3.12.2019

#MENIKAH_DENGAN_SETAN Part 7 ____




#MENIKAH_DENGAN_SETAN


Part 7
____


"Kami sudah dapatkan Faisal sekarang ia berada di Polsek Magetan."


Haikal terperangah pesan singkat itu ia buka sesaat setelah ia sholat
subuh. Sudah lama Haikal mencari keberadaannya karena sampai saat ini ia
belum juga menemukan bukti atau saksi yang dapat membantunya menghilangkan
keraguan akan Halimah.


Sejujurnya ia sangat menyesali telah mengecewakan Halimah lewat ucapannya
minggu lalu, Ada keraguan besar yang menghalangi kepercayaan dihatinya.
Kekhawatiran untuk menikahi seorang penzinah pun melintas saat itu.
Kalaupun ia tetap menikah dengan Halimah saat itu tanpa menemukan kebenaran
terlebih dahulu, maka seumur hidup ia akan dihantui dengan keraguan atas
perlakuan keji yang entah benar atau tidak dan pernikahannya dengan Halimah
pun akan tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkannya.


Harapan besar di hatinya ia dapat menemukan bukti bahwa Halimah tidak
bersalah, dan ia bisa kembali dengan wanita pujaannya itu.


Pagi ini Haikal langsung meluncur ke Polsek Magetan, Faisal ditangkap atas
tuduhan pemakaian Narkoba, wajahnya yang culas itu menempel di jeruji besi.
Di wajahnya tak tersirat perasaan bersalah telah memfitnah Halimah,
sesekali ia berteriak untuk minta dikeluarkan.


Sejujurnya Haikal sama sekali tidak tahu wujud Faisal sebenarnya. Faisal
adalah sahabat lama Haikal yang sudah lama hidup di Jakarta sebulan sebelum
ia melamar Halimah. Faisal datang dan menginap di rumahnya dengan alasan
ingin mengembangkan bisnis di desanya juga belajar agama darinya. Haikal
tertipu, ternyata Faisal adalah laki-laki culas yang hanya bisa menipu
sahabatnya sendiri.


"Faisal!" seru Haikal pada Faisal yang saat itu sedang duduk memojok di
jeruji besi, ia tampak terlihat masih sakau akibat obat ia pakai.


"Haikal sahabatku." jawabnya tak malu.


"Brengsek kamu Faisal!" rutuk Haikal menarik baju tahanan yang ia pakai,
hingga tubuhnya menempel di jeruji.


"Santai Kal!"


"Katakan! apa yang sudah kamu lakukan terhadap Halimah!"


"Halimah…Halimah lagi, kal banyak wanita cantik diluar sana kalau kamu mau
aku bisa kenalkan yang lebih cantik dari dia."


"Langsung saja Katakan!" rutuk Haikal kesal, tangan kanannya ia angkat
mengepal ingin segera meninju wajahnya.


"Santai Kal...kenapa kamu begitu marah sekali!"


"Kamu tau aku sangat mencintainya! kenapa kamu tega berbuat keji!" lanjut
Haikal Murka.


"Lebih baik kamu dengan gadis desa yang bernama Ayu saja kal, dia lebih
cantik dibandingkan Halimah, ia juga sangat mencintaimu, ia bahkan berani
membayarku untuk bisa mendekati Halimah.


"Hahaha! bodoh sekali wanita-wanita itu kenapa ia begitu mencintai
laki-laki bodoh sepertimu!" Jawabnya tanpa merasa berdosa, ia tertawa
dibalik jeruji, "mengapa banyak sekali yang mencintaimu kal." Lanjutnya
mengulangi kata-katanya.


"Ayu!"


Haikal terkejut, ia sangat kaget dengan apa yang Faisal katakan, air
matanya langsung mengalir, ia menyesali perbuatannya terhadap Halimah.
Buru-buru ia ke balai desa, untuk meminta pertanggungjawaban Ayu anak si
kepala desa, Ayu selalu berada di sana karena ia bekerja sebagai Sekretaris
Desa.
Sejak kejadian yang memfitnah Halimah, Ayu selalu intens mendekatinya tak
jarang ia selalu memberikan bumbu-bumbu kebohongan tentang Halimah, Haikal
menyesal harusnya ia sudah bisa menebak bahwa ia masuk ke dalam perangkapnya.


"Ayuu!" Ayuu!" teriak Haikal di balai desa.


"Nak Haikal ada apa?" jawab Pak Dirjo kepala desa yang juga Ayah dari Ayu.
Pak Dirjo sangat menghormati Haikal karena Ayahnya adalah orang berpengaruh
di desanya.


"Saya ingin bertemu dengan Ayu Pak, bisa?"


"Tapi Ayu sedang tak bekerja, ia sedang sakit di rumah."


"Kalau begitu saya kerumah!" jawabnya yang lantas pergi meninggalkan Balai
Desa dengan penuh emosi.


Didalam Mobil Haikal menangis, tangisannya pecah sejadi-jadinya harusnya ia
bisa yakin dengan hatinya. Ia menangis layaknya seorang pria yang ditinggal
pergi sang kekasih selamanya tangannya menutupi wajahnya diatas setir mobil.


"Maafkan aku Halimah, maafkan aku!" rutuknya seraya memukul-mukulkan
tangannya diatas setir mobil.


Haikal kacau, siang itu ia berjumpa dengan Ayu dirumahnya wanita itu yang
terlihat lesu karena sakit mendadak bahagia melihat kedatangannya.


"Mas Haikal, masuk mas."


"Tidak usah disini saja!"


"Ada apa mas kelihatannya serius?"


"Kenapa kamu tega memfitnah sahabatmu sendiri?"


"Maksud mas Haikal apa? Ayu ngga ngerti" jawabnya mengelak.
"Katakan tidak usah bertele-tele!" rutuk Haikal kesal.


"Ayu memang ngga paham de…"


"KATAKAN!" jawabnya seraya menunjukkan amarahnya dengan mencoba melayangkan
pukulan ke arah wajahnya.


Ayu menangis, ia tersungkur "Maaf Mas, Maafkan Ayu, Ayu tak bisa melihat
Mas Haikal bersamanya, Ayu begitu mencintai Mas Haikal." jerit Ayu
tangisannya pecah ia bersimpuh dikakinya.


"Lepaskan yu!" jawab Haikal seraya menendangkan kakinya untuk ia lepaskan
dan pergi menjauh darinya.


"10 tahun mas!" teriak Ayu, memberhentikan langkahnya.


"Selama 10 tahun mas Haikal di Mesir selalu Ayu yang menghubungi Mas Haikal
setiap hari Ayu berkirim surat lewat email setiap malam Ayu merindukan Mas
Haikal namun begitu Mas Haikal pulang Mas justru memilih Halimah hancur
hati Ayu Mas, sekali ini saja tolonglah pandang Ayu Mas" kilahnya berharap
Haikal kembali menatapnya.


Haikal tak menghiraukan ucapannya, ia berlalu dari pandangan wanita itu,
seketika tangisannya pecah.


Haikal melanjutkan perjalanan untuk mencari Halimah. Didusun tempat ia
membebaskan Halimah ia terduduk diam. Ia menyesali perbuatannya air matanya
terus mengalir memikirkan Halimah.


"Kemana kamu Halimah?" "Halimaaaah!"


Siang menjelang sore, Haikal terus berputar mencari keberadaan Halimah
pikirannya terus melayang pada tangisan Halimah saat ia meninggalkannya.
Haikal memberhentikan Mobilnya, "Dwi!" serunya, ia pun langsung membelokkan
mobilnya dan menuju Madrasah tempat Dwi adik Halimah menuntut ilmu.


Haikal menunggu 1 jam hingga Ashar, selepas ashar ia menunggunya lagi
hingga sekolah bubar. Ia keluar dari mobil dan mencari sesekali kepalanya
ia tinggikan untuk menemukannya dari kesekian banyak siswa yang keluar Sore
itu.


"Mas Hai…" Sur berteriak dan seketika Dwi menutup mulutnya dan menariknya
kebalik tembok.


"Tidak ada yang boleh tau keberadaan kita Sur, ingat Kak Halimah!" bisik
Dwi tegas pada adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu. Sur
mengangguk.


Haikal menunggu hingga seleuruh siswa keluar, namun Dwi tak ada diantara
mereka. Haikal kembali kedalam mobilnya, ia menangis, jiwanya semakin sulit
untuk dikendalikan, perasaan berdosa juga menyesal mengalir disetiap darahnya.


"Maafkan aku Halimah pasti kamu dalam kesulitan saat ini dimana kamu Halimah.."


"YA ALLAH TUNJUKKAN DIMANA HALIMAH!"


Jauh dari pandangannya, Dwi dan Sur keluar dari sekolah dengan sepeda
ditangan, ia menoleh kekanan dan kekiri seperti sedang bersembunyi.


Haikal keluar dari mobilnya lalu berteriak "DWI!"
Dwi tercengang, ia pun buru-buru bersama Sur pergi meninggalkannya. Haikal
kembali kedalam mobil dan mengejarnya, anak laki-laki itu sungguh kuat dan
tangguh, ia mengayuh sepedanya dengan sangat cepat Haikal yang melaju
dengan mobilnya.


"Dwi berhenti dwi!" teriaknya seraya melambaikan tangan pada kendaraan lain
yang menghalanginya.


Sepeda itu berhenti persis didepan mobilnya.


"Dwi kenapa kamu menghindar?"


Dwi dan Sur diam bola matanya berputar tak mengindahkan pertanyaan Haikal.


"Kalian sekarang tinggal dimana? Bagaimana keadaan kalian Bue, Mba Halimah?"


"Kami ada ditempat aman mas."


"Mas mohon, katakan pada mas dimana kalian tinggal saat ini...? ada yang
mas ingin bicarakan dengan Mbak kalian,"


"Mbak Halimah sudah tidak tinggal dengan kami lagi mas."


Jawab Dwi datar menjawab pertanyaannya, perasaan kecewa yang begitu dalam
masih tersisa dibenak Dwi adik Halimah, ingin rasanya ia meninju laki-laki
yang ada dihadapannya.


"Tunggu Wi! Dimana Mbak kalian sekarang?"


"Dia keluar kota, mencari uang untuk kami," kilah Dwi. Malam itu Dwi sudah
berjanji untuk tidak memberitahu kepada siapapun perihal pernikahan kakak
perempuannya itu dengan Laki-laki penghuni Gedong tua.


Haikal lemas hatinya hancur seketika mendengar jawaban Dwi, air matanya
mengalir.


"Kami pamit mas."


"Halimah, maafkan mas..." desahnya.


***
Senja menyingsing, Laki-laki bernama Rhandra itu memapah Halimah istrinya
menuju kamarnya, kakinya masih nyeri karena terkilir.


"Terimakasih Rhandra" Halimah menatap wajahnya seraya tersenyum.


"Luruskan" Halimah tercengang laki-laki itu baru saja memintanya untuk
merebahkan kakinya.


Rhandra mengambil minyak yang sudah disediakan Sum di kamarnya.


"Kamu mau apa?" ucap Halimah seraya menutupi kakinya dengan kedua tangan.


"Diam!" Rhandra memukul tangannya, dan memijat kakinya pelan,


"Ssst..." Halimah ber-dengih kesakitan.


"Kamu itu sangat keras kepala sekali, sudah berapa kali aku bilang untuk
duduk diam!"


"Aku tak terbiasa Rhandra, sejak kecil tubuhku sudah terbiasa untuk
bergerak, bahkan dalam keadaan sakit sekalipun."
Rhandra terperanjat ucapan Halimah baru saja membuatnya ingin mengenal masa
lalunya lebih jauh.


"Ayahku meninggal saat aku masih duduk di bangku SMP, saat itu Sur masih
kecil sekali kebutuhan keluarga kami amatlah banyak Bue mulai gencar
berjualan pakaian juga menjahit dan aku membantunya berjualan makanan
semampuku." lanjut Halimah.


"Cukup, aku ngga suka cerita sedih." Dahi Halimah mengkerut, melihat
wajahnya yang sombong itu membuatnya muak.


"Rhandra" tangan Halimah memegang erat tangannya, mata mereka saling
menatap. Halimah menelan ludah.


"Aku ingin tau masa lalumu, ingin tau semua tentang kamu, makanan yang kamu
sukai, warna yang kamu sukai, aku ingin tau semua tentangmu." Rhandra
menatap Halimah ada ketulusan dimatanya.


"Aku.."


"Den." Sapa Mbok Sum yang memanggilnya dari balik pintu memotong
pembicaraan mereka yang mulai serius.


"Ya Mbok." Mbok Sum membisikkan sesuatu ditelinga Rhandra.


"Temani Halimah ya Mbok, biar saya yang turun."


Mbok Sum memberi kabar kedatangan Dwi adik Halimah di rumahnya.


Rhandra turun, cara ia berjalan terlihat sangat angkuh, Rhandra tidak
pernah membungkukkan tubuhnya dihadapan orang, ia juga tidak pernah
menundukkan kepala pada lawan bicaranya, hal itu yang membuat Dwi sangat
segan juga takut padanya.
"Maafkan Saya, telah lancang datang ke sini," ucap Dwi memohon bersimpuh
diatas lantai.


"Heh, adiknya Halimah! Bangun," tegur Rhandra mencoba menghargainya.


"Ada perlu apa?" lanjutnya.


"Bue ingin memberikan ini untuk kakak saya."


Seharian ini Halimah terus menangis menanyakan keluarganya Rhandra iba
syukur adiknya datang diwaktu yang tepat.


"Masuk dan berikan ini langsung untuk kakakmu."


"Terimakasih...terimakasih" jawabnya seraya membungkukkan badan dihadapannya.


Rhandra mengantarnya sampai ke kamar Halimah, ia membukakan pintu untuknya,
disana Halimah sedang mengobrol dengan Mbok Sum, ia sedang tertawa
mendengarkan cerita Mbok Sum.


"Halimah." Sapa Rhandra.


Halimah menengok, dan tak lama Tangisan itu pun pecah
"Dwiii..." Dwi memeluk kakaknya dengan erat, ia pun menangis. Mbok Sum
keluar dari kamar begitupun Rhandra yang meninggalkannya berdua di kamar.
Rhandra berdiri di balik pintunya, ia terharu melihat pertemuan mereka.


"Bagaimana kabarmu wi, kabar Bue, Kabar Sur?"


"Kita semua baik Mba, Alhamdulillah."


"Ya Allah wi...mbakmu ini rindu sekali."


"Ini dari Bue mba..."


"Bue!" Dasinun menitipkan Mushaf Quran miliknya yang tertinggal dirumahnya.


"Ya Allah Bue.." lanjutnya seraya memeluk mushaf kesayangannya.


"Apa yang kamu katakan pada Bue Wii..?


"Dwi bilang, kalau Mba bekerja..."


"Ya Allah Dwi, kenapa Dwi harus berbohong..."


"Dwi bingung Mba bue terus bertanya, laki-laki itu meminta Dwi untuk tutup
mulut."


"Mbak."


"Ya."


"Mas Haikal tadi siang mencari Mbak."


"Mas Haikal? Untuk apa dia mencari Mba?"


"Ada yang ingin dia bicarakan katanya."


"Lalu Dwi bilang apa?"


"Dwi bilang Mba keluar kota."


"Syukurlah."


"Dia terlihat cemas Mba, sepertinya dia menyesali perbuatannya dan ingin
Mbak kembali padanya"


Halimah terdiam, tak lama Rhandra membuka pintu


"Sudah malam, kamu boleh pulang." Raut wajahnya nampak kesal.


"Tunggu sebentar lagi Rhandra, aku masih merindukannya."


"Sudah malam!"


"Ngga apa-apa Mba lain kali Dwi akan datang lagi."


Halimah memberikan pelukan untuknya, Mbok Sum mengantarnya hingga kedepan
dan Rhandra kembali menemani Halimah, raut wajahnya terlihat kesal.


"Rhandra kamu kenapa?" tanya Halimah lembut.
Rhandra tak menjawab, laki-laki itu mondar mandir dihadapannya, sesekali
tangannya ia letakkan di atas kepalanya dan yang satunya ia masukkan ke
dalam saku celananya, ia terus menarik nafas. Sorot matanya begitu tajam,
wajah bengisnya sangat terlihat. Halimah mulai kebingungan apa yang sedang
terjadi dengannya, ia bangkit dari tempat tidurnya


"Rhandra.." lanjut Halimah tangannya berusaha menyentuh pundaknya.


"Cukup Halimah!"


Ia mendorong tubuh Halimah ke tembok dan menatap Halimah dengan mata
menyipit. Sorot matanya terlihat sangat-sangat marah, tangan satunya ia
letakkan diatas kepalanya dan yang satu mencengkram pundaknya dengan erat,
wajah mereka bertemu Rhandra terus mengendus layak singa kelaparan.
Laki-laki itu sangat kuat, jauh lebih kuat dari Halimah, ia berusaha untuk
mendorong tubuhnya namun Rhandra semakin mendekat. Pelan ia mendekati wajah
Halimah, wajahnya kini hanya berjarak satu embusan nafas dari bibir Halimah.


"Kamu mau apa Rhandra?"


Tak lama mimpi Halimah seperti terulang, Rhandra seperti sedang kesurupan,
ia mencium seluruh wajah Halimah dan memaksa untuk mencium bibirnya,
Halimah berpaling berusaha menghindar.


"Lepas Rhandra kamu sedang emosi!" Rhandra lepas...Lepas Rhandra" Rhandra
merobek pakaian Halimah dengan cengkraman tangan Rhandra yang begitu kuat.


"Rhandraa..." Halimah menangis ketakutan.


"Haaaaa!" Ia teriak diwajah Halimah, ia lepaskan cengkramannya, Kedua
tangannya menyingsing rambutnya yang berantakan "Haah!" ia hempaskan sebuah
pukulan keras ke pintu. Lalu ia pergi meninggalkan Halimah.


Tangisan Halimah pecah, ia menangis hingga Sum terperangah dan menuju
kekamarnya. Halimah duduk dibawah mendekap erat pada badannya bajunya sudah
terkoyak.


"Non.." Halimah memeluk Sum dengan erat, ia menangis dipelukannya.


Rhandra pergi ke kamarnya, ia melanjutkan luapan emosi di sana, ia
menghancurkan setiap barang yang ada dihadapannya "Haaaaa!" Rhandra
berteriak kesal.


Halimah tercengang melihatnya marah, air mata terus mengalir di pipi, apa
yang membuatnya marah sedemikian besar. Perlahan Mbok Sum mengantar Halimah
kembali ke tempat tidurnya tubuhnya gemetar, hatinya sakit melihat sikap
Rhandra, sejujurnya ia ingin sekali menyambut ciumannya namun bukan dengan
cara yang kasar seperti itu, Rhandra seperti laki-laki kesurupan, ia persis
seperti dalam mimpinya beberapa waktu lalu. Rhandra bahkan tak menghiraukan
omongannya tubuhnya sangat kuat, Halimah tak sanggup untuk melawan, bahu
sebelah kanan Halimah terluka akibat cengkraman jarinya. Ia terus menangis
tanpa henti.


"Sebentar Non." Mbok Sum berlari mengambilkan obat untuknya, ia obati
pundaknya yang terluka ada beberapa luka akibat cengkraman tangan Laki-laki
yang berstatus sebagai suaminya itu.


Halimah hanya bisa duduk diam ia menatap lukanya dan merasa shock dengan
apa yang menimpanya malam ini.


Rhandra cemburu, Halimah tak sadar saat ia dan Dwi membicarakan tentang
Haikal didalam, Rhandra masih berada diluar menguping perbincangan mereka.
Hatinya kesal bertanya-tanya siapa laki-laki yang mencarinya, dan
mencemaskan juga masih mengharapkannya.


Sejujurnya Hari ini nyaris menjadi hari yang paling membahagiakan bagi
Halimah, berkat kakinya yang terkilir hubungan mereka semakin dekat.
Rhandra sangat peduli dengannya, setelah selesai mengantarnya ke dapur tadi
pagi, Rhandra tak pergi darinya meskipun hanya sesaat setiap menaiki anak
tangga Rhandra menggendongnya dengan lembut dan saat malam menjemput
Rhandra mengantarnya hingga kekamar, ia pun membiarkannya membaca ayat
kursi dan membiarkannya sholat dengan tenang dan barusan Halimah menyadari
Rhandra cemburu, Rhandra mendengar percakapannya dengan Dwi. Rhandra tak
berkomentar atau mengajaknya berdebat tatapannya begitu dalam,
membayangkannya tangisan Halimah kembali pecah seharusnya ini tidak terjadi.


Malam semakin larut, Halimah masih termenung karena perasaannya yang tak
menentu melihat sikap Rhandra yang mendadak kasar padanya. Suara teriakan
Rhandra pun mulai menghilang, sepertinya ia sudah bisa mengendalikan
emosinya. Rhandra tak kembali malam itu mereka tidur terpisah seperti
hari-hari sebelumnya.


#BERSAMBUNG




Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar