin itu ia membuka matanya perlahan,
seorang wanita cantik duduk disebelah Rhandra, tangannya membelai halus
pada pipinya, detak jantung Halimah melambat. Wanita itu menatapnya dan
menjelujurkan jari telunjuk kemulutnya agar Halimah tak berteriak.
Wanita itu sangat cantik, ia mengenakan gaun bergaya eropa dengan vedora
yang menghiasi kepalanya, kedua tangannya menggunakan sarung tangan
berwarna putih, bak ratu inggris. Hidungnya mancung, bibirnya tipis,
wajahnya pucat, matanya bulat berwarna coklat sangat mirip dengan warna
mata Rhandra, dan ada kesedihan mendalam dimatanya.
Air mata Halimah pun terjatuh, ia tak tahu siapa wanita yang berada
dihadapannya saat ini, namun ia sangat merasakan kehadirannya.
"Bug...bug..." Dentuman keras itu terdengar di telinganya.
Seketika Halimah terbangun, ia menarik nafas panjang ia sangat yakin bahwa
apa yang ia rasakan tadi bukan sebuah mimpi, hembusan itupun jelas
bersemilir di pelipis Halimah dan keluar melalui jendela bersama debu-debu
yang ada di kamarnya.
"Bug...bug..." Dentuman keras terdengar kembali.
"Den.." ucap Darmin memanggilnya di luar pintu.
Rhandra membuka matanya, dan bangkit dari ranjang, ia mendekat ke jendela.
Haikal bersama tiga orang bertubuh kekar berupaya menghancurkan penyangga
pagar Rumahnya.
"Ssssst" Rhandra mendesis kesal.Tangannya ia kepal dan ia benturkan ke dinding.
Halimah diam, batinnya berfikir keras pasti Haikal datang kembali untuk
mencarinya.
"Halimah kamu ikut aku!" Halimah menggapai tangan Rhandra, mereka berjalan
menyusuri lorong setiap rumahnya, tak sedikit pun Rhandra melepaskannya.
"Darmin!"
"Ya Den."
"Tutup semua pintu akses masuk, dan bersembunyilah ditempat biasa!"
"Ya Den." Darmin segera berlari menuju tempat persembunyiannya.
Rhandra mengajak Halimah ke lantai tiga, tangan yang mungil itu ia pegang
erat, Halimah terus memandanginya. Perasaan bahagia itu selalu datang
asalkan bersamanya.
Lantai tiga adalah kamar Rhandra yang punya banyak misteri siapapun tak
boleh masuk kedalamnya. Namun hari itu ia bisa masuk bebas melangkahkan
kakinya kedalam.
Halimah takjub, didalam kamarnya yang berukuran 3 x 7 meter itu penuh
dengan lukisan, di sudut kamarnya sebuah papan kanvas yang tertutup tirai
putih lengkap dengan cat beraneka warna. Sebuah meja kerja yang penuh
dengan kertas yang berserakan, sebuah komputer jinjing dan tiga buah
telepon genggam era 90'an, berhadapan dengan itu sebuah ranjang yang begitu
berantakan, satu buah nakas di sebelahnya dan satu buah lemari pakaian
sangat berantakan, persis ditengahnya ada sebuah tangga lurus 180 derajat
setinggi 2 setengah meter.
Halimah memandang keatas, ada sebuah pintu kecil yang menghadap keatas,
tidak ada jendela di kamarnya, itu mengapa hanya kamarnya saja yang boleh
menyalakan lampu saat malam hari.
Halimah melepaskan pandangannya pada lukisan-lukisan indah yang ia sangat
yakin Rhandralah pelukisnya, dan sesaat matanya tertuju pada sebuah lukisan
tua bergambar wanita yang ia letakkan disudut kamarnya, wanita yang baru
saja Halimah lihat di kamarnya barusan, wanita yang terlihat seperti
seorang bangsawan, pakaian yang digunakan dalam lukisan itu sama persis
dengan pakaian yang ia gunakan tadi.
Halimah merasa penuh banyak misteri yang harus ia ungkap, mulai dari
misteri Rhandra yang tak mau diketahui orang, misteri wanita yang selama
ini menghantuinya, dan Misteri Gedong tua.
"Rhandra itu siapa?"
Rhandra tak menjawab, ia sibuk membereskan file-file yang tercecer diatas
mejanya, juga sebuah laptop yang ada di tangannya, ia sembunyikan ke dalam
sebuah lantai keramik yang dapat ia buka.
Angin itu kembali datang ia menerpa wajah Halimah dan menerbangkan tirai
yang menutupi papan kanvas yang berhadapan dengannya. Seketika Jantung
Halimah berdegup kencang, lukisan setengah jadi bergambar dirinya, lukisan
yang begitu indah yang ia ukir menggunakan tangannya. Air matanya pun meleleh.
Haikal berhasil menarik anak kunci pintu gerbang mereka, lalu mematahkannya
dengan hentaman besi yang kuat. Bersama ke lima orang dibelakangnya ia
sudah masuk ke dalam pekarangan Gedong tua.
"Halimaah!" teriaknya mencari Halimah.
Buru-buru Rhandra mengunci pintu kamarnya, ia mendorong lemari pakaiannya,
terlihatlah sebuah pintu kecil yang didalamnya hanya ada ruangan kecil 1
kali setengah meter, hanya bisa dimasukki dua orang manusia dalam keadaan
berdiri, diatasnya ada lubang angin yang dapat membantu mereka bernafas,
dibelakang lemarinya ada sebuah knop yang dapat ia tarik agar bisa bersembunyi.
"Ayo Halimah." ajaknya mengulurkan tangan.
Halimah menggapainya, tangan kanan Rhandra memegang sebuah pistol yang
kemarin Halimah lihat. Mereka masuk kedalam dan kini jarak mereka hanya
satu kali hembusan nafas, kedua dada mereka saling bertemu.
"Jangan kamu kotori tanganmu dengan senjata itu Rhandra, aku mohon." ucap
Halimah memohon, matanya berkaca-kaca.
"Aku tidak akan menggunakannya." Rhandra memeluknya dengan erat.
"Halimaah!" suara itu pun semakin terdengar.
Halimah merebahkan kepalanya di dada Rhandra, entah apa yang terjadi
dengannya hingga ia harus bersembunyi seperti ini, namun Halimah sangat
yakin dengan Rhandra, apapun yang terjadi dengannya tak bisa mengurangi
rasa cintanya pada Rhandra.
Langkah kaki mereka semakin jelas terdengar, mereka mendobrak setiap pintu
yang tertutup rapat, Rhandra berdesis, nafas kebencian sangat jelas terasa
ditelinga Halimah.
Halimah meletakkan tangannya ditangan Rhandra yang mengepal, air matanya
meleleh. Batinnya kenapa Rhandra tak keluar saja dan katakan padanya jika
ia sudah menikah dengannya, kenapa harus menjadi rumit seperti ini, dan
mengapa juga Haikal yang ia kenal sebagai laki-laki yang lembut juga alim,
hari ini datang menggebu-gebu hanya untuk bertemu dengannya.
Haikal sudah berada dilantai dua.
"Halimah keluarlah, aku tau kamu ada disini. Semua orang kampung sudah tau
kamu berada disini. Maafkan Aku Halimah...Aku mohon keluarlah"
Halimah tak bergetar, perasaan Ia kepadanya sudah hilang sejak Rhandra
hadir dalam hidupnya, perasaan itu sudah ia kubur dan mati bersama rasa
kecewa yang amat dalam.
Kepalan tangan Rhandra semakin terasa, Halimah pun terus menenangkan
suaminya itu, Ia yakin Rhandra bisa melaluinya. Rasa cintanya semakin
bertambah, karena rasa percaya padanya semakin besar, Rhandra tak
menunjukkan sikap emosional kepadanya, padahal Haikal terus menerus
memanggil namanya.
Kamar lantai tiga itu akhirnya terbuka dengan paksa. Laki-laki yang bernama
Haikal itu kini semakin dekat dengan mereka, hanya sebuah lemari yang
memisahkan mereka.
Haikal mengelilingi kamar yang tak berbeda dengan galeri, mendadak aliran
darahnya melambat jantungnya terasa sesak dilihatnya sebuah lukisan
bergambar Halimah, wanita itu terlihat polos ia mengenakan hijab berwarna
abu-abu terang, hijab yang sama saat terakhir ia bertemu, saat itu hijabnya
tak menentu Halimah sangat berantakan.
Lukisan yang sangat menyentuh dan hanya tangan yang dapat mengerti
bagaimana perasaan yang Halimah hadapi saat itu. Siapapun pelukisnya, ia
pasti adalah orang yang sangat mencintainya hingga ia bisa menggambarkannya
dengan jelas, tanpa ada noda sedikitpun. Pikirannya pun melayang pada
keluarga Abyakta. Seketika tubuhnya bergetar, bagaimana bisa orang yang
sudah mati bisa hidup kembali.
"Siapa kamu? Siapapun kamu, kamu tidak pantas bersamanya, kamu hanya akan
menyiksanya seumur hidupnya!"rutuk Haikal, ia merasakan ada seseorang
didalam kamar itu. Ruangan ini terasa hidup tidak seperti terlihat rumah
tua atau rumah hantu.
Rhandra terperangah, Haikal seperti tahu masalahnya, perlahan ia lepaskan
tangan mungil itu, dan melihat kedua matanya yang basah. Rhandra mulai
menyadari begitu banyak kekurangannya yang tak bisa disandingkan oleh
Halimah, Halimah berhak bahagia, Halimah berhak hidup normal. Halimah
menatap heran pada matanya, tak lama embun itu hadir dimata Rhandra.
Haikal menyerah, ia tak menemukan Halimah disana, meskipun ia menemukan
mushaf berwarna emas dikamar lantai dua, mushaf yang biasa Halimah bawa
saat ke surau, Mushaf itu sudah menjadi bukti akan benarnya Halimah di
sana, ruangan lantai tiga yang begitu hidup pun memberikan jawaban padanya
bahwa seseorang tinggal disana entah siapa atau mungkin pewaris Abyakta
masih hidup, ia belum mati seperti yang diceritakan Ayahnya.
Jauh setelah Haikal pergi, Rhandra juga Halimah keluar dari
persembunyiannya. Ia keluar dan menitip dari jendela, mereka sudah pergi
menggunakan mobil jeep berwarna hitam.
"HAAAAA!" Rhandra teriak dengan keras seraya memukul-mukulkan tangannya ke
dinding.
"Rhandra..berhenti..Rhandra!" teriak Halimah berusaha memberhentikannya,
Halimah tercengang tangannya berdarah.
"Rhandra berhenti.. kamu berdarah..berhenti..!" teriaknya seraya menangis.
"Aku mohon berhenti...HENTIKAN!" ucapnya yang kemudian ia sambar dengan
teriakan yang keras.
Rhandra berhenti ia kelelahan, ia melihat wajah istrinya, Halimah menangis
seraya memegang tangannya yang berdarah. Ia terus memandangi istrinya,
Halimah menunjukkan perhatian yang sangat besar padanya, ia merobek
pakainnya untuk menutupi lukanya. Air matanya terus mengalir dan nafasnya
masih tersenggal-senggal.
"Halimah, aku ngga apa-apa, ini hanya luka kecil!" ketusnya, seraya
mengelus lembut pipinya dan mengusap air matanya.
Rhandra masih emosi atas apa yang dilakukan Haikal dirumahnya, dengan
lancang ia memasuki kediamannya.
Tak lama kemudian ia masuk kedalam kamar, ia nampak payah.
"Kembalilah kekamarmu Halimah, aku ingin sendiri."
"Rhandra..." sapa Halimah yang melihatnya meninggalkannya, tak lama pintu
kamarnya pun terkunci.
Rhandra tak sanggup menahan rasa cinta yang mendalam pada Halimah, ucapan
Haikal terus menerus menganggu pikirannya.
"Rhandra..." ucap Halimah seraya mengetuk pintu.
Tak Lama Emosi Rhandra kembali memuncak, "PERGI...!" ia berteriak untuk
meluapkan emosinya. "HAAAAAA! Terdenngar suara dentuman, pukulan keras,
benda jatuh dikamarnya.
Halimah semakin panik, ia hanya teringat bahwa Rhandra sedang terluka.
"Rhandra..aku mohon! Buka pintunya Rhandra, kamu kenapa?" teriak Halimah
memanggilnya. Tangisannya semakin pecah, rasa khawatir akan suaminya
membuncah didadanya semakin parah.
Tak lama Mbok Sum datang, dilihatnya Halimah duduk menghadap pintu seraya
menggedor-gedor pintunya.
"Non."
"Mbok tolong buka pintunya, saya mohon Mbok."
Sum hanya bisa diam tak bisa berbuat apa-apa, kunci kamarnya hanya dimiliki
olehnya.
"Rhandra buka... aku mohon..." suaranya makin mengecil begitupun Emosi
Rhandra yang tak lama mereda.
Cukup lama Mereka duduk saling membelakangi dan hanya dibatasi pintu,
keduanya terdiam meratapi kesedihan mereka.
"Non...makan dulu."
Halimah tak menghiraukan Mbok Sum yang berusaha peduli dengannya. Sum pun
tak sanggup menahan air matanya.
Tiga jam berlalu, Rhandra belum juga membuka pintunya dan Halimah terus
meratapi kesedihannya.
"Aku mencintaimu Rhandra..." bisiknya pelan, wanita itu sudah sangat
kelelahan, suaranya sudah parau dan wajahnya semakin pucat. Halimah lelah
dan terlelap.
Rhandra adalah laki-laki yang terbiasa menyimpan kesedihan untuk dirinya
sendiri, ia lebih memilih untuk meluapkan emosinya setelah itu dia akan
merasa tenang.
Hari sudah semakin sore, suara Halimah sudah menghilang, Rhandra berusaha
menguatkan dan menata hatinya untuk bisa berhadapan dengan istrinya itu, ia
tak ingin emosi masih ada dalam dirinya, cukup baginya untuk menyakiti hati
wanita yang polos itu.
Rhandra membuka pintu kamarnya, dilihatnya Halimah terlelap di depan pintu.
Ia pandang wajahnya, wanita itu terlihat begitu polos. Ia sama sekali tak
pernah mengenal apa itu cinta, mungkin dulu ia pernah menyukai Haikal namun
itu bukan cinta. Cintanya begitu dalam pada Laki-laki yang saat ini duduk
menyilang disebelahnya, ia menatapnya, membelai rambutnya. Halimah tak
terusik, ia begitu lelah dan tertidur pulas.
Rhandra mengangkatnya dari tempat ia tidur, ia letakkan kepalanya di lengan
kanannya dan kakinya di lengan sebelah kiri, tangan kanan Halimah
terlentang di sisi kanan tubuhnya.
Rhandra menggendongnya menuju kamar Halimah di lantai dua. Ia berjalan
pelan menikmati setiap langkah, seraya menatap wajah istrinya dengan penuh
luka didadanya.
"Den..Aden dan Non belum makan dari pagi."
"Buka pintunya Mbok."
Ia merebahkan tubuh Halimah di ranjang, kemudian ia duduk di sebelahnya dan
kembali membelainya. Mbok sum datang mengantarkan makanan, ia letakkan ke
atas meja persis disebelahnya. Rhandra sama sekali tak merasakan lapar atau
haus, baginya melihat Halimah disisinya sudah cukup.
Ia rebahkan tubuhnya disamping istrinya, ia bahkan terlihat cantik saat
tertidur.
"Berhentilah menangis Halimah, tangisanmu itu membuat kepalaku pecah."
Bisiknya lembut disebelahnya.
Tak lama angin kembali berhembus, angin yang selalu hadir saat ia bersama
dengannya, serasa hembusan dari surga yang membuatnya merasa nyaman. Ia
silangkan tangannya dibelakang kepalanya, Rhandra menatap ke langit-langit.
"Tak seharusnya aku mencintainya." ucapnya dan embun itu kembali hadir
dikedua matanya.
#BERSAMBUNG
________________
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar