3.12.2019

@bende mataram@ Episode 3 Seri 1




@bende mataram@


Episode 3
Seri 1


TAK pernah mereka bermimpi, kalau rumah tangganya yang begitu tenteram
damai tiba-tiba mengalami gelombang malapetaka dahsyat. Kesan pertempuran
itu mengusik ketenteraman hatinya. Mereka sadar, ekornya masih panjang.
Pastilah gerombolan anak buah sang Dewaresi tak mau sudah, manakala mereka
belum dapat merampas kedua pusaka Pangeran Semono.


"Apa kita serahkan saja?" Wayan Suage minta pertimbangan.


Isterinya segera menyetujui. Begitu pula Rukmini. Mereka sepaham, bahwa
tidak ada untungnya memiliki kedua pusaka itu.


"Sawah kita sudah cukup lebar. Rumah kita besar pula. Sapi dan kerbau kita
miliki. Pendek kata, cukuplah buat hidup tenteram. Anak-anak kita takkan
kelaparan. Hidup macam apa lagi yang kita inginkan?" kata Rukmini.


Besar pengaruhnya ujar mereka berdua terhadap Wayan Suage. Tetapi Made
Tantre berpaham lain. Katanya, "Kita tak berhak mengadili kedua pusaka itu.
Hajar Karangpandan bukanlah orang sembarangan. Kalau sampai mempercayakan
kedua pusaka itu kepada kita, pasti ada maksudnya. Seumpama kedua pusaka
itu lantas kita serahkan begitu saja kepada mereka yang menghendaki, apa
kata Hajar Karangpandan? Kita tahu, dia bertahan mati-matian dan berjuang
dengan segenap hatinya. Dia dapat datang pergi sesuka hati seperti burung
rajawali mendaki angkasa. Ah, harga diri kita takkan dipandangnya lagi. Dia
dapat menimbulkan malapetaka jauh lebih mengerikan daripada gerombolan
orang-orang Banyumas tadi."


"Tapi soalnya, mereka berjumlah besar. Sedangkan kita hanya dua orang,"
bantah Wayan Suage.


"Itu gampang. Kita lapor ke Kepala Kampung. Kita taruhkan kedua pusaka itu
dalam penjagaan seluruh penduduk. Nah, apakah mereka mampu merebut?"


Kata-kata Made Tantre masuk akal pula. Maka pada sore harinya mereka lapor
kepada Kepala Kampung. Tetapi setelah Kepala Kampung itu mendengar tentang
kedua pusaka Pangeran Semono, timbul pulalah keingin-annya hendak mengangkangi.


Kepala Kampung Karangtinalang seorang laki-laki berumur 60 tahunan. Tetapi
pandang matanya masih memancarkan sinar perjuangan hidup jasmaniah. Dengan
diam-diam ia memanggil dua orang pembantunya. Kemudian bergegas mengunjungi
rumah Wayan Suage dan Made Tantre agar mengawalnya dari jauh.


Made Tantre yang mempunyai penglihatan cermat, segera memperoleh kesan
tertentu. Celaka! katanya dalam hati. Orang inipun mempunyai nafsu serigala
pula. Maka ia mem-bisikkan kesannya kepada Wayan Suage.


Wayan Suage percaya benar kepada prasangkanya, maka ia berbisik kepada
Sapartinah agar memanggil Kepala Kampung Kemarangan, Krosak dan
Gemrenggeng. Mereka akan dijadikan saksi hak milik kedua pusaka. Maka pada
senja hari itu, ber-turut-turut datanglah kepala-kepala kampung tiga desa.


Wayan Suage menyambut kedatangan mereka dengan gembira. Beramai-ramai
mereka memeriksa kedua pusaka Pangeran Semono yang diletakkan di atas meja.
Pan¬dang mereka mendadak berubah seperti orang kelaparan. Tetapi mereka
tidak berani menyatakan keinginan hatinya terang-terangan. Juga Kepala
Kampung Karangtinalang agak segan pula. Untuk menutupi kata hatinya, mereka
berbicara tentang pusaka-pusaka kuno yang bertuah. Dihubungkan pembicaraan
itu kepada penobatan Sultan Yogyakarta.


"Siapa mengira. Raden Mas Sundara akhirnya naik tahta kerajaan," kata
Kepala Kampung Karangtinalang. "Tadinya kukira Kanjeng Gusti Anom
Amengkunegara atau Kanjeng Pangeran Arya Ngabei."


Bersambung




Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar