4.06.2014

Koruptor Tetap Istimewa di Penjara


From: suhardono





Inspeksi Mendadak
Koruptor Tetap Istimewa di Penjara
Penulis : Khaerudin | Senin, 20 Mei 2013 | 10:03 WIB



Sabtu (18/5/2013) lewat tengah malam ketika pintu sel nomor 17 di Blok Timur Atas Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung, dibuka. Di sel hanya ada cahaya remang. Penghuninya memicingkan mata. "Tolonglah, orang sudah lupa siapa saya," ujarnya lirih. Penghuni sel itu adalah narapidana sejumlah kasus korupsi di Bulog, Widjanarko Puspoyo. Mantan Direktur Utama Bulog itu kini menghabiskan sisa hukumannya bersama narapidana perkara korupsi lainnya di LP Sukamiskin. Tak tersisa lagi kegagahan pada bekas politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini. Ia berusaha memalingkan wajah ketika tahu wartawan berusaha melongok ke selnya.

Sebelumnya, tak jauh dari sel Widjanarko, sipir membuka pintu sel nomor 19 di blok sama, sel terpidana kasus korupsi pajak, Gayus Tambunan. Begitu pintu sel dibuka, Gayus terenyak. Ia sudah terlelap. Begitu pintu terbuka, di sel Gayus terpampang foto-foto bersama istrinya, Miliana Anggraeni, beserta anak-anak mereka, termasuk dua anak kembar yang lahir ketika Gayus sudah dipenjara. Gayus juga menggantungkan raket tenis di dinding. Pakaiannya rapi tersetrika.

Gayus menolak lampu kamera menyoroti selnya terlalu lama. Ia tak menolak saat Najwa Shihab, pembawa acara Mata Najwa, meminta duduk di samping tempat tidurnya. Alih-alih bercerita soal kasusnya, Gayus menyerocos, merasa privasinya dilanggar. "Koruptor itu banyak sekali, tersangka, terdakwa, kok saya enggak melihat yang seberat saya, yang benar-benar habis-habisan diekspos," ujarnya.

Di seberang sel Gayus terdapat sel terpidana seumur hidup kasus pembobolan Bank BNI, Adrian Wowuruntu. Lampu sel menyala terang dan terdengar suara musik dari dalam sel. Sipir membuka gembok sel, tetapi Adrian belum mau membuka selnya. Rupanya, setiap sel di LP Sukamiskin dilengkapi kunci selot yang bisa dikunci dari dalam.

Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Denny Indrayana yang memimpin inspeksi mendadak ke LP Sukamiskin, Sabtu malam hingga Minggu dini hari, itu langsung meminta Kepala Pengamanan LP Teguh Wibowo segera membongkar semua kunci selot pintu di dalam sel. Menurut Teguh, kunci selot dipasang untuk mengamankan narapidana jika ada musuh yang menyerang.

Ajudan Denny yang menggeledah sel Adrian menemukan Ipad dan Ipod beserta pengeras suara di dalam sel. Ada juga pemutar DVD beserta kepingan cakram film di sel Adrian. Ini bukan yang pertama Adrian melanggar ketentuan tak boleh membawa barang terlarang ke dalam sel. Saat masih ditahan di LP Cipinang, Adrian dipergoki Denny memakai laptop di sel. Ketika hendak disita, di depan Denny, Adrian membanting laptopnya hingga hancur.

Adrian hanya bisa menggerutu ketika barang-barang terlarang di selnya disita. "Apa sih sebenarnya yang kalian cari? Saya ini masuk penjara bukan karena kesalahan saya," ujarnya. Tapi saat ditanya siapa mastermind kasus pembobolan BNI yang menjeratnya, Adrian bilang, "Tanya saja ke polisi."

Masih di Blok Timur Atas terdapat sel mantan Gubernur Bengkulu Agusrin Najamuddin. Sel nomor 38 yang dihuni Agusrin bisa jadi paling istimewa. Inilah sel paling luas di penjara yang dibangun sejak 1918 ini.

Sel Agusrin mirip tempat indekos mewah. Begitu masuk pintu sel, langsung ada kamar mandi terpisah dengan pintu tersendiri. Belok ke kiri dari pintu sel ada satu pintu lagi untuk masuk ke ruangan tempat Agusrin ditahan. Sebuah tempat tidur, kursi rotan dengan alas busa, minicompo, lemari filing cabinet, meja kerja, dan rak buku berisi buku-buku politik dan agama tersimpan rapi di dalamnya. Tak hanya itu, perlengkapan memasak juga ada di kamar berukuran 2,5 meter x 4 meter itu. Ada penanak nasi listrik hingga kompor listrik portabel.

Di dinding sel tergantung jaket dan topi biru dengan lambang Partai Demokrat. Agusrin juga menempelkan kertas yang ditulisi hitungan jumlah pemilih dan alokasi jumlah kursi untuk DPR di seluruh Indonesia. Ada juga peta Indonesia dan Sumatera terpasang di dindingnya.

Sebuah tas kecil yang terkunci dengan kombinasi angka diminta dibuka. Isinya sejumlah uang yang menurut Agusrin, untuk membayar upah narapidana lain yang membantunya, termasuk memijat jika dia letih.

Jadwal latihan tenis terpampang di dinding lemari. Agusrin satu grup latihan tenis dengan Gayus, mantan Bupati Subang Eep Hidayat, dan mantan Wali Kota Bekasi Mochtar Mohammad. Mereka berlatih tenis lima hari dalam sepekan.

Dari kamar Agusrin disita sejumlah kartu perdana dan voucer pulsa, tapi tak ditemukan perangkat telekomunikasi. Di meja kerjanya ada dua laci yang terkunci. Agusrin mengatakan, kuncinya telah hilang.

Bertetangga dengan Agusrin adalah sel terpidana korupsi wisma atlet SEA Games, Muhammad Nazaruddin. Nazaruddin baru ditempatkan beberapa hari di Sukamiskin. Lokasi sel bekas Bendahara Umum Partai Demokrat ini lumayan istimewa, terletak persis di depan sel yang pernah ditempati presiden pertama Indonesia, Soekarno, ketika ditawan Belanda.

Dini hari itu, sel Nazaruddin tak termasuk yang dibuka. Namun Kompas sempat berbincang sebentar dengannya. Saat ditanya, apa ia mengetahui kasus-kasus korupsi terbaru yang dibongkar KPK, dengan nada tertawa, Nazaruddin bilang, "Kalian mau tanya Hambalang atau PKS?"

Di Sukamiskin, kondisi sel narapidana korupsi dengan narapidana kejahatan umum sangat kontras. Narapidana kejahatan umum hanya punya satu alas tidur, menyatu dengan bak mandi kecil dan kloset jongkok yang bau.

Dari Sukamiskin, Denny melanjutkan sidak ke Rutan Cipinang. Sel terpidana yang digeledah di Cipinang adalah sel bekas Ketua DPRD Jawa Tengah Murdoko. Dari selnya disita empat telepon genggam, dua di antaranya Blackberry jenis Pearl. Murdoko mengiba ke Denny agar kartu memori di dalam dua Blackberry-nya tak disita. Tapi Denny tetap menyitanya.

Di semua sel yang disidak di Cipinang hampir semua penghuninya menyimpan telepon genggam. Termasuk pegawai pajak yang baru ditangkap KPK karena menerima suap dari perusahaan baja The Master Steel di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Telepon genggam ini rata-rata berjenis CDMA, yang tak mempan diblok sinyalnya oleh perangkat jammer di Rutan Cipinang. Inikah era Reformasi?

http://nasional.kompas.com/read/2013/05/20/10033126/Koruptor.Tetap.Istimewa.di.Penjara
 

--

Duwit ng njero batik


From: <syauqiyahya@gmail.com>


Suap di Kepolisian: Upeti Dolar Dalam Batik Sutra

BUDI ALIMUDDIN - Harian detik

Jakarta - "Untuk reformasi polisi harus dimulai dengan bidang pendidikan. Tapi sudah menjadi rahasia umum untuk masuk pendidikan Polri di semua tingkatan, dari tamtama sampai Sespati, calon harus membayar pungli. Dan di zaman reformasi bukannya mereda bahkan makin ganas seakan-akan sudah membudaya."

Kalimat itu ditulis Inspetur Jenderal Ursinus Elias Medellu, yang dikenal sebagai peletak dasar pada 17 Februari 2002. Surat ia tujukan kepada Kepala Polri Jenderal Da'i Bachtiar.

Tak jelas benar apa respons Da'i. Juga para kepala polisi sesudahnya, hingga kini. Yang pasti, Jumat siang pekan lalu, terbetik kabar bahwa dua perwira polri ditangkap karena membawa uang tunai Rp 200 juta. Keduanya diduga akan menyuap seorang petinggi di Mabes Polri demi meraih jabatan atau pangkat tertentu.

Kabar itu beberapa hari kemudian sedikit benderang, dengan penyebutan inisial kedua perwira, yakni Ajun Komisaris Besar ES (Edi Suroso) dari Polda Jawa Tengah dan Komisaris JAP (Juang Abdi Purwanto) dari Polda Metro Jaya.

"Tujuan yang bersangkutan, masih berkelit mau ke sana mau ke sini. Tidak jelas, karena di lantai 1 saat mau masuk lift yang bersangkutan langsung diperiksa petugas," kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Ronny F. Sompie, Selasa.

Soal kemungkinan uang itu untuk menyuap pejabat di bagian sumber daya manusia, Sompie berkelit, "Itu yang tengah didalami Dit Tipikor Bareskrim Polri."

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S. Pane menyatakan tradisi jual beli jabatan di lingkungan kepolisian sudah mendarah daging. Sejak proses perekrutan untuk tingkat brigadir, atau akademi kepolisian di tingkat perwira bau amis suap-menyuap itu sudah tercium.

Ia mengaku punya pengalaman tentang hal ini. Saat tengah asyik menyantap nasi goreng usai melakukan kunjungan ke Boyolali, Jawa Timur beberapa waktu lalu, tiba-tiba si tukang nasi goreng menghampiri. Rupanya di mengenali dirinya sebagai aktivis yang kerap bicara soal kepolisian sehingga dianggap punya banyak relasi.

"Bapak itu minta saya memasukkan anaknya jadi anggota polisi, dia siap menyiapkan dana yang dibutuhkan, dengan cara menjual sawahnya untuk menyogok panitia," ucapnya.

Modus-modus jual beli jabatan di kepolisian kata dia tak hanya melulu dengan transaksi uang. Penelusuran IPW di Korps Lalu Lintas (Korlantas) Mabes Polri, mengungkapkan, jual beli jabatan sudah menjadi tradisi. Bahkan di tingkat perwira menengah, bila ingin mendapat promosi kepangkatan atau jabatan struktural strategis biasanya menggunakan teknik "masuk melalui dapur" si atasan.

Temuan lain, kata Neta, setiap perwira yang ingin lulus saat menempuh pendidikan di Sespim (sekolah staf pimpinan), biasanya dimintai upeti berupa batik oleh para seniornya. Ketika batik diserahkan, di dalamnya sudah diselipkan sejumlah uang.

"Kalau senior meminta batik sutra berarti di dalam batik harus ada uang dollar," paparnya. Tentu saja tradisi suap atau sogok semacam ini, kata Neta, tak pernah diakui oleh kepolisian.

Seorang perwira menengah yang bertugas di salah kota provinsi di bagian timur Pulau Sumatera meneguhkan pernyataan Neta. Si perwira lulusan Akademi Kepolisian 1991, sebut saja Sony, mengaku pernah memberikan sesuatu kepada para atasan terkait agar meraih dua melati di pundaknya.

Hal itu ia tempuh karena sudah 10 tahun lamanya, melati di pundak tak pernah bertambah. Padahal untuk perwira seusianya, seharusnya ia sudah menyandang tiga melati di pundak atau Komisaris Besar alias Kolonel.

Tapi karena 'oleh-oleh' yang diberikan alakadarnya, Sony pun tak mendapatkan posisi puncak di suatu daerah tapi cuma sebagai orang kedua. "Ya karena dana yang disetor seadanya, jabatan yang diberikan pun bukan yang seharusnya," ujar Sony.

Sejak menjadi Inspektur Satu sampai Kapten, Sony mengaku tak pernah menghadapi masalah sehingga kenaikan pangkat atau promosi jabatan berjalan lancar-lancar saja. Tetapi begitu akan naik menjadi mayor, ia mengaku para atasan terkait melontarkan isyarat-isyarat tertentu kepadanya bila hendak mengikuti pendidikan agar naik pangkat.

"Setelah kita bereskan di kesatuan, eh di tingkat Polda begitu juga," ujarnya. Meski akhirnya lulus dan meraih satu melati di pundak, ia harus mematrinya hingga 10 tahun. Sebab dirinya dianggap tak bisa diajak kerja sama sehingga merugikan para koleganya di kesatuan. Selain itu, Sony mengaku kerap berseberangan pendapat dengan atasannya.

Kembali ke kasus penangkapan dua perwira di Mabes Polri, si penangkap disebut-sebut adalah penyidik yang pernah bertugas di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Neta sempat memuji langkah tersebut, dan menunjukkan polisi alumnus KPK menunjukkan kelasnya tersendiri. Tapi Komisioner KPK yang juga pernah menjabat Komisioner Kepolisian Nasional (Kompolnas), Adnan Pandu Praja punya pendapat bereda.

Ia menyatakan sebagian mantan penyidik KPK yang kembali ke Polri biasanya memang mendapat promosi jabatan dan tugas-tugas strategis. Tapi integritas mereka sangat mungkin kembali tergerus oleh kultur institusi kepolisian yang belum mampu mereformasi diri. "Integritas sebagian mereka tinggal kenangan," ujarnya.

Adnan malah mensinyalir ada sebagian polisi yang ditugaskan untuk menjadi penyidik di KPK, snegajah menjatuhkan diri agar tak lulus seleksi. Padahal mereka punya kompetensi tinggi dan rekam jejak bagus. Tapi karena terbiasa bekerja dalam lingkungan yang longgar dalam menerapkan integritas, mereka menjadi tidak nyaman jika harus di KPK yang ketat. "Saya enam tahun di Kompolnas, saya tahu betul seluk-beluk dan kultur di Polri," ucapnya.
Andri Haryanto | Arif Arianto | Budi Alimuddin
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Dadi Ati



Dadi Ati (Langgam)

Lk : (bowo)
Gegarane wong akrami
Dudu bondho dudu rupo
Hamung ati pawitane
Luput pisan keno pisan
Yen gampang luwih gampang
Yen angel angel kelangkung
Tan keno tinumbas arto

Pr :
Nggoleki sing koyo ngopo,
Wong nyatane kalakon seprene
Angger-angger gendro,
Wekasane malah mbangun tresno

Dudu bondho dudu rupo,
Mung atine dadi tetaline
Guyub rukun kadyo,
Pepindhane mimi lan mituno

Wus jamak lumrahe,
Yen wong urip coba lan godhane gedhe
Supradene, Ora nganti ndadak dadi gawe

Rino wengi dadi ati,
Wong prasojo luhur bebudhine
Sabar tur gemati,
Momong putro alus bebudhine

reff :
Nggoleki sing koyo ngopo,
Wong nyatane kalakon seprene
Angger-angger gendro,
Wekasane malah mbangun tresno

Dudu bondho dudu rupo,
Mung atine dadi tetaline
Guyub rukun kadyo,
Pepindhane mimi lan mituno

Wus jamak lumrahe,
Yen wong urip coba lan godhane gedhe
Supradene, Ora nganti ndadak dadi gawe

Rino wengi dadi ati,
Wong prasojo luhur bebudhine
Sabar tur gemati,
Momong putro alus bebudhine

Ziarah Kubur mendulang suara?


From: Boediono


Sabtu, 05/04/2014 01:18 WIB

Anis Matta Ziarah ke Makam Soeharto, Minta Restu Nyapres?

Danu Damarjati - detikNews

Karanganyar, - Salah satu capres Pemira PKS Anis Matta melakukan ziarah ke makam Soeharto di Astana Giri Bangun. Apakah langkah ini dilakukan untuk meminta restu pencapresan?

"Enggak, enggak," kata Anis di Astana Giri Bangun, Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (5/4/2014).

Anis menyatakan sejak dulu PKS bersikap menghargai jasa Soeharto, jadi bukan kali ini saja saat menjelang Pilpres 2014. Bahkan PKS pernah memicu kontroversi saat menayangkan iklan hari pahlawan yang memuat Soeharto.

"Ketika tahun 2008 menjelang Pak Soeharto wafat, PKS memberikan surat permaafan kepada beliau (Soeharto)," ungkap Anis.

Soeharto dipandang Anis merupakan tokoh yang patut diteladani karena bisa menjaga persatuan Indonesia. Bahkan Anis masih teringat kenangan masa kecil saat dirinya ditugasi menggambar wajah Soeharto.

"Sewaktu SD, kami diwajibkan menggambar wajah Soeharto dan Adam Malik. Wajah Pak Harto itu simetris," kenangnya.

Ziarah malam Anis ke kompleks Astana Giri Bangun ini juga diikuti oleh Sekjen PKS Taufik Ridho, Bupati Karanganyar Juliatmono, Wakil Bupati Rohadi Widodo, serta tiga anak Anis yaitu Hazm, Aiman, dan Roid.


(15) Komentar

Kirim komentar

Baca Juga:

Ziarah ke Astana Giri Bangun, Anis Matta: Kita Hutang Budi ke Soeharto

Malam-malam, Anis Matta Ziarah ke Makam Soeharto

Anis Matta Ziarahi Soeharto, Bupati Karanganyar: Saiki Jamane PKS!


DioN

Minggu tenang


From: DioN Erbe


NEGATIVE CAMPAIGN :
adalah sebuah pencerdasan dimana fakta2 buruk berupa kegagalan kinerja dan semua yg berhubungan dgn publik harus dikemukakan.

BLACK CAMPAIGN :
adalah menyerang lawan politik dengan tuduhan dan labelisasi yang tak bisa dipertanggungjawabkan dan mengarah pada hal2 pribadi.


--

Po

4.05.2014

Menit Pertama.....


From: A.Syauqi Yahya 


"Menit Pertama Duduk di RI-1, Jokowi Akan Digoyang"

KOMPAS.com/ Ahmad Winarno

Bakal calon presiden, Joko Widodo, saat berorasi di Lapangan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, Jember, Jawa Timur, Jumat (4/4/2014)

Jumat, 4 April 2014 | 19:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Budayawan Radhar Panca Dhana khawatir bakal calon presiden dari PDI Perjuangan Joko Widodo alias Jokowi tidak akan bertahan lama jika terpilih sebagai presiden. Dia memprediksi, nasib Jokowi akan berakhir seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

"Menit pertama Jokowi duduk di kursi RI 1 pasti akan digoyang habis. Saya prediksi sama seperti Gus Dur. Paling lama 18 bulan. Gus Dur dulu salah apa, sekuat itu saja bisa dijatuhkan. Kalau Jokowi menang di Pilpres, dia pasti tak akan lama," kata Radhar dalam diskusi yang diadakan Sugeng Sarijadi Syndicate, di Wisma Kodel, Jakarta, Jumat (4/4/2014).

Ia mengungkapkan, kekhawatirannya didasari oleh sikap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) selama ini yang terkesan egois dan enggan bekerja sama dengan partai lain. Dia memprediksi, jika berhasil mencapai 20 persen kursi DPR pada pemilu legislatif mendatang, PDI-P akan bergerak sendiri. Sementara, jika gagal meraih 20 persen kursi, PDI-P hanya akan berkoalisi dengan satu atau dua partai kecil.

"Megawati itu pendedam, dia tidak akan koalisi dengan Demokrat karena psikologi dendam masa lalu dan psikologis perempuannya. Dia juga tidak akan berkoalisi dengan militer. Dia juga saya prediksi tidak akan mau koalisi dengan Golkar," ujar Radhar.

Dengan prediksi seperti ini, kemungkinan partai-partai yang tak dilirik PDI-P akan merapat ke Gerindra sebagai oposisi. Ia menilai, Gerindra akan melakukan berbagai cara untuk menjatuhkan Jokowi. Jika tak mau hal tersebut terjadi, menurutnya, Megawati harus segera mengubah pendekatan politiknya. Megawati kata dia, harus merangkul setiap partai yang merapat ke PDI-P sehingga tercipta parlemen yang kuat untuk mendukung Jokowi.

Penulis: Ihsanuddin
Editor: Inggried Dwi Wedhaswary

-

4.02.2014

labil jiwa



Jokowi Dinilai Capres Labil  

SELASA, 01 APRIL 2014 | 11:35 WIB
Jokowi Dinilai Capres Labil  

Jokowi menaiki tepian tangga untuk melihat kondisi pengungsi banjir di sebuah sekolah yang tergenang oleh air luapan kali Ciliwung di Kawasan Kebon Baru, Tebet, Jakarta, (22/1). Sekitar 300 orang mengungsi di sekolah tersebut akibat rumah mereka kebanjiran. TEMPO/Amston Probel

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Indonesia Network Elections Survey (INES) Irwan Suhanto mengatakan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dianggap memiliki banyak kelemahan sebagaicalon presiden.

Alasan itu disebut sebagai faktor responden INES lebih memilih Prabowo Subianto sebagai calon presiden dalam survei yang mereka lakukan. "Jokowi dianggap labil dan tak serius mendalami pekerjaannya, baik saat menjadi Wali Kota Solo maupun Gubernur DKI Jakarta," kata Irwan saat memaparkan hasil surveinya di Jakarta, Senin, 31 Maret 2014.

Dalam survei yang dilaksanakan pada 14-21 Maret 2014 itu, elektabilitas Prabowo mencapai 35,6 persen. Adapun elektabilitas Jokowi 16,2 persen, di bawah Megawati Soekarnoputri yang mencapai 17,1 persen.

Selain dianggap tak serius menangani Solo dan Jakarta, kata Irwan, responden mereka juga menilai Jokowi terlibat dalam pengadaan bus Transjakarta dari Tiongkok yang belakangan bermasalah. (Baca: Ada Eks Tim Sukses Jokowi Bermain di Busway Karatan?)

Pencalonan Jokowi, menurut survei ini, kata Irwan, juga dinilai hanya bertujuan meningkatkan suara PDIP di pemilihan legislatif. "Jokowi dinilai tak menepati janji sebagai gubernur," kata Irwan. (Baca juga: Jokowi Nyapres, Warga Marunda Marah)

Tak hanya Jokowi, beberapa capres lain juga dinilai responden INES tak layak pilih. Mereka adalahAburizal Bakrie dan Wiranto. Ical dinilai punya dosa di kasus lumpur Lapindo, sementara Wiranto dianggap tak punya program yang baik. Menurut Irwan, masyarakat lebih memilih Prabowo karena dianggap punya kepemimpinan bagus, jujur, dan mampu memberantas korupsi.

Irwan menjelaskan, survei yang mereka lakukan melibatkan 6.588 responden yang diambil secaramultistage random sampling dari seluruh populasi pemilih di Indonesia. Menurut Irwan, margin of error survei mereka plus-minus 1,21 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. 

Irwan menegaskan survei lembaganya kredibel karena pernah terlibat dalam survei pemilukada DKI Jakarta (2012), Jawa Barat (2013), Jawa Tengah (2013), Sumatera Utara (2013), Kalimantan Barat (2013), dan beberapa pemilukada lainya. Soal biaya survei, INES mengaku duitnya berasal dari INES sendiri bekerja sama dengan FSP BUMN Bersatu.

Berikut daftar tingkat elektabilitas capres versi INES (14-21 Maret 2014):
1. Prabowo Subianto: 35,6 persen
2. Megawati Soekarnoputri: 17,1 persen
3. Jokowi: 16,2 persen
4. Wiranto: 9,5 persen
5. Aburizal Bakrie: 7,5 persen
6. Pramono Edhie Wibowo: 2,7 persen
7. Hatta Rajasa: 2,3 persen
8. Mahfud Md.: 1,8 persen
9. Hidayat Nur Wahid: 1,1 persen
10. Surya Paloh: 0,8 persen
11. Yusril Ihza Mahendra: 0,5 persen
12. Sutiyoso: 0,4 persen
13. Suryadharma Ali: 0,3 persen

KHAIRUL ANAM