3.16.2019

#MENIKAH_DENGAN_SETAN #PART12 _____________

#MENIKAH_DENGAN_SETAN
#PART12
_____________


Masih terlintas di pikiran Halimah makam bertuliskan nama
suaminya. Rhandra tak pernah berbicara banyak tentang makam yang ada di
sana, jika ditanya Suaminya, Sum dan Darmin selalu menghindar.


Kepalaya terasa ingin pecah memikirkan ratusan pertanyaan juga keraguan
yang melintas di pikirannya.


Pagi itu Halimah tak ingin bangkit dari makam yang jelas bertuliskan nama
Rhandra, berulang kali ia cubit tubuhnya, ia rasakan sakit yang ada dalam
tubuhnya. Ia yakin apa yang ia lalui bersama Rhandra suaminya bukanlah
halusinasi semata.


Ada Dwi, penghulu yang mungkin bisa dicari tau kebenarannya dan dua orang
saksi yang saat itu menikahkan mereka. Halimah memang tidak melihat
langsung bagaimana Rhandra bisa menikahinya. Namun pernyataan Dwi adiknya
bisa dijadikan dasar.


Pagi itu langit seakan berduka, langit mendung, angin bertiup kencang
mengembuskan dedaunan kering ke arah wanita yang sedang meratapi makam
bertuliskan nama suaminya. Halimah terus berbaring di atas makam
bertuliskan 'Rhandra abyakta'.


Terlintas dipikirannya saat ia berjumpa dengan bayangan anak kecil di
tempat ini. Malam itu Rhandra begitu marah karena ia hampir memasuki makam.


"Mungkinkah …." bisiknya dalam hati.


Haikal berusaha meyakinkannya akan halusinasinya yang tidak masuk akal.


"Halimah ayo, kita kembali. Sebentar lagi hujan."


"Apa yang Mas Haikal lakukan sama sekali tak akan mengubah pendirian saya.
Saya mohon Mas, menjauhlah dari saya, saya wanita yang sudah bersuami.
Jauhi saya sebelum nilai-nilai agamamu menjadi rusak…."


"Mas mengerti perasaanmu Halimah, Mas tak akan menyerah sampai kamu
menyadari kekeliruanmu."


"Rhandra masih di Genilangit, Halimah yakin …Halimah akan kesana," rutuknya
kesal.


"Biar Mas antar," ucap Haikal seraya mengejarnya.


"Tidak Usah!"


"Hentikan keras kepalamu Halimah! Dengan apa kamu mau pergi kesana? Mas
akan antar kamu kesana," rutuk Haikal, ia berjalan menuju mobil seraya
membukakan pintu mobil untuknya.


Halimah menuju Genilangit. Haikal masih setia menemaninya. Laki-laki itu
sangat yakin, bahwa Halimah mengalami halusinasi atau semacam gangguan Jin
dan lainnya.


'Malam itu Halimah sangat kacau, pikiran dan hatinya pun kosong, sangat
wajar jika makhluk astral datang dan menganggu alam bawah sadarnya' pikir
Haikal.


Halimah diam, ia lemas tubuhnya ia sandarkan di kursi, tangan kirinya
memegang pelipisnya. Wajahnya berbanding terbalik dengan sebelumnya. Kali
ini ia begitu terlihat marah, bibirnya menyungging keatas, sorot matanya
begitu tajam.


Gerimis membasahi Desa Genilangit, jalan menjadi basah karenanya. Pepohonan
bergerak berayun-ayun mengikuti arah angin.


"Halimah bagaimana jika kita sarapan dulu?"


Ia bergeming, ia tak peduli dengan perkataannya. Halimah muak dengan
ketidakpercayaan Haikal padanya, ini adalah kesekian kalinya laki-laki itu
tidak mempercayainya.


Mereka hampir sampai menuju Villa Abyakta, Haikal dan Halimah melewati
taman Genilangit, taman yang pernah Halimah datangi berdua saja dengan
Rhandra, taman yang pertama kali menjadi tempat kencan mereka berdua.


Halimah memperhatikan tempat itu, lagi-lagi ia tak sanggup menahan
rindunya, dadanya terasa sesak, ingin buru-buru berjumpa dengan suaminya.


100 meter didepan, mereka akan belok kekiri, Jalanan bebatuan juga menanjak
akan mereka lalui. Mobil jeep milik Haikal dengan mudah mampu melewatinya.
Sungai yang mengalir juga pemandangan pegunungan begitu indah terasa.


Jauh dari matanya Villa Abyakta sudah terlihat. Villa Abyakta berada paling
tinggi diantara villa lainnya, jika sudah sore akses menuju Villa ini akan
semakin sulit, kabut sudah menutupi jalan, hingga kadang warga menutup
jalannya untuk alasan keamanan.


Jalanan ditutup, mereka tidak bisa melintas karena jalanan begitu licin,
juga berpotensi longsor.


Sekitar 500 meter didepan Villa Abyakta sudah sampai, tak sabar Halimah
turun dari Mobil.


"Halimaah!" teriak Haikal, ia keluar dari Mobil seraya membawa jaket untuk
menuduhkan kepalanya dari air hujan.


"Halimah bersabarlah, berbahaya!" Haikal terus mengikutinya, ia teduhkan
kepala Halimah dengan jaket diatas kepalanya.


Halimah berjalan kian cepat. Jalanan bebatuan itu, membuatnya sulit
melangkah. Licin, menanjak juga tak rata. sesekali Halimah terpeleset
karenanya.


Halimah tetap semangat, ia yakin Rhandra masih disana menunggunya.


Haikal berusaha mengejarnya, sekujur tubuh mereka sudah basah Karen air
hujan, beruntung Halimah mengenakan Jaket milik Rhandra, lekukan tubuh yang
biasa terbentuk dari pakaian basah tidak nampak. 50 meter didepan mereka
sudah sampai persis dekat pintu gerbang Villa Abyakta. Haikal melihat
wanita yang ia cintai itu berlari sangat cepat.


Villa Abyakta kini didepan mata, kabut hampir menutupi wajahnya, hamparan
kebun teh terlihat hijau pekat, gerimis membersihkannya dari debu.


"Rhandra!" panggil Halimah pelan. Mulutnya penuh dengan air hujan.


Semua pintu dalam keadaan tertutup rapat. Tidak ada Mobil yang terparkir di
pekarangan.


"Mbok Sum!" panggil halimah sekali lagi.
Halimah lari melewati pintu belakang, pintunya pun dalam keadaan terkunci.


"RHANDRAA!" teriak Halimah memanggil nama suaminya.


"Buka … Aku kembali Rhandra. Aku mohon buka pintunya," ucap Halimah ia
masih kuat menahan air matanya, ia tak ingin Haikal melihatnya lemah.


"Halimah sadarlah…." ucap Haikal meyakinkan.


Halimah masih menempel di pintu memanggil-manggil Rhandra. Kedua tangannya
berusaha membuka daun pintu.


"Halimah Istighfar…."


Ia menggengam dadanya, Halimah merasakan sesak yang teramat dalam.


"Rhandraa kamu janji mau jemput aku ... Rhandra bukaaaa!"


Haikal tak kuasa melihatnya, laki-laki itu pun menitikkan air mata. Ingin
rasanya ia merangkul Halimah, membawanya juga memaksanya masuk ke dalam mobil.


Haikal diam, ia menunggu hingga Halimah lemas dan menyadari kekeliruannya.


"Rhandraa… Aku mohon… buka pintunya."


Halimah sudah tak kuasa menahan kesedihannya, kemelut dipikirannya semakin
rumit. Pendapat Haikal terasa seperti nyata, bahwa ia hanya berhalusinasi.
Tak lama tangisannya pun pecah.


Rhandra meninggalkannya, ia tak membawa Halimah bersamanya. Halimah ragu
Rhandra akan menepati janjinya.


Haikal diam, ia hanya memperhatikan Halimah, hingga Halimah menyadari
kekeliruannya.


Halimah tak berdaya, ia tersungkur dilantai, wajahnya menatap ke lantai,
air menetes dari semua sisi hijab juga matanya. Ia terpaku dan bergeming
untuk waktu lama. Tak henti-hentinya ia mengucap nama Rhandra.


Haikal terenyuh, ia menunggu Halimah hingga puas dengan ketidakpastiannya.
Tak lama langit cerah, gerimis berhenti membasahi Villa Abyakta.


Halimah bangkit, ia kembali ke arah pulang. Ia berjalan dengan membawa
harapan kosong. Rhandra hidup atau mati menjadi beban dalam pikirannya kini.


Haikal terus setia mengikutinya dari belakang, ia berjalan tergopoh-gopoh,
pandangannya kosong.


Halimah terjatuh, jalanan menurun itu sulit ia lampaui. Haikal berlari
kearahnya, ia membantunya berjalan. Tak ada ekspresi di wajahnya. Halimah
bangkit, pakaiannya penuh dengan lumpur.


Dari jauh mobilnya sudah terlihat, Haikal mempercepat jalannya. Ia bukakan
pintu mobil untuknya.


Mobil Haikal perlahan meninggalkan Villa Abyakta. Haikal semakin mantab
bahwa apa yang dipikirkan Halimah hanyalah sebuah halusinasi, perasaan
Haikalnya pun tak berubah, dengan setia ia akan mendampingi Halimah sampai
ia membuka kembali pintu hati untuknya.


Mereka pergi meninggalkan Desa genilangit, Halimah terus terpaku melihat ke
arah luar jendela, entah apa yang ia pikirkan. Haikal terus memperhatikannya.


"Katakan padaku Halimah, seperti apa rupanya? Rhandra?" tanya Haikal,
berusaha membangkitkan semangatnya.


Halimah bergeming, namun ia mendengar dengan baik petanyaan Haikal.


Pikirannya pun mulai mengingat setiap bagian tubuh juga wajah dalam diri
Rhandra.


Berbeda dengan Haikal yang memiliki warna kulit putih, warna kulit Rhandra
sedikit lebih gelap dibandingkan dengannya, Wajah Haikal lebih bersih
dibandingkan Rhandra, Wajah Rhandra dipenuhi dengan janggut, rambutnya
panjang tak beraturan, tak seperti Haikal yang memiliki potongan rambut
yang rapih. Hidung Rhandra lebih mancung dibandingkan Haikal, matanya yang
berwarna coklat membuat Rhandra semakin terlihat manis.


"Halimah," panggil Haikal, Halimah masih diam termenung.


"Dia pasti akan datang Haikal, aku yakin, dia akan datang," ucapnya tanpa
ragu sedikitpun.


Keraguan Haikal akan Rhandra, sama sekali tak mempengaruhi isi hatinya,
cincin kayu pemberiannya, jaket parker tebal miliknya masih bersama
dengannya. Rhandra bukanlah hantu, ia juga bukan Jin, ia adalah manusia
yang menutup dirinya dari dunia luar.
Sore hari, Halimah dan Haikal tiba dirumahnya. Ia kembali ke rumah tanpa
membawa kabar apapun tentang Rhandra.


Halimah tak menangis, ia terlihat tegar. Ia biarkan kesunyian juga
kesedihan memenjarakan hatinya. Halimah tampak kepayahan, meskipun terlihat
kuat di mata Haikal ia tetap rapuh.


"Halimah … Aku akan kembali nanti," ucap Haikal.


Halimah membalikkan badan, ia melihat Haikal, pakaiannya basah, kondisinya
tak jauh berbeda dengannya. Ada kesedihan juga kekhawatiran di matanya.
Tidak seharusnya ia terlibat dalam masalahnya.


"Terimakasih mas," ucap Halimah tulus.
_______


Malamnya putri satu-satunya Dasinun itu menjalani hari seperti biasa,
tiada air mata, tiada keluhan juga lamunan, tak ada senyuman juga tak ada
motivasi dalam wajahnya. Halimah memilih diam, ia yakin Rhandra akan
memenuhi janjinya. Ia yakin suaminya itu akan datang menjemputnya.


"Halimaah," sapa Dasinun.


"Ya Bue."


"Jika ada yang ingin kamu ceritakan, Bue siap mendengarnya Nak."


"Tidak ada Bue."


Halimah hancur, semua mata memandangnya aneh, tak Dasinun juga Haikal
mereka menganggap apa yang terjadi pada hidupnya hanyalah sebuah mimpi juga
halusinasi belaka.


Mendengar cerita dari Haikal saat mereka pulang, Dasinun pun merasa heran.
Bagaimana mungkin ke dua anaknya bisa bersamaan berhalusinasi. Dwi adiknya
begitu yakin, bahwa ia menikahkan kakaknya dengan seorang laki-laki yang ia
sudah lihat. Dwi pun menjelaskan, bahwa ia dengan lancer membaca kalimat
syahadat.


Dasinun bimbang, apapun yang terjadi terhadap Halimah, ia yakin putrinya
tidak pandai berdusta. Ia yakin apa yang dikatakan semua adalah kebenaran
yang nyata.
______


Hari berganti Hari, satu minggu sudah Rhandra tak muncul di pelupuk mata
Halimah, setiap detik, menit, jam dan hari Halimah selalu menunggu untuk di
jemput, yang Halimah kerjakan hanya mengurung diri dalam kamar, dan
menangisi keadaannya. Rindu yang ia rasakan tak seindah yang dirasakan
orang lain, bagi Halimah rindu yang ia rasakan amatlah menyiksa.


Halimah diam termenung dikamarnya, ia hanya menatap bulan seraya memeluk
Jaket Parker berwarna coklat gelap, agar ia merasa Rhandra dekat dengannya.
Ia yakin Rhandra tak akan meninggalkannya sendiri, ia yakin Rhandra pun
mencintainya seperti ia yang sangat mencintainya.


Dasinun mengintip Halimah dari sisi pintu yang terbuka, Ia pun tak yakin
jika putrinya menjadi korban gangguan makhluk astral, Halimah adalah
seorang wanita yang kuat dan taat beragama, nasib seperti itu harusnya tak
ia alami. Pelan wanita tua itu menitikkan air mata, ia tak tega melihat
putrinya dilanda kecemasan yang amat dalam.


Dasinun menuju ruang tengah, dilihatnya rak buku yang berada persis
disebelah meja makan. Saat kejadian kebakaran tempo lalu, rak buku ini
turut selamat.


Sudah lama ia tak mendengar putrinya melantunkan ayat-ayat Allah. Dasinun
bangkit, ia lihat Mushaf milik suaminya masih ada disana, Mushaf itu sudah
berdebu, tiap halamannya pun sudah kaku dan berwarna kuning tua, Mushaf
Ayahnya adalah Mushaf terlama yang mereka punya.


"Halimah," sapa Dasinun seraya membuka pintunya.


Halimah diam, ia masih termenung dalam duduknya, jari-jari tangannya
memegang cincin yang tersemat di jarinya yang lain.


"Nak…." Dasinun memegang pundaknya, ia menahan tangis saat melihat wajah
putrinya. Ia ingin terlihat kuat agar putrinya kuat.


Halimah masih diam dalam keheningan hatinya.


"Bue, sudah lama tak mendengarmu tadarus nak."


Halimah terperangah ia teringat dengan mushaf miliknya, Mushaf itu belahan
jiwa Halimah, Mushaf itu adalah wujud cintanya pada Tuhan, Halimah senngaja
menitipkannya pada Rhandra agar terbuka pintu hatinya.


"Mushaf Halimah, Halimah sudah titipkan Rhandra Bue," jawab Halimah datar.


Dasinun duduk disebelahnya, ia memeluk Halimah erat.


"Bue percaya nak, Bue percaya denganmu, Halimah Bue tak akan mungkin
berdusta…."


Halimah tetap diam, air matanya sudah kering. Ia sudah pasrah akan
hidupnya, baginya mati adalah hal yang paling indah dibandingkan harus
berpisah dan kehilangan Rhandra.


"Ini…Punya Ayahmu….Bacalah Nak," ucap Dasinun, matanya sudah tak sanggup
menahan air mata, pelan ia teteskan air matanya dan terjatuh diatas Mushaf
Ayahnya.


Halimah menatap Mushaf Ayahnya yang sudah using, ia meraba dengan kedua
jarinya. Ingin rasanya ia membaca kembali surat Kahfi, agar Allah
senantiasa menolongnya.


"Ya Allah aku adalah hambamu yang senantiasa membaca mushafmu dikala
longgar, aku adalah hambamu yang senantiasa menjaga sholatku, aku adalah
hambamu yang senantiasa mengingatmu dikala sulit, bantulah aku ya Allah …
Menerima kenyataan Rhandra telah meninggal sungguh sulit bagiku," bisik
Halimah berdoa dalam hatinya. Doa yang hampir serupa dengan mereka ashabul
kahfi.


Mereka Ashabul kahfi, berdoa seraya menyebutkan amalan-amalan andalan
mereka di dunia, mereka meminta belas kasih Allah, dan tak lam pertolongan
itu pun datang.


Air mata menetes di pipinya, saat ia membacakan doa di hatinya dengan
begitu tulus dan penuh harap.


"Ayahmu itu adalah harta yang paling berharga buat Bue … Bue sangat
mencintai Ayahmu Nak. Butuh waktu lama baginya untuk bisa meluluhkan hati
Bue, setelah delapan tahun lamanya, akhirnya Bue luluh dan mau menikah
dengannya. Menikah dengannya adalah yang paling terindah dalam hidup Bue,
susah,senang, lapar , bahagia, pernah kita lalui bersama," tutur Dasinun,
berusaha menghibur Halimah dengan ceritanya.


Halimah terperangah, cerita dasinun mampu membuatnya sadar dari lamunannya.


"Apa yang Bue lakukan saat Ayah meninggal," tanya Halimah, ia mulai terbawa
dengan cerita Dasinun.


"Kesedihan tak bisa dipungkiri, namun Bue yakin suatu saat bue bisa bersama
dengan Ayahmu di surga Nduk, bersama kalian, yang perlu Bue lakukan
sekarang hanya bisa menjalankan hidup yang lebih baik, agar bisa bersamanya,"


Halimah tersenyum tipis mendngar cerita Dasinun, harapan seperti terbuka
baginya, bahwa tak selamanya ia akan berpisah dengan Rhandra. Suatu saat
entah esok, lusa, 10 tahun kedepan atau mungkin hari ini ia bisa berjumpa
dengan Rhandra.


Bukan disini, bukan dibumi melainkan di surganya. Sedikitnya cerita Dasinun
telah membuat mata hati Halimah terbuka, ia lebih yakin untuk menjalani
hidup, ia tak sendiri ada Rhandra yang senantiasa singgah dihatinya.


Halimah bangkit, ia maju mendekat ke arah jendela. Ia menatap ke arah
bulan. Semoga malam ini Rhandra bisa merasakan sinyal rindu yang teramat
besar darinya.


"Rhandra…Aku tak akan menangis, aku akan lebih kuat, aku akan terus
menunggumu Rhandra," ucap Halimah lembut.


Halimah erat memegang dadanya, nafasnya begitu sesak. Namun ia berjanji ini
adalah terakhir ia menagisi laki-laki yang selalu bertengger di hatinya.


Dasinun mendekat, ia cium ubun-ubun putrinya dan memeluknya. "Semoga Allah
menguatkanmu Nak, menguatkan hati juga langkahmu…."


________


Fajar menyingsing. Halimah bangkit dan menjalani hari-harinya
sebagai putri Dasinun, sejenak ia lupakan posisinya sebagai istri Rhandra
Abyakta.


Pukul tiga pagi anak perempuan Dasinun sudah bangun ia tahajud, bermunajat
mendoakan kebaikan bagi dirinya juga keluarganya, dan satu doa khusus hanya
untuk suaminya Rhandra, ia lanjutkan membersihkan dan menyiapkan sarapan.


Halimah membangunkan ke dua adiknya, juga Dasinun. Tak ada yang aneh,
Halimah ingin kembali menjadi seorang perempuan yang kuat dan tangguh,
cintanya pada Rhandra hanya membuatnya lemah.


"Assalamualaikum…." suara Haikal terdengar.


"Waalaikumsalam…." jawab mereka.


Setiap malam sejak kembalinya dirumah, Haikal rutin menemuinya. Laki-laki
itu masih percaya bahwa Halimah adalah wanita tak bersuami, apa yang
terjadi menimpanya adalah merupakan sebuah kesalahan yang harusnya tak
terjadi. Haikal masih meyakini bahwa Halimah berhalusinasi.


Setiap pagi dan malam Haikal datang, ia menjumpainya meskipun Halimah
enggan bertemu dengannya. Semangat Haikal tak goyah, ia ingin merubah
lengkung bingkai diwajahnya, ia ingin melihat Halimah kembali seperti dulu.


"Sarapan mas…." ajak Halimah. Hati Haikal bergetar, ini adalah kali
pertamanya Halimah mengajaknya berbicara setelah tiga malam ia mendatangi
rumahnya.


Haikal mengangguk, Dwi memberikan posisi tempat duduknya untuk Haikal.


Halimah bicara namun tatapannya tidak untuknya, sorot matanya hambar, kosong.


"Halimah, kamu tidak makan?" tanya Haikal saat melihatnya meninggalkan meja
makan.


"Sudah Mas," jawabnya datar.


Halimah masuk kedalam kamar, ia bergerak menuju jendela kamarnya.
Dilihatnya anak-anak berseragam sedang berlarian didepan rumahnya, mereka
terlihat berbahagia menyambut hari pertama sekolah. Terlintas dipikiran
Halimah, ia ingin kembali mengajar. Hanya anak-anak yang mampu membuatnya
kuat dan melupakan Rhandra.


Halimah keluar dari kamarnya, ia mengenakan setelan pakaian baju kurung
selutut berwarna biru tua, rok berwarna sepadan dan hijab berwarna putih.
Ia keluar, dilihatnya Haikal sedang berbincang dengan Dasinun di ruang depan.


Halimah menemui mereka.


"Mas Haikal apa saya masih bisa mengajar?"


Haikal terperangah, Halimah terlihat elok mengenakan seragam tempat ia
mengajar dulu.


"T…tentu Halimah…sangat bisa, anak-anak sangat merindukanmu."


"Kapan Halimah bisa mulai?"


"Terserah Halimah," jawab Haikal penuh semangat.


"Apa bisa kita mulai hari ini?" tanyanya datar.


"Bisa Halimah, kita bisa berangkat sekarang…." jawab Haikal bersemangat.


Halimah masuk kedalam ia mengambil tasnya, dan beberapa keperluan
mengajarnya. Ia keluar dengan penuh harap ia bisa menghilangkan rasa rindu
yang menggila pada Rhandra.


"Ayo mas…."


"Saya pamit bu," ucap Haikal seraya mencium tangan Dasinun.


Halimah mencium Dasinun dan pergi bersama Haikal.


Sinar baru menyelimuti rasa suka Haikal, ia mulai melihat perubahan pada
diri Halimah, ia melihat semangat baru didirinya. Semangat yang ia ingin gapai.


Entah kemana Allah membawa perjalanan cintanya pada Halimah.


Haikal teringat saat ia pertama kali bertemu dengannya.


Saat itu Halimah hanya sibuk menyiapkan materi untuk anak-anaknya belajar,
ia sama sekali tak terpukau dengan kedatangan seorang pemlik yayasan.
Disaat mereka mendekati Haikal dengan penuh harap, Halimah justru berpaling
dan mengutamakan murid-muridnya terlebih dulu.


Esoknya, Haikal datang kembali ke surau. Dari jauh ia lihat Halimah tengah
sibuk bermain bola dengan anak-anak, Haikal suka semangatnya, pelan ia
mendekati wanita yang mulai mencuri perhatiannya ini.


"Assalamualaikum …," sapa Haikal pada Halimah.


"Waalaikumsalam …," jawab Halimah lembut, suaranya begitu merdu, kulitnya
begitu putih bibirnya mungil, matanya bulat berwarna hitam pekat.


"Lagi sibuk?" tanya Haikal, seraya membungkukkan badannya, bibirnya
menyungging keatas dan kedua tangannya ia lipat kebelakang.


"Tidak pak," jawab Halimah pelan dan penuh takdzim.


"Kemarin saya tidak melihat …,?" tanya Haikal seraya menaikkan dahinya.


"Halimah pak, nama saya Halimah … Mohon maaf sebelumnya pak, saya hanya
guru extra disini hanya mengajarkan anak-anak mengaji, saya bukan guru
kelas yayasan, Mohon maaf saya tidak ikut karena memang tidak ada undangan
untuk saya," tutur Halimah.


"Oo…."


Saat itu Halimah terus berpaling dari tatapan matanya yang penuh rasa ingin
tahu, ia berharap Halimah bisa menyambut pandangannya.


"Awas pak …," teriak Halimah seraya berlari mendekatinya.


Haikal terperangah, Halimah baru saja menangkap bola yang hampir saja
mengenai wajahnya.


Kedua mata itu bersambut, Halimah dengan senyum dan perasaan bersalah
memegang bola dihadapannya, jaraknya sangat dekat.


Bibir yang gugup itu perlahan berubah menjadi tawa, Halimah tertawa saat
Haikal menyambutnya dengan senyuman.


Sejak itu hubungan mereka menjadi cair, Haikal sering menemuinya di Surau
tempatnya mengajar, ia mengamati Halimah dari ruangan kerjanya.


Kadang ia suka memberikan Halimah perhatian-perhatian kecil, seperti
membelikan sarapan tanpa sepengetahuannya, menambahkan bonus bulanan, juga
meletakkan bunga di tasnya secara diam-diam.


Ia juga yang memberikan sebuah telepon genggam agar Halimah bisa
berkomunikasi jarak jauh dengannya.


Halimah adalah wanita sederhana yang waktunya habis untuk keluarganya,
syukurnya Dwi dan Sur mendapatkan beasiswa di sekolahnya, jadi ia tak perlu
bekerja lebih keras untuk itu.


Menjadi seorang guru adalah cita-citanya sejak lama, meskipun hanya guru
extra dan mengajar anak-anak cara mengaji yang benar, Halimah sangat
mensyukurinya.


"Mas sudah sampai…." suara Halimah menyadarkan lamunannya.


Haikal tiba di yayasan beserta Halimah, Halimah turun dari mobil dan
seketika anak-anak berhamburan berlari kearahnya.


Keceriaan itu kembali di wajahnya, Halimah menghampiri anak-anak ia
bungkukkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan mereka. Mereka berebut memeluk
tubuh Halimah.


Halimah telah kembali, senyum itu kembali di wajahnya. Haikal terenyuh, tak
sadar air matanya meleleh.


***
Pagi itu Halimah menjadi sorotan, kedatangannya bersama Haikal menjadi
perbincangan para guru juga pengurus yayasan. Haikal yang sejak kemarin
mengawal Halimah, kini telah berhasil membuatnya tersenyum.


"Suatu saat kamu akan tersenyum untukku Halimah," bisik Haikal dalam hatinya.


Ia tinggalkan Halimah, ia menuju ke kantornya di yayasan. Suka cita
memenuhi wajahnya, laki-laki itu begitu semangat menjalani hari.


"Halimah selamat ya …," tutur beberapa teman sekerjanya.


Halimah hanya diam, ia tak menanggapi mereka yang datang memberikan selamat
kepadanya. Mungkin mereka berfikir, bahwa Halimah dan Haikal sudah
melangsungkan pernikahan, atau mungkin pertunangan.


Siang menjemput, Haikal datang membawakan makan siang untuknya.


"Halimaah …," sapanya pada Halimah yang tengah bersiap untuk pulang.


"Makan siang dulu."


"Terimakasih Mas, Halimah tidak lapar," jawabnya datar seraya berjalan
melewatinya tanpa berpaling.


"Halimah tunggu!" ucap Haikal suaranya sedikit agak tebal.


"Kamu belum makan sejak tadi, mas tau itu … kamu tidak boleh menyiksa diri
seperti ini," tuturnya khawatir.


"Berhentilah memberi perhatian pada Halimah mas. Mereka semua bertanya ada
hubungan apa Mas dengan saya. Sampai saat ini saya masih bersuami, dan
selamanya akan seperti itu. Mengertilah mas, nama mas Haikal sudah tidak
ada di hati Halimah," tutur Halimah, Halimah pergi meninggalkan Haikal
dengan luka di hatinya.


Perkataan Halimah sungguh membuat Haikal hancur, hatinya bagai terhunus
pedang, Haikal diam seribu bahasa, perhatiannya selama ini belum juga
mengembalikan perasaanya yang lama untuknya.


Halimah kembali, ia berjalan kaki menuju bengkel sepeda langganannya,
dilihatnya sebuah sepeda yang akan dijual.


"Assalamualaikum, Pakdhe," sapa Halimah lembut.


"Waalaikumsalam bu guru, apa kabar bu guru … sudah lama tidak kelihatan,
kemana saja."


"Banyak yang harus saya urus Pakdhe, oh ya pakdhe berapa harga untuk sepeda
ini?"


"500ribu bu guru."


"Apa bisa saya membayarnya akhir bulan Pakdhe atau mencicil," tuturnya memohon.


"Khusus bu guru boleh….Monggo digowo."


"Saya bayar 100 ribu dulu ya Pakdhe, sisanya menyusul, matursuwun nggih,"


Halimah bernafas lega, kini bisa menyusuri pedesaan seperti dulu. Ia naik
ke sepedanya baru, ia kayuh dengan penuh semangat. Ia dihadapi dua arah
jalan didepan, kanan Gedong tua dan kiri rumah barunya.


Halimah diam, tak lama alam bawah sadarnya membawa ke Gedong tua, ia kayuh
dengan penuh semangat seraya menikmati embusan angin yang begitu sejuk
meski matahari sangat terik.


Dihadapannya, kini gerbang Gedong tua. Gerbang tidak terkunci rapat, jika
Rhandra ada didalam Ia pasti sudah mengunci rapat semuanya, Halimah masuk.


Ia parkirkan sepedanya di bawah pohon beringin yang berada didepan persis
pintu utama Gedong tua, seperti biasa ia bersihkan halaman dari bebatuan
yang bisa membuat orang terluka karenanya.


Pelan Halimah beranikan diri masuk kedalam, pintu-pintu disana sudah
terbuka , beberapanya sudah hancur dimakan rayap ataupun tikus. Beberapa
pajangan rumah yang sebelumnya ia lihat pun sudah hilang ada pula yang
hancur, foto-foto di ruangan tengah tak beraturan.


Halimah mendekat ia rapihkan susunan foto itu dengan rasa rindu yang begitu
membara, Ia mulai berjalan ke arah lorong yang menghubungkannya ke dapur
tempat Mbok Sum atau lantai tiga kamar Rhandra.


Tak ada kehidupan didalamnya, Halimah diam dipersimpangan, ia lemah, ia
duduk jongkok diantara ke dua arah itu, kedua tangannya melipat lututnya
yang menempel didada yang terasa sesak.


Halimah rapuh, ia tak kuasa menepati janji pada dirinya sendiri, ia kembali
menangis.


Ia menarik nafas, merasakan kesedihan yang teramat dalam, ia rindu, ia
rindu Rhandra Abyakta.


"Aku rindu kamu Rhandraaa……" air mata itu meleleh, Halimah payah, jiwanya
tak menentu.


Embusan angin itu pun datang menyambutnya, ia menyejukkan sendi-sendi
tubuhnya, Halimah berdiri ia edarkan pandangannya ke sekeliling ruangan,
hembusan angin itu berputar seperti melindungi tubuhnya.


"Keluarlah … muncullah … bukankah kamu sangat suka mengangguku. Keluarlah
dan buat Rhandra datang padaku," ucapnya memohon


"AKU MOHON KELUARLAH!" teriak Halimah seketika hembusan itu menjauh darinya.


"Huaaaah...." Halimah tak sanggup menahan kesedihannya dadanya penuh sesak,
ia tak sanggup menahan sakitnya rindu yang teramat dalam.


Ia tutup wajahnya dengan kedua tangannya, Halimah hempaskan tubuhnya keluar
dan berlari meninggalkan Gedong tua.


Halimah mengambil sepedanya, pelan ia kayuh sepedanya, jauh dihadapannya
terlihat desa tempat tinggalnya dulu. Beberapa orang melintas dihadapan
Halimah, mereka mencibir Halimah, wajah-wajah mereka penuh dengan rasa
curiga, cibiran mereka yang mengatakannya sakit jiwa, ada juga yang
mengatakan dia menikah dengan setan agar kaya, ada juga yang mengatakan ia
menjadi tumbal demi keluarga.


Halimah bergeming, ia tak mempedulikan apa yang mereka katakan tentangnya.
Ia masih yakin suatu hari Rhandra akan datang kembali bersamanya.


#BERSAMBUNG


__________




Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar