#MENIKAH_DENGAN_SETAN
Part 6
___________
"Allahuakbar-Allahuakbar!" lagi-lagi suara adzan yang berasal dari surau
di desa membangunkan Halimah, ia terbangun, Rhandra masih terlelap
disampingnya tubuhnya sama sekali tak bergeser dari tempat semula. Halimah
bergegas, ia sholat subuh dikamar tanpa sepengetahuan Rhandra, ada rasa
nyaman dihatinya yang teramat dalam.
Halimah bergegas, ia meninggalkan Rhandra sendiri halimah pergi ke dapur,
Mbok sum sudah siap dengan beberapa sayuran yang sudah dibeli pak Darmin
setiap minggunya.
"Biar saya saja yang masak mbok." Halimah lebih tenang, rasa takut juga
trauma akan gangguan makhluk astral itu sedikit berkurang.
"Nggih Non, Mbok bantu ya."
"Nggih mbok."
"Makanan apa yang Rhandra suka Mbok?"
"Den Rhandra hanya makan sayur-sayuran, dada ayam tanpa kulit, ikan, beras
merah, roti gandum, buah-buahan kecuali yang asam, buah alpukat ia sangat
suka, dan semua harus dimasak tanpa minyak Non, kalau Non mau pakai minyak,
hanya boleh menggunakan minyak zaitun, semua sudah Mbok catat dan tempel di
kulkas, oh ya susu kedelai, mbok sudah buatkan stok untuk Aden Non, nanti
tinggal dihangatkan saja, ia hanya boleh minum susu nabati Non, setiap pagi
biasanya Mbok bawakan dia susu kedelai ditambah roti isi sayur."
"Nggih, terimakasih Mbok, biar saya yang siapkan sarapannya."
Halimah membuatkan roti isi yang berbeda dengan yang si mbok buat kemarin,
kemarin pagi ia sempat mencicipi roti buatan si Mbok, pagi ini ia ingin
membuatnya sedikit berbeda dengan tulus ia membuatkan roti isi sayur yang
ia campur dengan potongan daging ayam yang sudah direbus lalu ia potong
kecil-kecil, ia campurkan semua sayuran juga ayam kedalamnya ia tambahkan
minyak zaitun, garam dan sedikit lada. Halimah lalu memanggang sedikit
rotinya, terakhir menyusunnya menjadi potongan roti isi yang lezat, brokoli
dan wortel rebus yang sudah ia bumbui menjadi penghias disekitarnya,
Halimah memang pandai memasak. Halimah berharap Roti ini bisa mengungkapkan
rasa terimakasihnya pada Rhandra.
Pelan Halimah membawa nampan itu menuju kekamarnya, didalamnya Rhandra
masih tertidur pulas, ia belum beranjak dari posisi ia tidur semalam,
meringkuk dan menghadap ke arah pintu.
Halimah meletakkan roti isi juga susu kedelai itu di nakas sebelah Rhandra
kemudian ia duduk dilantai persis disebelahnya berhadapan dengan wajahnya.
Halimah terpaku, ia duduk dan mengamati Rhandra lebih dalam, alisnya yang
tebal, hidungnya yang mancung, juga kulitnya yang sedikit agak kecoklatan,
Rhandra terlihat begitu manis saat tertidur sejenak ia teringat dengan
Haikal, ia membandingkan wajah juga prilakunya yang sangat berbeda jauh
dengannya, Haikal pun juga memiliki hidung yang mancung, bibir yang tipis
dan warna kulit sedikit lebih putih dibandingkan Rhandra, namun ia berbeda
ketidakpercayaannya padanya sungguh membuah Halimah kecewa, bahkan Rhandra
bisa jadi lebih baik darinya.
Halimah hanyut, tiba-tiba hembusan angin menerpa wajahnya, hijab yang ia
kenakan lepas seketika, Alam seperti menunggu penyatuan dua insan yang
sudah sah menjadi sepasang kekasih itu.
Rhandra membuka matanya, dilihatnya Halimah bagai bidadari yang turun dari
langit, ia sedang berpaling dan membenarkan hijabnya, Halimah terlihat
begitu anggun, ia cantik saat rambutnya terurai, saat tangan itu mengambil
hijab dan hendak memasangkannya, Tangan Rhandra bergerak dan menangkap
lengannya. Mata mereka beradu, degup jantung mereka berdetak semakin parah,
desiran hati, dan aliran darah seakan naik memuncak ke ubun-ubunya. Halimah
menatapnya dengan takut,
"Biarkan hijab itu, bukankah aku berhak melihat rambutmu yang terurai itu?"
ujar Rhandra.
Halimah diam, ia melepas hijab dari genggamannya dan membiarkan rambutnya
terurai, hembusan angin berulang kali menerpa rambutnya yang tak terikat,
Rhandra bangkit dari ranjang ia membenarkan rambutnya dan menyempilkan
dikedua telinganya. Bibirnya sedikit mengungging ke atas, dada halimah
terlihat kembang kempis begitu cepat.
Rhandra mengelak, ia bangkit dan keluar. Rona pipinya memerah, ia berlajan
seraya memegang dadanya yang berdegup kencang.
Halimah tertunduk diam dan malu, batinnya menyangkal, laki-laki yang berada
dalam mimpinya semalam bukanlah Rhandra melainkan Jin yang merasuk dalam
mimpinya, Rhandra yang ia kenal adalah laki-laki yang sangat melindungi
juga menghormati perempuan, Halimah bangkit
"Tunggu Rhandra!" Ia memberhentikan Rhandra yang tengah beranjak menaiki
tangga.
Halimah kembali kekamar dan membawakan sarapan yang telah ia buat, ia
hantarkan perlahan menuju kearahnya rambutnya masih terurai, Rhandra
menatapnya dari wajah hingga ujung kaki, nyaris sempurna batinnya.
"Sarapanmu."
"Terimakasih."
"Rhandra!" Panggil Halimah.
"Hem." Ia menjawab tanpa berpaling.
"Terimakasih."
Pagi itu adalah awal baru bagi Rhandra dan Halimah, keduanya saling
menyimpan rasa juga penasaran, keduanya saling ingin mengetahui satu sama
lainnya.
Rhandra menangis, ia menangis dengan perasaan yang ia alami, hasratnya yang
membara untuk bisa memeluk, mencium Halimah sangat besar, dan mendadak ia
menentang semua itu, ia tak bisa melakukannya.
Kesedihan dan nestapa tiba-tiba mendera dirinya.
Awalnya ia ingin memuaskan batinnya dengan menikahi Halimah, ia ingin
menghancurkan tembok besar dalam dirinya, ia sudah tak tahan dengan kutukan
Tuhan terhadapny, namun dua malam ini ia begitu tersentuh, perasaannya
sangat mendalam, begitu Halimah memeluknya dengan erat seketika perasaan
yang belum pernah ia rasakan muncul, entah dari mana datangnya, namun kini
ia merasa ia sudah jatuh hati pada gadis desa yang kini telah sah menjadi
istrinya. Ia sangat menghormati Halimah, Keinginannya untuk melakukan
kebutuhan biologis perlahan-lahan surut.
Halimah kembali kebawah untuk membantu Mbok Sum, Mbok sum terlihat sedang
membersihkan halaman belakang,
"Mbok" sapanya
"Non, gimana ? sudah dikasih Aden sarapannya?"
"Sudah Mbok."
"Mbok..itu apa?" tanya Halimah heran melihat sebuah taman yang dihalangi
batas pagar, ada rumah kecil juga ada bebatuan yang menempel ditanah
terlihat seperti makam.
"itu.. makam?"
"Non, ingat kata si Mbok? Non jangan pernah kesana ya, non ingat?"
"Iya tapi itu apa?"
"Itu makam keluarga besar Den Rhandra."
Halimah menatap ke arah makam, jiwanya seperti tertarik kedalamnya, entah
mengapa jiwanya bergetar dan "Haalimaaah.." suara itu seperti memanggilnya
untuk datang, Halimah melangkah ia mengikuti suara yang terus menerus
memanggil namanya.
"Non!" teriak Mbok Sum
"Heh.. Astagfirullah" Halimah sudah 50 meter berjalan dari pekarangan
menuju makam, dan ia sama sekali tidak menyadarinya.
Halimah lelah ada seseorang yang memanggil jiwanya terus menerus, bahkan
tak jarang ia mengeluarkan suaranya seperti bisikan ditelinganya.
Penampakan seorang wanita pun tak ayal sering ia jumpai.
Pukul delapan malam Rhandra keluar dari kamarnya, dari jauh ia melihat
Halimah sedang mempersiapkan makan malam untuknya, disisinya ada Mbok Sum
yang selalu setia membantunya, hari ini Halimah menjalani semua
perintahnya, rumahnya terlihat lebih rapih dan bersih, lemari-lemari yang
berada disetiap sudut rumahnya bersih tak berdebu, lukisan-lukisan tua yang
awalnya terlihat miring, malam ini begitu rapih, foto-foto diruang tengah
pun tersusun rapih, sofa dan kursi tua di ruangan depan bersih.
Jiwa Rhandra seperti tertarik, memorynya mengingatkan pada sebuah gambaran
yang cukup membuat hatinya bertanya ia melihat pemandangan dihadapannya
persis seperti nyata, anak berusia 3 tahun itu berlari menuju ibu
kandungnya yang tengah duduk dikursi tua yang biasa ia duduki.
"Den!" tegur Sum
"Hah, iya.. makanan sudah siap" ajaknya keruang makan.
Rhandra duduk di kursi miliknya, sedangkan Halimah duduk dibawah lantai
yang tak jauh darinya.
"Duduklah disini Halimah" Halimah beranjak, ia duduk disebelah kanannya.
Saat makan malam Rhandra, hanya diam ia tak berkomentar sedikitpun atau
menanyakan apapun pada wanita disebelahnya, Rhandra menikmati sajian yang
dibuat Halimah.
"Rhandra.."
"Ya" jawabnya tak berpaling ia sibuk dengan hidangan yang disajikan.
"Apa aku boleh..hmm.. mengunjungi keluargaku?" tanyanya memohon ada rindu
yang begitu besar dihatinya.
"Tidak boleh!"
"Aku mohon Rhandra, aku janji tak akan lama, aku rindu ibuku Rhandra, aku
ingin tahu keadaannya Rhandra."
"Mbok!"
"Ya Den."
"Panggil Pak Darmin."
"Nggih Den."
Rhandra melanjutkan makan malamnya, batin Halimah senang, mungkin ia akan
meminta Darmin untuk mengantarnya.
"Den." Darmin datang.
"Jelaskan pada Halimah, bagaimana kondisi keluarganya."
"Keluarga Non baik-baik saja, semua dalam keadaan aman, tidak ada yang
perlu dikhawatirkan."
"Aku rindu Rhandra, aku butuh keluargaku saat ini Rhandra, aku janji beg..."
"CUKUP!" bentaknya memotong ucapan Halimah.
Halimah bangkit dari tempat ia duduk, ia hendak pergi meninggalkan ruang makan.
"Duduk!"
Halimah menghentikan langkahnya, muka masamnya memandang Rhandra, bibirnya
mencibir kesal melihat kegoisan Rhandra.
"Duduk.!" Rhandra menarik lengannya, matanya menghadap lurus kedepan, ia
terus melumat makanan tanpa memperhatikan perasaan Halimah yang terluka.
"Makan!" celetuknya lagi, ia mengambilkan Halimah beberapa makanan diatas
piringnya.
Dengan muka masamnya Halimah melahap makanan yang ia ambilkan. Hatinya
mengerutu karena kesal.
"Kalau kamu benci sama aku, lebih baik kamu habiskan makanannya, hanya
dengan kekuatan kamu bisa melawanku!" rutuknya.
Halimah diam, ia tak menghiraukan perkataan Rhandra.
"Roti tadi pagi..."
Halimah tercengang, bersiap-siap hinaan apa yang keluar dari mulutnya.
"Enak, aku suka." bibir Halimah diam namun hatinya tersenyum lebar dan puas.
Malam ini Halimah resah kerinduannya pada keluarganya membuat hatinya tak
menentu, dan Rhandra sama sekali tak mempedulikan perasaannya membuatnya
cukup kecewa padahal baru tadi dia sudah mencoba membuka pintu hati untuknya.
"Non" sapa si Mbok yang melihat muka masamnya saat membersihkan meja.
"Ya Mbok."
"Maafkan Den Rhandra ya Non, Non yakin saja apa yang dikatakan Aden itu
yang terbaik buat Non."
"Saya hanya ingin melihat keluarga saya Mbok, kenapa sulit sekali, saya
janji saya akan kembali."
"Non yang sabar ya." Ujar si Mbok seraya meraba-raba punggungnya.
Malam semakin larut, suasana Gedong tua semakin sunyi dan udaranya semakin
dingin, suara burung hantu, jangkrik, melebur menjadi satu. Halimah terus
mondar-mandir dikamarnya, ia terus membayangkan hal yang tidak-tidak
terjadi lagi padanya, bayangannya terus kembali pada sosok wanita yang ia
lihat, bulu kuduknya kembali merinding, lehernya kembali dingin. Halimah
duduk diranjang kedua kakinya ia silangkan dan,
"Allahulaa ilaahaillahuawalhayyulqoyyum, laata'khuduhu sinatuwwalanaum,
lahumaafissamawati wamafilardi, mangdzalladzi yasyfa'u ngindahu illa
biidnih, ya'lamuma bayna aydihim wamaa kholfahum,
walayuhithunabisyai-immin'ilmihii illa bimasyaa, wasia kursiyuhussamawati
wal'ard, walaa yauduhu hifduhuma wahuawal'aliyyul adim"
Halimah terus membacanya berulang-ulang, semakin ia takut semakin ia
membesarkan bacaannya. Halimah menutup mata seraya menggoyang-goyangkan
tubuhnya kekanan dan kekiri.
Tak lama suara orang berlari terdengar, dan membuka pintu kamarnya dengan
kasar.
"Heh!" Halimah tak bergeming ia tau Rhandra pasti akan datang dan melarangnya.
"HENTIKAN!" Halimah terus melanjutkan ayat-ayat kursi dan tak menghiraukan
panggilan Rhandra.
"Berhenti..!" Rhandra naik keatas ranjang dan menutup mulutnya dengan
tangannya. Halimah melotot dan pelan ia menggigit telapak tangan Rhandra.
"Auuu!" jerit Rhandra kesakitan.
"Berani sekali kamu!"
"Kenapa? Kamu takut aku membaca ayat-ayat Allah?"
"Ternyata benar kamu adalah Syaiton bertubuh manusia, kamu akan merasa
panas jika aku membacanya!"
"Apah?" Rhandra murka, ia menarik pakaian dan mencengkramnya, tubuh
tertarik kedepan kedua mata itu bertemu, matanya melotot tak berkedip.
"Kamu tau, Rhandra aku rindu, aku rindu ibuku, adik-adikku, aku rindu pada
mushafku yang setiap malam aku baca, seandainya aku tahu nasibku akan
seperti ini, aku pasti sudah menjadi seorang penghafal Quran, hanya dengan
membacanya hatiku merasa tenang, kamu mungkin tidak pernah tau, karena kamu
belum pernah merasakan apa itu arti tenang.Hanya Allah saat ini yang
menemaniku."
Halimah menangis, dadanya sulit bernafas, Pelan Rhandra melepaskan
cengkraman dibajunya. Ia bangkit dari tempat ia duduk, dan keluar
meninggalkan Halimah.
Dipintu kamar Halimah Rhandra bersandar, ia selorotkan tubuhnya kebawah,
tangannya ia kepal kedepan, kedua sudut matanya basah, belum pernah hatinya
sesesak ini, sesekali ia memandang ke atap, kalimat Halimah barusan cukup
membuat hatinya bergetar dan tak lama suara Halimah kembali terdengar
"Allahulaa ilaahaillahuawalhayyulqoyyum, laata'khuduhu sinatuwwalanaum,
lahumaafissamawati wamafilardi, mangdzalladzi yasyfa'u ngindahu illa
biidnih, ya'lamuma bayna aydihim wamaa kholfahum,
walayuhithunabisyai-immin'ilmihii illa bimasyaa, wasia kursiyuhussamawati
wal'ard, walaa yauduhu hifduhuma wahuawal'aliyyul adim"
Suaranya terdengar begitu merdu, namun kali ini ia membacanya seraya
terisak. Rhandra bangkit dan kembali kekamarnya.
Suara adzan subuh kembali membangunkan Halimah, namun kali ini tak ada
Rhandra disampingnya, jiwanya kembali bergetar, ia ketakutan lampu minyak
yang mbok sum pasang sudah mati satu, hanya tersisa satu dan minyaknya pun
tinggal sedikit, Halimah membawanya perlahan kearah kamar mandi ia
langkahkan kakinya pelan, ayat kursi terus ia lafazkan dimulutnya,
"Tolong jangan ganggu, tolong, saya hanya ingin sholat."
Halimah berdiri persis didepan kamar mandi, seluruh tubuhnya bergemetar,
air matanya mulai mengalir, semilir angin lembut berhembus disekitar
lehernya membuat kuduk disekitar lehernya mengembang Tiupan angin
menerpanya, jendela kamarnya terbuka.
Halimah Syok seketika wajahnya membiru, dan lampu itupun padam .
"HAAAAA! wanita itu muncul dengan mata berdarah persis dihadapannya.
""Allahulaa ilaahaillahuawalhayyulqoyyum, laata'khuduhu sinatuwwalanaum,
lahumaafissamawati wamafilardi, mangdzalladzi yasyfa'u ngindahu illa
biidnih, ya'lamuma bayna aydihim wamaa kholfahum,
walayuhithunabisyai-immin'ilmihii illa bimasyaa, wasia kursiyuhussamawati
wal'ard, walaa yauduhu hifduhuma wahuawal'aliyyul adim" Halimah berlari,
ayat kursi terus ia panjatkan ia berlari kesegala arah, kakinya tersandung
lipatan karpet, wanita berambut panjang itu mendekatinya, "Aku mohon
jangan… jangaaaan!"
"HALIMAH!" pintu itupun terbuka, seketika bayangan itu pergi menjauh,
Rhandra mencari Halimah dan melihatnya sudah terkapar dilantai, Halimah
pingsan sesaat saat roh wanita itu mendekatinya.
"Halimah bangun Halimah!" Rhandra menggotongnya dan menidurkannya diatas
ranjang,
"Mboook!" teriak Rhandra.
"Ya Den!"
"Ambilkan minyak angin, atau apapun itu, dan nyalakan lampu kamar ini!"
"Ya Den!"
Rhandra menggosok gosok telapak kakinya, ia juga membuka kerah baju yang
terlihat menyesak dilehernya, malam itu Halimah mengenakan piyama yang
diberikan Rhandra.
"Ini Den!" Sum memberikan minyak angin yang sudah diberikan bawang padanya.
"Halimah bangun Halimah!" lehernya ia balurkan minyak, juga kakinya.
"Den, kasih di hidungnya." celetuk Sum.
Rhandra meletakkan minyak dihidungnya berulang-ulang, tangan satunya
memegang erat tangan Halimah. Halimah sadar, ia berdahak dan pelan ia
membuka mata. "Hah.. Rhandra." Halimah menarik tangannya, dan memeluknya
dengan erat.
"Aku takut Rhandra, wanita itu terus menerus mengangguku, aku mohon Rhandra
jangan pergi." Rhandra gemetar, bahkan pelukan Halimah lebih hebat
getarannya dibandingkan melihat makhlus halus yang ia sering jumpai.
"Halimah..aku disini halimah, kamu tenanglah."
Perlahan Sum meninggalkan pasangan itu dikamar.
"Aku ingin Sholat Rhandra.. aku mohon temani aku.
"
"Apah? Nggak." Rhandra menolak, ia hempaskan tubuh Halimah kekasur.
"Aku mohon Rhandra, aku takut, aku ingin sholat Rhandra."
"Aku tak mau!"
"Aku mohon, aku tak memintamu untuk sholat, setidaknya temani aku hingga
sinar matahari datang." Tangan Halimah erat memegang tangannya, ia terus
menangis. Rhandra luluh.
Ia mengangkat tubuh Halimah, dan membantunya berjalan ke kamar mandi, kaki
Halimah terkilir saat ia tersandung lipatan karpet barusan.
Dengan serius Rhandra memperhatikan Halimah berwudu, lalu Halimah keluar ia
lalu membaca doa, Halimah mengambil mukena yang dipinjamkan Sum beberapa
hari lalu, dihadapannya Halimah Sholat dengan khusyuk.
"Allahu Akbar" takbir Halimah.
Rhandra memandangnya serius dengan kedua matanya setiap gerakan Halimah,
juga mulutnya yang tak berhenti membaca doa. Selepas salam, Halimah
mengadahkan tangan keatas, ia bermunajat, dalam doanya ia berbisik lembut,
meminta hidayah dibukakan untuk Rhandra suaminya, dan memohon perlindunngan
juga keluarganya, dan menjauhkan dirinya dari sihir juga roh halus.
"Amiin" Rhandra memandang begitu dalam kekhusyukan Halimah saat berdoa.
Halimah berbalik, seketika ia berpura-pura cuek.
Halimah bangkit dari tempat ia sholat.
"Kamu pikir Tuhanmu akan menengar semua doamu?" celetuk Rhandra membuat
Halimah jengkel.
"SANGAT YAKIN." Jawab Halimah menekan suaranya.
"Bukankah para wanita seperti kalian ini selalu meminta jodoh terbaik dari
tuhan?" tanya Rhandra kembali bibirnya menyungging keatas meremehkan.
"Betul." Jawab Halimah, tangannya sibuk melipat mukena.
"Hahahahhaha, Halimah kamu bodoh sekali, jika memang Tuhanmu itu
mengabulkan doa-doamu, dia tidak mungkin mengirimmu kesini!" ucapnya
cengengesan.
"Itulah bedanya Tuhan dengan kamu, jika kamu hanya bisa melihat keburukan
pada dirimu, maka Tuhan bisa melihat ada kebaikan dalam hatimu, Manusia
tidak akan pernah bisa membaca Takdir Tuhan Rhandra, mungkin Allah
mengirimku padamu, karena Allah tahu kalo kamu butuh orang sepertiku yang
bisa membawamu padaNya."
Rhandra terdiam, ia terpukau dengan jawaban Halimah.
"Sudah aku malas berdebat, Terimakasih." Jawab Halimah, ia berjalan
pincang, nyeri di pergelangan kakinya masih sangat terasa.
"Kamu mau kemana?"
"Ke dapur bantu Mbok Sum."
"Kamu disini saja, ngga usah kemana-mana!" ucapnya seraya mendudukkan badan
Halimah ke tempat tidur.
Halimah kembali bangkit, dan kembali berjalan.
"Hei Halimah, duduk!"
"Aku akan mati ketakutan kalau kamu menyuruhku tetap dikamar!" Celetuk
Halimah tajam. Halimah melanjutkan langkahnya, dan meninggalkan Rhandra
dikamar.
"Terserah!"jawab Rhandra seraya berjalan mendahuluinya.
"Dasar!" gerutu Halimah.
Halimah berjalan lambat, tangan kanannya memegang sisi tembok, kakinya
teramat nyeri. Rhandra memperhatikannya dari balik tembok, ada perasaan
impresif dihatinya untuk membantunya, ia menunggu sejauh mana gadis keras
kepala itu sanggup berjalan.
Halimah sudah sampai menuju tangga, Rhandra mundur agar tak terlihat, wajah
Halimah berkeringat ia Nampak kelelahan, kakinya sepertinya sudah tak
sanggup lagi untuk melangkah, Langkah pertama menuju anak tangga pertama,
"Berhenti!" tegur Rhandra memberhentikan langkahnya.
"Naik!" Wajah Halimah memerah, Rhandra menawarkan bantuan untuk bisa
singgah di punggungnya.
"Nggak usah." Tolak Halimah keras kepala.
"NAIK!" wajah Halimah seketika berubah, Rhandra kesal melihat betapa keras
kepalanya gadis desa ini.
Halimah naik, kedua tangannya ia kalungkan di leher laki-laki yang sudah
Sah menjadi suaminya itu, satu persatu Rhandra mengambil kakinya, lalu
menggendongnya.
Jantung Halimah berdegup kencang, ada hati yang sedang berdesir didalam.
"Kamu enteng sekali Halimah, kamu harus makan banyak, tubuhmu ini bahkan
kalah dengan karung beras yang suka Mbok Sum angkat." Ucap Rhandra
mencairkan suasana hati yang membuncah.
Halimah diam, ia menikmati dirinya digendong laki-laki yang punggungnya
sangat bidang itu. Ada hasrat ingin sekali menumpukan kepalanya
dipundaknya, namun ia mengusir hasratnya. Dalam diam Halimah meraba pelan
di tulang rusuknya, Ia berbisik
"Ya Allah, karena tulang belulang inilah aku ada, maka jika benar diriku
terbuat dari tulang rusuk ini, maka jadikanlah ia sama sepertiku,
mencintaimu, memujamu,mengagungkanmu tuntunlah ia pada kebenaran,
sebenar-benarnya jalan menuju padamu ya Allah"
"Halimah, kamu bicara?"
"Tidak." Halimah tersenyum.
____________
#bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar