TAKDIR LAWAN TAKDIR
Teman Bujang dengan bangga menunjukkan hasil ujiannya yang nilainya
bagus-bagus. Bujang terus menegur temannya agar bertobat krn telah mencontek.
Teman : Bujang, kenapa kau menolak takdir?
Bujang : Apa maksudmu?
Teman : Allah telah menakdirkanku mendapat nilai bagus. Kenapa kau masih
tidak mengakuinya.
Bujang : Bukan tidak menerima, tapi kau curang. Aku melihat dgn mataku
sendiri bagaimana kau mencontek saat ujian.
Teman : Tapi tetap saja Allah menakdirkanku mendapat nilai bagus
bagaimanapun caranya. Kau harus belajar menerima takdir, Bujang.
Bujang : Oh begitu ya?
Teman : Iyalah.
Tiba-tiba saja Bujang menampar wajah temannya. Sang teman terjatuh lalu
bangkit sambil memegang pipinya yang sakit.
Teman : Gila kau. Kenapa tiba-tiba kau menamparku? Akan ku balas kau.
Bujang : Eit tunggu dulu. Kau mau apa?
Teman : Aku mau balas menamparmu.
Bujang : Sabar. Mengapa kau menolak takdir?
Teman : Apa maksudmu?
Bujang : Allah telah menakdirkanku untuk menamparmu. Jadi kau harus
menerima takdir itu.
Teman : Takdir gundulmu. Pipiku sakit tahu.
Bujang : Tapi bagaimanapun Allah telah menakdirkanku utk menamparmu, apa
pun rasa yg kau terima. Kau harus belajar menerima takdir, Teman.
Bujang segera pergi meninggalkan temannya yg berpikir sejenak. Ia mengenali
kata-kata yg diucapkan Bujang. Saat sadar ia segera mengejar Bujang.
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar