#MENIKAH_DENGAN_SETAN
PART9
__________
Halimah terbangun, ia bergegas mengejar waktu Sholatnya yang hampir
terlewat. Rhandra terperangah, lagi-lagi wanita itu Sholat dihadapannya. Ia
memperhatikan langkahnya dengan seksama, tangan lentiknya meraih mukena
yang tergantung pada tiang disebelah lemari pakaian.. Air wudhu membuat
wajahnya basah dan terlihat cerah, dan tak lama ia memulai Sholatnya dengan
khusyuk dan penuh khitmad.
Rhandra bangkit, ia langkahkan kakinya keluar kamar. Ia berjalan menuju
balkon belakang rumahnya yang menghadap ke arah taman dan makam, balkon
yang tak jauh dari ruangan kerjanya. Balkon yang sengaja ia tutup, karena
melihat makam itu membuat hatinya hancur dan sesak.
Ia melangkahkan kakinya keluar, lantai itu sudah penuh dengan debu, dua
kursi yang menghadap kedepan pun sudah hampir berwarna hitam. Ia kembali
menatap makam yang penuh misteri itu dengan penuh sesak, kenapa tangan
Tuhan tak ada saat pembantaian itu terjadi, kenapa juga ia lahir dari
wanita yang jahat, kenapa Tuhan tidak melahirkannya dari wanita selembut
Halimah.
Halimah keluar dari kamarnya, ia hadapkan wajahnya pada lorong yang
berujung pada sebuah balkon. Rhandra berdiri disana membelakanginya.
Pelan Halimah datang menghampirinya, jantungnya berdegup kencang karena
takut atau bahkan mungkin karena rasa cinta yang mendalam.
"Rhandra...." sapanya.
"Hmm.." saut Rhandra seraya menjulurkan tangan padanya.
Halimah berdiri disebelahnya seraya memandang taman belakang rumah ini yang
sudah tak terawat, ia pun membayangkan taman itu berubah menjadi bersih
dalam sesaat.
Tembok besar yang ditumbuhi tanaman-tanaman rambat yang indah, di tengahnya
ada sebuah kolam air mancur besar, dan bunga-bunga yang menghiasi
sekelilingnya. Jauh dari sana ia kembali melihat sebuah makam yang
dikelilingi pagar berwarna hitam.
"Aku baru tau di rumah ini ada balkon seindah ini."
Rhandra menarik nafas.
"Rhandra...Apa aku salah?"
"Berhentilah bersikap merasa bersalah Halimah."
Halimah diam, sesekali ia melirik kearahnya. Wajahnya terlihat gelap tak
ada cahaya yang menyelimutinya. Rhandra memerlukan sinar, sinar yang dapat
mencerahkan hatinya. Sinar yang mampu membuat seseorang lemah karenanya,
dan sinar itu yang selalu Halimah sebut dalam doanya.
"Ehmm.." Rhandra bergeser, ia selimuti tubuh Halimah dengan pelukannya yang
hangat. Rhandra memeluknya dari belakang, kedua tangannya ia letakkan di
perut Halimah, Kepala Halimah sejajar dengan dadanya. Hati Halimah berdegup
kencang, berdesir bagaikan air yang jatuh dari pegunungan. Ia tersenyum dan
menikmati saat-saat bersamanya.
"Rhandra...apa aku boleh tau?"
"katakan."
"Makam itu...? Siapa mereka? Kenapa terlihat begitu banyak makam disana?"
Rhandra menarik nafas.
"Pertanyaanmu sama dengan pertanyaanku, aku tidak tahu Halimah."
"Kenapa?"
"Entahlah..., aku hanya sekali kesana."
"Kamu aku larang untuk pergi kesana, paham?"
Halimah mengangguk, kemudian Rhandra semakin mengeratkan pelukannya.
"Katakan padaku Halimah? Apa yang menjadi keinginanmu saat ini?"
"Keinginan?"
"Ya."
"Melihatmu tersenyum...Sholat bersama...Makan bersama...Tidur
bersamamu...banyak hal yang hanya ingin kulewatkan denganmu." Ucapnya
lembut. Wanita polos itu kembali mengalirkan air matanya, air itu menetes
hingga terasa di lengan Rhandra.
"Kenapa kamu selalu menangis? Berhentilah menangis Halimah. Aku benci
melihat tangisan di matamu, berteriaklah seperti dulu saat kau akan aku
nikahi, hancurkanlah semua barang yang ingin kau hancurkan, hina aku
seperti kamu menghinaku dulu, Syetan, Jin, Breng...!"
Tangan mungil itu melayang di bibirnya, Halimah menutupi mulutnya dengan
tangannya yang mungil.
"Bodoh...Tak punya otak..!" ucap Halimah matanya yang basah itu menatapnya
dengan tajam.
Tak lama ia beralih, ia tinggalkan Rhandra dalam kesendiriannya. Rhandra
mengamatinya, ia berlari menuju kamarnya, tangan kanannya menutupi mulutnya.
Sejak mengenal arti cinta Halimah menjadi wanita yang ringkih dan lemah, ia
menjadi wanita yang gampang menangis, kehilangan Rhandra adalah hal yang
paling ia takutkan dan rasa itu menghantuinya setiap saat.
"Den.." sapa Darmin yang baru saja datang.
"Siapkan perjalanan Pak, kita berangkat malam ini dan pastikan semua aman,
bawa semua barang-barang yang mencurigakan, dan pintu-pintu itu biarkan
saja terbuka."
"Baik Den."
Rhandra tau Haikal pasti akan kembali untuk Halimah, semangat laki-laki itu
terlihat sangat membara. Kamarnya yang belum sempat ia rapihkan sudah
menjadi bukti bahwa dirumah ini ada yang menempati, Haikal pasti akan
datang kembali dengan membawa orang lebih banyak, untuk membuktikan rasa
penasarannya.
Rhandra memutuskan untuk pergi selama beberapa hari, hingga semua kembali
normal. Malam itu ia minta Pak Darmin juga Mbok Sum untuk menyiapkan semuanya.
Tengah malam adalah waktu yang pas untuk pergi, malam itu Halimah sudah
terlelap, sebelumnya Rhandra tak memberitahu rencana kepergiannya.
"Halimah bangunlah...kita akan pergi."
"Hmm..., Pergi?"
"Ya...Bangunlah."
Halimah bangkit dari tidurnya, ia berkemas. Mushafnya yang ia letakkan
diatas nakas tak lupa ia bawa.
"Sejak kapan kamu meletakkan itu disana?"
"Ini?" tanyanya balik seraya menunjukkan mushafnya.
"Entahlah..aku lupa."
"Apa saat laki-laki itu datang, barang itu masih ada disana?"
Halimah mengangguk.
Rhandra menarik nafas.
Rhandra semakin yakin, Haikal tahu keberadaan mereka, ia semakin yakin
bahwa Haikal akan mencari tahu tentang misteri rumahnya dan akan membongkar
semuanya pada warga desa.
Senyap-senyap mereka pergi menggunakan mobil Jeep Cherokee tahun 70an.
Darmin menyetir dan Mbok Sum disebelahnya, Halimah dan Rhandra duduk
ditengah. Mereka membawa beberapa bawaan di tas. Mereka akan pergi untuk
beberapa hari.
Malam itu udara terasa dingin, mobil itu berjalan ke luar Desa, suasana
yang begitu menyeramkan tak ada lampu penerangan disana, hanya lampu mobil
mereka yang menyinari setiap perjalanan mereka. Tak jauh dari sana terlihat
Surau tempat Halimah mengajar, ia letakkan telapak tangannya ke jendela.
Halimah rindu mengajar, ia rindu anak-anak disana yang selalu menghibur
hatinya dikala susah.
"siapa yang mengajar mereka sekarang? siapa yang menemani mereka dikala
bermain?" ucap Halimah dalam hati.
Halimah mengusap tengkuk lehernya, kemudian ia letakkan wajah ditangannya
seraya menghadap ke jendela. Ia berpangku tangan dalam diam. Tangan
kanannya memegang erat pada mushafnya yang bersampul warna emas.
Rhandra menatapnya, batinnya berbisik.
"Maafkan aku Halimah." Tak lama mushaf itu terjatuh, Rhandra menangkapnya.
Halimah terlelap, ia dekatkan tubuhnya lalu ia sandarkan kepalanya
kepelukannya.
"Mbok..."
"Ya Den..."
"Taruh ini diatas," ucap Rhandra memintanya meletakkan mushaf Halimah
diatas persis dekat kaca depan.
Mbok Sum tersenyum, matanya melirik ke arah Darmin. Memberikan pesan
padanya bahwa hatinya sudah sedikit mencair, jiwanya tidak lagi keras
seperti dulu. Dulu sekali saat ia melihat mushaf ia akan meminta seseorang
untuk membuang dan menjauhkan dari pandangannya.
Namun malam ini, Sum dan Darmin menjadi saksi, bahwa ia mulai mengagungkan
kitab itu, kitab yang sebenarnya memiliki nyawa, kitab yang akan menemani
siapapun dalam masa sulit. Kitab yang akan menerangi alam kubur, penerang
bagi jalan kehidupan manusia.
Heningnya malam menyambut kedatangan mereka, suara jangkrik, burung hantu,
anjing hutan melebur menjadi satu. Rhandra turun memapah Halimah yang
terlihat masih mengantuk, Halimah tak dapat melihat apapun dimatanya,
suasana begitu gelap, sangat gelap lebih gelap dari Gedong tua.
Hanya udara dingin yang terasa menusuk tubuhnya hingga sampai ke jantung,
Halimah memeluk dirinya dengan ke dua tangannya, ia silangkan seraya
mengusap-usap lengannya.
"Pakai ini," ucap Rhandra seraya memakaikan jaket jenis parka ke tubuhnya.
"Disini sangat dingin, kamu harus kuat," lanjutnya.
Rhandra mengambil jaket satu lagi dan memakainya.
"Ayo Halimah." Ia menggandeng tangan istrinya dan berjalan pelan menuju
tempat yang ingin mereka tuju.
Tak ada cahaya, hanya sinar bulan, bintang dan sorot lampu mobil yang
sengaja Darmin nyalakan untuk membantu mereka berjalan.
Jalanannya menanjak dan berbatu, sangat sulit untuk dilalui. Selama
berajalan Rhandra menggandeng Halimah selalu disisinya, ia tak melepaskan
pegangannya.
"Gelap sekali Rhandra."
"Tunggu sebentar lagi, kamu akan jatuh cinta padanya," ucap Rhandra lembut
ditelinganya.
Mereka masuk ke sebuah rumah yang entah dimana posisinya, yang jelas untuk
menuju ketempatnya mereka membutuhkan perjalanan selama dua jam dari Gedong
Tua.
Udaranya sangat dingin menusuk hingga ke jantung, Sum sudah mempersiapkan
pakaian dingin untuk Halimah pakai, Rhandra memintanya untuk menyiapkan semua.
Waktu menunjukkan pukul tiga malam, Rhandra mengajak Halimah ke lantai dua
bagian rumah tersebut, setelah Mbok Sum selesai merapihkan. Lantai dua itu
tidak berpintu, saat menaiki tangga ada ranjang besar juga sofa yang
menghadap ke jendela.
Halimah belum bisa melihat apa-apa, hanya cahaya sedikit yang berasal dari
sela-sela jendela yang tertutup dengan kain gorden.
"Duduk disini," ucap Rhandra menuntunnya hingga duduk diatas ranjang.
Tak lama ia duduk, Rhandra membuka kain Gorden yang menutupi kamarnya.
Halimah takjub, "Masya Allah," bisiknya dalam hati. Sungguh alam ini
terjadi atas kehendak Allah, apapun akan jadi hanya ditanganNya, keindahan
itu sungguh membuat hatinya bergetar, belum pernah seumur hidupnya ia
melihat keindahan seperti malam ini.
Sinar bulan dan lekukannya yang luar biasa indah juga bintang-bintang
seperti sejajar dengannya, lampu-lampu yang menyala semakin memeriahkan
keagunganNya, pohon-pohon dan pegunungan bagaikan siluet indah yang semakin
membuat hati bergetar.
Bagaikan mimpi, ia menjumpai kembali kunang-kunang, serangga yang ia
percayai begitu saja ketika ia masih anak-anak, bahwa kunang-kunang adalah
jelmaan kuku orang mati, lalu kini sinar terangnya jelas terlihat di bawah
reremputan menyerupai bintang.
Pemandangan yang luar biasa indah.
Jendela-jendela dikamar itu adalah jendela yang tak bersekat, pemandangan
luar seperti selangkah darinya Halimah bergetar perlahan ia maju kedepan
cahaya itu berasal, pelan ia menyentuh bintang yang serasa dekat dengan
jemarinya.
Air matanya mengalir melihat kebesaran Allah, tubuhnya bergetar, bahkan
lebih besar getarannya dibandingkan ia melihat wajah wanita yang membuatnya
takut di Getong tua.
Tak lama, tubuh itu mendekatinya. Ia memeluk istrinya yang mulai kehilangan
akal akan keindahan malam itu. Rhandra tersenyum lebar saking senangnya. Ia
sangat senang melihat istrinya itu bahagia.
"Berhentilah menangis," ucapnya lembut.
Halimah membalas pelukannya dengan erat, ia merasa saat ini ia sedang
berada di Surga bersama laki-laki yang sangat ia cintai.
"Sekarang istirahatlah..."
"Nggak...aku nggak mau, aku akan menyesal jika melewatkannya, aku akan
menunggu hingga subuh."
"Ok, kalo gitu kita duduk disini sambil memandang langit yang luar biasa
indahnya..."
Ucapnya seraya mendudukkan tubuhnya kelantai, lalu ia baringkan kepalanya
di pangkuan Halimah.
Halimah tersenyum bahagia, ia usap kepalanya dengan punuh kasih dan sayang,
Rhandra menutup matanya, lalu mulut itu pun berbisik
Allaahumma innaka antal azizul kabir. Wa ana abduka adhdhoiifudzdzaliil.
Alladzi laa khaula wa laa quwwata illaa bika. Allaahumma sakhkhir lii
Rhandra Abyakta kama sakhkhorta firauna li musa. Wa layyin li qolbahuu kama
layyantalhadiida li dawuda. Fa innahu la yantiqu illa bi idznika.
Nashiyatuhuu fii qobdhatika. Wa qolbuhuu fi yadiKka. Jalla tsanau wajhik.
ya arkhamar rakhimiin.
"Ya Allah sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan saya hamba-Mu
yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Kau. Ya
Allah, tundukkanlah Rhandra Abyakta sebagaimana Kau telah menundukkan
Fir'aun pada Musa AS. Dan luluhkan hatinya untukku, sebagaimana Kau telah
meluluhkan besi untuk Daud AS. Karena sungguh dia takkan berbicara kecuali
dengan izin-Mu. Ubun-ubunnya dalam genggaman-Mu, dan hatinya di tangan-Mu.
Pujian wajah-Mu telah Agung, wahai yang lebih sayang para penyayang."
Seketika air mata itu kembali menetes, Rhandra memejamkan mata namun
telinganya jelas mendengar bisikan itu. Ia tak tahu artinya, namun doa itu
sangat menyentuh relung hatinya.
****
Fajar menyingsing, dan Halimah belum memejamkan matanya, Rhandra pulas di
pangkuannya hingga suara sahut-menyahut adzan subuh itu terdengar. Masya
Allah ia lepaskan pandangannya ke segala arah, tak ada masjid yang berada
disekitarnya namun suara itu tetap terdengar merdu ditelinganya, karena
semua masjid berkumandang memanggil semua insan untuk menyembah kepadaNya
hingga suara itu sampai ditelinganya pagi itu.
Halimah bergeser, ia letakkan kepala suaminya itu ke lantai lalu ia ganti
dengan bantal yang berada di atas ranjang. Ia beranikan diri untuk turun ke
bawah memanggil Mbok Sum, dan di ruang tengah terlihat Mbok Sum dan Darmin
yang sedang bersiap ingin berjamaah.
"Mbok..."
"Ayo non..."
Untuk pertama kalinya setelah ia mengenal Rhandra, ia bisa merasakan sholat
berjamaah, meskipun bukan dengannya hari ini.
"Mungkin bukan hari ini tapi nanti, ya nanti." Bisik Halimah dalam hati.
Halimah sangat mengharapkan Rhandra bisa menjadi imam untuknya, setidaknya
bukan untuk hari ini tapi suatu hari, harapan itu masih jelas ada disetiap
doa yang Halimah bacakan.
Laki-laki itu termenung memandang mereka, ia duduk di anak tangga dan
memandang lurus pada mereka yang sedang sholat berjamaah. Ia teringat pada
kejadian sepuluh tahun lalu, saat Darmin dan Sum berjamaah di ruang tengah
rumahnya, Rhandra mengamuk ia usir mereka yang sedang sholat tanpa ada
perasaan bersalah dibenaknya.
Namun pagi ini, sungguh ia jatuh hati melihatnya tubuhnya bergetar, ia
ingin meniru gerakan itu. Jika benar apa kata Halimah, bahwa Tuhan tak
pernah tidur, Tuhan selalu mengabulkan doa-doa setiap hamba Yang ingin
berserah, lalu kenapa ia tidak coba.
Kebencian pada Tuhan pun menyusut seiring berjalannya waktu, ia memandang
Halimah yang begitu polos, alim juga cantik. Ia membayangkan jika saja
Halimah tak datang kepadanya, mungkin ia akan terus menjadi gembala liar
yang haus akan kesesatan.
Melintas dipikirannya, masalah yang ia anggap kutukan Tuhan. Rhandra
langsung berpaling dan kembali naik ke kamar.
Ia duduk diatas ranjang memandang panorama indah di hadapannya, namun
pandangannya kosong. Kedua tangannya ia tekuk diatas lututnya. Ia masih
membenci dirinya sendiri, benci akan darah yang mengalir ditubuhnya, benci
akan semua yang terjadi pada garis hidupnya.
"Rhandra..." sapa Halimah lembut, ia masih mengenakan mukena berwarna putih
di tubuhnya.
"Lepaskan itu, aku tidak suka melihatmu memakainya."
"Maksudmu...Mukena ini?"
"Lepaskan Halimah...!"
Halimah menarik nafas, sulit sekali untuk membuatnya yakin akan kebesaran
Tuhan. Halimah melepas mukenanya, lalu duduk jongkok menghadapnya diantara
kedua lututnya. Ia menatap matanya dengan tulus.
"Rhandra..."
Rhandra tak bergeming ia enggan menatapnya.
"Lihat wajahku Rhandra..."
Pelan ia arahkan wajahnya, dadanya terasa sesak batinnya menjerit. Halimah
bak bidadari yang turun dari nirwana, rambutnya yang masih basah karena
wudhu membuat ia terlihat segar, ia geraikan rambutnya yang panjang itu ke
sisi sebelah kanan. Lehernya yang jenjang dengan lapisan kulit yang putih
membuat aliran darah menjadi panas, Wajahnya yang mungil, bola matanya,
bibirnya semua sangat indah.
"Kamu ingin, aku seperti ini?" ucap Halimah lembut.
"Maksud kamu?" tanya Rhandra memicingkan mata sebelah kirinya.
"Lihat aku Rhandra...Allah ada dzat yang maha adil, kecantikan yang Allah
anugrahkan pada setiap wanita adalah khusus...Khusus hanya untuk suaminya,
bukan untuk orang lain.
Seorang suami yang mencintai istrinya adalah mereka yang melindungi
istrinya dengan sepenuh kekuatan juga tenaga mereka. Hijab...Mukena, yang
kukenakan adalah bentuk perlindungan Allah pada semua wanita.
Karena Allah dzat maha tahu.
Ia tahu seorang suami tak bisa melindungi istrinya dari mata-mata yang
bekhianat, mata-mata yang senang memandang mereka yang tak halal baginya,
mata-mata yang senantiasa langsung tembus menuju birahi yang akhirnya
berujung pada penistaan.
Kamu ingin aku seperti itu? Dinistakan oleh banyak laki-laki."
Rhandra diam Halimah benar atas argumentya dan sedikit menghancurkan
kebenciannya pada perintah Tuhan. Ia menarik nafas. Halimah bangkit dan
duduk disebelahnya ia mengusap dada Rhandra dengan lembut dan meletakkan
kepalanya di bahu Rhandra.
"Katakan padaku Rhandra...Apa alasanmu membenciNya?"
Tarikan nafas itu terasa di dada Rhandra, ia memalingkan wajahnya. Berat
rasanya memberitahu Halimah akan pahitnya masalah yang ia derita.
Rhandra tak menjawab, ia mengalihkannya dengan memeluknya dan mencium
keningnya.
"Lihatlah itu Halimah..."
Halimah kemudian menolehkan wajahnya ke arah jendela. Masya Allah hatinya
kembali bergetar, hanya orang-orang beruntunglah yang bisa menyaksikan
keindahan ini.
Sebuah panorama yang luar biasa indah, alam serasa bersujud pada sang
pemilik. Seperti Mimpi, ia memandang jauh ke selatan di mana Lawu berdiri
gagah, memandang ke timur pada matahari yang mulai memancar memberikan
kehangatan pada setiap makhluk yang kedinginan, terlihat begitu indah
langit itu memerah bagai sebuah lukisan.
Warna langit perlahan mulai memerah, kabut juga menjadi penghias manisnya
gunung lawu. Gunung itu tertutup kabut dan awan, serta hamparan hijau
berselimut kabut di sejauh mata memandang menciptakan pemandangan yang luar
biasa.
Halimah bertasbih, dan terus bertasbih. Entah kemana Rhandra membawanya dan
alasan ia membawanya namun tempat ini seperti surga yang nyata baginya.
Perlahan Sinar matahari mulai menyinari mereka, seketika anggapan Halimah
tentang Rhandra bahwa ia membenci matahari runtuh.
Rhandra sangat menikmatinya, pancaran matahari itu menyegarkan setiap
aliran darah yang mengalir didalam tubuhnya. Laki-laki itu berdiri ke depan
jendela, ia tersenyum, wajahnya terlihat memukau.
"I Love this place..."ucapnya seraya meregangkan kedua tangannya dan
menghirup udara segar yang masuk melalui rongga hidungnya.
"Ayo Halimah ikut aku..." ajaknya seraya menjulurkan tangannya.
"Ayo..." Halimah menggapainya, rasa suka cita itu memenuhi pikiran juga
hatinya. Halimah begitu mencintai Rhandra, disetiap langkahnya ia sandarkan
kepalanya ke lengannya yang kekar.
Dihadapannya kini hamparan kebun teh begitu luas mengelilingi rumah yang
biasa disebut villa oleh banyak orang. Tidak ada villa lain disisi kanan
kiri belakang juga depan, hanya sebuah jalan bebatuan yang sangat sulit
untuk dilampaui.
"HAAAAAA!" teriak Rhandra mengusik keheningan pagi. Tak lama burung-burung
bersahutan mendengar suaranya yang menggelegar.
Rhandra berlari menuju tengah kebun.. ia terlihat sangat bebas, belum
pernah dalam hidupnya ia bisa melihat Rhandra selepas dan sebahagia itu. Ia
menyatu dengan matahari yang selama ini ia hindari, ia menyatu dengan alam
yang selama ini jarang ia rasakan.
"Halimaah...!" Ia membentangkan tangan dari jarak yang cukup jauh.
Halimah berlari kearahnya dan menghempaskan tubuhnya di pelukan Rhandra.
Rhandra memeluknya hingga kedua kakinya terangkat.
Halimah dan Rhandra melintasi bukit teh seraya berpelukan, sesekali Rhandra
mencium keningnya. Dipelukannya Rhandra melihat Halimah denngan penuh
harap, bibirnya yang mungil sangat ingin ia sentuh, nafasnya semakin tak
beraturan. Rhandra mengalihkan pandangannya untuk menghapus semua hasratnya.
"Rhandra..." sapa Halimah.
"Ya..." tak lama bibir itu pun mendarat di bibirnya. Rhandra diam, tubuhnya
kaku, Halimah menempelkan bibirnya seraya menutup mata. Tangannya pun
menyambut tubuh Halimah yang mungil itu semakin erat.
Bagi Halimah bersama Rhandra sudah cukup membuatnya tenang.
Maha suci Allah atas segala kenikmatan yang ada di muka bumi, kedua insan
yang saling mencintai itu tertawa lepas, alam memberi restu kepada mereka,
burung-burung bersahutan, hembusan angin segar yang masuk ke dada mereka,
dan hangatnya sinar matahari yang perlahan naik ke cakrawala.
***
Sejalan dengan pikiran Rhandra, Haikal kembali ke Gedong tua, ia didampingi
beberapa warga desa. Haikal masuk kedalam, keadaan rumah masih sama dengan
keadaan saat ia datang dua hari yang lalu. Tak ada yang berubah,
pintu-pintu yang rusak pun belum dibenarkan.
Haikal berlari kelantai dua, ia lari menuju kamar yang ia curigai ditempati
Halimah, kemarin ia melihat mushaf miliknya berada diatas Nakas.
"Dia pergi..." ucapnya.
"Kami tidak melihat ada orang disini Haikal, semua ruangan berdebu seperti
rumah kosong."
"Mereka pasti pergi! Aku yakin, sangat yakin Halimah disini. Biar
bagaimanapun kita harus menolongnya, ia jatuh ke tangan yang salah. Entah
siapa dia, aku yakin dia ada hubungannya dengan keluarga Abyakta," ucap
Haikal pada salah satu warga desa yang mengetahui sejarah Gedong tua.
Sebelumnya satu minggu yang lalu, Haikal masih penasaran dengan jawaban Dwi
yang terlihat mengada-ngada.
Sore itu Haikal mengikutinya dari belakang, Dwi menuju ke sebuah desa
terpencil di kaki gunung lawu, desa itu tak begitu jauh dari tempat ia tinggal.
Dwi memberhentikan sepedanya di sebuah rumah mungil yang berdiri di
hamparan sawah yang luas juga pemandangan yang begitu menakjubkan, rumah
itu lebih layak dari rumah mereka dulu.
Batinnya pun bertanya-tanya, bekerja dengan siapa Halimah?
Haikal tak menyerah, ia terus menunggu. Hingga Dwi keluar dan memacu
sepedanya ia ikuti perlahan dari belakang, dan sampailah ia di Gedong tua,
rumah yang menjadi perhatian banyak orang di Desanya, rumah yang memiliki
banyak misteri dan hanya orang-orang yang hidup 30 tahun sebelum
kelahirannyalah yang tahu tentang sejarah rumah ini.
Haikal melihat dengan jelas Dwi masuk kedalam dan seseorang membukakan
pintu untuknya. Ia semakin yakin bahwa Halimah telah mengorbankan dirinya
dirumah ini, entah sebagai pekerja, tumbal atau apapun hanya demi menolong
keluarganya.
Malam itu Haikal menunggu Dwi, ia sangat menyesal jika Halimah benar berada
didalam. Tak lama anak muda itu keluar bersama sepedanya, dengan gesit ia
menghadang Dwi, pemuda itu benar-benar tangguh, ia berusaha melawan Haikal
dengan kekuatannya. Malam itu pun keduanya bagai petarung yang sama-sama
hanya ingin melindungi wanita yang mereka sayangi.
"Katakan Dwi? Apa Mbakmu didalam?" rutuk Haikal seraya menahan kedua
bahunya yang ia sandarkan di mobilnya.
"DWI!" teriaknya.
Tak lama tangisan pemuda itu pecah, Dwi menangis sejadi-jadinya lalu ia
mengangguk.
"Bagaimana bisa Wi?"
"Hah..!" Dwi berusaha melawan. Ia memukul perut Haikal dan berlari
mengambil sepedanya.
Perasaan bersalah bergerumuh dihatinya, pikiran-pikiran buruk yang menimpa
Halimah pun terus bergemuruh dihati juga pikirannya.
Bibirnya biru. Badannya dingin. Tulang-tulangnya seperti dilolosi. Ia diam
seribu bahasa.
Ia membayangkan Halimah menderita didalam sana, ia harus menolongnya.
"Aku akan menemukanmu Halimah, aku pasti menemukanmu..."
Sejak malam itu Haikal memutuskan untuk mencari tahu Misteri Gedong Tua, ia
hanya tahu sekitar 30 tahun lalu terjadi peristiwa besar di desanya yang
membuat semua warga Desa trauma dan menjadikannya sejarah bagi mereka yang
tahu.
#BERSAMBUNG
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar