3.08.2019

Bende Mataram Episode 002 Seri 2




Bende Mataram


Episode 002
Seri 2


"Kamu berdua kelak harus menjadi sahabat seperti ayah-ayahmu," ujar Made
Tantre.


"Ya, tentu. Harus pula sepenanggung-sependerita. Seia-sekata, bahu-membahu
... Pendek kata suka-duka harus bersama," sahut Wayan Suage.


Mereka berdua nampak bergembira. Masing-masing memangku anaknya laki-laki
dan saling dihadapkan. Si anak sudah barang tentu belum mengerti benar
makna kata-kata orang-tuanya, tetapi oleh kesan keriuhan itu mereka tertawa
lebar. Mereka didorongkan ke depan dan disuruh berpeluk-pelukan. Tanpa
membantah mereka segera berpelukan.


"Lihat!" kata Wayan Suage. "Alangkah mudah menjalinkan rasa bersatu dalam
hati kanak-kanak. Bila menyaksikan kejadian ini, rasanya sedih ingat
kelakuan orang-orang tua yang katanya sudah merasa diri menjadi makhluk
penuh kesadaran. Mereka malahan saling bertengkar dan berebut sesuatu
seakan-akan dunia miliknya seorang."


Mereka kemudian mengalihkan pembicaraan ke masalah tata hidup, keadaan
negara Bali dan perangai orang-orang ningrat.


"Disinipun terjadi pula sejarah seperti di Bali," sahut Made Tantre. "Coba
kalau kita mendengarkan sejarah perang Giyanti, perang Mangkunegoro dan
Perang Kompeni. Ah, bukankah banyak terjadi pengkhianatan yang menjijikkan
hati belaka? Apa yang mereka perebutkan, selain kedudukan, harta-benda dan
perempuan?"


Wayan Suage menarik napas panjang. la melemparkan pandang ke luar pintu.
Hujan di luar bertambah lebat. Gdara gelap oleh awan hitam, sehingga sore
hari bagai waktu rembang petang. Tiba-tiba ia mengerutkan dahi. la melihat
seseorang berjalan di tengah hujan.


Orang itu mengenakan pakaian pendeta dan berjalan amat cepatnya.
"Tantre, lihat! Apa akan kita biarkan dia berjalan di tengah hujan?"


Made Tantre berdiri. Diletakkan anaknya di atas meja, kemudian berjalan
menghampiri pintu. Diam-diam ia heran menyaksikan ketangkasan orang itu.


"Dia bukan sembarang orang. Langkahnya tegap dan kuat. Kecekatannya
melebihi orang biasa. Baiklah kita panggil dia untuk singgah. Berkenalan
dengan orang seperti dia, tidak ada ruginya."


"Tuan! Hari masih panjang. Mengapa terge-sa-gesa di tengah hujan badai?"
seru Wayan Suage.


Orang itu menghentikan langkahnya. Ia menoleh sambil mengerutkan dahi.
Kemudian dengan langkah lebar ia memasuki halaman rumah.


"Kami sedang merayakan pesta penobatan. Kami akan senang jika Tuan sudi
mencicipi masakan kami," kata Wayan Suage lagi.


Tanpa menjawab sepatah katapun juga, ia memasuki serambi. Dikebutkan sebuah
ta-ngannya, sedang yang lain menurunkan sebuah kantong berwarna coklat
gelap. Matanya disiratkan kepada Wayan Suage dan MadeTantre seperti
mencurigai, kemudian berpaling ke jalan.


Melihat sikap tamunya yang mencurigai dirinya, Made Tantre merasa tak
senang. la kini memandangnya seperti lagi menyiasati. Kemudian menghela
napas panjang.
"Apakah Tuan tak mau masuk?" tegurnya.


Tamu itu berpaling kepadanya, kemudian melangkah ke ambang pintu. Made
Tantre menyambut hendak bersalaman. Dalam hati ia sengaja akan mencoba
kekuatan orang itu. Tetapi ia kecele. Ternyata tangan orang itu kuat
seperti besi. Dia kena digenggam dan rasa nyeri menusuk sampai ke ketiak.


Melihat Made Tatre kesakitan, Wayan Suage tak berani berlaku sembrono.
Segera ia meng-alihkan perhatian.
"Mari Tuan masuk! Beginilah rumah orang kampung."


Si tamu melepaskan genggamannya dan memasuki ruang tengah tanpa
mempedulikan Made Tantre. Ia mengedarkan pandangannya. Mendeham dua kali,
kemudian menarik kursi dan duduk terhenyak.
"Logat kata-katamu seperti bukan orang Jawa. Benarkah itu?" katanya.
Suaranya berat dan mengesankan.


"Benar. Kami berdua berasal dari Pulau Bali," jawab Wayan Suage.


"Siapa anak-anak itu?" dia seperti tak mendengarkan jawaban Wayan Suage.


"Mereka anak-anak kami."


Tamu itu menaikkan alisnya. la melem-parkan pandang kepada Wayan Suage dan
Made Tantre.


"Dimanakah ibunya?" tegurnya.


Wayan Suage segera memanggil Sapartinah dan Rukmini. Kedua orang itu muncul
dari pintu dapur. Tangan dan mukanya penuh arang.


"Apakah kalian benar-benar sudah lapar?" kata mereka berbareng.


Tiba-tiba mereka melihat tamu itu. Mereka saling memandang. Mukanya merah
tersipu. Cepat-cepat mereka hendak mengundurkan diri ke dapur, tiba-tiba
Wayan Suage berkata,
"Perkenalkan, ini tamu kita. Bagaimana kalau nanti kita makan bersama? Nah,
dia tamu undangan kami."


Tamu yang bersikap kaku itu, mendadak saja berubah menjadi ramah. "Maaf,
maaf! Aku mengganggu. Namaku Hajar Karangpandan." Setelah berkata demikian,
ia menghampiri Sangaji dan Sanjaya. Dengan jari-jarinya yang kaku, ia
meraba pipi mereka.


"Hm ... mataku yang sudah tua bisa salah lihat. Maafkan! Kukira kalian
sedang memasang jebakan."


"Jebakan?" sahut Made Tantre. Hatinya masih mendongkol, karena rasa
nyerinya belum juga hilang. "Tuan kira, kami ini siapa?"


"Duduklah, nanti kuterangkan."


Hajar Karangpandan kemudian membuka goni yang ditaruh di atas meja.
Disontakkan goni itu dan terdengarlah suara gemerincing hening.


"Hai! Apa itu?" seru Wayan Suage dan Made Tantre berbareng.


"Ini sebuah bende dari perunggu campur besi berani. Namanya Bende Mataram.
Sedangkan keris ini bernama Kyai Tunggulmanik. Konon kabarnya, benda ini
milik Pangeran Semono di jaman dulu."


Tiba-tiba Hajar Karangpandan menjadi gusar dan menggempur meja. Wayan Suage
dan Made Tantre sudah barang tentu tercengang-cengang melihat perangainya.
Belum lagi mereka habis menimbang-nimbang perangainya, tiba-tiba dia
berkata lagi. "Karena benda ini, banyaklah terjadi pembunuhan dan
pengkhianatan. Aku datang dari Banyumas. Di tengah jalan aku bertemu dengan
rombongan manusia-manusia rendah. Kuhajar mereka kalang kabut."


Bersambung




























































































































































Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar