@bende mataram@
Bagian 51
Untung, waktu itu Jaga Saradenta telah sampai di tempatnya. Orang tua itu
tak memikirkan bahaya lagi. Ia melompat dan merangkul kaki Pringga Aguna,
sehingga iblis jatuh bergulingan : tanah. Tetapi Pringga Aguna benar-benar
searang yang gagah. Sadar akan bahaya ia menendang sambil melontarkan
rangkulan Jaga Saradenta. Hebat tenaganya. Jaga Saradenta kena dilontarkan
dan terbang tinggi di udara.
Setelah terlepas dari rangkulan Jaga Saradenta, Pringga Aguna berdiri
tegak, la mengulangi serangannya. Justru waktu itu Hasan dan Atang tiba.
Kedua orang itu gagah berani. Tanpa menghiraukan bahaya, senjata mereka
dilin-tangkan. Kemudian dengan berbareng mereka mengadu tenaga.
Pringga Aguna tak memandang sebelah mata. Tanpa menghiraukan serangan
mereka, dia meneruskan serangannya. Wirapati terkejut. Buru-buru ia
mengatur napas sambil mengelak ke samping. Terdengar kemudian suara
gemeretak. Ternyata pedang panjang Hasan patah menjadi dua. Sedang bindi
Atang melesat ke samping.
Sekarang terjadilah suatu keajaiban. Sangaji yang dilemparkan Wirapati ke
samping mendadak saja tergugah kesadarannya. Sepintas lalu tahulah dia,
kalau orang yang dikagumi sedang menolong dirinya dari bahaya. Orang itu
ternyata tak menghiraukan keselamatannya. Diam-diam ia memuji dan berterima
kasih padanya. Kemudian dilihatnya pula tampang musuh orang yang dikagumi.
Bulu romanya menggeridik. Tanpa disadari sendiri tangannya meraba pinggang.
Mencabut pistolnya. Segera ia mengisi pistol itu dan bersiaga mencari
kesempatan.
Waktu itu Pringga Aguna sedang menghajar Hasan dan Atang. Begitu ia
berhasil mematahkan pedang si Hasan, tangannya lantas saja menerkam dada
lawan. Hasan kena dijambret dan dilontarkan ke udara. Selagi tubuhnya
melayang-layang, ia menggempur dengan sekuat tenaga.
Atang dan Wirapati tak keburu memberi pertolongan. Tidak berdaya mereka
menyaksikan nyali Hasan pecah berantakan sampai isi perut keluar dan lontak
ke tanah. Sangaji terkejut melihat kekejaman itu. Meneriak saja timbullah
rasa amarahnya. Lantas saja ia menyerbu merangkul lutut Pringga Aguna.
Keruan saja Pringga Aguna terkejut. Wirapati tak terkecuali sampai dia
memekik hebat. Jaga Saradenta yang sudah dapat menguasai meloncat menyerbu.
Atang yang melihat tawannya ditewaskan begitu rupa, tak menghiraukan bahaya
lagi. la menubruk pula dengan -lembabi buta.
Mendadak terdengarlah suatu letusan nyaring dari tubuh Pringga Aguna jatuh
terkulai tanpa mara. Ternyata tanpa sengaja jari-jari Sangaji :tik pelatuk
pistol, karena gerak pereng-aran Pringga Aguna. Inilah kejadian di luar
perhitungan manusia wajar. Pringga Aguna yang sjdah malang melintang ke
seluruh penjuru pulau Jawa selama lima puluh tahun lebih, akhirnya mati di
tangan bocah berumur empat belas tahun. Siapa dapat menduga!
Atang sudah jadi kalap. Melihat musuhnya terkulai lantas saja menerkam
lehernya, kebenciannya kepada si iblis sudah begitu memuncak sampai ia
memekik-mekik tinggi sambil-as lehernya. Kemudian menggigitnya dan
merobek-robek kulit dagingnya. Setelah itu ia mangis meraung-raung.
Wirapati menghampiri Sangaji dan dengan penuhi perasaan mengelus-elus
gundulnya. Jaga Saradenta merenungi. Napasnya masih tersengal. Pandangnya
beralih dari mayat Pringga ke Sangaji, kemudian ke Wirapati dan Pringga
lagi. Beberapa saat kemudian dia berkata perlahan kepada Wirapati, "Sangaji
nama anak anak ini?"
Wirapati mengangguk. "Apakah bocah yang selama ini kita cari?" Wirapati
mengangguk.
"Pertemuan aneh." Jaga Saradenta menge-diri sendiri. Berkata lagi,
"Bagaimana dia datang ke mari dan membawa-bawa pistol?"
"Sore tadi kita sudah berjanji. Dan mengapa ia membawa pistol
perlahan-lahan kau akan tahu. Dia dipungut sebagai anak-angkat seorang
kompeni Belanda."
Jaga Saradenta termenung-menung mendegar keterangan Wirapati. Mendadak
Sangaji berkata nyaring, Tak sengaja aku menembaknya. Aku direnggutkan.
Jari-jariku menarik pelatuk." Wirapati memeluk gundulnya sambil berbisik,
"Sama sekali kau tak bersalah. Kaupun bukan pembunuh. Pelatuk pistol
kautarik dengan tak sengaja."
"Meskipun disengaja, kita berdua patut menyatakan terima kasih padamu,"
potong Jagi Saradenta. "Wirapati...! Anak ini sudah membayar pajak kepada
kita berdua."
Sangaji jadi kebingungan mendengar pembicaraan mereka berdua, la
menyiratkan pandang penuh pertanyaan.
"Sangaji! Malam ini kamu benar-benar datanc menepati janji. Kamu ingin
berguru kepadaku! bukan?" kata Wirapati.
Sangaji mengangguk.
"Bagus! Mulai sekarang kau harus patuh kepada setiap patah kata gurumu. Aku
bernama Wirapati. Dan ini, Jaga Saradenta. Diapun gurumu, sama seperti aku.
Kamu mengerti?"
Kembali Sangaji mengangguk.
Setelah berkata demikian Wirapati kemudi menghampiri Atang. Perlahan-lahan
ia memegang pundaknya.
"Sekalipun kau robek-robek hancur bersej rakan, diapun tak merasa apa-apa.
Lebih baik kaurawatlah jenazah sahabatmu. Dan mayat iblis itu biarkan
menggeletak di sini. Apa peduli kita" katanya berpengaruh.
Dengan berdiam diri Atang menghampiri lasazah Hasan yang telah rusak.
Sementara itu, Jaga Saradenta datang berturut-turut memondong Memet, Kosim
dan Acep yang luka parah. "Saudara!" katanya, "iblis ini masih mempunya
seorang kakak. Pringgasakti namanya, alias si Abu, lebih baik kalian pergi
menjauh. Apalagi kalian luka parah. Kereta berkuda dapat pergunakan.
Pergilah sekarang sebelum
Mereka sadar akan bahaya. Tanpa memban-ar sepatah katapun juga mereka
mengangguk tersama. Hampir berbareng mereka berbisik Terima kasih." "erima
kasih? Mengapa berterimakasih kepa-:-?" sahut Jaga Saradenta cepat, "Kami
ber-berterimakasih juga kepada kalian. Seandai-kalian tidak membantu kami,
sudah siang-aang tadi kami mampus." Mereka sedang luka parah, mana sanggup
-_ ara terlalu panjang. Mereka kemudian Melemparkan pandang ke Atang yang
masih senenungi jenazah Hasan. Tak terasa air mata Jaga Saradenta mendekati
Atang. "Hatiku ikut pjga berduka. Tetapi dia mati secara jantan.
Pengorbanannya tidak sia-sia. Apakah masih ada waktu-mengubur dia?"
Atang yang mudah tersinggung menegakkan kepala. "Apa maksudmu?"
"Aku khawatir kalian tidak ada waktu lagi mengubur dia. Seandainya iblis
datang..." "Akan kami bawa jenazahnya."
"Pikiran yang bagus," potong Jaga Saradenta. "Apalagi jika kalian bisa
menyerahkan jenazah Hasan kepada keluarganya. Tetapi pertimbangkan dulu
soal ini. Membawa-bawa jenazah yang begitu ri... Apa tidak menyulitkan
keselamatan kalian?" Ujar Jaga Saradenta meskipun menusuk perasaan, tapi
ada benarnya. Di antara empat orang, tiga orang luka parah. Kini akan
membawa-bawa jenazah pula. Bisa dibayangkan ba-gaimana sulitnya jika
tiba-tiba kepergok sesuatu bahaya.
"Lantas?" ia minta pertimbangan.
"Sebentar atau lama si iblis Pringgasakti pasti datang ke mari. Kalau dia
melihat jenazah Hasan di samping mayat adiknya pastilah mengira mereka
berdua mati berbareng. Keselamatan kalian bisa dijamin," kata Jaga
Saradenta. Kemudian dia menghampiri Wirapati dan mengisyarati agar
cepat-cepat meninggalkan lapangan.
Atang dapat berpikir cepat. Ia menoleh kepada saudara-saudara angkatnya.
Mereka tak berkata
eoatah katapun. Maka ia berkata memutuskan. Trna kasih. Saranmu kami terima."
Sehabis berkata demikian ia menunduk. Ke-uian menangis terisak-isak....
Jaga Saradenta Mu kedukaannya. Tetapi ia tak mau berpikir te-a lama. Dengan
memberi isyarat kepada Wi-mxc ia menghampiri ketiga orang yang sedang Ke
parah, lalu memapahnya seorang. Wirapati wera memapah si Acep. Dan Atang
memapah 9 *jOsim.
tereka dimasukkan ke dalam kereta. Atang :at ke depan dan dengan membisu
me-mr*. kendali. Waktu itu bulan benar-benar bersiar terang. Sinarnya mulai
merata. Perlahan-la-r. tuda-kuda penarik mulai berderapan. Atang oemparkan
pandang ke tengah lapangan. Ke-t$2 saudara angkatnya pun tak terkecuali.
De-tertatih-tatih mereka mencongakkan diri jendela kereta.
Kesenyapan mulai bercerita di tengah lapang-Tidak ada lagi suara senjata
beradu. Tidak terdengar suara napas bersengal-sengal. Ti-lagi nampak
berkelebatnya seorang manu-flarxrL Yang ada hanya dua mayat yang meng-- tak
terurus di atas tanah—mayat si Ha-* dan si iblis Pringga Aguna.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar