Bende Mataram
Episode 2
Seri 1
Rumah Siapakah yang Berbentuk Panjang itu?
RUMAH itu sendiri berdiri di pinggir Desa Karangtinalang. Dindingnya
terbuat dari papan. Pekarangannya luas dan berada di dekat sungai. Seumpama
tidak berkesan mentereng, letaknya mirip sebuah padepokan seorang pendeta
yang mulai mengasingkan diri dari pergaulan ramai.
Penghuni rumah terdiri dari dua keluarga berasal dari pulau Bali. Keluarga
pertama bernama, Wayan Suage. Keluarga kedua, Made Tantre. Mereka berasal
dari kerajaan Klungkung yang merantau ke Pulau Jawa, karena tak senang
menyaksikan perang saudara antara sesama kerajaan. Di Pulau Jawa mereka
kawin. Isteri Wayan Suage bernama Sapartinah, dan isteri Made Tantre
bernama Rukmini. Isteri mereka kebetulan berasal dan satu kampung pula.
Maka persahabatan antara Wayan Suage dan Made Tantre bertambah erat
bagaikan saudara sekandung.
Setelah beberapa tahun menikah, secara kebetulan pula mereka mempunyai anak
laki-laki. Hari kelahirannya terpaut beberapa bulan saja. Anak Wayan Suage
lahir pada bulan Maulud dan anak Made Tantre bulan Sura. Anak Suage bernama
Sanjaya dan anak Made Tantre bernama Sangaji. Keduanya kini sudah berumur
enam tahun. Mereka merupakan teman sepermainan yang tak pernah terpisah.
Maklumlah, kedua orangtuanya bertempat tinggal dalam satu rumah pula.
Penghidupan Wayan Suage dan Made Tantre dari bercocok tanam. Mereka memilih
hidup tentram, menjauhi segala urusan negara. Pada setiap sore sehabis
bekerja di ladang, mereka duduk di ruang tengah. Kemudian membicarakan
tentang adat-istiadat tanah airnya dahulu dan sekarang. Kadangkala
menyinggung pula tentang nasib kerajaan Bali yang terpecah belah. Mereka
keturunan prajurit Bali yang dekat pada raja. Karena itu pula, seringkali
membicarakan juga tentang jenis kekebalan dan kesaktian.
Sore hari itu, mereka pulang sebelum waktu Ashar. Hujan turun sangat lebat.
Angin meniup keras pula. Itulah sebabnya mereka tak betah di ladang.
"Rupanya pada hari penobatan Sultan Yogyakarta ini, tak boleh kita bekerja
terlalu lama," ujar Wayan Suage sambil tertawa.
"Itulah kesalahan kita, tak tahu menghormati hari besar. Mari kita
menyembelih ayam dan bikin kopi hangat!" sahut Made Tantre.
Sudah barang tentu ajakan itu amat menyenangkan hati. Mereka berdua
kemudian me-nangkap empat ekor ayam dan segera diberikan kepada isterinya
masing-masing.
"Ah, dapur kita harus satu saja. Apa perlu mesti memasak masing-masing?"
kata Sapartinah.
"Usul bagus!" seru Wayan Suage. "Dinda Rukmini tak usah ribut-ribut lagi."
"Mengapa memanggilku Rukmini? Bukankah aku nyonya Tantre!"
"Oho ... Itu pun bagus. Tapi maksudku, pada hari pesta penobatan ini
hendaklah dinda Rukmini tegak berdiri sebagai orang Jawa. Begitu juga dinda
Sapartinah. Sedangkan kami berdua ini hanyalah dua orang perantau yang
mendapat anugerah dewa memetik dua tangkai bunga melati dari Pulau Jawa.
Pendek kata pada hari pesta penobatan ini, yang memegang peranan adalah
dinda Rukmini dan dinda Sapartinah. Dan kami berdua hanya hamba-hambamu.
Bukankah begitu Made Tantre?"
Made Tantre mengangguk sambil tersenyum lebar. la menyetujui ujar Wayan Suage.
"Kami sudah menyerahkan empat ekor ayam. Akan dimasak apa terserah. Kami
akan berusaha memakannya habis sampai ketulang-tulangnya. Perkara Sangaji
dan Sanjaya, kami berdua yang akan mengasuh."
Dengan memberi isyarat kepada Wayan Suage, ia mencari Sanjaya. Ternyata
Sanjaya lagi main petak-petakan dengan Sangaji. Kemudian dipapahnya dan
dibawa duduk di ruang tengah.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar