3.29.2014

Ada yg bela juga rupanya ....... payah kumbuh ..:')


From: <djuliadi55@gmail.com>



JOKOWI dan kebodohan para pengamat politik



Jakfar Shodiq

29 Mar 2014 | 22:41

Banyak pengamat politik yang menafsiri gonggongan jendral kancut yang teriak sana sini , hasut sana hasut sini, marah marah melulu bahkan hanya karena capres ical tampil di tv sambil gendong boneka diteriaki capres boneka .


Itu diakibatkan perjanjian batu tulis yang gagal sehingga frustasi karena takut dengan jago pdip JOKOWi.


Ayam pelung saya badannya tinggi besar. Beratnya hampir 7 kilo akhir akhir ini bertingkah aneh, didalam kandang sering menabrakkan dirinya ke pintu kandang dan cakarnya yang besar dan kuat menggaruk garuk dinding kandang yang terbuat dari bambu, kalau diluar kandang dering berlari kesana kemari membuat babon babon ayam jawa ketakutan, kalau berkokok biasanya melengking panjang dan merdu tapi ini kokoknya berat dan serak , kadang terputus putus.


Usut punya usut ternnyata sebabnya sepele , babon pelung sudah seminggu ini sedang mengeram sehingga jatah biologis sang jago tidak tersalurkan ....he he he pantas


Jadi sebenarnya inilah yang menyebabkan sang jendral kancut , tingkah dan olah vocal nya begitu membabi , meng anjing buta. Hantam sana hantam sini .... Karena hasrat biologisnya tidak tersalurkan, cairan magma yang mestinya rutin mengakir dari tengah, naik keatas dan menggumpal di otak ....maklum DUDA


Lihatlah si krempeng tapi banteng JOKOWI , karena rumah tangganya harmonis maka jatah biologis nya lancar , bicaranya tenang , wibawa dan santun.


**** Salam jendral kancut*

Dibaca : 117 kali

Jokowi cen nggone salah...


From: <suhardono@gmail.com>



Sabtu, 29/03/2014 16:32 WIB

Monorel Mandek, Sutiyoso Kecewa pada Jokowi-Ahok

Ropesta Sitorus - detikNews

Jakarta - Sistem transportasi monorel yang masih jalan di tempat membuat mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso merasa kecewa pada Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dan Wagub DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Ibarat istilah kaum muda, Sutiyoso seperti di-PHP-in oleh kedua politisi tersebut.

"Memang sangat disayangkan. Saya mengira sepertinya Jokowi-Ahok mampu melanjutkan, tapi setelah kita lihat di lapangan kok banyak berhentinya," kata Bang Yos, begitu ia biasa disapa, di media center PKPI, Jakarta Pusat, Jumat (29/3/2014).

Sutiyoso mengaku tidak tahu banyak mengenai permasalahan seputar monorel. "Karena memang saya tidak pernah diajak konsultasi sama mereka," kata dia seraya menambahkan dia juga enggan berinisiatif memberikan saran dengan alasan malu.

"Malu lah, orang sudah kesohor begitu ketika saya masuk, nanti saya dinilai bagaimana?", lanjut dia.

Tak hanya kecewa dengan nasib monorel, Sutiyoso mengkritisi MRT yang juga belum terwujud hingga kini. Memang monorel, MRT, dan Transjakarta mulai digagas sejak era kepemimpinannya. Dia berharap Jokowi akan terus melanjutkan pembangunan hingga angkutan massa itu bisa terwujud.

"Memang pembangunan fisiknya zaman Jokowi ini, tetapi saya yang menggagas, membuat surveinya, semua satu paket terintegrasi satu sama lain, termasuk water way barat ke timur. Saya memulainya dan itu harus dilanjutkan," kata dia.

Terakhir, Sutiyoso juga menyoroti masalah korupsi dalam pengadaan bus umum Transjakarta. Kemarin, penyidik Kejaksaan Agung telah menetapkan dua pejabat Dishub sebagai tersangka. Sutiyoso pun menuturkan, Jokowi dan Ahok juga harus bertanggungtawab secara moril.

"Semua sektor ada kerawanan, (transjakarta) ini. Ya memang secara moral pimpinan harus bertanggung jawab. Tapi secara hukum, kan siapa yang harus ditetapkan. Dan jangan berhentikan proyek busway ini berhenti gara-gara kasus ini. Itu pesan saya," kata dia.

Menurutnya, busway kini menjai primadona transportasi massal di Ibukota. Tetapi, lagi-lagi dia merasa keberadaan bus saat ini masih jauh dari harapan. "Sekarang yang saya soroti adalah sterilisasi koridor. Sangat jauh dari harapan saya," tuturnya.


3.27.2014

Moko Siap Dipecat !


From: A.Syauqi Yahya 


Diancam Ahok, Wiriyatmoko Mengaku Siap Dipecat

Kompas.com/Kurnia Sari Aziza

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama naik pitam saat memimpin rapat penyerahan bantuan transjakarta bersama Asisten sekda bidang Pembangunan DKI Wiriyatmoko, di Balaikota Jakarta, Selasa (11/3/2014).

Kamis, 27 Maret 2014 | 18:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Wiriyatmoko mengaku siap dipecat atas permasalahan birokrasi sumbangan bus oleh perusahaan swasta.

Diberitakan sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama sempat berujar, seandainya ia menjadi Gubernur DKI, ia akan memecat Wiriyatmoko dari jabatannya sebagai Plt Sekda dan Asisten Sekda bidang Pembangunan DKI Jakarta.

Menurut Moko, saat ini, pihaknya masih menunggu rekomendasi Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk dapat menerima bantuan bus tersebut atau tidak.

"Kalau belum ada rekomendasi dari sana (BPKP), ya saya enggak mau (terima), mending berhentikan saya sajalah," kata Moko, di Balaikota Jakarta, Kamis (27/3/2014).

Moko mengakui, di dalam nota dinas yang diserahkannya pada Basuki, ada poin yang menyebutkan bahwa Pemprov DKI memerlukan rekomendasi dari BPKP dan Kementerian Dalam Negeri.

Setelah Basuki menyatakan keberatan dengan poin tersebut, karena kembali menghambat bantuan bus, Moko urung melaksanakan niatnya mengirim surat ke Kemendagri.

Menurut dia, rekomendasi dari BPKP saja sudah cukup untuk membuktikan apakah pembebasan pajak reklame di tubuh bus berpotensi mengalami kerugian negara atau tidak.

Jika menurut rekomendasi BPKP, hal itu tidak berpotensi mengalami kerugian negara, maka pihaknya akan menerima sumbangan 30 bus dari tiga perusahaan swasta.

Tiga perusahaan penyumbang itu adalah PT Telekomunikasi Seluler Indonesia, PT Rodamas, dan PT Ti-Phone Mobile Indonesia.

Poin lain yang dianggap Basuki memberatkan adalah bus sumbangan harus berbahan bakar gas (BBG). Sedangkan, bahan bakar yang digunakan di bus sumbangan itu adalah solar.

Perda yang digunakan untuk sumbangan bus transjakarta adalah pasal 20 (1) Peraturan Daerah (Perda) nomor 2 tahun 2005 tentang pengendalian pencemaran udara. Dalam aturan itu, diatur bahwa angkutan umum dan kendaraan operasional Pemprov DKI wajib menggunakan bahan bakar gas sebagai upaya pengendalian emisi gas buang kendaraan bermotor.

Lebih lanjut, bus sumbangan itu dioperasikan di koridor yang belum tersedia fasilitas SPBG dan memasang converter kit pada bus sumbangan tersebut. Menurut Moko, percuma apabila bus berbahan bakar solar melintas di koridor yang ada fasilitas SPBG nya. Maka, lebih baik bus itu melintas di jalur non-SPBG. ?

"Yah itu paling membutuhkan waktu 4-5 tahun saja. Karena DKI, PGN, dan Pertamina juga membutuhkan waktu lama untuk menyiapkan infrastruktur gas, sekitar 3-4 tahun," kata mantan Kepala Dinas Tata Ruang DKI tersebut.

Sementara itu, Moko juga menjelaskan bahwa penghitungan pajak reklame bukan merupakan tugas pokok dan fungsinya, tetapi oleh Dinas Pelayanan Pajak DKI Jakarta. Karena tiga perusahaan itu ingin pembebasan pajak reklame, maka pihaknya akan menunggu rekomendasi BPKP demi mencegah terjadinya kerugian negara.

Moko mengaku telah berkirim surat kepada BPKP, namun belum mendapat respons. "Ini semua menyangkut masalah pajak, jadi harus hati-hati. Kalau kata BPKP, tidak ada kerugian negara, kita terima busnya untuk kebutuhan masyarakat, besok saya telepon BPKP nya," kata Moko.

Penulis: Kurnia Sari Aziza
Editor: Kistyarin

--

halo semarangers....


From: Endah Martiningrum

kinjeng ki rak tek iyek...alias capung to?


Gadis Kinjeng layani lelaki, suami dari luar mengawasi


MERDEKA.COM.
 Di balik maraknya prostitusi terselubung dengan modus gadis bermotor atau kerap disebut Gadis Kinjeng di Kota Semarang, ada cerita sedih sekaligus miris. 

Sebut saja namanya Novi. Gadis Kinjeng asal Purwodadi berusia belasan tahun ini menikah secara siri dengan Sumadi, lelaki berperawakan kurus yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang las kenteng serabutan di sebuah kawasan Kota Semarang.

Sumadi dikenal sebagai preman sekitar. Maklum, bengkelnya yang berada di pinggir sungai Thamrin, salah satu kawasan di sekitar Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, ini tak begitu menghasilkan untuk memenuhi kebutuhan tiga anaknya dari istri resminya, Nastiti.

Sumadi, yang suka sekali dengan minuman keras dan mabuk ini awalnya hanya menikmati dan membayar Novi layaknya konsumen yang menggunakan jasa prostitusi yang ditawarkan. Setiap malam Sumadi menghampiri Novi yang menjajakan kecantikan dan keseksiannya dengan 'nangkring' di atas sepeda motor Yamaha Mio-nya yang dikredit dari salah satu perusahaan pembiayaan di kawasan Thamrin.

Namun, lama menjadi pelanggan Novi, Sumadi akhirnya dekat dan menikahi Novi sebagai istri sirinya. Awalnya, Nastiti tidak mengetahui hubungan gelap suaminya bersama Novi. Hubungan intim ini terjadi karena Novi sempat akan dianiaya oleh tamu pria hidung belang lain, namun diselamatkan oleh Sumadi.

"Merasa utang budi dan nyawa saja Mas. Saya juga tidak tahu kenapa mau jadi 'gemblegan' (istri siri/ simpanan) Mas Sumadi. Kalau tidak ada dia saya sudah mati dianiaya oleh tamu saya yang juga dikenal sebagai preman. Yang kebetulan saat kencan dengan saya di Losmen Kudus saya tidak tahu kalau dia mabuk dan kemudian cari gara-gara menganiaya saya," jelas Novi kepada merdeka.com Rabu (25/3) malam.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, kini Nastiti melihat dan mengetahui bahwa ayah dari tiga anaknya itu telah mempunyai hubungan spesial dengan Novi. Nastiti ingin berontak, namun tak kuasa dengan tingkah polah Sumadi yang selalu mabuk-mabukan dan berselingkuh.

Kondisi kemiskinan keluarga Sumadi juga membuat Novi harus bekerja lebih keras untuk mencari tamu laki-laki hidung belang untuk menghidupi keluarga Sumadi. Pendapatan Sumadi sebagai tukang las yang pas-pasan menjadikan Nastiti iba dan menghidupi tiga anak Sumadi.

"Saya nggak bisa lama-lama melayani tamu saya. Kalau mau lama-lama harus izin suami saya (Sumadi). Dia ada di seberang jalan itu. Dia lagi nongkrong bersama teman-teman premannya. Biasa mas minum 'congyang' (minuman keras khas Semarang)," ungkap Novi malam sambil menunjuk segerombolan pria dengan beberapa botol congyang tergeletak di depannya.

Betapa ironis, sebagai istri siri, Novi harus bekerja sebagai PSK Gadis Kinjeng. Dijemput dari kosnya di kawasan Karangayu, Kota Semarang, lalu ditunggui oleh suami sirinya sendiri. Dia rela melakukan itu lantaran trauma karena sempat dianiaya oleh tamunya saat berkencan di Losmen Kudus.

Novi juga lebih merasa aman jika Sumadi menungguinya di seberang jalan sekitar Losmen Kudus di Jl Imam Bonjol, tak jauh dari Stasiun Poncol yang merupakan tempat para penumpang kelas ekonomi naik dan turun kereta.

--

Kumandang adzan yang mengganggu


From: A.Syauqi Yahya

Kumandang adzan yang mengganggu

Perspektifsaya
27 Mar 2014 | 00:55

Sebenernya sudah sejak lama saya ingin menulis tentang kumandang adzan di sekitar kita (setidaknya yang saya tahu betul yakni di kota Jakarta dan Bandung).

Saya sendiri pemeluk agama Islam (terlepas dari saya muslim yang benar atau tidak. Saya menulis bahwa saya pemeluk Islam semata-mata untuk menghindari kesalahpahaman bahwa pendapat yang akan saya kemukakan ini hanya diskriminasi dari pemeluk agama lain).  Tapi memang sebelum men-set pikiran anda ke arah positif ataupun negatif, silahkan melanjutkan membaca tulisan saya berikut ini.

Hampir semua orang di Indonesia, khususnya umat Islam sudah tahu bahwa Adzan adalah reminder bahwa waktu shalat telah masuk sekaligus ajakan untuk menunaikannya. Adzan umumnya dikeraskan melalui speaker dari masjid-masjid. Dan jika diperhatikan pada kebanyakan daerah, di satu RW terdapat minimal 1 masjid, bahkan bisa 3 atau lebih.

Di tempat saya tinggal, pada saat adzan saya bisa mendengar 3 hingga 4 kumandang adzan yang berbeda. Lebih dari itu speaker masjid ini digunakan tidak hanya untuk adzan namun juga pengumuman RT, pengajian, ceramah Jumat, takbir hari raya, dan lainnya. Sejujurnya saya tidak selalu merasa terganggu, kecuali adzan atau takbir dilakukan oleh anak-anak yang sambil berteriak-teriak, sesekali oleh orang dewasa yang bacaannya agak ngawur dan tidak merdu sama sekali. Karena dari kecil sudah terbiasa, kuping saya menjadi agak kebal terhadap suara-suara yang keluar dari speaker masjid ini. Sampai-sampai saat ini saya hanya terbangun mendengar alarm HP (ringtone adzan) untuk panggilan sholat shubuh. Entah mengapa. Padahal saudara-saudara saya yang lama tinggal di luar negeri kalau sedang menginap di rumah bisa bangun terkaget-kaget mendengar adzan shubuh.

Yang saya bahas disini bukanlah (perlu digaris-bawahi) "Adzan"-nya yang mengganggu saya, namun memang cukup sering ada kumandang adzan yang sejujurnya tidak enak didengar, terkadang saya malu kalau sedang ada teman berbeda agama lain sedang ikut mendengar. Ada yang azan dengan nada malas-malasan, ada yang sambil teriak, ada anak-anak yang takbir sambil tertawa-tawa, ada ceramah jumat yang terlalu menggebu-gebu menyebut kaum agama lain, lupa kalau kita hidup bertetangga juga dengan pemeluk agama lain.

Kenyataannya pun, berbeda dengan di negara Arab, yang pada saat adzan berkumandang, orang-orang berhenti melakukan aktivitasnya untuk melaksanakan shalat, di sekitar saya, justru sangat jarang, kecuali anggota masjid yang hanya beberapa terbiasa berjamaah di Masjid.

Jika dipikir kembali sejarah dan fungsi azan, menurut saya pelaksanaan dan fungsi azan saat ini di Indonesia sudah agak tidak beraturan dan perlu kembali di "refresh". Semangat mendengar azan begitu tinggi di bulan puasa, khususnya azan Maghrib saja. Begitu bersemangatnya, sampai-sampai 1 jam sebelum azan orang rela kebut-kebutan di jalan untuk segera sampai rumah duduk rapih di depan tajil dan TV.

Saya sempat mendengar bahwa pak JK sebagai Dewan Masjid Indonesia pernah menghimbau kepada pengurus masjid untuk mengatur volume dan membuat kesepakatan atas masjid-masjid mana saja yang perlu dikeraskan, agar azan tidak tumpang tindih. Namun sepertinya hingga hari ini saya belum merasakan adanya perubahan.

Jika respon dari artikel yang saya buat ini cukup baik dan mendapat dukungan, saya mungkin akan menuliskan petisi halus melalui change.org untuk memberikan dukungan kepada Dewan Masjid Indonesia untuk merealisasikan rencana pengaturan adzan ini.

Bagi yang tertarik untuk ikut mendukung, silahkan drop alamat email anda melalui private message kompasiana saya. Jika memang saya membuat petisi, selanjutnya saya akan sharing link petisi tersebut untuk anda.

Terima kasih telah membaca dan sharing.

FA
Dibaca : 52 kali

--
"Allahumma aghnini bil 'ilmi wa zayyinii bil hilmi wa akrimni bittaqwa wa jammilnii bil 'aafiyah" ~
Ya Allah, kayakanlah aku dengan ilmu, hiasilah diiku dengan sifat lemah lembut, muliakanlah aku dengan ketakwaan dan cantikanlah aku dengan kesehatan.

SBY mbales


From: <syauqiyahya@gmail.com>


Selasa, 25 Maret 2014 | 19:04 WIB



Klaim Sukses Jadi Presiden, SBY Sindir Megawati?

TEMPO.CO, Brebes - Ketua Umum Partai Demokrat yang juga Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, mengklaim keberhasilannya selama sepuluh tahun memimpin Indonesia dalam kampanye terbuka Partai Demokrat di Stadion Karangbirahi, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Selasa, 25 Maret 2014. Secara tersirat, SBY membandingkan pemerintahannya dengan era Presiden Megawati Soekarnoputri.

"Selama sepuluh hari ini, di tiap kampanye, saya tidak pernah menyerang partai-partai lain, tidak pernah menyerang tokoh-tokoh politik lain. Bahkan selama sepuluh tahun saya memimpin," kata SBY di atas panggung, di hadapan ribuan pendukungnya.

Tapi kali ini SBY melakukannya. Dia memulai "serangan" dengan mengutip tudingan terhadap pemerintahannya yang dinilai mengalami kemunduran. "Itu tidak benar. Kami tidak pernah menjual aset negara dan kapal tanker yang merugikan negara," ujarnya.

SBY tak secara terbuka menyebut pemerintahan Presiden Megawati, yang melaksanakan privatisasi sejumlah BUMN. Pada zaman Megawati pula dua kapal tanker milik Pertamina dijual sehingga diduga merugikan negara. Kasusnya sempat diusut Kejaksaan Agung.

Setelah mengeluarkan unek-uneknya, SBY lalu mengutarakan bermacam-macam keberhasilan pemerintah selama ia menjabat presiden dua periode. SBY berujar, pemerintah di bawah kepemimpinannya melunasi utang IMF lebih dari Rp 60 triliun, mengakhiri embargo militer, hingga menyelesaikan konflik di Aceh.

SBY menepis opini yang menyudutkan Demokrat sebagai partai yang paling banyak dihuni koruptor. Menurut SBY, masih ada partai lain yang kasus korupsinya lebih banyak dari Demokrat. "Kami dukung KPK. Kami tetap katakan tidak pada korupsi," katanya.

Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Pramono Edhie Wibowo, mengatakan data dari KPK menempatkan Demokrat di urutan ketiga dalam daftar partai terkorup di Indonesia. "Partai pertama, si A, 42 kadernya terlibat korupsi. Partai kedua, si B, ada 27 kader," kata Pramono, yang juga peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat itu.

Sedangkan Demokrat, kata Pramono, menempati urutan ketiga dengan 17 kader terlibat korupsi. Adik ipar SBY ini mengakui masih banyak kader partainya yang terlibat korupsi. "Tapi kalau dibandingin yang di atas, yang mengaku bersih? Demokrat tidak melindungi (kadernya yang korupsi). Kalau partai lain masih ngekepi (melindungi)," kata adik Ani Yudhoyono itu.

DINDA LEO LISTY

Menko polhudkam iki lho.....


From: Dadang Magelang Jawa

Memang enaknya jadi penguasa....

SBY Kampanye ke Lampung Pakai Pesawat Negara

W, 26 Mar 2014 | 18:09 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah memimpin rapat terbatas di Istana Negara, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono langsung terbang ke Lampung untuk melakukan kampanye Partai Demokrat. Pihak Istana tidak menampik bahwa perjalanan SBY dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum DPP Partai Demokrat ini dibiayai oleh negara.

"Yang jelas perjalanan Presiden dari satu titik ke titik lainnya itu tak lepas dari posisinya sebagai Presiden, termasuk pesawat itu," ujar Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto di Bandara Halim Perdanakusuma, Rabu (26/3/2014).

Djoko mengatakan, perjalanan Presiden dari Jakarta sampai ke tempat tujuan masih menjadi tanggungan negara karena posisi Presiden yang tak bisa dilepaskan. Begitu sampai di lokasi acara dan Presiden berganti seragam Demokrat, Djoko mengatakan, selebihnya menjadi tanggungan partai.

Selama SBY berkampanye di daerah, ada beberapa menteri non-partai ikut serta, seperti dirinya, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, dan Menteri Sekretaris Kabinet Dipo Alam. "Ini fungsinya agar Presiden tetap bisa memantau dan menginstruksikan sesuatu terkait perkembangan situasi," kata Djoko.

Djoko mengatakan, para menteri tersebut akan memisahkan diri dari Presiden atau tinggal di hotel mana kala Presiden melakukan kampanye. "Pembagian ini yang selalu kami jaga," kata Djoko.

Sebelum berkampanye di Lampung, SBY telah berkampanye di sejumlah daerah untuk Partai. Sebelumnya, SBY berkampanye di Yogyakarta, Tulungagung, Malang, dan Karawang.

Penulis: Sabrina Asril
Editor: Laksono Hari Wiwoho

--